
"Jangan bercanda. Mana mungkin anak selemah itu menjadi …." Mata Zelene membulat sempurna saat Adrian menujukan surat kabar dengan gambar tim Isabella, "Ini tidak mungkin."
"Bagaimana menurut anda? sekarang mereka ada di perbatasan kekaisaran dengan wilayah suku barian, di sana ada perang besar-besaran."
"Ini adalah takdir dari tuhan untuk mempertemukan aku dengan Allred. Kemas semua ramuan tingkat tinggi yang ada di gudang, kita akan pergi perbatasan untuk berpartisipasi dalam perang dengan cara menyediakan layanan medis tambahan," ucap Zelene. Ia tidak sabar ingin cepat-cepat bertemu dengan Allred.
"Sesuai perintah anda, countess." Adrian tersenyum dan langsung menjalankan apa yang perintahkan Zelene.
*****
"Allred, bagaimana keadaanmu?" tanya March pada Isabella yang kebetulan lewat di dekat tenda miliknya.
"Saya baik-baik saja, terima kasih. Bagaimana dengan anda?" tanya Isabella.
"Baik. Bisakah aku bertanya apa hubunganmu dengan Charlize? dia tadi merebutmu dari gendonganku, dia juga mengatakan hubungannya dengamu jauh lebih dekat daripada hubunganku denganmu. Kenapa kau tidak bilang dari awal jika kalian punya hubungan spesial?"
"Hah? spesial? itu …." batin Isabella membayangkan hubungan spesial seperti hubungan sepasang kekasih, seketika wajahnya langsung memerah karena mengingat kejadian di pemandian tadi.
"Ma-mana mungkin. Aku bahkan tidak mengenalnya, dia hanya salah mengenali orang saja. Aku sedikit mirip dengan kenalannya," sanggah Isabella.
March mendekatkan wajahnya ke wajah Isabella seraya bertanya, "Apa kau yakin?"
"Ya, tentu saja. Aku harus pergi sekarang dan … tolong jangan terlalu bersedih, Martini mungkin tidak akan suka jika dia melihat kita bersedih dan menyalahkan diri kita sendiri atas kepergiannya."
March tersenyum kecil lalu mengacak-acak rambut Isabella, "Orang tua ini sudah lebih berpengalaman darimu. Aku tidak bisa terlalu bersedih karena yang kehilangan Martini bukan hanya aku saja, kau tidak perlu khawatir karena aku bisa mengendalikan diriku walau bagaimana pun juga aku adalah seorang pemimpin."
"Baiklah jika anda sudah berkata demikian maka saya merasa senang. Saya pamit dulu." Isabella mengundurkan diri dan melanjutkan perjalanan ke tendanya.
"Allred." Teriak Fil, Ainsley, Bara, dan Luca. Mereka berlari memeluk Isabella.
"Kau dari mana saja? kau menghilang semalaman. Aku sangat takut kau kenapa-napa," ucap Luca.
"Kami tau kau sedih. Tapi jangan pernah pergi tanpa mengatakan apapun, bagaimana jika terjadi sesuatu padamu," tambah Ainsley.
"Dia benar. Kau membuat kami tidak bisa tidur semalaman," lanjut Fil.
"Nak, kau harus kuat. Jangan buat Martini merasa sedih dengan menyiksa dirimu sendiri," ucap Bara.
"Maafkan aku. Aku tidak akan mengulangi hal itu lagi, terima kasih sudah peduli padaku." Tangis Isabella pecah lagi bersama dengan tangisan Fil, Luca, dan Ainsley.
"Aku terlihat seperti pengasuh mereka semua, sudahlah! lagi pula itu tidak terlalu buruk," batin Bara. Ia memeluk ke empat orang itu dengan tangannya yang besar dan kekar.
*****
Regina masuk ke dalam tenda Charlize lalu ia melempar beberapa lukisan potret ke meja kerja Charlize, "Apa ini, Charlize?"
Charlize mengambil lukisan potret itu dan melihatnya. Seketika raut wajah Charlize langsung berubah dari tenang menjadi kesal, "Bisakah kau jangan mengambil barang-barang milikku? jangan buat aku kehilangan rasa hormatku padamu."
"Kehormatanmu padaku itu sudah hilang sejak lama, buat apa lagi mengungkit itu? kau harus ingat jika aku adalah tunanganmu, dan aku tidak akan memberikan kesempatan pada orang ketiga untuk merusak hubungan kita."
"Hubunganmu bukan hubungan kita, karena aku tidak pernah menganggap hubungan ini serius. Asal kau tau saja, sebenarnya kau itu adalah orang ketiga dalam hubunganku."
"Aku? jangan konyol! pernikahan kita telah ditentukan sejak kita lahir, dan aku telah jatuh cinta padamu sejak kecil. Jadi kenapa aku yang orang ketiga? orang ketiga itu adalah Isabella, kau hanya mengenalnya setahun saja lalu bagaimana bisa waktu setahun itu setara dengan 13 tahun kita."
"Hmph, menemukannya? kau akan menemukan makamnya bukan orangnya, aku akan membunuh Isabella jika dia berani muncul, jangan berpikir aku takut padamu. Kau tidak bisa melakukan apapun padaku walau pun aku membunuhnya," ancam Regina. Ia memukul meja Charlize hingga akhirnya pergi.
"Hanya karena aku sedikit sayang padamu bukan berarti kau bisa semena-mena padaku, akhir dari orang yang berani mengancamku hanya satu yakni kematian. Kau bisa berada di sisiku sampai saat ini hanya karena aku mengizinkannya, jika aku tidak mengizinkannya dan mengusir kau pergi dari sisiku bahkan kaisar sekali pun tidak bisa berbuat apa-apa," batin Charlize menggenggam erat penanya hingga pena tersebut patah.
Perang terus berlangsung seperti alur dalam novel, mungkin Isabella tidak bisa mencegah kematian Martini. Namun ia bisa mencegah hancurnya March bersama pasukan kelinci, hanya saja ada satu hal yang selalu mengganggu Isabella setelah kematian Martini yakni Charlize. Charlize jarang terlihat bahkan sulit bagi Isabella untuk sekedar melihat ujung bajunya saja.
Setelah 2 bulan perang, akhirnya pasukan kekaisaran keluarga Arsena bersama pasukan kelinci berhasil merebut wilayah kekuasaan suku barian, dengan begitu perang pun berakhir.
Hari libur tim Isabella pun tiba, mereka berpisah di perbatasan menuju tujuan masing-masing. Isabella sendiri tidak pulang ke desanya, ia pergi ke pulau terlarang untuk mencari suni naga legendaris.
Dalam alur novel yang asli suni itu ditemukan oleh seorang petualang, sebelumnya tidak ada yang menemukan suni tersebut karena pulau terlarang termasuk wilayah suku barian. Namun setelah perang usai Isabella akhirnya bisa pergi ke sana, ini adalah keberuntungan Isabella karena ikut dalam perang.
Ia juga bisa keluar masuk wilayah suku barian sesuka hati karena ia adalah kesatria yang berpatisipasi dalam perang, sebelum wilayah ini menjadi milik seseorang maka Isabella masih punya kesempatan menjelajahinya. Lagi pula ia masih punya banyak waktu sebelum waktu penjemputan Duke Abraham tiba, ia harus mendapatkan suni itu sebab suni itu akan menjadi kekuatan besar bagi Isabella di masa depan nanti.
Sementara itu di sisi lain Charlize mencari Isabella, sebelumnya ia sangat sibuk sampai lupa ada yang ingin ia ketahui dari Isabella. Namun semuanya terlambat, pasukan kelinci tidak tau tim Isabella pergi ke mana setelah mendapatkan bayaran mereka.
"Sial! ke mana anak itu?" batin Charlize. Ia terus mencari Isabella karena ia harus meninggalkan perbatasan secepatnya, kaisar meminta mereka agar segera meninggalkan perbatasan untuk merayakan kemenangan.
"Duke, Countess Alfie datang keperbatasan membawa tenaga medis dan banyak ramuan. Bagaimana ini? perang telah berakhir," tanya Edmund.
"Antar dia ke tenda para medis, katakan aku sibuk dan tidak bisa menyambutnya. Pergilah! dan kembalilah kalau urusanmu sudah selesai, lalu jangan lupa rapikan semua barang-barangku karena kita akan berangkat 2 jam lagi," perintah Charlize. Ia langsung pergi begitu saja meninggalkan Edmund, untuk saat ini waktu satu detik saja sangatlah berarti baginya.
"Ke mana pria itu? dia adalah satu-satunya jalan aku untuk menemui Isabella, aku tidak mau kehilangan Isabella pokoknya tidak bisa. Tolong tunjukan dirimu sekali saja," batin Charlize yang terus mencari keberadaan Isabella.
******
Zelene tidak mempermasalahkan dirinya tidak di sambut dengan layak karena itu bukan hal penting. Edmund menyambut dirinya dan meminta pelayan mengantarkan Zelene ke tenda medis, di sana ia bertemu dengan ke empat anggota tim Isabella. Mereka akan meninggalkan perbatasan bersama setelah pekerjaan Luca selesai.
"Aku sudah selesai, ayo pergi!" ajak Luca pada ketiganya.
"Hallo adikku tersayang," sapa Zelene dengan seringai licik yang mengintimidasi Luca.
"Ka-kakak," batin Luca. Wajah Luca menjadi pucat pasi, Fil merasa tangan Luca yang memegang tangannya gemetar.
"Lama tidak berjumpa. Kau menghilang dan membuat kakakmu khawatir, apa kabarmu? kau terlihat sangat baik," ucap Zelene mendekati Luca.
"Siapa wanita jelek ini? kau kenal dia bocah?" tanya Ainsley dengan angkuhnya. Ia merasa Luca sangat ketakutan saat melihat Zelene, dan Ainsley tidak senang melihat Luca ketakutan sementara Zelene menyeringai.
"Jelek? berani sekali kau menghinaku, aku adalah kakak dari Luca. Aku datang untuk membawanya pulang, tapi sebelum itu aku ingin menyapa Tuan Allred. Di mana dia?" tanya Zelene tanpa rasa malu.
"Ke-kenapa kakak belum menyerah juga? lupakan tentang Allred, perasaan kakak padanya hanya akan sia-sia. Pria sebaik Allred tidak akan menyukai wanita iblis seperti kakak," jawab Luca. Ia mengumpulkan banyak keberanian untuk mengatakan hal tersebut.
Zelene tercengang karena Luca telah berani melawan dirinya, walau pun raut wajahnya terlihat ketakutan. Tapi ia sudah berani buka mulut, dan ini adalah pertanda buruk yang membuat Zelene sangat kesal.
*****
Bersambung.
Silakan tinggalkan jejak and dukung selalu author, karena dukungan kalian sangatlah berarti😘