The Second Life Of The Mercenary

The Second Life Of The Mercenary
Bab 44 Ini keinginan ayahmu



Saat Isabella masuk ke dalam ruang kerja Cedric, yang pertama ia dapati adalah tatapan tajam dari Cedric. Isabella sudah tau jika ada banyak alur yang berubah dari cerita aslinya, dan tatapan tajam Cedric telah membuktikan jika perubahan alur itu berpengaruh juga pada Cedric.


"Duduklah," perintah Cedric menunjuk kursi didepannya. Isabella tidak mengatakan apa pun dan langsung duduk begitu saja.


Sedetik kemudian Cedric mengeluarkan banyak foto lalu meletakan foto-foto itu di meja seraya berkata, "Lihat lah ini! ini semua adalah pria muda yang belum menikah di ibukota kekaisaran, bukan hanya tampan mereka juga punya pengaruh yang besar. Katakanlah pria mana yang membuatmu tertarik."


"Pria muda untuk Vanessa? menurutku yang ini cocok," balas Isabella. Ia asal menujuk foto seorang pria gemuk.


"Ini bukan untuk Vanessa. Para pria ini tidak pantas mendapatkan putri kesayanganku, mereka …."


"Woah, benarkah? lalu untuk siapa pria-pria ini? anak-anak tirimu itu?"


"Untukmu bukan mereka. Aku ingin kau cepat-cepat menikah dan pergi meninggalkan kediaman ini, aku tidak suka kau ada di sini dan mengganggu kehidupan Vanessa."


"Aku tidak akan menikah dengan pria-pria ini. Anda tidak perlu mencarikan aku suami karena aku bisa mencarinya sendiri."


"Aku ini ayahmu jadi kau harus menuruti perkataanku, atau kau …."


"Ke mana urat malu anda? selama ini anda tidak peduli entah aku masih hidup atau sudah mati, lalu kenapa sekarang anda ingin bertindak seperti seorang ayah, hum? untuk mendapatkan sebutan ayah dariku, anda tidak pantas."


"Beraninya kau …."


"Ayahku hanya satu dan dia sudah meninggal, aku tidak punya ayah selain dia. Ayah yang membuang putrinya apa pantas disebut ayah? ayah yang tidak menemui putri selama bertahun-tahun apa pantas disebut ayah? ayah yang tidak mengakui putri kandungnya apa pantas disebut ayah? dan ayah yang merebut seorang anak dari ibunya apa pantas disebut ayah? bagaimana menurut anda?" tanya Isabella. Jeremy yang mendengar pertanyaan itu merasa sesak, ia tahu betul betapa terlukanya Isabella selama ini.


"Ini …." Cedric tidak dapat menjawab pertanyaan Isabella, kali ini dia benar-benar merasa terpojok.


"Aku selalu iri dengan anak yang lain, sebab ayah mereka rela mengorban nyawanya sendiri demi mereka. Tapi ayahku malah berniat melenyapkan aku, justru ayah yang mengorbankan segala demi aku malah bukan ayah kandungku. Tidak bertemu selama bertahun-tahun seharusnya yang aku dapat adalah pelukan hangat bukan perjodohan seperti ini," lanjut Isabella.


"Pelukan hangat? kau mengharapkan itu? tentu saja aku tidak memberikannya padamu. Selama ini kau disembunyikan oleh pamanmu, bukan aku yang tidak mau menemuimu. Dan satu hal lagi aku sama sekali tidak pernah berniat untuk melenyapkanmu. Lagi pula sekarang kau adalah wanita yang jahat dengan reputasi buruk, aku ingin kau pergi meninggalkan kediaman ini secepatnya agar kau tidak menyakiti Vanessa. Vanessa adalah anak yang baik, dan dia …."


"Ya, putrimu hanya Vanessa. Padahal dilahir ke dunia ini bukanlah keinginannku, lalu apa salahku? yang membuangku siapa sampai aku harus tinggal di tempatnya buruk hingga mendapatkan reputasi buruk. lalu anda bilang apa tadi? ayahku menyembunyikanku? anda salah besar. Apa anda ingat janji anda untuk datang menemui setiap hari lahirku? pasti tidak karena anda tidak pernah datang, tidak peduli berapa lama kami menunggu anda tetap tidak datang," potong Isabella.


"Karena anda bilang aku adalah wanita yang jahat, maka aku akan menjadi wanita jahat seperti apa yang inginkan. Kita akan lihat bagaimana anda bisa melindungi Vanessa dariku." Isabella bangkit dari tempat duduknya kemudian ia bergegas keluar.


"Tunggu!" Cedric dengan cepat menyusul Isabella, ia masih ingin mengatakan sesuatu.


"Ada apa kakak?" tanya Vanessa saat melihat Isabella keluar dengan raut wajah buruk.


Isabella menarik tangan Vanessa ke dekat jendela dan berkata, "Jangan salahkan aku, ini keinginan ayahmu."


Isabella lalu melempar Vanessa dari jendela lantai 3, Cedric berlari dengan cepat hendak meraih tangan Vanessa. Namun ia terlambat, tubuh Vanessa telah terjun bebas ke tanah.


"Tidak …." Cedric berteriak histeris dan langsung berlari kebawah menuju tempat jatuhnya Vanessa.


Para pelayan dan kesatria berlarian menghampiri Vanessa yang terbaring di atas tanah dengan wajah pucat pasi, dari atas Isabella dapat melihat dengan jelas semua orang mengkhawatirkan Vanessa. Isabella berpikir itu adalah kekuatan seorang toko utama.


*****


Keesokan harinya insiden yang menimpa Vanessa tersebar dengan cepat ke seluruh ibukota kekaisaran, entah siapa menbocorkan hal itu tidak ada yang tahu.


"Hahahahah." Kaisar tertawa membaca berita pada surat kabar tersebut, "Ini benar-benar menarik, putri asli datang dan langsung berniat menyelenyapkan putri angkat dihadapan ayahnya sendiri. Orang jahat pun tidak akan terbuka seperti itu."


"Apa ini lucu bagi ayahanda? Vanessa nyaris tiada karena perbuatannya, ayahanda tidak lupa kan jika Vanessa adalah putri mahkota," geram Albert.


"Tentu saja tidak lupa. Tapi mau bagaimana pun juga ini sangat menarik, dan kau juga tidak bisa berbuat apa-apa karena ini sepenuhnya urusan keluarga Abraham."


"Ayolah ayahanda. Dengan status Vanessa saat ini aku yakin …."


"Berhentilah merengek pada ayah. Kenapa kakak sangat berlebihan?" tanya Babel memotong perkataan Albert, ia masuk ke ruang tamu kaisar seenaknya.


"Lagi pula menurutku dari pada Vanessa yang hanya seorang putri angkat, Nona Isabella jauh lebih baik menjadi putri mahkota. Sudah pasti dan sudah jelas dia adalah pewaris sah keluarga Abraham," sambung Babel.


Kaisar menatap Babel dengan tatapan tidak senang, hanya karena dia anak dari permaisyuri ia selalu berbuat seenaknya membuat kaisar benar-benar tidak suka dengannya.


"Kalau kau suka pada Isabella maka menikah saja dengannya, mungkin dia bisa membantumu memperkuat posisimu sebagai pangeran," ejek Albert.


"Sayang sekali aku sudah bertunangan dengan putri pertama Marquess Lugia, jadi aku tidak bisa bertunangan lagi," balas Babel. Ia sangat mudah menjaga ketenangannya agar tidak kehilangan muka didepan Albert.


"Aku akan pergi menyelesaikan pekerjaanku. Aku akan kembali sebelum jam makan malam." Albert membungkuk hormat pada kaisar lalu ia pergi meninggalkan kedua pria tersebut.


"Kakak selalu saja begitu. Dia terlalu lengket pada Vanessa, ayahanda pasti kesusahan karena …."


"Tutup mulutmu," potong kaisar, "Kau telah bertindak tidak sopan dengan masuk ke ruanganku tanpa izin, justru Albert 1000 kali lebih baik darimu jadi kau jangan pernah mengkritik dirinya. Aku kesusahan karena dirimu dan selalu merasa senang karena Albert."


"Pergilah dari istana ku sebelum aku meminta para kesatria menyeretmu pergi dari sini," tegas Kaisar meninggalkan ruang tamunya.


"Cih! selalu saja begitu. Apa kurangnya aku dari anak pelayan itu sampai ayahanda bersikap begini padaku, aku harus meminta ibu menyewa kesatria bayaran yang lebih hebat untuk membunuh Albert. Jika pria itu tiada maka ayah tidak punya putra lain selain aku untuk dijadikan sebagai pewarisnya, dengan begitu kasih sayang ayah akan kembali padaku," batin Babel yang merencakana hal buruk lagi.


*****


Bersambung.


Silakan tinggalkan jejak and dukung selalu author, karena dukungan kalian sangatlah berarti😘