
Setelah makan malam selesai, Callix meminta semuanya berkumpul di ruang tamu. Tidak terkecuali Isabella. Callix sangat antusias saat semua orang telah berkumpul.
"Ada apa lagi sekarang? cepat katakan agar aku bisa istirahat lebih cepat," gerutu Audrey.
Tanpa menunggu lama Callix mengeluarkan peta serta buku keuangan toko, "Baiklah. Kita akan memulai pembicaraan tentang pembukaan cabang toko kue kita yang kedua di desa sebelah."
Audrey tersenyum bahagia karena akhirnya Callix membagi kabar baik ini di depan Isabella, "Itu kabar yang bagus."
Spontan Isabella yang terkejut langsung menatap Callix dan Audrey dengan tatapan tajam, "Kalian sudah merencanakan sesuatu sebesar ini tanpa mengatakan padaku terlebih dulu? apa kalian berpikir aku akan setuju?"
"Tentu saja kau akan setuju. Ini kabar yang baik, pembukaan toko kue kedua ini membuktikan jika toko milikmu sukses besar. Ini pencapaian yang luar biasa, lagi pula ini adalah kejutan untukmu," jawab Callix.
"Ya, itu benar. Karena serangan tadi pagi, kau terlihat murung dan itu membuat kami khawatir. Keputusan Callix mengatakan hal itu saat ini adalah yang terbaik, karena kau pasti akan sanngat senang," tambah Audrey.
"Tidak ada pembukaan cabang baru, bahkan tidak akan pernah ada. Ini bukan kabar baik, dan aku tidak setuju," tegas Isabella. Reaksi Isabella kali ini diluar dugaan mereka, ia tidak pernah setegas ini sebelumnya.
"Ap-apa maksud mu berkata seperti itu? memang apa salahnya membuka toko baru?" tanya Callix. Ia sangat kecewa dengan jawaban Isabella.
"Kita akan pindah dari desa ini secepatnya. Jadi jangan melakukan hal yang sia-sia," jawab Isabella.
"Pindah katamu? tapi kenapa? aku tidak mau ikut denganmu jika kau sampai berani pindah," sanggah Callix yang berisi sedikit ancaman.
Isabella melemparkan tatapan dingin padanya membuat nyali Callix menciut, "Tempat ini tidak lagi aman untuk kita. Orang yang menyerangku pagi ini pasti akan kembali lagi nanti, jadi kita harus meninggalkan desa ini secepatnya."
"Ini terlalu mendadak, aku sampai sulit untuk berpikir. Tapi ucapanmu memang benar, di sini sudah tidak aman lagi. Hari ini kau yang di serang, dan mungkin saja nanti malah kami yang kena. Jika memang itu yang terbaik, maka aku setuju untuk pindah dan memulai semuanya dari awal lagi," ucap Audrey.
"Saya juga setuju. Saya akan pergi ke mana pun anda mau," ucap Jasper.
"Aku tau, pria itu pasti utusan Duke Abraham untuk mencariku. Tidak penting apa tujuan karena apapun itu, aku tetap tidak ingin terlibat dengan pemeran utama. Vanessa akan lebih bahagia tanpa Isabella, dan aku akan aman dari kematian yang tragis jika tidak terlibat dengan mereka. Bagian inti dari novel ini akan segera di mulai, aku harus pindah dari tempat ini sebelum waktu penjemputan kesatria Duke Abraham tiba. Jika di hitung-hitung dari hari ini maka aku hanya punya waktu 6 bulan sampai duke sampai jadi aku harus bergegas mengumpulkan uang lebih banyak lagi," batin Isabella. Ia telah merencanakan semuanya dengan matang.
"Maafkan aku semuanya. Tapi aku hanya ingin hidup aman dan nyaman bersama kalian, dan aku janji saat kita pindah nanti, aku akan setuju jika kalian ingin membuka cabang toko lagi. jangankan yang kedua, bahkan jika kalian ingin membuka cabang sampai seribu pun aku akan setuju," ucap Isabella.
"Maafkan aku. Aku bertindak egois padamu padahal kau sangat memikirkan kami. Mari kita pindah dan hidup bersama selamanya." Callix memeluk Isabella diikuti oleh Jasper dan Audrey.
"Nona selalu memikirkan orang lain. Padahal jika ingin dia bisa pergi sendirian dan meninggalkan kami, tapi dia tetap ingin membawa kami bersamanya agar kami juga aman," batin Jasper tersenyum bahagia.
******
Bruak!
Brak!
Prang!
Cedric mengacak-acak seluruh isi ruang kerjanya setelah melihat hasil tes darah antara dia dan Isabella, ia terkejut sampai tidak bisa mengendalikan amarahnya.
"Apa aku harus membawa gadis busuk itu ke rumahku? ke kediamanku? jika dia ada di sini, maka Vanessa … Vanessa ku akan menderita. Apa kata para bangsawan nanti tentang Vanessa setelah putri kandungku datang?" tanya Cedric pada Jeremy. Namun, Jeremy diam saja.
Prang!
Vanessa yang baru saja masuk ke ruang kerja Cedric, tanpa sadar menjatuhkan nampan berisi 2 cangkir teh yang ia bawa. Ia terkejut saat mendengar ucapan Cedric tentang putri kandungnya.
"Vanessa, kau …." Cedric berjalan menghampiri Vanessa, pria paruh baya itu menggenggam erat tangan putrinya yang gemetar dan bekata, "Jangan takut. Ayah tidak akan mengabaikanmu, membuangmu, atau pun mengusirmu. Keberadaan Isabella tidak akan mempengaruhi hubungan antara ayah dengamu, kau harus ingat jika ayahmu ini hanya punya satu putri dan itu kau. Ayah hanya akan menyayangi Vanessa seorang."
"Vanessa tidak mau menjadi putri yang egois. Selama ini Isabella tinggal jauh dari ayah, dan kita tau bagaimana keadaannya sampai saat ini. Mungkin selama ini dia menderita di luar sana sementara Vanessa bahagia di sini, tanpa sadar Vanessa telah merebut semua kebahagiannya. Vanessa memang kejam dan tidak layak atas semua kasih sayang ayah, maafkan Vanessa, ayah." Vanessa melepaskan tanganya dari genggaman Cedric, kemudian ia berlari meninggalkan ruang kerja Cedric.
"Sialan!" Cedric memukul tembok hingga temboknya bertanda retak, pukulannya terlalu kuat sampai melukai tangannya sendiri.
"Hentikan penyelidikan tentang Isabella, dan jangan pernah menyebut nama itu. Nama yang akan membuat Vanessa bersedih, tidak pantas di sebut sama sekali," perintah Cedric seraya beranjak dari ruang kerja untuk mengejar Vanessa.
"Nona Isabella yang malang," batin Jeremy. Ia merasa kasihan pada Isabella.
*****
Keesokan harinya Isabella meninggalkan kediamannya sebelum penghuni yang lain bangun, tidak lupa ia meninggalkan catatan kecil yang mengatakan jika dirinya akan pergi berburu untuk mengumpulkan uang lebih banyak.
Sementara itu di sisi lain Fil dan Aisnley duduk bagaimana tubuh tanpa jiwa di tempat yang tidak jauh dari Guild Kelinci, bagi mereka menantikan kedatangan Isabella sangat menguras tenaga.
"Kali ini pun tidak ada harapan sama sekali, aku mau menyerah dan pulang saja," ucap Fil yang berhasil mendapatkan pukulan keras dari Aisnley.
"Di mana kebangganmu yang kemarin mengatakan jika kau lebih dulu mengenal Allred, cih! baru menunggu 2 hari saja kau sudah menyerah," ejek Aisnley.
"Siapa pun akan menyerah jika selama 2 hari tidak bisa istirahat dengan baik, bahkan tidur malam saja di atas atap rumah ini. Padahal guild malam hari tutup, tapi kau tidak mau meninggalkan tempat ini dan terus mengawasi guild. Untuk apa menyewa kamar penginapan jika tidak menempatinya," gerutu Fil.
"Allred itu selalu penuh dengan kejutan. Ia bisa menghilang dan muncul kapan saja, jadi kita tidak boleh lengah walau hanya seben …."
"Selamat pagi, Tuan March." Suara Isabella yang menyapa March membuat ucapan Aisnley terhenti, keduanya buru-buru melihat ke bawah untuk memastikan itu benar-benar Isabella atau bukan dan hasil ternyata benar. Itu adalah Isabella.
"Tuan Allred."
"Allred."
Keduanya merasa sangat bersyukur, akhirnya penantian panjang mereka selama ini membuahkan hasil yang luar biasa.
*****
Bersambung.
Silakan tinggalkan jejak and dukung selalu author, karena dukungan kalian sangatlah berarti.😘