The Second Life Of The Mercenary

The Second Life Of The Mercenary
Bab 80 Sosok di balik penyerangan itu.



Charlize menggendong Isabella menuju kamar yang kaisar sediakan untuk merebahkan Isabella, kepalanya berdarah dan kedua tulang kakinya patah akibat benturan yang sangat keras.


"Kakak, apa dia akan baik-baik saja?" tanya Vanessa pada Cedric, Cedric memapah Vanessa untuk berjalan.


"Ini aneh, ramuan kami tidak bekerja sama sekali. Lukanya tidak sembuh," ucap dokter setelah meminumkan Isabella ramuan tingkat tinggi.


"Jangan bercanda." Charlze memcengkram kerah baju dokter tersebut, "Kau mungkin salah memberikan ramuan, tidak mungkin ada ramuan tingkat tinggi yang tidak bekerja sama sekali. Cobalah sekali lagi."


"Hentikan!" Samantha menarik Charlize agar menjauh dari dokter tersebut, "Apa kau sadar dengan apa yang telah kau lakukan? dokter ini bukan tuhan, dia adalah manusia biasa yang hanya bisa berjuang semampunya."


"Kau tidak tau Isabella itu sangat berarti untukku. Aku telah kehilangan dia sekali, dan aku tidak mau kehilangan dia untuk yang kedua kalinya. Aku bilang dia harus sembuh maka dokter ini harus berjuang lebih keras untuk menyembuhkan Isabella, karena jika tidak aku akan memakamkan dia bersama dengan Isabella," bentak Charlize, ia terlihat seperti menjadi orang lain.


"Kendalikan dirimu. Kau terlihat seperti monster sekarang, jika hari ini adalah takdir Isabella untuk tiada walau pun 100 dokter datang kemari tidak akan merubah apapun. Kau …. akh!" Samantha meringis kesakitan saat Charlize mendorongnya sampai membentur tembok kamar.


"Tidak akan terjadi apapun pada Isabella. Dia baik-baik saja, kau gadis suci kan? cobalah gunakan kekuatanmu untuk menyembuhkan."


"Cukup! kau sudah keterlaluan. Kekuatanku ada bukan untuk memenuhi keinginan egoismu itu, lagi pula untuk apa kau sekhawatir pada wanita yang tidak kenal padamu. Sadarlah akan posisimu saat ini," hardik Samantha, ia segera berlalu meninggalkan Charlize.


"Charlize telah berubah, sepenuhnya berubah. Dulu dia menampar Regina karena tidak sengaja menumpah teh di gaunku, lalu sekarang dia membentakku,  dan mendorongku demi Isabella. Isabella telah merebut Charlize, entah sejak kapan aku sendiri tidak tahu apapun," batin Samantha meneteskan airmata, semua kata-kata Charlize berhasil melukai hatinya.


Sementara itu di sisi lain Vanessa syok berat, masalahnya Isabella terjatuh  tepat didepan mata dan ia tidak bisa melakukan apapun. Dia merasa dirinya tidak berguna.


"Sayang." Albert duduk disamping Vanessa dengan salep di tangannya, "Mari aku obati dulu kakimu, jika tidak di obati maka itu akan lebih parah."


Vanessa diam saja bayang-bayang Isabella saat jatuh tadi sangat mengganggunya.


"Vanessa, jika kau terus seperti ini maka ayahmu akan sedih. Isabella sedang dalam perawatan dan kau kesakitan, kasian ayahmu," ucap Albert lagi.


"Kali ini syukurlah yang jatuh adalah Isabella, jika saat itu Vanessa berdiri di samping Isabella maka dia bisa saja ikut jatuh. Entah apa baiknya wanita itu sampai membuat Vanessa dan Charlize sangat tertekan," batin Albert.


"Sayang, tolong biarkan aku mengobati lukamu dulu," pinta Albert.


"Kau tidak tau apa yang terjadi. Kaki ku yang sakit karena terkilir ini tidak sebanding dengan sakitnya luka kakak, aku tidak tau harus bagaimana," ucap Vanessa.


"Itu murni kecelakaan, sayang. Ini bukan salahmu, petir menyambar balkon itu jika …."


"Ke sekian kali? maksudmu?"


"Beberapa kali kakak menyelamatkanku dikediaman. Saat aku terpeleset dalam keadaan membawa air panas, panci terlempar dari tanganku dan hampir jatuh kearah ku. Tapi kakak dengan cepat menarikku menjauh dari sana, dan kaki kakak kena cipratan air itu. Begitu banyak hal baik yang kakak lakukan untukku. Apa kau ingat kejadian aku jatuh dari ranjang dan ayah menampar kakak? itu juga salahku. Kakak mengatakan dia menendangku, itu tidak benar karena aku jatuh sendiri. Aku buru-buru turun dari ranjang saat mendengar suaramu."


"Apa Isabella benar-benar sebaik itu? apa selama ini aku salah paham padanya?" batin Isabella.


"Kau punya mata kebenaran kan? bisakah kau cari tau siapa pelaku dibalik runtuhnya lantai itu? petir itu aneh, datang bukan dari langit karena langit sangat cerah. Ku mohon cari tau siapa pelakunya," pinta Vanessa.


Mata kebenaran adalah kekuatan keluarga kerajaan turun temurun, mata kebenaran umumnya hanya di miliki oleh seorang pewaris tahta tidak peduli dia anak permaisyuri mau pun anak selir. Dan Albert memiliki kekuatan itu hingga dirinya menjadi putra mahkota.


Demi memenuhi keinginan Vanessa, Albert menggunakan kekuatannya  sekaligus untuk mencari siapa sebenarnya orang yang ingin mencelakai Vanessa karena menurut ucapan Vanessa petir itu datang saat Isabella pergi meninggalkannya, jadi pelaku itu berniat menyakiti Vanessa.


Setiap orang yang di lihat dengan mata kebenaran berwarna biru, jika penyerang kejahatan terlihat oleh mata kebenaran maka dia akan berwarna merah, pelaku dibalik motif penyerang akan berwarna kuning dan sasarannya akan berwarna hitam.


Tidak peduli penyerang atau pun orang yang berniat menyakiti seseorang bisa di lihat oleh mata kebenaran, untuk mengetahui siapa pelaku, penyerang, dan sasarannya mampu Albert ketahui hanya dengan kata hatinya. Ia bisa membedakan hal itu karena banyak orang yang menggunakan tangan orang lain untuk melakukan kejahatan.


"Isabella bukan pelakunya." Albert melihat tubuh Isabella berwarna biru, lalu ia berjalan menatap semua orang.


"Ku-kuning? jadi wanita itu yang merencanakan penyerangan itu. Vanessa benar petir itu bukan petir sungguhan," batin Albert menatap seseorang yang mengeluarkan cahaya berwarna kuning, Albert dengan cepat menghampiri wanita itu lalu melihat wajahnya.


Alangkah terkejut Albert setelah melihat siapa orang tersebut, "Samantha? kau? apa yang kau lakukan di sini?" 


"Aku hanya ingin menenangkan diriku. Kau dari mana? aku sudah berusaha membuat dia menjauh dari Isabella. Tapi dia sangat peduli pada Isabella, dia sampai membentakku karena wanita itu. Kau harus melalukan sesuatu," jawab Samantha.


"Aku ingin bertanya apa dia membenci Vanessa atau tidak. Tapi dia bisa saja curiga aku menggunakan mata kebenaran ini padanya, Sebenarnya apa yang terjadi sampai Samantha ingin menyakiti Vanessa? apa mungkin dia salah sasaran dan mengira Vanessa itu adalah Isabella? aku harus apa agar bisa mengetahui kebenarannya? aku harus menemukan penyerang itu untuk mengetahui kebenarannya," batin Albert merasa sangat gelisah, ia seakan gila memikirkan Samantha yang ada dibalik penyerangan itu. 


*****


Bersambung.


Silakan tinggalkan jejak and dukung selalu author, karena dukungan kalian sangatlah berarti😘