The Second Life Of The Mercenary

The Second Life Of The Mercenary
Bab 54 Jangan-jangan itu Isabella



Masalah hewan menggila itu lagi-lagi diarahkan pada Isabella, dan semua itu karena ucapan dari Elena.


"Maafkan saya duke. Tapi kali ini saya tidak bisa membiarkan masalah ini begitu saja, Isabella harus menerima hukumannya," tegas Albert. Cedric semakin di buat pusing oleh ucapan itu.


"Jadi kau mau menghukumku seperti apa?" tanya Isabella berjalan mendekati tenda Vanessa tempat mereka berkumpul.


"Baguslah kau bertanya." Albert berjalan mendekati Isabella sembari menarik pedangnya lalu mengarahkannya pada Isabella, "Aku akan memenggal kepalamu."


"Memenggal? wow luar biasa. Kaisar masa depan menghukum orang lain dengan emosinya, kira-kira apa yang akan rakyatnya pikirkan tentang dia? apa anda tau?" tanya Isabella menggerakan alisnya naik turun.


"Putra mahkota tidak salah. Semua bukti mengarah padamu, dalam penyerangan itu kau satu-satunya yang tidak terluka bahkan saat semua orang khawatir dengan keadaan orang yang terluka, kau malah berdiam diri didalam tendamu. Lalu bukti paling kuat adalah kau sangat menbenci Vanessa," celetuk Elena.


"Hahahaha. Bagaimana bisa pemikiran itu bisa di jadikan bukti? jika memang bisa maka ambillah pemikiran semua orang lalu putuskan saja hukumanku," ejek Isabella.


"Ah! bagaimana jika kalian ambil juga pemikiranku? aku sih berpikir yang seharusnya di curigai itu adalah ibu dan putri-putri ibu. Ibu yang mengusulkan untuk melakukan perkemahan sambil berburu, lalu ibu memaksaku untuk ikut setelah itu ibu mengajak sih kembar pergi bersama dengan ayah untuk berburu dengan alasan ingin pergi melihat air terjun. Bagaimana? aku curiga jika ibu sengaja memaksaku ikut karena semua ini sudah ibu rencanakan. Ibu ingin aku ikut agar aku bisa dijadikan kambing hitam lalu dengan alasan melihat terjun, ibu sebenarnya ingin menyelamatkan diri dari serangan hewan yang nanti akan menjadi monster seperti yang ibu rencanakan," lanjut Isabella.


"Bagaimana bisa gadis desa ini menebak hampir semua kejadian itu?" batin Elena mengusap keringat didahinya.


"Sepertinya aku benar. Karena ibu cemas, jika cemas ibu biasanya ibu suka mengusap keringat didahi ibu," tambah Isabella membuat semua perhatian tertuju pada Elena.


"Jangan bicara omong kosong. Itu hanya pemikiran kakak saja, karena aku yang mengajak ibu ke air terjun itu dan semua bukan tanpa sebab. Apa kakak lupa jika kakak telah membuat Carolina terkena luka bakar? kami membawanya ke sana untuk berendam disekitar air terjun karena air sungai di sana sangat sejuk," timpal Charlotte.


"Itu kan kau bukan ibumu. Karena ibu dan anak bisa saja bertindak sendiri-sendiri, atau bisa saja kalian ke sana untuk berendam menghilangkan bau dari serbuk racun yang kalian bawa lalu kalian tabur sebelum pergi," balas Isabella membuat Charlotte kesal.


"Aku malah curiga pada kakak. Semua yang kakak katakan sangat detail dan masuk akal, mungkin saja itu rencanakan kakak yang kakak alihkan pada kami," sanggah Carolina.


"Tidak mungkin," sela Jovanka, "Sebenarnya sejak dari kediaman saya terus memperhatikan Nona Isabella, begitu turun dari kereta nona langsung duduk dengan santainya. Bahkan nona tidak beranjak dari sana sedikit saja, lalu setelah rombongan duke pergi nona tetap tidak berdiri dari sana justru para kesatria yang datang menghampiri nona sampai hewan menggila itu menyerang kami."


"Bahkan yang mencurigakan adalah duchess," tambah Jeremy. "Setelah turun dari kereta duchess melakukan gerak-gerik yang mencurigakan, seolah sedang memperhatikan sekitarnya lalu duchess pergi ke area belakang pendirian tenda. Saya ingin melihat apa duchess lakukan di sana hanya saja duke memanggil saya untuk menyiapkan senjata jadi saya lupa untuk pergi ke sana," tambah Jeremy.


"Ck! kenapa malah jadi begini? menyebalkan!" batin Elena.


"Sudahlah lupakan! masalah kali ini jangan di bahas lagi, ini murni kecelakaan dan tidak ada yang bersalah karena semuanya adalah korban," ucap Cedric disetujui oleh Albert.


"Aku lapar! Jeremy tolong buatkan aku sesuatu," perintah Isabella mengelus perutnya.


"Nona ingin makan apa?" tanya Jeremy.


"Apa saja yang enak. Kau bisa buat apa memangnya?" 


"Hhmmm, bagaimana jika daging kelinci panggang?"


"Hah? kau tidak berniat memanggang kelinci yang menggila itu kan?"


Jeremy tersenyum kemudian berjalan menuju tempat memasak.


"Jeremy. Bukan kelinci yang itu kan?" tanya Isabella beranjak mengikutinya.


"Hanya daging itu yang ada jadi saya akan masak itu," jawab Jeremy yang sukses membuat Isabella mual.


"Jeremy bodoh. Itu bisa saja beracun, kau ingin aku mati? aku tidak mau makan daging itu, buatkan daging yang lain," gerutu Isabella terdengar jelas oleh yang lain.


"Kenapa mereka bisa dekat dengan Isabella? Isabella juga seolah menjadi orang lain dengan mereka," batin Cedric yang masih memperhatikan Isabella.


*****


"Menu makan siang yang enak, Charlize pasti akan menyukainya." Regina membungkus semua masakannya lalu ia segera bersiap menuju kediaman Arsena.


Tidak memakan waktu lama kereta kuda Regina akhirnya sampai di kediaman Arsena, karena status Regina adalah tunangan Charlize jadi dirinya bisa langsung masuk begitu saja ke dalam kediaman.


Di tengah perjalanan menuju ruang kerja Charlize, Regina menanyakan pada pelayan tentang keberadaan Charlize dan pelayan menjawab jika Charlize ada di rumah kaca.


Mendengar kata rumah kaca Regina tersentak karena jika seorang tuan rumah adalah pria yang belum menikah, dan dia berada dirumah kaca maka itu artinya pria itu kedatangan tamu wanita.


"Siapa wanita yang berani datang ke kediaman ini saat ia tau pemiliknya telah bertunangan? apa jangan-jangan itu Isabella?" Regina dengan cepat berlari menuju rumah bunga, ia takut jika wanita itu adalah Isabella.


"Charlize! di mana kau?" teriak Regina saat memasuki rumah bunga, "Sial! kenapa rumah bunga ini terlihat sangat besar di saat seperti ini."


"Hahahah, kau ini pandai sekali merayu. Awas saja jika kau merayu banyak wanita itu tandanya kau tidak setia," suara seorang wanita terdengar tidak jauh oleh Regina.


Regina pun langsung bergegas menuju tempat suara itu berasal. Di sanalah ia mendapati seorang wanita sedang bersenda gurau dengan Charlize, Regina merasa sangat kesal saat melihat Charlize tersenyum lebar bersama wanita itu sementara Charlize tidak pernah seperti itu dengannya.


"Dasar wanita tidak tau diri. Berani sekali kau bercengkrama dengan tunanganku," teriak Regina. Ia berjalan mendekati wanita itu lalu menjambak rambutnya.


"Akh! sakit, tolong aku Charlize. Lepaskan aku," wanita itu menjerit kesakitan.


Charlize dengan cepat melepaskan tangan Regina dari rambut wanita itu lalu mendorongnya menjauh, Charlize takut terjadi sesuatu pada wanita itu karena Regina.


"Kau baik-baik saja? apa kau …."


Plak!


Regina menampar wajah Charlize membuat ucapan Charlize terhenti, "Kau mengkhawatrikannya? aku adalah tunanganmu, kau seharusnya … umph!"


Charlize mengcengkram mulut Regina dan berkata, "Tutup mulutmu! untuk apa aku mengkhawatirkan wanita tidak tau diri sepertimu."


Regina melepaskan cengkraman Charlize sekuat tenaga, "Tidak tau diri katamu? aku ini tau diri, buktinya aku tau aku adalah tunanganmu. Wanita ini tidak pantas untukmu, akulah yang pantas."


"Omong kosong apa yang kau katakan? dia ini kakak iparku dan kau hampir saja melukainya, jika tadi kau menjambaknya lalu dia tidak sengaja jatuh maka kakak ipar dan calon keponakanku bisa ada dalam bahaya."


Regina tersentak lalu ia mundur beberapa langkah, ia menatap wajah Chania dan Charlize secara bergantian.


"Kau bicara dulu dengannya, aku akan masuk." Chania pergi meninggalkan rumah kaca menyisakan Charlize dengan amarahnya dan Regina dengan ketakutannya.


"Pergilah dari sini! jangan muncul sampai kau memintamu muncul," tegas Charlize pergi mengejar kakak iparnya.


*****


Bersambung.


Silakan tinggalkan jejak and dukung selalu author, karena dukungan kalian sangatlah berarti😘