The Second Life Of The Mercenary

The Second Life Of The Mercenary
Bab 69 Elena bergerak cepat.



Elena pulang dengan perasaan gembira karena sebentar lagi dirinya akan menjadi mertua seorang pangeran, dan derajat putrinya akan berada jauh diatas Isabella.


"Charlotte ku sayang. Ibu sudah pulang," sapa Elena saat memasuki kamar sih kembar.


"Oh baru pulang yah. Bagaimana dengan pesta tehnya? seru pasti," sinis Carolina, ia marah karena ibunya datang terlambat.


"Kenapa kau sinis dengan ibumu?" tanya Elena yang jadi ikutan marah.


Charlotte menceritakan semua yang terjadi dari awal ulah mereka berulah sampai akhir, mendengar itu Elena terkejut karena mereka bertindak tanpa memberitahu kan apapun padanya.


Tapi sekarang bukan itu masalahnya karena Vanessa tidak membuka mulutnya, jadi posisi mereka di kediaman Abraham masih aman.


"Lupakan itu karena ibu ada kabar baik untukmu. Pangeran Babel ternyata mencintaimu dan dia ingin bertunangan dengamu," ucap Elena pada Charlotte membuat Charlotte terkejut.


"Aku? tidak tidak tidak. Pangeran Babel telah bertunangan dengan sahabatku Liliana, aku tidak mau menyakiti Liliana ibu," jawab Charlotte.


"Kenapa kau peduli pada wanita kurang ajar itu? dia sudah menghina ibu hanya karena ia kesal Pangeran Babel membatalkan pertunangan mereka. Kau mau mendukung orang yang telah menyakiti ibumu? apa kau tega?"


"Nona Liliana itu adalah wanita yang sangat lembut, ibu pasti sudah salah paham padanya. Aku tidak mau bahkan jika ibu memaksaku."


"Baiklah. Terserah padamu, ibu tidak akan peduli lagi. Dia sudah mengancam ibu dan putri ibu sendiri malah berpihak padanya, akhirnya ibu sadar setelah ayah kalian meninggal kalian ternyata tidak peduli pada ibu. Ibu juga begini demi masa depan kalian."


"Bukan begitu maksudku ibu. Aku hanya tidak mau dibenci oleh nona-nona pergaulan kelas atas karena menyinggung Liliana."


"Keluarga Liliana hanya menunggu waktu untuk hancur, pertunangan juga akan segera di batalkan jadi kau tidak usah peduli padanya. Di masa depan juga jika kau susah belum tentu kau akan di bantu olehnya, kau lupa bagaimana sahabat ibu mencampakan ibu setelah ibu ditinggal oleh ayahmu?"


"Baiklah. Aku akan setuju dengan apa yang ibu katakan." Charlotte akhirnya setuju untuk melakukan apa saja yang menjadi ucapan sang ibu.


"Cih! kenapa juga harus dia sih," batin Carolina tidak kalah kesal karena hanya Charlotte yang beruntung.


*****


"Kenapa kau berikan aku pakaian pria? ini sangat cocok untukku," ucap Aisnley berputar di depan cermin.


"Kau terlihat aneh berkat pakaian itu, sangat jelek," ejek Selina. Ia tidak suka dengan melihat Aisnley terlalu bangga dengan penampilannya, masalahnya karena setelah kejadian itu Isabella tetap menutupi identitas Selina dari orang yang belum tahu tentangnya. Karena hal itulah ia jadi tidak bisa memakai gaun seperti yang ia impikan.


Tok tok tok


Azar mengetuk pintu kamar Isabella, Aisnley langsung menjauh dari cermin dan Selina langsung kembali menjadi kadal.


"Masuk!" perintah Isabella. Pintu pun terbuka dan muncullah Azar dari balik pintu.


Azar melangkah masuk ke dalam kamar Isabella. Namun Azar menghindari kontak mata dengannya, Isabella memperhatikan ada yang berbeda dari Azar contohnya sikap pria itu berbeda dari biasanya. Tidak ada tatapan kebencian, waspada, atau pun permusuhan darinya.


"Saya datang untuk memgucapkan terima kasih," ucap Azar melirik Isabella diam-diam.


Isabella tidak menjawab karena perhatiannya tertuju pada pedang yang tergantung dipinggang Azar, Isabella kenal pedang itu karena pedang itu adalah pemberiannya untuk Ayana. Isabella pun menatap wajah Azar serta pedang itu secara bergantian.


Setelah beberapa saat Isabella baru sadar dan ia terkejut, "Jangan bilang kau adalah kekasih Ayana?"


Kali ini Azar yang tidak menjawab. Namun wajahnya yang memerah telah menjawab pertanyaan itu, Isabella bangkit dari kursinya lalu berjalan mendekati Azar.


"Tentu saja. Anda pikir saya ini hantu sampai tidak bisa punya kekasih."


"Bukan itu maksudku. Pasalnya kau itu kan … terkenal sebagai pria pujaan banyak nona bangsawan, jadi mana mungkin kau bisa punya kekasih saat  begitu banyak wanita yang memujamu."


"Hah? apa hubungannya itu semua? usia saya sudah cukup untuk menikah dan saya mencintai Ayana. Mereka tidak ada hubungannya dengan ini," kesal Azar.


"Apa nona mungkin berpikir bagaimana bisa pria miskin yang tidak bisa membeli pedang untuk dirinya sendiri bisa punya kekasih secantik Ayana? wajah jika nona berpikir begitu, aku telah banyak bersikap kasar padanya padahal aku sendiri bukanlah pria kaya yang terhormat. Setelah ini nona pasti akan menghinaku," batin Azar.


"Setialah pada Ayana, dia gadis yang manis. Kalian cocok dan juga jangan lupa undang aku saat kalian menikah," ucap Isabella. Ucapan tidak terduga dari wanita yang terkenal jahat seperti Isabella membuat Azar merasa terharu.


"Jika butuh apa-apa jangan ragu katakan padaku. Kau bisa meminjam apa pun padaku, tidak perlu merasa harga dirimu terluka karena semua yang ku berikan padamu itu tercatat sebagai hutangmu," lanjutnya lagi.


"Terima kasih banyak nona. Saya permisi, selamat istirahat." Azar membungkuk hormat lalu pergi dari kamar Isabella dengan perasaan gembira.


*****


Keesokan harinya Cedric sangat bahagia karena luka kedua putrinya sembuh tanpa bekas, ia bertanya ahli ramuan mana yang memberikan ramuan tersebut. Tapi mereka sepakat untuk merahasiakannya, karena identitas Luca bisa membuat kegemparan baru.


Setelah sarapan Vanessa pergi meninggalkan kediaman karena ia akan menjadi penyelenggara pesta teh yang akan Albert adakan di taman istana atas namanya, Isabella juga ingin keluar.  Tapi setelah melihat Elena berjalan bersama Cedric ke lantai atas membuat Isabella penasaran, ia berpikir Elena ingin menjalankan rencana baru karena pasti saja sih kembar saat ini sedang di landa kekhawatiran tanpa ujung setelah kejadian kemarin.


Isabella mengikuti mereka sampai mereka masuk ke dalam ruang kerja Cedric, di depan pintu Isabella siap menguping pembicaraan mereka.


"Jadi kau ingin bicara apa?" tanya Cedirc.


"Saya ingin nama belakang sih kembar di ganti dari Kalandra menjadi Abraham. Mereka sekarang adalah tanggung jawab anda, anda berhak memberikan apa yang harus menjadi milik mereka. Kejadian penculikan Vanessa yang dilalukan oleh paman mereka sendiri membuat hati mereka terluka, mereka bertanya kenapa mereka harus memiliki nama belakang yang sama dengan penjahat itu," jawab Elena. Ia memulai drama baru lagi.


"Hal ini harus ada persetujuan antara aku dan kedua putriku. Jika mereka tidak setuju maka … aku tidak bisa berbuat apa-apa."


"Mana mungkin, anda adalah hukum di kediaman ini. Saya tidak pernah meminta apapun selama ini jadi tolong kali saja tolong penuhi keinginan kecil saya."


"Aku akan memikirkannya lagi. Jadi kau bisa keluar sekarang."


"Permaisyuri ingin menjodohkan Charlotte dengan Pangeran Babel, itu alasan kenapa saya ingin nama belakang mereka di ganti."


"Pangeran Babel sudah punya Nona Liliana, kenapa bisa?"


"Ini masalah cinta. Pangeran Babel jatuh cinta pada Charlotte jadi dia akan membatalkan pertunangannya dengan Liliana."


Isabella merasa bukan  itu masalah utama pembatalan pertunangan mereka, karena kejadian buruk dibalik pembatalan pertunangan Charlize dan Regina menjadi kunci kehancuran keluarga Lugia. Ayah Regina telah menjadi kriminal dan dipenjara oleh kaisar, posisi Babel tidak akan aman jika keluarga Lugia hancur karena keluarga itu mendukung posisinya, jadi sebelum keluarga itu benar-benar hancur permaisyuri langsung mencari pendukung yang lain.


"Dia bergerak cepat juga rupanya," batin Isabella.


*****


Bersambung.


Silakan tinggalkan jejak and dukung selalu author, karena dukungan kalian sangatlah berarti😘