
Charlize memanggil asistennya Edmund untuk masuk ke dalam tenda, ia tidak bisa tenang selama ia tidak tau identitas asli dari Allred.
"Anda memanggil saya?" tanya Edmund menyikapkan penutup tenda.
"Masuklah! aku ada perintah rahasia untukmu," jawab Charlize. Edmund pun langsung berjalan mendekat.
"Tolong selidiki seorang pria bernama Allred dari pasukan kelinci, aku ingin tahu semua tentangnya. Kau harus selidiki dengan baik jangan sampai dilewatkan satu pun."
"Tapi kenapa? menyelidiki anggota guild bukanlah hal yang mudah, dan anda sendiri tau tentang itu."
"Bukan hal yang mudah jika yang menyelidikinya bukan dirimu. Aku ingin tau secepat mungkin apa hubungan pria itu dengan Isabella," tutur Charlize.
"Isa-Isabella?" Regina yang sedang menguping terkejut mendengar nama wanita yang sama keluar dari mulut Charlize lagi.
"Huft …." Edmund menghela nafas berat karena Charlize lagi-lagi mencari Isabella. Dan ini sudah yang ke sekian kalinya.
Tiba-tiba gong di pukul, suara gong bergetar sampai menggetarkan apa saja yang ada di sekitarnya, jika gong di pukul maka itu artinya ada serangan mendadak.
"Bergegas ke benteng!" perintah Charlize pada Edmund.
Edmund mengangguk lalu ia keluar dari dalam tenda dan meniup terompet sebagai tanda semua pasukan Arsena harus bergegas ke posisi mereka masing-masing, Charlize juga sudah bersiap dengan armor dan senjata yang lengkap untuk terjun ke medan perang.
"Salam Komandan Arsena, pasukan guild kelinci telah bersiap," ucap March yang bertemu secara tidak sengaja dengan Charlize.
"Suku barian memang licik. Mereka selalu melakukan serangan mendadak, kita harus bergegas Komandan March," balas Charlize diangguki oleh March.
Sementara itu Fil dan Bara telah bersiap sesuai rencana yang mereka susun bersama March, mereka akan berada di garis terdepan untuk menyerang pasukan suku barian.
Pintu gerbang benteng dibuka atas perintah Charlize asal mereka bisa menyerang secara langsung, sementara itu Ainsley telah berada diatas benteng bersama tim pemanah sesuai perintah dari March.
"Hei bodoh! ingatlah jangan mengamuk terlalu berlebihan atau Allred akan kesusahan karena kalian," teriak Aisnley kepada 2 rekannya yang ada di bawah.
"Allred? apa mereka adalah orang-orang yang datang dengan Allred? itu artinya mereka bisa saja ada hubungan dengan Isabella, cih. Sebenarnya seberapa hebat pria-pria ini sampai Isabella dekat dengan mereka," batin Charlize menatap tajam ke arah Bara dan Fil.
"Mari lupakan itu dulu," batin Charlize lagi.
Ia tidak ingin kosentrasinya terganggu saat perang, apalagi sekarang ribuan pasukan berkuda Suku Barian datang dari 3 sisi. Sisi barat dipimpin oleh Martini, sisi timur dipimpin oleh March, dan sisi depan dipimpin oleh Charlize.
"Bersiaplah Allred," teriakan Fil saat pasukan berkuda suku barian semakin mendekat.
"Apa yang ingin mereka bu …." Charlize terkejut saat melihat Fil meminum banyak ramuan sekaligus.
Fil merentangkan kedua tangannya lalu angin kencang mulai berhembus sampai membuat debu berterbangan. Setelah mamastikan kekuatannya cukup Fil pun berteriak, "Kekuatan elemental, dorongan angin."
Seketika Allred langsung melayang dari atas benteng ke atas pasukan suku barian, melihat itu Charlize benar-benar dibuat bingung.
"Kekuatan waktu, pergerakan melambat." Cahaya emas yang sangat besar keluar dari tubuh Isabella mengenai seluruh pasukan berkuda suku barian disemua sisi, cahaya itu membuat mereka bergerak sangat lambat bahkan lebih lambat dari siput.
"Waktu hanya 30 menit, bergegaslah!" teriakan Isabella dari lokasi pendaratannya.
"Serang …." teriak Charlize tanpa berfikir panjang, begitu juga dengan March dan Martini.
"Regu pemanah. Kita juga harus bergerak," teriak Aisnley. Ia tidak mau kalah hebat dari rekan-rekannya yang saat ini sedang menggila di medan perang.
"Letakan racunnya pada ketapel, lalu lempar," perintah Aisnley seiringan dengan itu kantong racunnya terbang ke udara.
Racun itu sangat mematikan, jika kena kulit maka bisa membuat kulit hangus. Beruntung pasukan mereka menggunakan armor jadi racun itu tidak akan mengenai mereka.
"Teruskan membuang racun itu!" perintah Ainsley tersenyum bahagia.
"Apa ini kemampuan master ahli racun? menyeramkan. Bagaimana bisa ia bisa tersenyum melihat pembantaian ini?" batin regu pemanah yang gemetar ketakutan.
Kegilaan tim Isabella berhasil membuat banyak kesatria melongo. Isabella duduk dengan santai sambil meminum ramuan pemulihan tenaga ditengah medan perang, sedangkan Fil dan Bara membantai pasukan suku barian yang bergerak lambat layaknya menyapu semut di tanah, bahkan para kesatria Arsena hanya bisa menelan air liur mereka melihat hujan racun dari langit yang menghanguskan kulit pasukan suku barian. Tidak hanya itu saja salah satu kekuatan milik Luca yakni bayangan dewa membuat banyak mata sakit melihatnya, karena ia mengkloning dirinya sebanyak yang ia mau tanpa takut kehabisan tenaga.
Perang terus berlanjut dari hari ke hari begitu juga dengan kegilaan tim Isabella, Charlize yang awalnya tidak suka dengan tim Isabella kini selalu tersenyum melihat kerja sama mereka yang gila. Hanya dalam waktu 2 minggu saja tim Isabella berhasil merebut hati banyak pasukan kesatria milik Charlize, mereka semua bergaul dengan baik.
Isabella telah melupakan tujuan utamanya ikut perang ini karena telah terbawa suasana, sampai akhirnya di tengah perang ada kesatria yang datang melapor pada Charlize.
"Gawat duke! March menggila karena istrinya tertusuk tombak," ucap kesatria tersebut dan terdengar langsung oleh Isabella.
"Mar-Martini … aku harus menemuinya," batin Isabella. Ia gemetar ketakutan mendengar kabar tidak terduga tersebut, ia merasa dirinya telah gagal melindungi apa yang harusnya ia lindungi.
Isabella berlari mendekati salah satu bayangan Luca, lalu ia menarik bayangan tersebut tanpa mengatakan apapun.
"Kau mau ke mana?" Fil mencegat Isabella yang berlari kearah Barat.
"Martini … aku harus menyelamatkan Martini," jawab Isabella. Raut wajah terlihat sangat kacau, Fil tidak bisa membiarkan Isabella pergi dalam keadaan seperti ini.
"Lokasi barat sangat jauh, tidak mungkin bisa ke sana. Perang belum selesai."
"Apa peduliku dengan perang ini, aku tidak peduli. Aku harus menemui Martini, jangan halangi aku!"
"Kau tidak bisa Allred, sadarlah. Apa yang bisa kau lakukan? para tim medis ada di sana, mereka pasti akan menyelamatkan Martini.
"Mereka tidak bisa. Martini akan tiada dan semuanya akan berakhir, itu tidak bisa terjadi. Biarkan aku pergi."
"Mana mungki aku …."
"Fil. Kau harus ingat siapa tuannya di sini." Tatapan dingin dari Isabella membuat Fil merasa sangat tertekan, ini bukan sosok Isabella yang ia kenal.
"Biarkan aku membantu." Fil menggunakan kekuatan anginnya untuk mengirim Isabella bersama Luca secepatnya ke tempat Martini berada.
"Siapa tuannya, yah? siapa lagi kalau bukan kau, tapi peringatan itu tidak cocok untukmu. Aku tau itu bukan dirimu, aku sedikit iri dengan kepedulianmu akan mereka padahal kau juga akan menjadi seperti itu jika kami yang ada di posisi Martini. Hatimu terlalu lembut Allred," batin Fil. Ia merasa tersayat oleh peringatan Isabella.
Sesampainya Isabella di sana, Martini telah di pindahkan ke dalam tenda medis. Sementara March saat ini sedang menggila di sisi timur, dan kejadian terburuk akan terjadi setelah ini jika Isabella gagal menyelematkan Martini.
Kondisi Martini sangat menyedihkan, ia mengalami sesak nafas dengan tombak yang masih tertusuk di tubuhnya. Para dokter takut mencabut tombak tersebut karena Martini bisa saja kehilangan banyak darah, dan langsung tiada.
"Luca, ku mohon selamatkan Martini. Kau bisa kan? aku tau kau bisa," pinta Isabella berlinang airmata.
"Sulit Allred, kondisinya sekarang ku rasa tidak ada gunanya lagi walau pun aku menggunakan kekuatanku. Aku memang bisa membuatnya ber-regenerasi. Tapi bagaimana bisa jika tombak itu masih ada di sana, kalau tombaknya di cabut pun ku rasa kekuatanku tidak akan sempat menyembuhkannya" ucap Allred.
"Ap-apa yang kau la-laku-lakukan, nak? jan-jangan menyakiti dirimu sendiri, ini bukan salahmu. Sebagai ke-kesatria ini ad-adalah risikonya yang harus ak-aku tangggung, ja-jangan mena-menangis. Airmata ti-tidak pantas ada di matamu," ucap Martini terbata-bata.
******
Bersambung.
Silakan tinggalkan jejak and dukung selalu author, karena dukungan kalian sangatlah berarti😘