The Second Life Of The Mercenary

The Second Life Of The Mercenary
Bab 48 Pengkhianatan



Kehadiran Isabella di tempat latihan itu membuat banyak kesatria tidak bisa fokus, bagaimana mereka bisa fokus jika ada seorang wanita cantik yang tidak melepaskan tatapannya dari mereka.


Para kesatria itu berdoa agae Isabella cepat pergi dari sana, jika tidak maka merema bisa saja dihukum karena tidak latihan dengan benar.


"Nona Isabella, sedang apa anda di sini?" tanya seorang kesatria yang datang menghampiri Isabella. Melihat kesatria itu masih memakai zirahnya Isabella dapat menebak jika kesatria tersebur baru bergantian tugas dengan kesatria lain untuk istirahat makan siang.


Isabella tidak menjawab pertanyaan, ia menatap pria itu selama beberapa detik lalu kembali fokus ke lapangan latihan.


"Hei nona!" pria itu meletakan tangannya dipundak Isabella, "Saya bertanya pada anda, anda harusnya menjawab dong."


Plak!


Isabella menepis tangannya dan berkata, "Sejak kapan bawahan bisa meletakan tangannya sesuka hati pada majikannya, tidak sadar kah kau itu kotor."


Pria tersebut ternyata punya dendam dengan Isabella. Oleh karena itu, ia berani mendorong Isabella dari tempat duduknya hingga tersungkur ke tanah.


"Itu adalah hukuman untuk anak yang nakal. Bagaimana bisa ada mengatai saya kotor sementara anda tinggal dibawah perlindungan saya, itu sama sekali tidak sopan jadi anda harus menerima hukuman," ejek pria tersebut.


Isabella menjadi sangat kesal lalu saat ia hendak bangun, pria itu malah menginjak punggungnya agar ia tidak bisa bangun.


"Anda mau ke mana? waktu hukuman belum selesai, setidaknya anda harus tetap berbaring diatas tanah seperti itu karena anda memang pantas mendapatkannya. Bahkan saya sedikit kasihan dengan tanah itu, anda tau kenapa? karena tanah itu harus bersentuhan dengan wanita menjijikan seperti anda," hina pria itu lagi.


"Hei! apa yang kau lakukan? kau bertindak tidak sopan, jika Komandan melihat ini maka beliau akan marah besar."


"Sadarlah, tindakanmu ini adalah wujud dari pengkhianatan."


"Nona bisa kesakitan jika kau terus menginjaknya, menyingkirlah!"


"Diam! jangan ikut campur, apa kalian lupa siapa aku, huh? pergi sana!" bentak pria tersebut kepada para kesatria yang berusaha menasehatinya.


"Isabella, apa yang harus aku lakukan? aku ingin memakan pria itu," bisik Selina. Isabella bisa merasakan aura membunuh yang sangat besar dari Selina.


Pria merasa sangat puas melihat Isabella tidak berdaya dibawah kakinya. Lalu dengan sedikit menunduk pria itu berbisik, "Ini adalah bayaran atas apa yang kau lakukan pada wanita yang ku cintai. Kau tau kan Yulia orangnya, ia mengadukan semua yang kau lakukan padanya. Jangan harap kau bisa lolos setelah apa yang kau perbuat, ingatlah! kau anak yang tidak diakui oleh duke. Bahkan wanita bernama Vanessa itu, dia jauh lebih baik darimu walau pun memiliki darah rendahan setidaknya dia diakui oleh duke."


"Selina, tolong yah," pinta Isabella, pria itu telah menyentuh batas kesabaran Isabella yang tidak lain adalah Vanessa, ia terima penghinaan seperti apa pun itu. Tapi ia tidak terima jika yang di hina adalah Vanessa, bagaimana bisa ia diam saja saat wanita menggemaskan itu dihina oleh pria yang tidak tau diri.


Selina dengan cepat langsung menerkam kaki pria tersebut, mungkin saat ini ia hanyalah seekor kadal. Tapi dengab wujud kadal ini ia bisa sesuka hati membuat gigi atau kuku kakinya menjadi tajam, lebih tajam dari pisau.


Pria ia menjerit kesakitan dan berusaha melepaskan gigitan Selina dari kakinya, berkat itu Isabella akhirnya bisa bangun.


"Selina, lepaskan dia dan kemarilah!" perintah Isabella, Selina menatap tajam pria kemudian melepaskan gigitannya dan kembali pada Isabella.


"Kau sendiri yang memulai hal ini, jangan salah kan aku." Isabella mengeluarkan belatinya lalu menyerang pria tersebut. 


Pria itu beberapa kali terkenal sayatan dari belati Isabella, ia tidak punya kesempatan untuk menyerang. Bagaimana bisa ia menyerang Isabella jika berdiri dengan baik saja ia tidak bisa.


Merasa dirinya tidak akan menang, pria menggunakan trik melemparkan pasir ke wajah Isabella. Para kesatria yang melihat trik itu menjadi kesal, pria itu secara langsung telah menghina kehormatan para kesatria dengan menggunakan trik kotor.


"Semua cara dihalalkan dalam perang dan cinta. Mati kau!" pria itu menghunuskan pedangnya tepat ke arah perut Isabella.


"Nona!" teriak para kesatria saat ujung pedang itu mengarah tepat pada Isabella.


Tak!


Tangan Isabella dengan cepat menahan pedang tersebut, lalu Isabella melalukan lompatan jungkir balik di udara (Salto) kemudian mendarat dengan baik tepat diatas pedang kesatria tersebut.


"Kena kau!" bisik Isabella, diatas pedang itu ia melepaskan tendang baling ke kepala pria tersebut.


Kaki Isabella mendarat mulus ke tanah sedangkan pria itu terhempas jauh sampai tidak sadarkan diri, seketika sorakan dari para kesatria meramaikan lapangan pelatihan tersebut.


"Ck! suara berisik apa itu," batin Azar. Ia yang terbangun dari tidur nyenyaknya dan langsung melihat keluar jendela.


"Mereka terlalu bersemangat." Azar tersenyum melihat para kesatria berkumpul bersama lalu ia menutupi tirai jendela dan kembali tidur, ia tidak menyadari ada Isabella diantara para kesatria tersebut.


*****


Seusai jam makan malam, Cedric memanggil Isabella ke ruang kerjanya di sana ada Jeremy bersama kesatria yang bertarung bersamanya tadi siang.


Saat melihat Isabella amarah kesatria itu langsung mendidih, ia ingin sekali menusuk Isabella dengan pedanganya sebagai balasan atas penghinaan yang ia terima.


"Nona silahkan du …."


"Dia tidak pantas duduk," Cedric memotong ucapan Jeremy yang hendak mempersilakan Isabella duduk.


"Sekarang katakan padaku, apa yang kau lalukan di lapangan latihan para kesatria?" tanya Cedric pada Isabella.


"Aku? untuk apa juga aku ke sana?" Isabella balik bertanya seolah tidak tau apapun.


Kesatria itu memukul meja lalu berdiri seraya berkata, "Jangan berbohong, semua orang melihat anda ada di sana. Bahkan anda menggunakan kekuasaan anda sebagai putri duke untuk menyakiti saya, saya tidak berani melawan anda dan menerima semua pukulan anda itu karena anda adalah putri dari duke. Saya tidak mau menjadi pengkhianat dengan cara melawan anda."


"Oh, kau mau bersandiwara didepanku? berani sekali kau. Aku akan perlihatkan padamu apa itu sandiwara," batin Isabella tersenyum.


Diluar dugaan Isabella meneteskan airmata. Airmata itu membuat Cedric, Jeremy, bahkan kesatria itu terkejut.


"Ba-bagaimana bisa aku pergi ke sana? aku akui aku adalah wanita yang jahat. Tapi walau pun jahat aku tetaplah seorang wanita, bagaimana bisa aku menyakiti seorang kesatria yang gagah perkasa. Itu jelas-jelas mustahi," sanggah Isabella.


"Itu benar duke, pintu gerbang ke asrama para kesatria itu berat 6 ton dan selalu tertutup. Bagaimana bisa nona membuka pintu itu?" tambah Jeremy.


Cedric merasa apa yang dikatakan oleh Jeremy masuk akal. Kini tatapannya pada kesatria itu berubah, ia mulai mencurigai ada yang salah dari kesatria ini.


"Bagaimana kau ingin menjelaskan soal pintu itu?" tanya Cedric pada kesatria yang sekarang sedang dilanda khawatiran.


"Itu … saya tidak tau karena saya bertemu dengan nona saat nona sudah berada di dalam, bisa saja kan nona meminta para kesatria lain untuk membukanya," jawab kesatria itu. Ia memikirkan berbagai macam kemungkinan yang ada.


Brak!


Azar membuka pintu ruang kerja Cedric, lalu ia masuk bersama beberapa para kesatria.


"Pria itu kan …." Isabella langsung mengenali wajah pria  yang telah menyerang dan mengambil darahnya beberapa waktu lalu.


"Ko-komandan." Kesatria itu sangat ketakutan melihat Azar.


Bugh!


Azar melayangkan tinjunya ke wajah kesatria itu. Raut wajah Azar saat ini penuh dengan amarah, "Memalukan, kau mempermalukan seluruh kesatria Abraham. Hanya karena seorang pelayan wanita kau menjadi pengkhianat dengan membuat tuduhan palsu atas majikanmu sendiri, di mana sumpah setiamu pada keluarga Abraham sampai kau berani bertindak seperti ini."


Bersambung.


Silakan tinggalkan jejak and dukung selalu author, karena dukungan kalian sangatlah berarti😘