
Keesokan harinya acara berkemah dan berburu tidak dilanjutkan lagi, Cedric memutuskan untuk segera kembali ke kediamannya. Beruntung setelah luka Vanessa di perban keadaannya terlihat membaik, walau pun penyerangan hewan menggila itu dianggap kecelakaan biasa. Namun demi memenuhi keinginan Albert yang masih cemas akan keselamatan Vanessa, setelah kejadian di lokasi pemburuan itu Isabella dilarang untuk mendekati Vanessa atas perintah Cedric.
Akan tetapi saat mereka tiba dikediaman Abraham Vanessa mendadak pingsan hingga setelah seharian penuh ia belum kunjung sadar. Dokter menduga itu karena kelelahan akibat perjalanan pulang yang cukup panjang, dan demi menjamin kesembuhan Vanessa Cedric sendirilah yang merawat Vanessa sampai ia tidak meninggalkan kamar putri kesayangan itu.
"Ugh!" Vanessa baru tersadar dari pingsannya saat hari sudah gelap.
"Haus, aku haus," gumam Vanessa, tubuhnya terasa sangat lemah, ia sulit untuk bangun bahkan untuk sekedar bersuara lebih keras.
"Ssttt!" Isabella memberi isyarat agar Vanessa diam, lalu ia membantu Vanessa untuk bangun dan duduk dengan nyaman.
"Minumlah!" Isabella memberikan gelas pada Vanesaa, dan Vanessa meneguk habis air dalam gelas tersebut.
Bukan hanya itu saja, Isabella juga menyuapi Vanessa untuk makan sampai membasuh tubuh Vanessa dan mengganti pakaiannya. Karena besok ia tidak bisa menemui Vanessa, maka Isabella memutuskan untuk tetap berada di kamar itu sampai Vanessa terlelap kembali.
Cedric saat itu berada di ruangan yang sama dengan Isabella. Namun ia tidak menyadari kedatang Isabella, karena Cedric sendiri terlelap setelah terjaga untuk waktu yang lama.
"Maafkan aku Vanessa. Aku harus melakukan hal yang kejam padamu, tolong maafkan aku," batin Isabella mengelus kepala Vanessa. Barulah setelah itu ia keluar dari dalam kamar Vanessa.
Keesokan harinya wajah Vanessa terlihat jauh lebih bersinar dari kemarin, semua ini karena Isabella merawatnya sepanjang malam.
"Aku tau kakak tidak punya niat jahat. Aku percaya pada kakak," batin Vanessa, ia akan memulai hari dengan senyuman.
Cedric terpaksa harus pergi ke Istana kaisar karena kaisar mengundangnya secara mendadak, Cedric tidak mau pergi karena takut Isabella berulah lagi sebab saat sarapan Isabella membuat keributan besar sampai tidak ada yang berani masuk ke ruang makan. Cedric bersama Elena serta sih kembar harus sarapan di kamar mereka masing-masing.
Saat jam makan siang tiba Vanessa memustuskan untuk pergi menemui Isabella, ia berniat mengajak Isabella makan siang bersama karena mereka tadi tidak sempat sarapan bersama.
"Apa begini cara Vanessa mendidik kalian? jawab aku! kalian membawakan aku makanan seperti ini, apa ini bisa di makan? siapa yang meminta kalian membawa makanan ini kemari? pergi dan bawakan makanan lain sebelum aku memecat kalian. Cepat!" teriakan Isabella terdengar sangat jelas dilorong lantai 3. Vanessa juga sempat bertemu dengan para pelayan yang di teriaki oleh Isabella.
Tok tok tok
"Apa lagi yang kalian inginkan? kenapa kalian kemb …."
"Kakak, ini aku." Vanessa memotong teriakan kesal dari Isabella, Isabella spontan langsung berbalik menatap Vanessa.
Vanessa berjalan mendekati Isabella lalu memeluknya dengan erat, "Suara kakak akan serak jika terus berteriak. Aku tau kakak tidak benar-benar marah padaku, iya kan?"
Isabella mendorong Vanessa menjauh darinya lalu menjawab, "Berhenti mengatakan omong kosong, apa yang membuatmu sangat percaya diri? bagaimana aku tidak bisa marah pada orang yang telah merampas segalanya dariku, huh?"
"Jangan berbohong. Kakak mengatakan ini dengan sengaja padahal kakak merawat aku semalam, kakak jujurlah apa yang ingin kakak lakukan sampai harus bersandiwara?"
"Aku hanya ingin membuat ayah marah dan mengusirku dari sini. Di mata ayah hanya kau lah putrinya, selamanya ayah tidak akan pernah bisa menerima Isabella."
"Itu tidak benar. Setiap malam ayah selalu menangis diam-diam memikirkan kakak dan ibu, sebenarnya ayah hanya takut saja pada kakak karena ayah terlalu percaya pada rumor tentang kakak jadi …."
"Jadi apa? ayah bisa saja tidak percaya dengan rumor itu jika di hatinya memang masih ada aku, sayangnya ayah langsung percaya lalu merasa takut padaku. Ia takut aku melakukan sesuatu yang kejam padamu, walau pada kenyataannya aku tidak bisa melakukan hal itu padamu. Tapi apalah dayaku, jika itu keinginan ayah maka aku akan benar-benar bersikap kejam padamu."
"Kakak tidak bisa melawan hati nurani kakak untuk berbuat kejam padaku, nyatanya kakak melempar tombak kearah beruang itu agar aku tidak terluka. Tapi jika kakak memang harus melakukan itu maka ajak aku juga ke dalam sandiawara kakak, kita sama-sama membuat ayah sadar bahwa kakak atau aku benar-benar saling menyayangi satu sama lain." Vanessa menggenggam tangan Isabella untuk menyakinkannya.
"Aku tidak pernah bermimpi memiliki keluarga yang hangat, kata keluarga itu sangat asing bagiku sampai aku bertemu dengan orang-orang aneh. Mereka semua sama seperti mu, bodoh dan polos. Padahal aku pernah berbuat jahat pada mereka, tapi mereka memperlakukan aku seperti seorang penyelamat hanya karena aku melakukan satu kebaikan pada mereka," tutur Isabella. Ia meneteskan airmata mengingat Martini bersama yang lainnya.
"Itu karena kakak adalah orang baik, orang baik selalu mendapatkan hal-hal yang baik juga. Aku adalah keluarga kakak walau pun kita tidak sedarah, jadi tolong jangan pernah berpikir untuk pergi dari sini dan kita akan menyadarkan ayah bersama-sama. Setuju?"
"Hiks hiks bodoh, Vanessa bodoh. Kenapa hiks orang bodoh selalu berada hiks …." Isabella menundukan kepalanya di pundak Vanessa.
"Ya, aku memang bodoh. Hikss bodoh karena tidak menyadari luka kakak setelah kakak keluar dari ruangan ayah, maaf karena tidak tau tentang keberadaan kakak sejak awal. Aku bodoh, kakakku juga bodoh hiks." Vanessa memeluk Isabella.
Di luar ruangan itu Diana bersama para pelayan ikut menangis bersama, mereka telah salah paham pada Isabella hanya karena ucapan dari Cedric saja. Jeremy juga ikut mendengar perbincangan itu dari balik jendela kamar Isabella, awalnya mereka semua menguping karena takut Vanessa dilukai oleh Isabella. Namun mereka malah menangis bersama, dan mereka juga baru sadar jika keributan yang selalu Isabella buat tidak pernah melukai pelayan mana pun karena ia tidak pernah serius membuat keributan tersebut. Oleh karena itu, mereka juga bertekad akan ikut dalam sandiwara itu secara diam-diam.
Jauh di dalam hati para pelayan merasa sangat lega, kelak mereka tidak harus takut jika bertemu dengan Isabella lagi. Mereka juga bertekad akan bersikap lebih baik pada Isabella agar ia bisa tinggal dengan nyaman di kediaman ini sampai ia tidak berpikir untuk pergi lagi.
*****
Bersambung.
Silakan tinggalkan jejak and dukung selalu author, karena dukungan kalian sangatlah berarti😘