The Second Life Of The Mercenary

The Second Life Of The Mercenary
Bab 94 Suasana hati Edmund memburuk.



"Merepotkan sekali. Kenapa juga harus aku yang kalah?" kesal Luca. Ia kalah bermain teka-teki dengan yang lainnya dan berujung di minta belanja kebetuhan dapur.


"Jalan pintas," batin Luca melihat gang yang menjadi rute tercepat ke kediaman Oswald.


Karena tidak mau lelah ikut jalan besar Luca mengikuti rute cepat itu, melewati gang yang sempit dan sepi. Tidak ada orang lain selain dia di dalam gang itu, tapi saat Luca hampir sampai ke ujung gang di sana berdiri seorang wanita bertudung hitam.


"Adikku sayang. Apa kabar? kau terlihat hidup dengan baik." Zelene membuka tudungnya lalu menatap Luca dengan senyum lebar.


"Ka-kakak." Luca menjatuhkan belanjaan di tangannya saat melihat siapa orang itu, tidak hanya itu tangannya juga gemetaran.


"Kau masih ingat aku ini kakakmu? Luca ku sayang, kemarilah! peluk kakak hehehehe." Zelene berusaha mendekati Luca. Namun, Luca menghindar darinya.


"Kenapa Luca? kenapa kau menghindar? kemarilah! sebelumnya kita sangat lengket bukan? ah! jika kau ada di sini maka Allred ku juga ada di sini, iya kan? kan?"


"Diamlah! jangan sebut nama Allred dengan mulut kotormu itu, kau menjauhlah dari kami seumur hidup."


"Eh! Luca ada apa denganmu? kau ingin memisahkan kakak dan Allred? kenapa? padahal kami saling mencintai. Katakan pada Allred jika dia tidak datang menemui kakak maka, hehehehe kakak akan membuat banyak racun lagi untuk membuat kekuatan hewan yang menjadi monster semakin bagus."


"Jadi ini semua ulah kakak? kenapa kakak melibatkan banyak orang yang tidak bersalah dalam hal ini? apa kaka tidak tau jika … jika kakak menyusahkan banyak orang."


"Apa peduliku pada mereka? Allred lah yang aku inginkan. Ingat itu Allred jam 9 malam minggu depan di bukit hutan sana ada pondok ku." Zelene menunjuk bukit yang jaraknya cukup jauh, setelah itu dia menghilang.


****


Sesampainya di kediaman Oswald Luca melempar belanjaanya begitu saja ke lantai, lalu dia berlari ke toilet.


"Hei bocah! ada apa denganmu?" teriak Bara sayangnya tidak ada jawaban dari Luca.


"Mari kita lihat!" ajak Callix. Mereka pun pergi ke toilet, dari luar pintu toilet mereka mendengar Luca muntah.


"Ada apa dengannya? apa dia salah makan saat sarapan tadi?" tanya Callix menatap Audrey, "Apa kau memasak makanan basi?"


Bugh!


Audrey memukul keras kepala Callix, "Jangan konyol. Mana mungkin aku tega membuat kalian makan makanan basi."


Tidak lama Luca keluar dari toilet dengan wajah pucat pasi, seluruh tubuhnya gemetar dan dia berkeringat banyak.


"Luca, apa kau baik-baik saja? apa yang terjadi di luar tadi?" tanya Bara. Ia memapah Luca sampai ke ruang tamu.


"Ceritakanlah pada kami," pinta Fil.


"Kak Zelene, aku bertemu dengannya. Tapi dia menjadi sangat berbeda dengan sebelumnya, senyum, tatapan, dan tingkah lakunya seperti orang gila. Obsesinya akan Isabella sangat besar, aku takut padanya," jawab Luca, ia mendekap kakinya dan menundukan kepala diatas lutut.


"Wanita itu. Apa ada hal lain lagi?" tanya Bara.


"Dia ingin Isabella menemuinya minggu depan atau katanya hewan yang akan menggila jadi monster bisa saja menjadi lebih ganas karena dia adalah dalang dibalik itu semua, mana mungkin aku biarkan Isabella pergi menemuinya. Kalian ingat kemarin wajahnya terlihat sangat bahagia, begitu banyak masalah yang dia dapatkan akhirnya hilang. Apa yang harus aku lakukan?" tanya Luca, ia tidak tau harus berbuat apa dengan Zelene.


"Isabella mungkin tidak perlu tahu. Tapi keluargamu bukan hanya dia saja, kami akan membantumu mengurus masalah ini. Mari jangan libatkan Aisnley, dia itu punya mulut seperti ember. Jangan khawatir kakak-kakakmu ada bersamamu." Fil menepuk pelan pundak Luca, Luca pun akhirnya bisa tersenyum.


"Selamat pagi!" teriak Isabella yang masuk bersama Taylor.


"Isabella! selamat pagi," jawab mereka serempak.


"Hari ini Callix bangun terlambat jadi kami tidak akan buka toko, memangnya kenapa?" tanya Audrey kebingungan.


Isabella tersenyum lalu mengangkat tas berisi daging merpati yang telah di bersihkan dari bulunya, "Bisakah kau panggang ini untukku?"


"Mer-merpati? kau makan merpati panggang?" tanya Bara terkejut.


"Apa masalahnya? ini pasti akan enak. Jangan bilang kau juga mau." Isabella merasakan ada hawa aneh dari Bara.


"Hehehe, ketahuan yah." Bara cengengesan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Boleh. Lagi pula aku beli banyak." Isabella menatap Taylor, Taylor yang paham langsung menujukan berapa banyak kantong belanja berisi daging merpati yang ia bawa.


"Nona menghabiskan semua daging yang dijual di pasar hari ini," ucap Taylor.


Tatapan Isabella tertuju pada Luca, walau pun Luca bersikap seperti biasa Isabella tetap menyadari ada yang aneh darinya. Tanpa menunggu lama Isabella berpindah tempat duduk ke samping Luca.


Isabella menarik kepala dengan lembut agar bersandar di pundaknya seraya berkata, "Tenanglah! hari ini wajahmu sangat pucat seperti orang ketakutan, apa yang perlu kau takutkan saat kami semua ada di sisimu."


"Kata siapa aku ketakutan? membual!" ketus Luca. Tapi tetap bersandar di pundak Isabella, ia merasa nyaman dengan posisinya.


"Mari ke dapur untuk memanggang, daging sebanyak itu perlu lebih dari dua tangan." Audrey bangkit dari tempat duduknya.


"Katanya orang, juru masak itu punya 9 tangan," goda Isabella membuat yang lainnya tertawa.


"Berisik!" Audrey mengalihkan pandangannya dengan wajah memerah, karena kata-kata itu tidak lain di katakan oleh Audrey sendiri saat ia pertama kali memasak untuk Isabella.


*****


Charlize duduk sambil nenopang dagunya dan sesekali menghela nafas, hari ini Isabella tidak akan datang karena kemarin mereka telah menghabiskan banyak waktu bersama.


"Duke, anda mulailah bekerja. Jika setiap saat memikirkan Nona Isabella maka bisa-bisa keluarga anda bangkrut," ucap Edmund, ia kesal melihat Charlize duduk diam sejak tadi.


"Gerakan tangan anda," lanjut Edmund.


"Kau saja yabg bekerja, aku ingin ke kediaman Abraham," balas Charlize.


"Pergilah jika anda bisa." Edmund menunjukan kunci ruang kerja Charlize di tangannya, "Hari ini saya pastikan anda tidak bisa keluar sampai pekerjaan anda selesai."


Charlize menghela nafas lagi, surat cintanya kemarin dibakar oleh Vanessa dan burungnya hampir saja Isabella panggang. Semua kenyataan yang Isabella katakan kemarin membuat Charlize kehilangan semangat untuk hari ini, ia ingin menghabiskan waktu dengan Isabella lagi.


"Apa dia sudah sarapan atau tidak yah? apa makanannya cukup? dia bilang dia ingin merpati panggang, apa dia memakan merpati panggang?" gumam Charlize.


"Edmund, tangkap semua burung merpati kita lalu panggang mereka dan kirim ke kediaman Abraham. Isabella harus makan apa yang dia mau," tegas Charlize yang hanya mendapatkan tatapan datar dari Edmund.


"Jangan konyol! daging merpati banyak di pasar, nona bisa beli sendiri jika dia mau. Anda juga jika ingin bertemu dengan nona selesaikan pekerjaan anda jangan bergumam tidak jelas," kesal Edmund. Ia melanjutkan pekerjaannya tanpa mempedulikan Charlize lagi atau susana hatinya akan semakin buruk.


*****


Bersambung.


Silakan tinggalkan jejak and dukung selalu author, karena dukungan kalian sangatlah berarti😘