
Bab 23
Isabella tidak bisa menjawab pertanyaan Audrey, ia sedang berusaha memikirkan jawaban yang tepat agar mereka tidak curiga padanya.
"Kenapa kau tidak jawab? aku tanya ini apa? kenapa kau memiliki ini? apa jangan-jangan pekerjaanmu selama ini adalah …." Audrey tidak bisa melanjutkan ucapannya, ada rasa kecewa tersirat dari ekspresi wajah Audrey.
"Apa ketahuan? bagaimana ini … aku harus apa?" batin Isabella yang semakin gelisah.
Prang!
Audrey melempar bros itu ke lantai. Lalu dengan nafas memburu dia berkata, "Seharusnya aku tetap curiga dengan pekerjaanmu sejak awal. Sebelumnya kau tidak pernah meninggalkan desa, tapi kau tiba-tiba malah pergi meninggalkan desa."
"Tamatlah riwayatku! identitasku terbongkar," batin Isabella. Ia menutup matanya dengan wajah tertunduk, kali ini ia telah pasrah mendengarkan apa yang akan Audrey katakan.
"Aku tidak akan menyangka kau meninggalkan kami untuk waktu yang lama, dan menghabiskan hari-hari mu bersama dengan para tentara bayaran. Kau tidak tergoda oleh kami, tapi kau malah tergoda oleh para tentara bayaran itu. aku kecewa padamu padahal aku berpikir kau telah berubah." Audrey meneteskan airmata bahkan ia sampai terkulai lemas di lantai.
"Hah?" Isabella kebingungan selama beberapa saat, lalu ia tertawa terbahak-bahak. Ia mengutuk kebodohannya yang mencemaskan sesuatu secara berlebihan, padahal ia berpikir identitasnya sebagai Allred telah terbongkar. Namun walau pun demikian ia belum bisa merasa lega, karena kesalah pahaman Audrey saat ini tidak kalah menakutkan dari terbongkarnya identitas lain Isabella.
"Apa yang lucu? apa melihat kami terpuruk seperti ini lucu bagimu?" kesal Callix. Ia ikut tertular rasa kecewa Audrey.
"Aku hanya merasa kalian itu sangat lucu. Jika aku tidak tertarik dengan berlian yang indah, apa aku akan tertarik dengan sebuah kerikil? itu tidak mungkin. Hanya orang tidak waras saja yang akan berpikir demikian," jawab Isabella.
Audrey berhenti menangis lalu menatap wajah Isabella seraya bertanya, "Jadi aku telah salah paham padamu? jika benar maka, kenapa kau memiliki bros itu?"
"Itu … ah! itu milik Allred, sebenarnya aku meninggalkan desa karena Allred mengajakku berpetualang bersamanya. Pekerjaanku adalah membawa barang-barangnya, jadi saat aku pulang ke mari mungkin aku lupa jika masih ada barangnya yang tertinggal, wajar saja karena barangnya sangat banyak." Akhirnya Isabella mendapatkan alasan yang bagus untuk menghindar dari masalah besar.
Audrey tersenyum lalu memeluk Isabella, ia meminta maaf kepada Isabella dan Callix karena terlalu berlebihan menanggapi masalah sepele seperti itu. Masa lalu Isabella membuat Audrey merasa cemas, dan Isabella memakluminya.
Tak lama Jasper telah kembali seusai membuang sampah, dengan begitu mereka bisa makan bersama. Masakan Audrey yang lezat membuat Isabella merasakan indahnya kembali ke rumah, sudah lama ia tidak menikmati hindangan selezat ini dengan baik.
Jasper sesekali melirik Isabella diam-diam. Ia ingin menceritakan pada Isabella tentang apa yang ia rasakan saat berada di luar tadi. Namun melihat kegembiraan di wajah Isabella membuat Jasper ragu untuk mengatakannya, ia tidak ingin Isabella berpikir keras setelah melakukan perjalanan yang panjang.
Oleh karena itu, Jasper memutuskan untuk menyelidiki hal ini sendiri. Lalu jika penyelidikannya berhasil barulah ia akan mengatakan kejadian tadi pada Isabella, dengan begitu ia tidak akan menyusahkan Isabella.
*****
Keesokan harinya Azar melakukan penyelidikan lebih lanjut dengan cara memantau kediaman Isabella. Setelah toko kue Isabella mulai ramai dengan pengunjung, Azar pun beraksi menerobos rumah Isabella saat Jasper bersama yang lainnya dilanda kesibukan..
"Rumah yang sederhana, dan biasa aja," batin Azar saat berhasil masuk ke dalam kediaman Isabella.
Azar memeriksa semua ruangan yang ada di kediaman Isabella satu per satu, ia mencari di mana letak kamar Isabella, hingga akhirnya ia memukan kamar Isabella yang berada di lantai 2 dan ruangan paling ujung.
"Daging sapi kualitas tinggi." Isabella mengigau sambil mengigit bantal miliknya.
Azar mengeluarkan belatinya lalu berjalan mendekat ke ranjang, Azar ingin mengambil darah Isabella untuk duke agar mereka bisa lebih cepat memastikan dia anak dari duke atau kah tidak.
Baru saja Azar hendak mengiris tangan Isabella, Isabella mencekal tangan Azar lalu menendang kepala Azar sampai ia tersungkur ke lantai. Tapi yang membuat Azar kagum ialah, Isabella menyerangnya dengan mata tertutup.
"Daging yang enak tidak boleh nakal," ucap Isabella yang masih mengigau malah berdiri diatas ranjang dan siap menerjang Azar. Azar bahkan tidak sempat melihat dari mana Isabella mengambil belati yang saat ini ada di tangannya.
Isabella menyerang Azar seperti menyerang orang dalam keadaan sadar, ia tahu kapan harus menyerang, serta tahu kapan harus menghindari serangan balasan.
"Sial! jika terus seperti ini maka akan ada diantara kami yang terluka parah, menjengkelkan," batin Azar.
Tak tak tak ….
Terdengar suara langkah kaki mendekati kamar Isabella. Azar tidak punya pilihan lain, ia terpaksa harus serius menyerang Isabella kali ini. Ia menghindari serangan Isabella lalu menusuk pundak Isabella, tusukan itu membuat Isabella tersadar.
Tatapan mereka bertemu, namun Azar langsung memalingkan tatapannya. Tatapan tajam dari Isabella mampu membuatnya bergidik ngeri. Kemudian sebelum langkah kaki itu semakin dekat, ia menarik belatinya kembali lalu melarikan diri lewat jendela.
"Kyaaaaa … Isabella, apa yang terjadi?" teriakan histeris Audrey terdengar sampai di luar kediaman Isabella.
Isabella tidak menjawab, ia hanya menatap keluar jendela dan terus memikirkan identitas dari pria yang baru saja menyerang dirinya. Jika pria itu bisa masuk ke kediamannya dengan mudah maka dia perampok atau pun pencuri, sebab setelah dilihat dengan baik pria itu tidak membuka lemari atau pun laci meja milik Isabella. Pikirnya.
Sekilas Isabella melihat pria itu mengusap darahnya dengan sapu tangan, Isabella terus berpikir apa tujuannya datang adalah darahnya? jika iya, maka itu mungkin saja ada hubungannya dengan orang tua kandung Isabella yang asli.
Namun hal seperti ini tidak pernah terjadi dalam novel, duke memang meminta orang untuk melakukan penyelidikan hanya saja tidak pernah sampai menyerang Isabella. Apa alurnya telah berubah? pikiran Isabella terus berkecamuk mencari alasan dibalik penyerangan ini.
"Syukurlah anda baik-baik saja, lukanya cukup dalam. Tapi tidak mengancam nyawa," ucap Audrey seusai mengobati luka Isabella.
Isabella yang masih tenggelam dalam pikirannya sendiri, tidak mendengarkan satu pun ucapan Audrey. Hal ini membuat Audrey berpikir Isabella syok berat karena serangan tadi, ia hanya tidak tau jika saat ini pikiran Isabella melayang-layang entah ke mana.
Audrey menutup pelan pintu kamar Isabella, lalu ia kembali ke toko dan nenceritakan semua yang terjadi. Mendengar hal itu Callix terkejut bahkan sampai menangis sedangkan Jasper, ia sama seperti Isabella tenggelam dalam pikirannya sendiri. Jasper berpikir jika perasaan seperti diawasi yang ia rasakan kemarin itu, pasti ada hubungannya dengan penyerangan hari ini. Jika benar maka Jasper tidak akan menduga jika orang itu akan bertindak secepat ini.
*****
Bersambung.
Silakan tinggalkan jejak and dukung selalu author, karena dukungan kalian sangatlah berarti😘