The Second Life Of The Mercenary

The Second Life Of The Mercenary
Bab 64 Kedua istri Martin.



Martin tidak melepaskan pandangannya dari Isabella, ia juga yakin jika Isabella hanya menggertak dirinya dan tidak berani menyerang. Lalu ide licik muncul di kepalanya besarnya, ia ingin menggunakan Vanessa untuk menahan Isabella.


"Akh! panas, tanganku panas hiks …." Vanessa meneteskan airmata saat ia merasa tangannya yang digenggam oleh Martin terasa sangat panas.


"Apa yang kau lakukan dengan tangannya? lepaskan dia! tangannya bisa terbakar," teriak Isabella pada Martin.


"Aku bisa saja melepaskan tanganku dari wanita ini. Tapi dengan satu syarat, kau harus mematuhi syarat itu," ucap Martini menunjukan benang merah di tangannya, "Pakai benang ini di jari manismu."


"Kau gila yah? kau ingin mengikat kakakku dengan pernikahan, apa kau tidak … akh!" Vanessa meringis kesakitan lagi sebab Martin membuat tangannya semakin panas.


"Akan aku lakukan." Isabella mengambil benang merah itu lalu mengikatkan benang tersebut di jari manisnya, "Selesai."


Martin tersenyum bahagia karena sekarang gadis yang ia inginkan telah sah menjadi istrinya. Namun bukan Martin namanya jika dia hanya puas dengan satu wanita jika ada dua wanita di sisinya, ternyata ia juga diam-diam mengikatkan benang merah yang sama di jari manis Vanessa.


Martin mengangkat tangan Vanessa dengan sengaja karena ingin menunjukan benang merah itu pada Isabella, "Aduh! bagaimana ini? adikmu telah sah menjadi istriku juga jadi bagaimana bisa aku melepaskan istriku sendiri."


"Berani sekali kau menipuku. Aku akan membunuhmu." Isabella menghunuskan belatinya pada Martin. Namun tiba-tiba saja seorang kesatria menembak panah ke kaki Isabella, panah itu membuat Isabella berhenti berlari.


"Kakak."


"Isabella."


Teriakan Fil dan Vanessa serampak dengan kedatangan Albert serta Charlize, Charlize langsung memerintahkan semua kesatrianya menumpas kesatria Kalandra tanpa sisa.


"Kalian melukai Isabella didepan mataku, berani sekali." Fil melewati batas kesabarannya. Tapi, ia tidak bisa menyerang tanpa perintah dari Isabella.


"Isabella kau …." Charlize menghampiri Isabella yang terluka parah, tanpa sengaja ia melihat benang merah di jarinya.


"Hei kau, pria bajingan. Menjauh dari istriku!" perintah Martin. Ia menjadi sangat kesal saat wanita cantik yang ia dambakan bahkan belum sempat ia sentuh telah di sentuh oleh pria lain.


"Vanessa. Tolong Vanessa," bisik Isabella pada Charlize hingga akhirnya ia pingsan karena telah kehilangan banyak darah.


Charlize bukan kesal karena Isabella terluka. Tapi ia menjadi kesal karena wanita yang selama ini ia cari dengan susah payah, telah diikat dengan pernikahan tanpa dasar.


"Kau bilang dia istrimu? maka aku hanya perlu membunuhmu untuk menjadikan wanita ini istriku," balas Charlize. Ia tanpa ragu sama sekali melemparkan pisau kecil ke kepala Martin.


Pisau yang Charlize melempar mendarat mulus tepat di kepala Martin, hanya dalam sekali tusukan Martin langsung tumbang dan menghembuskan nafas terakhirnya. Pisau itu bukan pisau biasa, Charlize telah menggunakan racun pada pisau itu sebelum melemparnya.


Genggaman tangan Vanessa lepas dengan sendirinya, sayangnya bekas genggaman Martin membuat luka bakar di tangan Vanessa. Seketika Vanessa juga ikut tumbang karena dirinya kelelahan, dan syok berat.


"Vanessa!" Albert dengan cepat menangkap tubuh Vanessa agar tidak terjatuh ke tanah.


Selina berubah ke wujud manusia, lalu ia bersama Fil menghampiri Isabella yang kini telah berada dalam gendongan Charlize.


*****


Vanessa dan Isabella mendapatkan pertolongan medis di klinik terdekat yang berada di Kota Hujan biru, tidak lama kemudian kabar dibantainya keluarga Baron Martin Kalandra atas hukuman penculikan putri mahkota juga telah tersebar luas. Kini mereka tinggal menunggu kedua korban sadar.


Setelah sadar Vanessa bukannya istirahat, dia memaksa ingin menemui Isabella tidak peduli walau pun Albert melarangnya. Vanessa tetap nekad turun dari ranjang perawatannya dan pergi ke ruang rawat Isabella.


"Huwaaa." Suara tangisan Vanessa pecah kemudian ia berlari memeluk Isabella, "Kakak bodoh! kenapa kakak nekad memakai benang merah lalu menyerang pria jelek itu demi aku? apa kakak tidak sayang diri kakak sendiri?"


"Sesayang apapun kakak pada diri kakak sendiri, itu tidak bisa mengalahkan rasa sayang kakak pada padamu. Itu hanya sebuah benang dan diikat oleh benang itu tidak terlalu menyakitkan di banding dengan …." Isabella menarih tangan Vanessa yang diperban. "Dibanding dengan sakitnya luka yang kau terima."


Vanessa menjadi cemberut lalu ia menyikap selimut yang menutup kaki Isabella, spontan Charlize dan Albert langsung mengalihkan padangan mereka dengan wajah memerah.


"Apa yang kau lakukan?" Isabella kembali menutup kakinya dengan selimut. Sebenarnya yang terlihat hanyalah betis Isabella saja. Namun walau pun demikian, di zaman itu pria merasa malu jika mereka tidak sengaja melihat anggota tubuh wanita, sangat berbeda dengan sebagian besar pria di zaman modern.


"Aku hanya ingin menunjukan luka kakak saja. Dibandingkan dengan tusukan itu, apalah artinya luka bakarku ini," jawab Vanessa. "Berjanjilah padaku. Kelak apapun yang terjadi kakak harus menyayangi diri sendiri. Kakak itu berharga bagiku."


"Kakak tidak mau berjanji. Karena tubuh kakak selalu bergerak spontan, tubuh kakak tau kapan harus melindungi orang-orang yang menurut hati kakak berharga. Kau jauh lebih berharga bagi kakak jadi jangan meminta hal yang tidak-tidak."


"Aku benci kakak." Vanessa memeluk Isabella membuat Isabella tidak bisa menahan diri untuk mengelus rambutnya.


Keesokan harinya kereta kuda mewah dari keluarga Abraham menjemput mereka dari klinik. Untuk sementara waktu tangan Vanessa tidak bisa kena air, dan Isabella harus menggunakan kursi roda untuk beraktifitas sesuai ajuran dokter.


"Aku yang akan duduk di samping kakak, menjauhlah Selina!" Vanessa mendorong Selina menjauh dari Isabella.


"Tidak bisa, aku selalu berada di sisi Isabella bahkan di pundaknya selama ini." Selina bersusah payah mempertahankan tempat duduknya di samping Isabella.


"Kalau begitu kau berubah saja jadi kadal dan duduk di pundaknya, bangku di sebelah kakak adalah milikku."


"Tidak mau. Kau saja yang jadi kadal karena aku lelah jadi kadal terus, lagi pula bangku kereta ini tidak kau bawa dari rumahmu jadi ini milik siapa saja yang duduk lebih dulu."


"Mengalah padaku, aku lebih muda darimu."


"Justru kau yang harus menghormatiku dengan cara tidak mengambil tempat dudukku, aku lebih tua darimu."


Perdebatan keduanya terdengar oleh Fil, Charlize, dan Albert yang berjaga di luar kereta. Mereka bertiga tidak tau ternyata selama ini hubungan ketiga wanita itu sangat aneh, bahkan tempat duduk saja di perebutkan.


Karena mereka terus berdebat Isabella pindah ke ranjang dan berbaring di sana, dengan begitu, bangku itu bisa mereka berdua dudukki tanpa harus berebut.


Perjalan ke ibukota memakan waktu yang cukup lama sekitar 4 hari, Isabella sudah tidak sabar ingin mendengar siapa pelaku dibalik penculikan Vanessa. Mereka sudah bertanya. Namun Vanessa menolak menjawab, ia ingin mengatakan kebenaran tersebut tepat setelah mereka sampai di kediaman Abraham.


"Aku lapar …." keluh Vanessa dan Selina serempak setelah keduanya lelah bertengkar.


"Kita akan tiba di ibukota, Daniel akan membuka gerbang teleportasi sesaat lagi," ucap Albert dari luar kereta.


Mendengar kata gerbang teleportasi raut wajah Selina menjadi pucat pasi, berbeda dengan Isabella yang merasa bahagia karena bisa sampai secepatnya.


"Aku akan mual," batin Selina mengingat pengalaman buruk dalam hidupnya saat mengembara bersama Pamela dulu.


*****


Bersambung.


Silakan tinggalkan jejak and dukung selalu author, karena dukungan kalian sangatlah berarti😘