The Second Life Of The Mercenary

The Second Life Of The Mercenary
Bab 45 Rencana B



Keesokan harinya Isabella yang sedang tidur terbangun karena kain basah mendarah di wajahnya, lalu tirai jendela dibuka sampai cahaya matahari masuk menusuk matanya.


Isabella melempar kain basah itu dari wajahnya lalu ia menatap tajam kepada Jenni dan Yulia, Isabella yakin ini pasti ulah para pelayan itu.


"Siapa yang melempar kain ini ke wajahku?" tanya Isabella. Namun tidak ada jawaban, kedua pelayan itu diam saja.


"Aku benar-benar muak sekarang," gumam Isabella seraya turun dari ranjang, lalu ia menjambak rambut Yulia dan mengempaskan wanita itu ke lantai.


Melihat hal itu Jenni langsung menampar Isabella seraya berkata, "Berani sekali kau bertindak kasar pada kami, apa kau tidak sadar di mana posisi mu? kau hanya putri yang tidak akui. Jika aku melaporkan ini pada Duke maka kau akan hidup menderita."


"Aduh aku takut sekali …." ucap Isabella memasang raut wajah ketakutan, melihat itu Jenni merasa telah berhasil menakuti Isabella.


"Saking takut aku sampai ingin memenggal kepalamu," kesal Isabella menendang kepala Jenni, Isabella tau jika para pelayan ini tidak berada di pihak Vanessa jadi dia akan menyakiti mereka sampai ia puas.


"Perilaku macam apa ini Nona Isabella?" teriak Diana melihat Jenni terkapar tidak sadarkan diri bersama dengan Marry.


Isabella tersenyum lalu ia berjalan mendekati Diana, "Kenapa? kau marah? tapi kenapa? apa hakmu memarahiku saat aku sedang menghukum para pelayanku, jangan lupa di mana posisimu saat ini pelayan."


"Saya adalah pengasuh putri dari duchess jadi saya bukan pelayan anda, saya …."


"Diamlah!" bentak Isabella menggaruk telingannya, "Suaramu membuat telingaku menjadi tuli, kalau kau adalah pengasuh mereka maka lebih baik kau pergi temu mereka. Mungkin saja saat ini anak-anak asuhmu itu sudah menangis meminta susu."


"Ugh!" Marry sudah sadar dari pingsannya, ia merasa kepalanya sangat sakit karena terbentur sangat keras dilantai.


"Kau sudah sadar. Kalau begini sini kau!" Isabella menjambak rambut Marry lalu menyeretnya keluar dari kamar.


"Akh! nona sakit, tolong ampuni saya. Saya tidak akan berani lagi," pinta Marry terisak karena kesakitan.


"Nona Isabella berhenti! anda tidak bisa melakukan hal sekejam itu padanya," teriak Diana mencoba menghentikan Isabella. Namun usaha yang sia-sia, Isabella bukannya berhenti malah mempercepat langkahnya.


Seisi kediaman jadi kacau melihat Isabella menyeret Marry keluar dari kediaman, Vanessa yang sedang menikmati secangkir teh hangat bersama Cedric di gazebo terkejut melihat apa yang Isabella lakukan.


Selina diam-diam mengikuti Isabella, ia ingin lihat ke mana Isabella akan menyeret pelayan itu. Kemarin Selina sangat kesal dengan sikap mereka, namun sekarang ia sangat senang melihat pelayan itu memohon ampun pada Isabella.


Ternyata Isabella menyeret Yulia ke kolam renang yang letaknya ada di taman sebelah barat, di taman itu ada sih kembar yang sedang melalukan pesta teh bersama para nona bangsawan. Pesta teh mereka menjadi kacau saat melihat Isabella datang ke kolam bersama banyak pelayan yang mengikuti dirinya.


Sesampainya di tepi kolam Isabella mengempaskan Yulia ke dalam kolam, setelah terhempas ke kolam Yulia dengan cepat berenang ke tepian. Namun saat ia hendak naik ke tepi kolam, Isabella memegang kepalanya dan mendorong kepala Yulia secara paksa ke dalam kolam selama beberapa menit lalu ia tarik keluar dan ia masukkan lagi. Hal tersebut terus terjadi selama 30 menit, barulah setelah itu Isabella menaikkan Yulia ke tepian.


"Ini balasan untuk kain basahnya, lakukan lagi nanti dan aku akan membalasnya lagi," ucap Isabella menepuk pundak Yulia kemudian ia beranjak pergi tanpa mempedulikan orang-orang yang melihatnya.


Baru saja masuk berita panas tadi pagi, siang ini Isabella masuk berita panas lagi. Isabella menjadi wanita iblis hanya dalam semalam saja, pertama ia berusaha melenyapkan adiknya lalu melenyapkan pelayannya. Banyak orang menanti-nantikan siapa lagi yang akan berusaha ia lenyapkan.


"Kau sangat bagus. Wajah-wajah ketakutan dari orang yang menyaksikan hal itu sangat menarik, wajah mereka sangat pucat. Dan yang jauh lebih menarik kau masuk berita panas lagi," ucap Selina yang sedang membantu Isabella berganti pakaian.


"Setelah ini siapa lagi yang mau jadi pelayanmu," pikir Selina, pasalnya semua pelayan tadi bergidik ngeri melihatnya.


"Aku sih tidak masalah tanpa pelayan, toh kau akan membantuku," timpal Isabella mendapatkan pukulan keras dari Selina.


"Aku bukan pelayanmu," sinis Selina membuat Isabella tidak berhenti tertawa.


Tidak lama kemudian Jeremy datang memanggil Isabella untuk turun makan siang di ruang makan, tentu saja Isabella tidak menolak karena ia penasaran melihat seperti apa raut wajah ayah tercintanya itu.


Kedatangan Isabella ke ruang makan membuat suasana menjadi tegang, Vanessa takut menatap Isabella, sih kembar juga sama, dan Cedric menatapnya dengan tatapan tajam.


"Duduklah di samping ibu," perintah Elena karena kursi disamping kosong, tanpa menunggu lama Isabella langsung duduk di kursi kosong itu dan berhadapan langsung dengan sih kembar.


"Sajikan makanan," perintah Elena kepada para pelayan.


Tidak lama kemudian para pelayan datang menyajikan makanan untuk Isabella, tangan mereka gemetar bahkan salah satu dari pelayan itu tidak sengaja menumpahkan air ke gaun Isabella karena tangannya terlalu gemetar menuangkan air ke dalam gelas.


"Ma-maafkan sa-saya," ucap pelayan itu ketakutan.


"Tidak masalah. Lain kali lebih berhati-hati karena jika ini air panas maka salah satu tanganmu akan hilang," ancam Isabella. Pelayan itu mengangguk kemudian bergegas pergi meninggalkan meja makan.


"Bermurah hatilah kepada mereka, kasian mereka terlalu takut padamu. Kau harus ramah seperti …."


"Ini meja makan ibu bukan meja bicara. Jika anda ingin bicara maka pintu keluar ada di sebelah kanan," potong Isabella.


"Pfftt!" Cedric hampir saja mengeluarkan makanan dari dalam mulutnya, ia diam-diam melirik Elena yang duduk dengan wajah memerah menahan rasa marah sekaligus malu.


*****


Regina melempar surat kabar yang ia baca setelah membaca berita tentang Isabella, ia kesal karena Isabella telah kembali dan ia juga kesal karena Isabella adalah anak kandung orang yang sangat berpengaruh dikekaisaran ini. 


"Aku tidak akan bisa bertindak sembarangan pada Isabella karena latar belakangnya, aku tidak punya pilihan lain saat ini," batin Regina.


Ia langsung mengganti pakaiannya dan meminta kepala pelayan untuk menyiapkan kereta karena ia harus bergegas pergi menemui ibu dari Charlize, Regina saat ini tidak pilihan lain selain melalukan rencana B yakni mempercepat hari pernikahannya dengan Charlize.


"Charlize mungkin belum tau tentang berita di surat kabar itu. Charlize kan paling tidak suka dengan berita dalam surat kabar, jadi sebelum ia menyadari berita itu maka aku harus membicarakan tentang pernikahan kita kepada ibunya. Aku akan membuat Isabella tidak memiliki tempat dalam hubungan kami," batin Regina. Sepanjang perjalanan ia tidak bisa tenang, sampai akhirnya ia tiba di kediaman Viscountess Dara. Kediaman Dara berada cukup jauh dari ibukota, ia adalah wanita yang menyukai tempat tenang. Oleh karena itu, Dara tidak pernah meninggalkan wilayahnya jika tidak ada sesuatu yang mendesak.


*****


Bersambung.


Silakan tinggalkan jejak and dukung selalu author, karena dukungan kalian sangatlah berarti😘