The Second Life Of The Mercenary

The Second Life Of The Mercenary
Bab 22 Kehilangan Isabella.



Bab 22


Aisnley dan Fil duduk berhadapan pada sebuah bar, keduanya bertemu secara tidak sengaja saat mencari Isabella. Mereka melihat Isabella masuk ke dalam gang selama beberapa saat. Namun ia tidak kunjung keluar dari gang itu, karena merasa khawatir Fil dan Aisnley ikut masuk ke dalam gang tersebut untuk mencari Isabella. Akan tetapi hasilnya nihil, jangankan Isabella bahkan tidak satu pun orang di dalam gang itu. Karena kelelahan mencari Isabella Fil mampir pada bar tersebut dan Aisnley mengikutinya.


"Ke mana perginya Tuan Allred? bagaimana bisa dia menghilang begitu saja? ini  jelas-jelas aneh. bahkan jejaknya saja tidak ada di dalam gang itu. Seolah dia tidak pernah masuk ke sana," ucap Aisnley.


"Pasti Tuan Allred pergi menggunakan sihir teleportasi karena menyadari jika kau mengikutinya, lagi pula kau ini kenapa sampai mengikuti tuan? dasar gadis tidak tau malu," ejek Fil. Ia memang memendam kebencian pada Aisnley sejak pertama kali melihatnya.


"Kenapa kau malah menyalahkan aku? kau itu seharusnya bercermin sebelum mengataiku, bisa saja kan Allred menyadari keberadaanmu lalu menghilang tanpa jejak agar kau tidak mengikutinya lagi," sanggah Aisnley.


"Aku ini sudah lebih dulu mengikuti tuan sejak ia meninggalkan desa kami, jika memang dia bisa menyadari keberadaanku maka seharusnya tuan telah menghilang sejak berada di desamu. Tapi, tuan malah menghilang sejak kau juga mengekor padanya."


"Mengekor katamu? dasar kau elf busuk! berani sekali kau mengataiku di saat kau sendiri mengendap-endap dibelakangnya seperti pencuri."


"Kau berani sekali kau membalas ucapanku. Tuan itu lebih dekat denganku malah kau itu orang asing baginya, cih! seharusnya kau itu sadar diri dan sadar di mana posisimu. Setelah meracuni tuan, kau tanpa rasa malu ingin menjadi pengikutnya."


"Aku tidak meracuninya. Saat itu aku tidak meletakan racun, Allred sendiri yang bilang padaku."


"Tuan itu sangat baik dan selalu menjaga perasaan orang lain. Aku melihatnya sendiri bagaimana tersiksa tuan saat melawan racunmu, dia demam semalaman. Aku tau itu karena aku menginap disebelah kamarnya."


Aisnley tersentak bahkan ia kembali dihantui perasaan bersalah, kebaikan Allred yang sebesar itu padanya membuat Aisnley semakin tidak ingin jauh dari Allred.


"Aku akan menebus kesalahanku dengan menjadi pengikut setia Allred sampai akhir hidupku," ucap Aisnley.


"Bukan ini yang aku harapkan," batin Fil. Ia sengaja mengungkit masalah itu untuk membuat Aisnley merasa bersalah dan menjauhi Isabella. Namun siapa sangka, ucapannya malah membuat Aisnley semakin bertekad tidak ingin jauh dari Isabella.


"Terserah padamu. Aku akan mencari tuan sendiri." Fil berdiri dari tempat duduknya, "Kelak buatlah kita seolah tidak pernah bertemu."


Fil meninggalkan beberapa koin emas diatas meja lalu beranjak pergi, ia berniat akan mencari Isabella melalui Guild kelinci sebab hanya inilah satu-satunya cara agar ia bisa menemukan keberadaan Isabella.


*****


"Allred ini sedikit unik. Dia menyembunyikan alamat tempat tinggalnya dari kami," jawab March saat Fil datang menanyakan tentang Allred.


"Apa tidak ada cara lain untuk menemuinya?" tanya Fil lagi. Ia tidak bisa menyerah begitu saja, guild ini adalah satu-satu pentujuk yang akan mempertemukan ia dengan Isabella lagi.


"Kau bisa meninggalkan alamatmu di sini, aku akan meminta Allred pergi menemuimu saat ia kembali ke guild," jawab March. Ia tidak tega melihat wajah murung Fil.


Fil dengan senang hati memberikan alamat penginapannya pada March, beruntung ia telah memesan satu kamar pada sebuah penginapan sebelum pergi ke guild.


"Oh! jadi kau menggunakan jalan pintas untuk menemukan Allred," ucap Aisnley.


Fil terkejut melihat gadis beracun itu telah berdiri di sampingnya, Fil tidak tahu dari mana datangnya Aisnley. Tapi Fil yang tahu hanya satu, yakni ia benci penguntit seperti Aisnley.


"Kenapa? kau juga bisa menggunakan jalan pintas," balas Fil. 


"Caranya kau buat racun banyak-banyak lalu jual itu semua di pasar, mungkin kau bisa bertemu dengan tuan di sana saat dia sedang berbelanja," ejek Fil seraya berlalu meninggalkan Aisnley.


"Elf berengsek, mati saja kau sana," umpat Aisnley. Ia ingin sekali meracuni Fil, namun ia tidak mau mengambil resiko jika Isabella sampai tahu bahwa dia telah menyelenyapkan seseorang.


Sementara itu Isabella tengah duduk di meja makan menatap hidangan enak yang di buat oleh Audrey, ia benar-benar merasa kembali  hidup hanya dengan melihat daging segar dan bir yang telah di sajikan.


"Mari makan." Isabella berniat mengambil potongan daging yang paling besar, akan tetapi Callix dengan cepat menepis tanganya.


"Jangan makan dulu. Kita tunggu Jasper," ucap Callix. 


Isabella menopang dagunya diatas meja sambil bergumam, "Mau makan saja susah. Kenapa juga harus menunggu Jasper, memang kita akan terbang."


"Apa kau mengatakan sesuatu?" tanya Audrey menatap Isabella dengan tatapan tajam.


"Ya. Aku mengatakan jika aku lapar, kenapa kita tidak makan saja? untuk apa menunggu Jasper? lagi pula dia bisa makan nanti jika dia kembali, jika begini terus maka kalian seperti menyiksaku. Aku telah bertarung mati-matian, bahkan saat mendapatkan surat dari Jasper aku langsung bergegas kembali tanpa istirahat karena aku khawatir dengan kalian. Tapi apa balasan yang aku dapatkan? makan saja tidak diizinkan, tenaga ku telah terkuras banyak dan mungkin saja aku akan tiada nanti," gerutu Isabella dengan mata berkaca-kaca. Ia berakting agar mendapat simpati dari Audrey dan Callix.


"Sudahlah! kalian makan saja, aku akan istirahat," rajuk Isabella seraya bangkit dari tempatnya dan beranjak pergi ke lantai 2.


Baru beberapa langkah Isabella menaiki anak tangga, tiba-tiba saja Audrey dan Callix menarik kedua tangannya dari belakang. Spontan karena kaget Isabella terjatuh, tapi mereka berhasil menangkap tubuhnya dengan baik.


"Ka-kalian …." Isabella terbelalak menatap wajah mereka yang menatap dirinya dengan tatapan penuh kasih sayang.


Mereka tersenyum lalu memeluk Isabella dengan erat, hal mengejutkan itu berhasil membuat Isabella tersipu malu.


"Maafkan aku. Aku tidak berniat menyakitimu, hanya saja sudah lama kita tidak makan bersama jadi menurutku ada baiknya kita makan bersama setelah sekian lama. Bukankah makan bersama membuat suasana semakin indah dan harmonis, aku benar kan?" tanya Callix. Ucapannya membuat Isabella tersadar jika meninggalkan Jasper hanya akan membuat jaguar kecil itu merasa sedih.


"Kami merindukanmu sama hal juga dengan Jasper, jadi apa yang di katakan Callix itu benar. Selama kami tinggal bersama tanpamu, kami menyadari satu hal yakni Jasper selalu merasa kesepian tanpamu jadi kami selalu menghiburnya dengan berbagai cara untuk mengisi keberadaanmu. Lalu setelah kau kembali, bagaimana bisa kau membuatnya merasa sedih dengan tidak menunggunya," tambah Audrey.


Isabella tersenyum dan meminta maaf karena telah bersikap egois, padahal ia hanya ingin berkating. Tapi ia malah membuat suasana menjadi tegang, beruntung sekarang semua telah kembali normal. Namun saat mereka hendak berjalan kembali ke meja makan, ada sesuatu yang jatuh dari kantong celana Isabella.


Audrey memungut benda itu dari lantai dan alangkah terkejutnya Audrey saat melihat benda itu ternyata adalah bros emas milik kesatria bayaran, "I-ini … apa ini Isabella?"


Isabella terdiam seribu bahasa karena kaget, ia tidak sadar jika barang itu masih ada di kantongnya dan sekarang itu malah ada di tangan Audrey sementara Callix juga telah melihatnya.


"Bagaimana ini? bagaimana aku harus menjelaskannya?" batin Isabella yang berusaha memikirkan alasan untuk mengelabui kedua pria didekatnya.


*****


Bersambung.


Silakan tinggalkan jejak and dukung selalu author, karena dukungan kalian sangatlah berarti😘😘😘