
Selina kembali menjadi manusia saat mereka mendarat di tepi pantai, Isabella berpikir Selina hanya akan mengantarkan dirinya agar tidak perlu naik perahu lagi. Namun sayangnya tujuan Selina bukan itu, ia ingin ikut dengan Isabella ke mana pun wanita itu pergi.
"Ayo!" ajak Selina, ia melangkahkan kakinya lebih dulu dari Isabella.
"Ayo? ke mana?" tanya Isabella kebingungan.
"Kenapa masih bertanya kan kau sendiri yang mau aku ikut denganmu, apa kau berubah pikiran dan tidak mau menjadi temanku?"
"Tentu saja aku mau. Tapi aku tidak mau memaksamu ikut denganku, awalnya memang aku ingin kau ikut denganku agar kedepannya kau bisa terus bersamaku sebagai teman. Hanya saja sekarang aku tidak bisa membawamu bersamaku, kau telah menjadi suni dewasa dan seseorang telah memberikanmu nama jadi aku …."
"Itu kejadian 100 tahun yang lalu. Pamela sudah tidak ada lagi di dunia ini, dan aku hanya sendirian. Kau sudah datang jauh-jauh ke tempatku agar bisa mengajak aku pergi bersamamu bukan sebagai budak melainkan sebagai teman, itulah alasan kenapa aku berinisiatif ikut denganmu. Kau sama dengan Pamela, dia tidak pernah memaksakan kehendaknya pada orang lain sama seperti mu. Aku tidak pernah bertemu manusia sebaik Pamela dan ketika aku menemukannya lagi mana mungkin aku akan melepaskannya. Kalian para pelintas adalah manusia aneh yang berhati malaikat," tutur Selina memotong ucapan Isabella.
"Terima kasih mau ikut denganku. Tapi … kau benar mau pergi ke wilayah manusia tanpa menyembunyikan tanduk di kepalamu?"
"Tanduk ini tidak bisa disembunyikan."
"Lalu bagaimana kau bisa ke wilayah manusia begini?"
"Aku bisa menyamar menjadi …." Selina menggunakan kekuatannya dan berubah, "Kadal. Dulu Pamela suka aku dengan penyamaran ini."
Isabella menepuk dahinya melihat wujud Selina sekarang. Namun menyamar menjadi kadal juga tidak terlalu buruk, Isabella langsung menggendong Selina dan membawanya pergi meninggalkan wilayah suku barian.
*****
Vanessa sibuk melihat-lihat desain gaun-gaun yang indah, ia ingin membelikan beberapa gaun untuk Isabella karena tinggal menunggu waktu sampai Isabella tiba di Kediaman Abraham.
"Nona, dekorasi kamar utama sudah selesai dan siap untuk ditempati," ucap Viola. Ia adalah kepala pelayan yang sangat menyayangi Vanessa, dan selalu berpihak padanya.
"Kerja bagus, Viola. Terima kasih, kau bisa lanjutkan pekerjaanmu yang lain dan tolong jangan lupa untuk mengambil perhiasan yang telah aku pesan. Seharusnya sudah sampai," pinta Vanessa
"Serahkan saja itu pada saya. Saya akan pergi melihatnya di bawah," ucap Viola. Ia meninggalkan ruang istirahat Vanessa dan bergegas menuju lantai dasar.
Ternyata para pelayan toko perhiasan memang telah sampai, dan mereka tengah menurunkan semua kotak perhiasan dari dalam kereta ke ruang utama. Namun di sana ada Elene bersama kedua putrinya, mereka mengawasi para pelayan itu.
Viola tidak langsung turun, ia berdiam diri di tangga untuk mengamati apa yang akan dilakukan oleh ibu bersama 2 anak itu. Setelah semua kotak telah di turunkan para pelayan toko itu pun pergi tersisa Elena bersama sih kembar di sana.
"Pelayan, bawa 10 kotak ke kamarku!" perintah Carolina.
"Bawa juga 15 kotak ke kamarku!" perintah Charlotte tidak mau kalah.
"Kau itu adalah anak bungsu jadi punyamu harus sedikit, bawa 5 kotak," ketus Carolina.
"Tidak mau. Aku lebih cantik darimu jadi perhiasan ini lebih cantik di pakai olehku. Perhiasan itu akan menangis jika kau yang pakai,"balas Charlotte.
"Kau …."
"Ekhem ekhem," deheman Viola menarik perhatian mereka.
"Maafkan saya, duchess. Tapi semua perhiasan ini dipesan oleh Nona Vanessa, ini akan menjadi milik Nona Isabella nantinya," jawab Viola yang tidak mengurangi sedikit pun rasa hormatnya pada Elena sebagai duchess.
"Hah? atas dasar apa ini semua menjadi miliknya? dia pasti berbohong. Dia hanya berpura-pura mengatakan ini untuk Isabella, padahal itu hanya alasannya untuk menguasai seluruh perhiasan ini," sela Charlotte.
"Lagi pula ini terlalu banyak untuk satu orang, jadi apa salahnya berbagi. Lagi pula dia membeli ini dengan uang ayah kan, ayahnya adalah ayah kami juga jadi tidak masalah bagi kami untuk memiliki perhiasan ini," tambah Carolina.
"Tidak bisa. Sudah menjadi peraturan rumah ini sesuatu yang dibeli atas nama satu orang tidak bisa diberikan atau diambil oleh orang lain, kecuali diberikan secara langsung oleh pemiliknya jika tidak itu sama saja dengan mencuri. Karena kebutuhan semua orang di kediaman ini telah diatur dengan baik oleh duke," jelas Viola.
"Bawa ini semua ke kamar utama di lantai 3," perintah Viola kepada beberapa pelayan.
Mereka tidak membantah dan langsung melaksanakan perintah Viola, Viola berhasil membuat sang ibu dan kedua anaknya merasa sangat kesal.
"Berani sekali kepala pelayan itu," geram Carolina dan Charlotte.
"Perhiasan sebanyak itu tidak pernah dibelikan untukku, duke hanya memberikan aku 10 kotak saja setelah sebulan tinggal di sini. Bahkan kamar utama yang hanya diberikan kepada pewaris keluarga, kini diberikan kepada anak yang hidup sebagai rakyat biasa dengan reputasi yang buruk. Cedric juga tidak memberikan aku izin masuk ke kamar merak, kamar itu adalah kamar mantam duchess dan di sana pasti banyak gaun serta perhiasan mahal. Aku ingin memiliki barang-barang itu sebagai seorang duches," batin Elena yang terlampau serakah. Ia menutup kipasnya dengan perasaan kesal lalu ia kembali ke kamarnya di lantai 2.
"Aku mau semua desain ini, kakak pasti suka gaun yang mahal. Tapi sederhana, dengan begitu kakak akan tetap terlihat elegan," ucap Vanessa menyerah buku desain itu kembali kepada sang desainer.
Brak!
Tiba-tiba saja pintu ruangan mereka dibanting dari luar, terlihat mantan desainer Vanessa berdiri dengan wajah kesal.
"Anita? ada apa denganmu? kau menakuti tamuku," kesal Vanessa.
"Penghinaan macam apa ini? keluarga saya telah menjadi desainer keluarga Abraham secara turun temurun, lalu di depan saya anda berani memanggil desainer lain. Anda menghina saya?" geram Anita.
"Memang kau itu desainer keluarga ini, lalu kenapa? kau kan bukan desainer pribadi ku jadi aku bebas memanggil desainer mana saja. Kau masih bisa menjadi desainer keluarga ini, karena yang memakai pakaian di keluarga ini bukan hanya aku. Aku telah menjadikan Rain sebagai desainer pribadiku dan Kakak Isabella mulai sekarang, kau tidak perlu marah karena kau bisa menjadi desainer duke, duchess, dan dua nona muda Kalandra."
"Bagaimana bisa anda mengambil keputusan seperti ini? Rain adalah desainer yang baru saja debut, berbeda dengan saya yang telah berada dibidang ini selama bertahun-tahun."
"Apa gunanya desainer ahli jika aku tidak suka hasil desainnya, hum? lagi pula desain Rain sangat bagus. Sebaiknya kau keluar dari sini, aku tidak akan memperhitungkan sikap tidak sopan mu hari ini jika kau tidak mau pergi juga maka aku akan melaporkanmu pada ayah," ancam Vanessa.
Anita menggigit bibirnya lalu ia langsung berbalik dan pergi, Vanessa sebenarnya tidak lagi menyukai Anita setelah ia tau sikap asli wanita tersebut. Dulu ia sangat ramah, bahkan sangat menyayangi Vanessa. Tapi setelah kejadian beberapa saat lalu, ia melupakan semua tentang Anita.
Vanessa sangat menderita di siksa oleh Charlotte. Namun para pelayan malah mengabaikan dirinya seolah ia tidak ada di sana, saat itu Vanessa juga lihat Anita tersenyum merendahkan Vanessa yang berada di bawah kaki Charlotte.
Mungkin kemarin ia tidak berani melawan mereka. Namun sekarang tidak lagi, karena Cedric telah mengirim orang untuk menjemput Isabella. Orang yang Cedric kirim juga bukan orang sembarangan, jadi Vanessa tidak perlu khawatir dengan ancaman sih kembar atau Elena karena ia yakin Isabella akan tiba dengan selamat di ibukota.
*****
Bersambung.
Silakan tinggalkan jejak and dukung selalu author, karena dukungan kalian sangatlah berarti😘