
Saat waktu petang tiba Vanessa kembali kediamannya sendirian, Cedric akan bermain catur sampai larut bersama kaisar jadi ia akan tidur di istana sedangkan Elena sendiri akan menginap di istana permaisyuri agar bisa kembali bersama Cedric keesokan harinya.
"Aku tidak sabar menunggu besok. Tapi malam ini kakak juga tidak pulang, kalau dia pulang kan bagus," gumam Vanessa. Isabella pergi ke kediaman Oswald dan akan menginap, berhubung Cedric tidak ada di rumah jadi ia bebas dari pengawasan dan bisa bersantai membantu di toko kue seperti dulu.
"Vanessa? kau sudah pulang?" tanya Charlotte saat Vanessa baru saja memasuki kediaman.
"Ya," singkat Vanessa. Sikapnya dingin karena bertemu dengan sih kembar adalah hal terburuk dalam hidupnya.
"Di mana ayah? apa ayah tidak …."
"Aku sangat lelah dan ingin istirahat jadi kita bicara besok saja. Selamat malam." Vanessa memotong ucapan Charlotte lalu ia berjalan menuju tangga.
"Berani sekali kau melawan kami. Sini kau!" Carolina menjambak rambut Vanessa lalu menariknya menuju ke ruangan rahasia mereka.
"Akh!" Vanessa menjerit kesakitan saat Carolina mengempaskan ke lantai.
"Apa yang kalian inginkan? jika ayah tau tentang ini maka kalian tidak akan … akh!" Vanessa lagi-lagi menjerit kesakitan saat Charlotte menamparnya.
"Malam ini adalah malam terakhirmu di kediaman ini, semoga beruntung." Charlotte menyeringai lalu mereka berdua mulai menyiksa Vanessa.
Setelah mereka puas menyiksa Vanessa, sih kembar menyeretnya ke halaman belakang menuju hutan lebat. Di sana telah menunggu seorang pria yang akan membawa pergi Vanessa, mereka akan mengirim Vanesaa ke kediaman paman mereka di luar ibukota untuk dijadikan selirnya.
Setelah kereta yang membawa Vanessa mulai menjauh, sih kembar kembali ke dalam kediaman dengan aman tanpa di curigai.
*****
Ternyata berselang 30 menit kemudian Albert tiba di kediaman Abraham, ia lupa memberikan hadiah yang ingin ia berikan pada Vanessa saat makan malam. Dan ia baru menyadari hadiah itu saat melihat kotak hadiah tersebut masih ada di ruang kerjanya.
Kedatangan Albert di sambut ramah oleh Viola dan saat Viola hendak memanggil Vanessa di kamarnya, kebenaran tentang hilangnya Vanessa akhirnya terbongkar. Albert seketika menjadi sangat cemas, ia mengirim salah satu kesatria untuk kembali ke istana dan menyampaikan kabar tersebut kepada Cedric sementara dirinya sendiri pergi menemui sahabatnya.
"Di mana Charlize? aku ingin bertemu dengan Charlize?" Albert menerobos masuk ke kediaman Charlize, ia bahkan tidak peduli dengan para pelayan yang berusaha menjelaskan padanya di mana keadaan Charlize saat ini.
Brak!
"Charlize!" Albert membanting pintu kamar Charlize, Charlize yang saat itu sedang istirahat sangat terkejut dengan kedatangan Albert.
"Ada apa denganmu?" tanya Charlize, walau pun kondisi tubuhnya masih lemah ia tetap bangun dari ranjang dan berusaha menenangkan Albert.
"Vanessa menghilang. Ku mohon kerahkan kesatria mu untuk mencari Vanessa, aku tidak ingin terjadi sesuatu padanya. Aku tidak bisa menggerakan para kesatria ku karena aku tidak membawa peluit untuk memanggil mereka yang sedang melakukan pembasmian. Ku mohon lakukan sesuatu!" pinta Albert, ia sampai berlutut di kaki Charlize.
"Sadarlah!" teriak Charlize. Ia menuntun Albert untuk duduk dengan tenang di atas ranjang, "Apa pun kau minta akan aku penuhi, tanpa harus memohon sekali pun akan ku penuhi itu. Kau adalah sahabat ku jadi apapun yang menjadi milikku adalah milikmu."
Charlize menyerahkan lencana komandan kesatria Arsena kepada Albert, "Pakailah mereka sesukamu, jangan biarkan mereka istirahat sampai Vanessa di temukan. Aku juga akan membantu mencarinya."
Prang!
Edmund tidak sengaja menjatuhkan nampan ia bawa saat mendengar apa yang Charlize katakan.
Dengan raut wajah kesal ia berjalan cepat menghampiri Charlize dan Albert, "Maafkan saya putra mahkota. Tapi duke saat ini sedang sakit, saya menemukan beliau terkapar tidak sadarkan diri dalam gua. Mungkin semua luka ditubuh duke sudah sembuh tanpa bekas, walau pun begitu duke kehilangan banyak darah jadi beliau butuh istirahat."
"Tidak bisa! anda …."
"Ini perintah!" tegas Charlize membuat Edmund mau tidak mau harus menurut.
"Ini bukan hanya tentang Albert. Tapi juga Isabella, aku tidak mau dia khawatir," batin Charlize membayangkan seberapa khawatirnya Isabella saat ini.
Albert pergi lebih dulu menunggangi kuda bersama sebagian pasukan kesatria Arsena, sedangkan Charlize demi keselamatan ia pergi bersama Edmund dengan menunggangi Kaisen. Kaisen adalah singkatan nama dari 2 suni harimau milik Charlize, yakni Kaiden dan Sean.
Malam itu seisi ibu kota menjadi gempar karena kabar hilanganya Vanessa telah menyebar, Isabella sendiri begitu mendapatkan kabar itu dari Jeremy ia langsung meninggalkan kediaman Oswald bersama Selina.
Callix bersama Audrey juga tidak bisa tinggal diam, mereka berdua bergerak dengan Jasper sebagai tunggangannya.
"Bau darah Vanessa sangat manis, aku bisa mencium bau darah itu dari atas sini. Tapi bau darah itu aku bingung ke mana lagi arahnya," ucap Selina. Ia tidak bisa melihat dengan baik dari atas ketinggian karena banyak pepohonan, dan ia juga hanya bisa mengikuti bau darah Selina dengan baik hanya sampai di gerbang masuk ibukota.
"Darah? itu artinya Vanessa dalam keadaan terluka. Apa ini sebenarnya? siapa pelakunya dan apa rencana mereka menculi Vanessa?" batin Isabella dilanda kegelisahan.
"Nona … kenapa anda berhenti?" telepati dari Jasper. Ia berhenti berlari di bawah Selina.
"Selina bisa mencium bau darah Vanessa dengan baik hanya sampai di sini. Itu artinya Vanessa telah berada di luar ibukota sekarang." Isabella membalas telepati dari Jasper.
"Bagaimana jika kita terbang menyusuri jalan kereta saja?" usul Isabella.
"Tidak bisa. Jika ini penculikan maka mengikuti jalan kereta yang tidak terlindungi adalah keputusan bodoh, selain terlihat jelas dari atas juga bisa meninggalkan jejak. Aku merasa mereka pasti saat ini mengikuti jalur sulit dibawah pepohonan agar tidak terlacak," jawab Selina.
"Berani sekali mereka. Berani menculik Vanessaku yang berharga, berdoalah bukan aku yang akan menemukan kalian," batin Isabella. Ia tidak dapat mengendalikan emosinya.
"Bagaimana jika kau gunakan kekuatan suci untuk menghentikan waktu disekitar hutan ini, dengan begitu kita bisa bergerak cepat dan …."
"Tidak bisa!" Isabella memotong ucapan Selina, "Terlalu beresiko menggunakan kekuatan itu, identitas sebagai Allred bisa saja terbongkar dan tempat suci akan mengincarku."
"Bodoh! kau naik naga saja sudah bisa membuat tempat suci mengincarmu."
"Itu berbeda. Kita saat ini ada di udara dan jauh dari tanah, siapa yang bisa mengenali wajahku?"
"Kalau begitu pakai cincin penyamaranmu saja. Kau bisa menggunakan kekuatanmu dengan identitas itu, kita di udara bukan?"
"Kau benar juga. Baiklah! aku coba sekarang." Isabella ingin mengeluarkan cincin itu dari kantongnya. Tapi ia baru sadar, jika cincin itu tertinggal di kamarnya dalam kotak yang ia sembunyikan.
"Bodoh sekali kau!" umpat Selina dibalas dengan tawa kecil oleh Isabella.
Selina tidak percaya di saat seperti ini Isabella bukannya menunjukan kehebatan, ia malah menunjukan kebodohan yang membuat Selina ingin menelannya.
*****
Bersambung.
Silahkan tinggalkan jejak and dukung selalu author, karena dukungan kalian sangatlah berarti😘