
Beberapa saat yang lalu.
"Albert, apa kau sudah mengambil air dan memotong kayu bakar?" tanya pemimpin aula leluhur saat ia melihat Albert sedang duduk istirahat.
"Iya, semuanya sudah selesai. Aku harus melakukan pekerjaan apa lagi?" tanya Albert, ia menikmati pekerjaannya saat ini.
"Tidak usah. Tapi …." Pemimpin aula memberikan kotak makanan pada Albert, "Antar itu pada ayahmu, ini pangsit buatanku dia sangat suka. Ingat untuk kembali sebelum makan malam atau jatah makan malammu akan tiada."
"Baik." Albert menerima kotak makan tersebut dan bergegas pergi atau dia tidak akan dapat makan malam.
Kereta kuda melaju dengan kecepatan tinggi menuju kerajaan, hidup sebagai orang biasa membuat Albert merasa jauh lebih menikmati hidupnya.
Sesampainya di istana kaisar, Albert langsung pergi ke ruang kerja kaisar.
"Ayahanda. Aku bawakan pangsit buatan pemimpin aula leluhur," ucap Albert saat memasuki ruang kerja kaisar.
"Ah! masuklah, kita makan pangsit bersama," ajak kaisar meninggalkan pekerjaannya dan duduk di sofa.
"Maaf aya. Aku akan bersama yang lainnya saja di aula leluhur, makan bersama itu sangat menyenangkan," tolak Albert dengan lembut.
Kaisar pun menghela nafas menatap kotak makan tersebut, "Sejak kau pergi ke aula leluhur ayahandamu ini makan sendirian, sama sekali tidak menyenangkan. Apalah artinya makanan enak jika makan sendirian, jika bukan Vanessa yang datang menemani ayahanda adalah Charlize dan Isabella. Porsi makan Isabella sangat banyak dia sangat menakuktan jika makan. Tapi menyenangkan, hanya saja 15 hari tanpa kau membuat ayah sangat kesepian."
"Baiklah. Malam ini aku temani, semoga tidak di hukum nanti." Albert akhirnya memutuskan untuk tinggal dan makan bersama, dia tidak tega melihat wajah sedih ayahnya.
Setelah makan malam itu selesai Albert langsung pamit pulang. Namun niatnya untuk pulang batal, saat ia mendengar percakapan antara Babel dan Samantha.
"Aku membebaskanmu dari tempat suci itu bukan hanya sekedar membebaskan. Kau harus melakukannya tugasmu, ledakan kapal itu agar Charlize tiada dan tidak akan pernah kembali," ucap Babel.
"Apa-apaan ini, melenyapkan orang itu bukanlah hal yang baik. Bagaimana jika aku melakukan sesuatu padanya?" tawar Samantha.
"Apapun itu selama Charlize tidak akan pernah kembali dalam hidup Isabella aku setuju, dia itu adalah penghalang terbesarku."
"Isabellamu itu juga penghalang terbesar aku untuk bersama Charlize. Akan bagus juga jika ada yang meniadakan dia."
"Jangan sembarangan. Kau tidak bisa memikirkan itu, ingatlah siapa yang membantumu keluar dari tempat suci itu."
"Baiklah, aku akan menyelinap ke sana untuk merebut Charlize bukan untuk meledakan kapalnya," pungkas Samantha pergi.
Albert akhirnya ikut menyelinap ke kapal tersebut, ia bersembunyi dalam salah satu kotak kayu berisi pakaian. Ia tidak bisa membiarkan hal buruk terjadi pada Charlize karena Samantha, ini juga merupakan salah satu kesalahannya.
*****
"Ja-jangan sentuh aku." Charlize mendorong Samantha dengan sisa tenaganya yang ada.
Sayangnya tenaganya tidak cukup, Samantha malah menahan tangan Charlize lalu mengecupnya. Charlize merasa aneh karena kecupan itu, dengan cepat ia menarik kembali tangannya.
"Berbaringlah dengan patuh agar kau tidak kesakitan." Samantha mendorong Charlize agar berbaring dengan nyaman.
"Me-menjauh kau. Isabella, tidak bisa mengkhianati Isabella." Charlize menggenggam erat liotin pemberian Isabella.
"Kau dari tadi memegang liotin itu, kau tidak pernah pakai benda seperti ini sebelumnya. Apa ini dari Isabella?" tanya Samantha, ia juga menyentuh liotin itu.
"Lepaskan! ini Isabellaku." Kesadaran Charlize semakin memudar, ia melihat Samantha seperti melihat Isabella.
"Cih!" Samantha menarik liotin itu dari leher Charlize dan melemparnya ke lantai.
Tabung yang menjadi buah liontin tersebut pecah, mendengar suara itu Charlize melihat kearah liontin tersebut. Kesadaran Charlize kembali saat kata-kata Isabella kembali memenuhi kepalanya.
"Itu barang berharga, liontin yang hanya ada satu di dunia karena itu buatan sendiri. Aku tidak pernah melepaskannya selama ini, jadi jaga dengan baik."
"Ya, aku sedikit mulai mencintamu. Mungkin dari 1 sampai 10 nilai perasaannya 2."
Kesadaran Charlize kembali sepenuhnya ia pun mendorong Samantha dari atasnya, lalu ia turun dari ranjang dan mencabut belati dari sepatunya.
"Apa yang mau kau lakukan? apa kau akan melukai aku yang seorang perempuan?" nyali Samantha seketika menciut melihat belati tersebut.
"Tidak bisa mengkhianati Isabella, tidak bisa mengkhianatinya. Aku hanya mencintai Isabella," ucap Charlize menusuk belati itu ke pundaknya agar kesadarannya tetap terjaga.
"Charlize tidak, jangan lakukan itu. Kau bisa saja tiada, tolong lepaskan belati itu sekarang. Jangan bertindak nekat," pinta Samantha.
"Aku lebih baik tiada dari pada mengkhianati Isabella," balas Charlize tersenyum.
"Charlize!" Albert menerobos masuk ke kamar Charlize, "Beraninya kau Samantha."
Albert menjambak rambut Samantha lalu mengempaskannya keluar kamar, ia memanggil para kesatria untuk menangkap Samantha lalu mengurungnya jangan sampai bebas.
"Terima kasih," ucap Charlize, kesadaran Charlize kali ini benar-benar hilang hingga ia tumbang keluar jendela dan jatuh ke laut.
"Charlize!" Teriak Albert, ia juga ikut terjun ke laut untuk menyelamatkan sahabatnya tersebut.
"Aku ada di sini maka kau pasti akan baik-baik saja," batin Albert berusaha meraih tubuh Charlize yang tenggelam.
Beberapa tahun lalu.
"Gelar putra mahkota akan menjadi milik Pangeran Albert, pangeran adalah pewaris yang sah." Itulah keputusan dari tempat suci yang membuat Albert menjadi seorang putra mahkota di usia 12 tahun.
"Bagaimana mungkin?" batin Sera, ia tidak terima jika anak dari seorang selir menjadi lebih putra mahkota sementara putranya yang dilahirkan oleh seorang permaisyuri malah tidak..
Semua orang yang mendukung Albert merasa sangat senang karena dia terpilih. Namun tidak dengan Albert, dia baru saja kehilangan seorang ibu dan sekarang ia tidak punya kekuatan kelak di masa depan dia tidak bisa bertarung.
"Selamat Albert, aku sudah dengar kabarnya. Tapi kenapa kau malah sedih?" tanya Charlize menyentuh pundak sahabatnya.
"Aku tidak bisa bertarung di masa depan, kelak bagaimana aku bisa melindungi Vanessa? aku tidak pantas untuknya, cinta memang tidak seharusnya dipaksakan. Aku akan melupakan Vanessa, dia gadis yang baik dan aku tidak pantas untuknya." Charlize menundukan kepalanya di lutut.
"Kau adalah putra mahkota, seluruh pasukan kesatria kekaisaran akan melindungimu dan mematuhimu di masa depan. Kelak kau bisa melindungi Vanessa, tidak. Kau akan melindungi satu kekaisaran ini, jadi jangan terlalu di pikirkan."
"Siapa saja bisa berkhianat kata ibunda. Kata ibunda aku tidak bisa percaya siapa pun selain pendukungku, karena kita tidak akan tahu kapan mereka akan berbelok dan menyerang kita. Hidup sebagai keluarga kerajaan tidak akan mudah, kita butuh orang yang benar-benar setia."
"Jangan pikirkan lagi. Kelak di masa depan aku akan menjadi pedangmu, aku bersumpah demi ibuku jika hidupku hanya untuk melindungimu, mendukungmu, dan mempersatukan kau dengan Vanessa. Jadi tolong jangan bersedih hati."
"Baiklah. Nanti biar aku jadi perisaimu, aku juga akan melindungi dari orang-orang jahat. Mata kebenaranku tidak pernah salah," ucap Albert dengan penuh semangat. Janji yang begitu manis, dan tidak bisa ditepati oleh Albert.
*****
Bersambung.
Silakan tinggalkan jejak and dukung selalu author, karena dukungan kalian sangatlah berarti😘