The Second Life Of The Mercenary

The Second Life Of The Mercenary
Bab 82 Menyembunyikan kebenaran.



"Ugh, silau." Isabella membuka mata saat sinar matahari menusuk matanya, perlahan Isabella membuka matanya lalu menatap sekeliling.


"Siapkan air hangat, Luca bilang kemungkinan dia akan sadar pagi ini sangat besar. Jadi tolong siapkan yah," pinta Charlize pada Aisnley.


"Kenapa tubuhku sakit semua?" batin Isabella, ia susah menggerakan tubuhnya.


Isabella melihat di sisi kirinya ada Luca yang tertidur sambil memegang tangannya lalu Cedric tertidur dalam keadaan duduk, di sisi kanan ada Vanessa yang terlelap dengan kaki Isabella sebagai bantalannya.


"Syukurlah dia baik-baik saja," batin Isabella tersenyum, hatinya terasa sangat damai melihat Vanessa.


"Kau sudah bangun, syukurlah. Apa kau perlu sesuatu?" tanya Charlize berbisik.


"Bantu aku bangun," pinta Isabella mengulurkan tangannya pada Charlize, Charlize mengangguk. Ia memegang tangan dan punggung Isabella agar ia bisa bangun, Charlize membuat Isabella bersandar dengan nyaman.


Setelah bangun dan duduk barulah Isabella bisa melihat masih ada Fil, Jasper, Callix, Audrey, dan Bara tertidur di lantai beralaskan selimut tebal.


Setelah itu Charlize pergi lalu ia kembali membawa semangkuk bubur, karena tangan Isabella tidak bisa ia gerakan Charlize sendirilah yang menyuapi Isabella. Setelah makan ia memapah Isabella ke pemandian, berendam di air hangat kata Luca bisa membuat  Isabella merasa sedikit membaik.


*****


"Charlize itu pasti menyukai Isabella ibunda. Aku sampai tidak bisa mendekati Isabella semalam, jika nanti dia sadar maka dia pasti akan tersentuh dengan sikap Charlize yang lemah lembut padanya," geram Babel, ia ingin merawat Isabella hanya saja dirinya tidak memiliki peluang untuk sekedar mendekati Isabella.


"Lupakan dulu tentang itu! yang membuat ibunda terkejut adalah Tim Achlys tiba-tiba datang entah dari mana lalu mereka tetap di sisi Isabella, raut wajah mereka yang khawatir membuat ibunda berpikir hubungan mereka pasti tidak biasa. Bahkan master ahli racun adalah pelayan Isabella," ucap Sera.


"Untuk apa mempedulikan mereka ibunda? target kita adalah Isabella, aku ingin menikah dengannya. Awalnya aku hanya ingin dia jadi pendukungku. Tapi melihat wanita secantik itu, siapa yang puas hanya sekedar menjadi pendukung saja."


"Ibunda juga sedang berpikir bagaimana caranya kau bisa dekat dengan Isabella. Tunggu setelah Isabella sembuh baru ayahmu akan membicarakan perjodohan itu dengannya."


"Ibunda sama sekali tidak bisa membantuku." Babel keluar dari ruangan Sera dengan perasaan kesal. Ia berjalan mencari udara segar sampai di taman milik putra mahkota.


"Tanpa sadar aku malah berjalan ke sini, sebaiknya aku kembali saja," batin Babel berniat melangkah pergi. Namun ia mendengar suara seseorang dari balik semak mawar, karena merasa itu suara yang familiar ia pun mendekati semak tersebut.


"Jawab aku! kenapa kau melakukan itu? aku akan membantu memenuhi keinginanmu. Tapi kau malah meminta pelayanmu menyerang Vanessaku, di mana akal sehatmu?" tanya Albert.


"Aku melakukan ini karena Vanessa hatinya bertentangan denganmu. Aku melihat dengan jelas di matanya besar keinginan untuk menyatukan Charlize dan Isabella, kau tidak sadar akan hal itu kan?" 


"Aku sadar akan hal itu. Tapi aku tidak mendukung Vanessa, aku menjalankan rencanaku tanpa melibatkan Vanessa. Hanya saja pilihan untuk menghukum Vanessa dengan cara itu sangat salah, bagaimana jika yang jatuh bukan Isabella? jika saja yang jatuh adalah Vanessa maka aku … aku …."


"Aku apa? kau mau menghukumku? aku kehilangan akal sehatku saat aku melihat ada seseorang yang berusaha merebut Charlize dariku, ini bukan pertama kalinya aku menghukum orang-orang seperti itu. Aku tidak ingin kehilangan Charlize."


"Aku sendiri yang akan menentukan hukuman untukmu. Tapi kau beruntung karena Isabella belum tau akan hal ini, aku sudah meminta pelayan itu untuk menutup mulutnya. Dia tidak akan membahas apapun tentangmu pada siapa pun," ucap Albert. 


Babel mengepal erat tangannya mendengarkan hal itu, ia tidak menduga jika dia hampir saja bekerja sama dengan orangnya yang salah.


"Beraninya kau Samantha. Kau telah membuat kesalahan dengan melukai Isabella hingga menciptakan hubungan dekat antara dia dengan Charlize, aku tidak akan melepaskanmu. Tapi baguslah Albert tau hal ini, dia berniat menyembunyikannya dan aku akan membongkarnya. Tunggu saja akhirmu wanita suci berhati iblis," batin Babel beranjak menuju penjara.


****


"Kalian marah padaku? kalian akan meninggalkanku saat kondisi ku seburuk ini? aku hanya bertanya saja, jika kalian tidak ingin menjawab maka tidak usah. Aku sudah memberi hak kepada kalian, kalian bisa pergi kapan pun kalian mau," ucap Isabella tersenyum pada Audrey dan Callix.


"Jika kami tidak tau tentang hal itu semalam, kau mau berapa lama menyembunyikan hal itu? kau bilang kami ada keluargamu, lalu kenapa masih ada rahasia diantara kita?" tanya Callix.


"Aku akan tetap diam sampai datang waktu yang tepat untuk mengatakannya. Kalian memang keluargaku. Tapi ada beberapa hal yang akan lebih baik jika di rahasiakan, lagi pula kalian tau atau tidak tentang hal ini tidak akan mengubah apapun," jawab Isabella.


"Kalau begitu kapan waktu tepat itu datang?" kali ini Audrey bertanya.


"Aku tidak tau," singkat Isabella.


Brak!


Callix langsung berdiri dari kursinya sampai kursi itu jatuh, "Bilang saja jika kau tidak percaya kami bisa menjaga rahasia itu dengan baik, tidak perlu beralasan lagi."


"Aku percaya pada kalian, bukankah aku sudah bilang tadi. Kalian tau atau tidak tentang hal ini tidak akan mengubah apapun, karena jika kalian tau sama saja dengan kalian tidak tau. Aku benar kan?" tanya Isabella.


"Tentu saja. Tapi kami hanya ingin kau membagi segalanya dengan kami, kami ingin berada bersamamu dalam berbagai keadaan. Jika kami tidak tau tentang hal ini maka kau akan menderita sakit sendirian, kami tidak ingin hal itu," jawab Callix.


"Sudahlah! yang penting kita sudah tau tentang hal itu, jangan mempermasalahkan itu lagi. Karena kita tau atau tidak dia tetap percaya pada kita dan kita adalah keluarganya," sela Jasper.


"Baiklah. Tapi dengan syarat, jangan mencoba sembunyikan apapun lagi dari kami. Janji?" Callix dan Audrey mengangkat jari kelingking tangan kanan mereka.


"Janji. Tapi tanganku masih belum bisa aku angkat jadi kelingking akan menyusul nanti," jawab Isabella mengundang senyum bahagia mereka.


"Kakak."


"Nona."


Aisnley masuk bersama Vanessa, mereka datang membawa makanan kesukaan Isabella yang mereka masak sendiri. Kaki Vanessa juga sudah sembuh berkat Luca, hingga dia bisa  berjalan ke mana saja.


"Setelah kakak makan siang, kita akan langsung pulang. Kakak akan di rawat di rumah," ucap Vanessa menyentuh pipi Isabella.


"Selina menangis mendengar aku menceritakan keadaanmu saat itu, dia memarahimu. Tadinya dia mau ikut. Tapi Vanessa menghalanginya dengan cara meminta dia merapikan kamar untuk menyambutmu kembali," tambah Aisnley.


"Terima kasih." Isabella merasa bahagia banyak orang yang peduli padanya. Tapi dia masih belum tenang, karena tanpa ia sadari ada yang menargetkan Vanessa.


****


Bersambung.


Silakan tinggalkan jejak and dukung selalu author, karena dukungan kalian sangatlah berarti😘