
Isabella mengambil bantal lalu melemparnya kearah Vanessa, "Jangan menatap kakak seperti itu."
Vanessa menghela nafas seraya menjatuhkan tubuhnya ke atas ranjang, "Habisnya kakak aneh sih, Kak Charlize tidak pernah melupakan kakak dan kakak malah lupa padanya. Apa kakak tau dia terus mencari keberadaan kakak selama bertahun-tahun. Tapi dia malah tidak bisa menemukan kakak, sampai akhirnya dia menjadi duke dan sangat sibuk."
"Kenapa kau bisa tau sebanyak itu?"
"Aku dan Albert sahabat sejak kecil lalu Albert dekat dengan Kak Charlize, awalnya kami memang tidak dekat. Tapi setelah ia tau aku putri ayah kami akhirnya jadi dekat, dia selalu bertanya tentang kakak padaku. Dia mengenal kakak saat kakak diasingkan oleh ayah ke desa sayangnya kakak tidak lama di desa itu, karena paman kakak membawa kakak pergi entah ke mana sampai ayah dan ibu tidak menemukan kakak lagi."
"Isabella memang diasingkan dari ibukota karena penyakit menular di tubuhnya, lalu pamannya membawa Isbaella berpindah dari satu desa ke desa lain setiap tahun sampai akhirnya mereka menetap di Kota Batu hitam dan menjadi bangsawan di sana. Tapi tidak pernah di ceritakan dalam novel jika Charlize punya hubungan seperti itu dengan Isabella, bahkan Charlize sendiri jarang di sebutkan dalam novel. Apa ini salah satu alur yang berubah karena aku?" pikir Isabella.
"Kakak akan menemuimu lagi nanti." Isabella mendorong kursi rodanya pergi dari kamar Vanessa.
"Eh? kenapa tiba-tiba? kakak!" panggil Vanessa. Namun tidak dihiraukan oleh Isabella, ia sibuk dengan pikirannya sendiri.
*****
Sementara itu di sisi lain Charlize tidak bisa behenti memikirkan wajah Isabella. Tapi setiap kali ia memikirkan Isabella, wajah Fil juga selalu muncul di kepalanya.
"Ck!" Charlize berdetak kesal terdengar oleh Albert.
"Ada apa denganmu?" tanya Albert, ia ingin istirahat. Tapi tidak bisa sebab Charlize beberapa kali berdecak di sampingnya, Albert mengantuk sekali jadi dia menumpang tidur di kamar Charlize.
"Aku kesal memikirkan pria bernama Fil itu. Entah apa hubungan Isabella dengan kesatria bayaran itu," jawab Charlize.
Albert bangun dari tidurnya seraya berkata, "Aku heran denganmu, kau itu buta atau apa? aku akan mendukungmu bersama dengan wanita pun. Tapi tidak dengan wanita yang satu itu, Isabella itu tidak baik seperti yang kau pikirkan."
"Aku kenal Isabella lebih baik darimu. Jika dia jahat pada Vanessa lalu untuk apa dia sampai berkorban sebesar itu untuk Vanessa, saranku untukmu nilailah orang itu jangan hanya karena omongan dari orang lain.."
"Aku tau kau tidak suka baca surat kabar. Di hari pertama ia datang, dia malah mendorong Vanessa ku sampai dia jatih dari jendela lantai 3. Apa itu baik?"
"Kau ingin berdebat denganku? jika kau punya masalah dengan Isabella maka itu urusanmu, cintaku pada Isabella adalah urusanku. Aku selalu mendukungmu jadi ku mohon jangan halangi aku."
"Kau marah padaku hanya karena wanita seperti Isabella, kau melupakan persahabatan kita hanya …."
Brak!
Charlize meletakan gelas dengan kasar diatas meja, "Kau istirahatlah dulu, aku punya pekerjaan yang belum selesai."
Karena kesal dan tidak mau membuat keributan dengan Albert jadi Charlize memutuskan untuk pergi meninggalkan Albert.
"Sial!" Albert memukul sandaran ranjang untuk melampiaskan amarahnya juga.
"Ini semua karena Isabella. Aku tidak mau Charlize tertipu olehnya, memangnya kenapa jika dia berkorban demi Vanessa. Siapa yang tau apa motif dari wanita saat menyelamatkan Vanessa. Bisa saja dia coba menggunakan hal itu untuk mengikat Vanessa dengan alasan Vanessa berhutang nyawa padanya, aku akan mengirim pesan kepada Samantha dan menjodohkan dia dengan Charlize karena hanya dia yang pantas untuk Charlize," batin Albert membuat rencananya sendiri.
*****
"Bagikan semuanya, ayo bagikan!" Samantha memerintah semua pelayan tempat suci untuk membagikan makanan kepada para pengemis.
Samantha menggeleng seraya berkata, "Jangan memuji saya sampai seperti itu karena saya hanya melalukan apa yang sudah menjadi tugas saya."
Nenek itu mengecup kening Samantha dan pergi bergabung bersama para pengemis yang lain, lalu Samantha melanjutkan pekerjaannya.
"Nona, ada pengemis yang terluka. Tolong kemari!" panggil salah satu pelayan, Samantha meninggalkan pekerjaannya dan menghampiri pelayan tersebut.
"Kekuatan cahaya, penyembuhan ringan." Cahaya dari tangan samantha masuk ke dalam tubuh pengemis itu, dan berkat cahaya itu luka pengemis tersebut hilang tanpa bekas.
"Berikan dia makanan dan ramuan pemulihan tenaga," perintah Samantha meninggalkan mereka dan pergi ke tempat pengemis terluka yang lain.
Pekerjaan yang memakan waktu selama 2 jam tersebut benar-benar menguras tenaga Samantha, ia kembali ke tempat suci saat hari sudah petang.
"Olif, cepat siapkan air hangat! aku ingin mandi," perintah Samantha membuka semua pakaiannya.
"Taylor kau buang pakaian ini!" perintah Samantha lagi pada pelayan pribadinya yang lain.
"Pakaian ini masih bagus nona, sayang kan jika di buang. Saya cuci saja yah?" tawar Samantha.
"Apa kau bercanda? kau ingin aku memakai pakaian yang telah disentuh oleh para pengemis kotor itu? kotoran itu tidak akan hilang bahkan jika kau cuci dengan air suci sekali pun."
"Kalau begitu bisakah ini untuk saya saja?"
"Kau ingin menjadi wanita suci sepertiku? aku sarakan padamu yah, jangan pernah melirik barang-barang ku sedikit saja apalagi sampai ingin memilikinya. Orang seperti kalian tidak pantas," hina Samantha kemudian berlalu masuk ke ruang pemandiannya.
Ketika Samantha selesai mandi ia meminta Olif, Sarah, dan Vivian membantu berpakaian. Tidak lama Taylor datang membawa nampan perak berisi surat, melihat hal itu Samantha langsung bergegas mengambil surat tersebut.
"Siapa yang memberimu izin membawa surat ini? tugasmu adalah mencuci, membersihkan, dan merapikan kamarku. Jangan sentuh barang-barang ku tanpa izin dariku atau barang-barang ini bisa kotor sama sepertimu," kesal Samantha.
Samantha memeriksa surat tersebut yang ternyata adalah surat dari Albert, ia sudah lama tidak menerima surat dari sahabatnya yang satu ini.
"Baru sekarang kau ingat aku? dasar Albert!" Samantha tersenyum kecil lalu membuka surat tersebut.
Ternyata surat itu berisi undangan, di mana Albert mengundang Samantha untuk menghandiri perjamuan yang akan dia selenggarakan. Perjamuan itu Albert adakan dengan alasan merayakan kembalinya putri mahkota, tidak ada yang tau arti sebenarnya dari perjamuan tersebut.
"Apa ini? kembalinya Vanessa saja harus di rayakan. Kau tidak mengundangku ke perjamuan ulang tahunmu karena kita bertengkar, lalu sekarang kau mengundangku seolah tidak terjadi apa-apa diantara kita. Padahal dia tau aku ingin dia membujukku dengan cara mendukung cintaku akan Charlize. Jika bukan karena ingin melihat Charlize maka aku tidak akan datang ke sana," gerutu Samantha melempar surat tersebut ke lantai.
"Aku ingin menikah dengan Charlize. Kenapa kau tidak mau mengerti? selama ini Charlize tidak sadar akan cinta ku dan dia malah bertunangan dengan wanita kelas rendah, kesalnya! aku benar-benar kesal dengan mereka berdua, aku ini sahabat mereka atau tidak sih," batin Samantha kembali teringat luka lamanya.
*****
Bersambung.
Silakan tinggalkan jejak and dukung selalu author, karena dukungan kalian sangatlah berarti😘