The Second Life Of The Mercenary

The Second Life Of The Mercenary
Bab 50 Toko kue kenangan.



Sera berdecak kesal setelah menerima surat dari guild kelinci, ia tidak akan menduga jika di kekaisaran ini ada yang berani menolak permintaan darinya.


"Mungkin saja bayaran yang ibunda ajukan kurang. Mereka itu adalah tim kesatria bayaran terkenal, 10.000 keping emas saja aku rasa itu tidak akan cukup bagi mereka," ucap Babel meneguk secangkir teh hangat miliknya.


"Anggaran bulanan ibunda tidak tersisa banyak karena akhir-akhir ini selalu menyewa kesatria bayaran. Jika ibunda meminta lagi pada ayahandamu maka dia akan curiga," balas Sera.


"Lupakan saja. Hari ini ibu jadi pergi ke toko kue kenangan?" 


"Ya. Ibu akan merekrut pattissier toko kue itu untuk menjadi pattissier pribadi ibu, kue-kue enak yang super langkah seperti itu hanya pantas di makan oleh permaisyuri seperti ibu."


"Hati-hati jika nanti gagal lagi. Apa uang ibunda cukup?"


"Cukup. Setidaknya masih ada 20.000 keping emas untuk membawa pattissier itu pulang, kali ini dia pasti tidak akan menolak karena rakyat biasa seperti mereka itu sangat mencintai uang."


"Semoga berhasil." Babel ikut merasa senang untuk ibunya.


*****


Sebelum jam makan siang tiba Jovan datang ke kediaman Abraham, mendengar kedatangannya Cedric merasa senang sebab Jovan adalah pengikut setianya sekaligus sahabatnya sejak kecil. Namun setelah menunggu untuk waktu yang lama, Jovan tidak kunjung datang ke ruang kerjanya padahal pelayan sudah bilang jika Jovan tiba beberapa menit yang lalu.


Merasa ada yang tidak beres Cedric memutuskan untuk mencari pria itu sendiri, ia mencari Jovan ke seisi kediaman. Namun pria tua berusia 45 tahun itu tidak ada di mana pun, Cedric berpikir keras ke mana perginya Jovan.


"Duke? anda sedang apa di sini?" tanya Elena yang tidak sengaja melihat Cedric saat ia hendak menuju kamarnya.


"Ah! Elena, kebetulan kau datang. Apa kau melihat … eh! ada apa dengan gaunmu?" tanya Cedric melihat ada noda teh di gaun indah Elena.


"Itu … Isabella menyiram saya dengan teh tadi, dia sangat kesal melihat saya. Saya sendiri tidak tau kenapa."


"Anak itu. Tidak ada sedikit pun sisi baik dari anak itu, dia selalu membuat masalah."


"Sudahlah! jangan terlalu marah padanya, Isabella hanya butuh waktu untuk menyesuaikan diri."


"Setelah menemukan Jovan aku akan menegur Isabella."


"Viscount Jovan sudah pulang, dan dia membawa Isabella bersamanya," ucap Elena.


"Ya, mereka sudah pergi. Aku berusaha membangun hubungan baik dengan Jovan dan Isabella merusak segalanya, bahkan Jovan sangat lengket pada gadis kurang ajar itu. Sebenarnya apa hubungan mereka sampai bisa sedekat itu," batin Elena 


Cedric tidak mengatakan apa-apa lagi, kemudian ia langsung pergi menuju ruang kerjanya. Ini pertama kali dalam hidup Cedric, Jovan orang yang sangat dekat dengannya datang dan pergi dari kediamannya tanpa menemui dirinya. Terutama yang paling membuat Cedric merasa aneh adalah ia pergi bersama Isabella.


Pada awalnya Jovan datang bukan tanpa sebab melainkan karena Isabella telah mengundangnya untuk datang, Isabella memintanya untuk mengantarkan Isabella ke kediaman Oswald yakni kediaman ketiga saudara prianya itu.


Namun karena kediamannya berada di tempat lain dan toko kue itu berada di pusat pertokoan, Jadi Isabella memutuskan untuk langsung pergi ke toko kue karena mereka bertiga pasti ada di toko saat ini. 


Sesampainya di sana Isabella terkejut karena antrian pembeli di toko sangat panjang, padahal toko itu 2 lantai dan lumayan besar. Tapi para pembeli tidak cukup di dalam, Isabella tau kenapa pembeli bisa banyak sekali di sini karena tempat tokonya berdiri berada dipusat pertokoan.


Selain toko kue milik mereka masih ada banyak toko di sepanjang jalan pusat pertokoan ini, ternyata Jovan sangat pandai dalam memilih toko. Walau pun tidak sesuai dengan keinginan Isabella. Namun letak toko ini jauh lebih baik, tempat yang strategis memang merupakan pendukung kuat dalam bisnis.


Isabella dan Jovan masuk ikut pintu belakang toko yang langsung terhubung dengan dapur, jika ikut pintu depan maka mereka harus menunggu berjam-jam lamanya.


Sejak turun dari kereta tadi Isabella terus merasa kagum, kali ini ia juga merasa lebih kagum melihat dapur yang sangat besar dengan 5 pattissier handal didalamnya.


"Woah! Selamat datang Viscount Jovan," sapa salah satu pattissier pada Jovan.


Para pattissier itu sangat ramah pada Jovan, bahkan mereka meninggalkan pekerjaannya untuk mempersilakan Jovan duduk dengan nyaman didapur tersebut. Tidak satu pun dari mereka yang menghiraukan Isabella.


"Matilah aku. Nona Isabella sepertinya sangat kesal," batin Jovan yang tidak berani melakukan kontak mata dengan Isabella.


Dari semua pattissier yang ada Isabella tidak melihat sosok Audrey, padahal ia ingin sekali melihat mereka.


Brak!


Pintu belakang dapur dibanting dari luar dengan sangat keras. Para pattissier itu terkejut bahkan mereka langsung kembali bekerja, tidak lama beberapa pria masuk membawa karung yang besar.


Setelah semua karung selesai mereka masukan ke dalam, tidak lama Audrey masuk menggunakan seragam pattissier miliknya.


"Bergerak lebih cepat. Hari ini pembeli lebih banyak dari kemarin, jangan banyak bersantai sebelum jam istirahat tiba," teriak Audrey. Pantas saja para pattissier itu langsung terdiam saat pintu dibanting, ternyata mereka melihat Audrey dan mereka takut padanya.


"Menakutkan sekali," goda Isabella membuat para pattissier itu menatapnya dengan tatapan tajam.


"Matilah kau, berani sekali anak baru seperti mu mengejek Tuan Audrey," gumam para pattssier iti serempak. Rupanya mereka sengaja tidak memperhatikan Isabella karena berpikir dirinya adalah pattissier baru.


"Anu … Tuan Audrey, anda jangan marah. Dia adalah anak baru, saya akan mengajarinya nanti," ucap pattissier pertama. Terlihat jelas ia sangat takut dengan Audrey. Namun ia tetap memberanikan dirinya membela Isabella, hal itu membuat Isabella takjub sekaligus lucu.


"Kau mau mengajarinya? apa kau tau siapa dia? dia adalah master toko kue ini. Beraninya kau." Pattissier itu semakin ketakutan mendapatkan tatapan nyalang dari Audrey.


"Sudahlah! kau juga jangan terlalu keras pada mereka, manusia itu punya perasaan nanti jika kau terlalu keras mereka bisa sakit hati," lerai Isabella.


"Maaf yah. Aku jadi memperlihatkan sisi memalukan didepanmu, kelak aku akan sedikit lebih ramah," sesal Audrey.


"Baiklah! kerja bagus," ucap Isabella. Ia mendapatkan pelukan hangat dari Audrey sama seperti biasanya.


Setelah itu sambil menunggu waktu istirahat Isabella duduk didapur sambil melihat mereka membuat kue, Jovan memustuskan untuk kembali lebih dulu karena ia masih punya janji temu dengan beberapa bangsawan.


Setelah menunggu waktu jam makan siang, toko kue tutup selama 2 jam ke depan. Para pelayan, dan pattissier butuh lwaktu untuk istirahat setelah melakukan pekerjaan berat.


"Woah! Isabella." Callix memeluk Isabella bahkan menggoyangkan tubuh Isabella ke sana ke mari sesuka hatinya.


"Nona … aku merindukanmu." Jasper sampai menagis memeluk Isabella.


"Apa itu benar-benar kepala pelayan kita?"


"Biasanya dia sangat dingin dan tidak pernah tersenyum."


"Seperti menjadi orang lain saja."


Bisik-bisik para pelayan yang mendapatkan tatapan tajam dari Jasper, Isabella tidak menyangka ketiga prianya ini akan menjadi orang lain saat ia tidak ada. Beruntung ia datang hari ini jika tidak maka, Audrey akan menjadi pattissier utama kerja paksa, Jasper akan menjadi kepala pelayan tidak berperasaan, dan Callix akan menjadi kasir yang suka menggoda wanita.


*****


Bersambung.


Silakan tinggalkan jejak and dukung selalu author, karena dukungan kalian sangatlah berarti😘