
Kabar bahwa Duke Abraham yang akan melamar seorang Baroness telah menyebar luas ke seluruh pelosok kekaisaran, bahkan Vanessa sendiri terkejut dengan kabar tersebut. Namun ia tidak menentang keinginan ayahnya, malah Vanessa yang mengurus semua keperluan untuk pesta pernikahan Cedric.
Sayang sekali kabar itu tidak sampai ke telinga Isabella. Jika saja Isabella tahu maka ia akan kebingungan sebab pada alur novel yang asli tidak diceritakan jika duke akan menikah lagi.
Setelah hari esok datang, Isabella dan Bara pergi menemui Sean untuk yang terakhir kalinya sebelum keduanya pulang.
"Ini bayaran kalian! terima kasih untuk kerja kerasnya," ucap Sean kepada Bara dan Isabella. Mereka menyelesaikan misinya dengan baik.
"Tidak perlu berterima kasih karena kami hanya melakukan apa yang seharusnya, lagi pula kami mendapatkan upah," balas Isabella memainkan kantong yang penuh berisi uang.
Tok tok tok
"Ayah, ini Zelene." Zelene mengetuk pintu dari luar.
"Kenapa mengetuk pintu? biasanya kau langsung masuk, sejak kapan kau punya tata krama?" ketus Sean. Ia merasa ada yang tidak beres dengan Zelene.
Zelene membuka pintu, lalu dengan wajah tersenyum ia menjawab, " Ayah ini bicara apa? Zelene selalu melakukan hal yang sama setiap kali datang."
"Eh! Tuan Allred juga ada di sini, maaf karena saya tadi tidak menyadari keberadaan anda," ucap Zelene melakukan sandiwara lagi, padahal ia datang ke ruang kerja Sean karena ia tau di sini ada Allred.
"Tidak apa-apa, nona. Kebetulan anda ada di sini, saya juga mau berterima kasih karena anda telah menjaga saya selama saya pingsan. Kebaikan anda akan saya ingat untuk selamanya," balas Isabella. Ia tersenyum manis pada Zelene membuat wajah gadis itu tersipu malu.
"Apa anda akan pulang sekarang? tidak berniat tinggal selama beberapa hari dulu, kebetulan sebentar lagi di sini ada festival panen," ucap Zelene salah tingkah.
"Saya ingin tinggal lebih lama sayangnya, saya harus segera kembali. Keluarga saya pasti menunggu di rumah, mereka pasti merindukan saya."
"Ke-keluarga? jadi anda harus kembali sekarang?"
"Iya keluarga saya. Saya harus kembali sekarang," jawab Isabella.
"Saya pamit nona, Earl Sean. Selamat tinggal." Isabella dan Bara membungkuk hormat dan berlalu meninggalkan ruang kerja Sean.
Zelene mengepalkan kedua tangannya, ia merasa sakit yang teramat sangat saat ia tahu jika pria pengertian seperti Isabella telah memiliki keluarga. Ia ingin sekali melenyapkan keluarga yang Isabella sebut-sebut itu, bagi Zelene jika ia menginginkan sesuatu maka ia harus mendapatkannya.
"Kenapa kau datang menemuiku?" tanya Sean kepada Zelene.
"Diamlah!" bentak Zelene. "Aku datang bukan untuk ayah jadi jangan berpikir terlalu banyak. Lebih baik ayah berikan aku alamat Allred, aku ingin menemuinya."
"Tidak bisa. Jika kau meminta sesuatu maka jawabannya hanya satu dan itu pasti hal yang buruk."
"Sejak kapan aku memberikan ayah izin untuk menolak apa yang aku inginkan? inilah adalah perintah bukan permintaan jadi berikan, atau ayah ingin aku membuat Luca semakin jauh dari ayah?"
"Mau sampai kapan kau menggunakan Luca untuk mengancam ayah, huh? sadarlah dan berubahlah selagi masih ada waktu, atau kau akan menyesali hal ini."
Sementara itu di sisi lain Luca keluar dari dalam kamarnya karena Zelene tidak kunjung datang menemuinya, bahkan semalam Zelene hanya mengirim seorang pelayan memberikannya secangkir teh hangat yang telah Zelene berikan ramuan untuk memanipulasi. Namun sayangnya Luca sudah tidak meminum teh itu lagi karena bukan Zelene yang membawakan itu untuknya, dan sekarang ia akan pergi menemui Sean untuk meminta Sean mengusir Isabella secepatnya karena Isabella telah mencuri semua perhatian Zelene.
"Baiklah! aku akan memberikan alamat Allred padamu. Tapi dengan satu syarat, jangan tambahkan dosis obatnya atau menyakitinya. Dengan begitu semua yang kau mau akan ku kabulkan," ungkap Sean
"Hahahaha, kau tidak punya hak untuk bernegosiasi denganku. Aku akan lihat sampai di mana kerja kerasmu dan jika aku puas dengan itu maka aku akan mengabulkan permohonanmu, jadi bekerja keraslah ayah untuk memuaskan aku."
"Kau kejam! sangat kejam Zelene."
"Jangan berlebihan ayah, kau membuatku terlihat seperti penjahat. Selama kau patuh padaku sama seperti sih Luca yang bodoh itu maka semuanya akan baik-baik saja bagi kita semua. Setidaknya ayah tidak perlu obat manipulasi untuk menjadi patuh seperti Luca."
"Kau keterlaluan …."
"Kakak." teriakan Luca membuat Sean dan Zelene terkejut, " Apa ini? selama ini kakak selalu bilang yang jahat pada kakak itu ayah, dan sekarang kenapa malah kakak yang jahat pada ayah? apa kakak selama ini telah berbohong padaku?"
"Kau …." Zelene berjalan menghampiri Luca lalu menampar wajah pria kecil tersebut, "Siapa yang memberimu izin keluar dari kamar, huh? apa kau sekarang tidak mau patuh lagi pada kakak? apa kau lupa siapa yang selama ini memberimu kasih sayang? apa kau lupa sampai kau berani membentakku, huh?"
"Selama ini kakak selalu baik padaku dan aku selalu patuh pada kakak karena hal itu, tapi ternyata semua kebaikan kakak itu palsu. Kakak mengendalikan aku layaknya boneka menggunakan obat berbahaya, di mana kakak mencampur obat itu? di makananku? atau tehku?"
"Ya, pada tehmu. Bukankah kau suka teh buatan kakakmu ini? "
"Kakak salah besar. Aku tidak lagi minum teh buatan kakak, karena kesadaranku sudah kembali jadi aku selalu membuang teh buatan kakak. Awalnya aku minum teh itu karena kakak yang memberikannya, tapi beberapa bulan terakhir aku selalu membuang teh itu karena bukan kakak yang membawakannya untukku. Syukurlah keputusanku itu benar."
"Tutup mulutmu! dan ikut denganku!" Zelene menarik Luca dengan paksa agar ikut dengannya.
"Jangan ba …."
"Diam! dan jangan ikut campur atau aku lenyapkan putramu," ancam Zelene membuat Sean tidak bisa berbuat apa-apa.
*****
Isabella tidak melepaskan penyamarannya selama beberapa hari, dengan identitas sebagai Allred ia juga menginap di kediamannya sendiri. Tak lupa ia memberi Ainsley bersama Fil hukuman dan hukuman itu adalah menjadi pelayan toko.
Isabella juga menikmati hari-harinya dengan damai dan bersantai di kediamannya tanpa melakukan apapun, ia merasa tidak ada tenaga untuk menjalankan misi padahal sudah sebulan lamanya sejak misi mengawal Luca.
"Tuan Allred, ada seorang titan datang mencari anda bersama dengan seorang wanita bernama Yuna," ucap Audrey. Ia datang jauh-jauh dari toko ke kediaman hanya untuk menyampaikan hal itu.
"Titan? apa itu Bara? tapi untuk apa dia di sini?" pikir Isabella. Ia masih enggan untuk meninggalkan kursi goyangnya. Namun ia tidak bisa membuat Yuna menunggu lebih lama, kenapa juga sih pria titan itu harus datang dengan Yuna pikir Isabella.
*****
Bersambung
Silakan tinggalkan jejak and dukung selalu author, karena dukungan kalian sangatlah berarti😘