The Second Life

The Second Life
CHAPTER 10



Di sisi lain hutan.


"Apa kalian telah menemukan pangeran?" tanya seorang pria tinggi tegap berpenampilan mewah memiliki rambut hitam,mata merah dan aura hitam menyeramkan keluar dari tubuh pria tersebut.


"Maaf lord kami belum menemukan pangeran" ucap salah satu kesatria yang berdiri paling depan dari barisan para kesatria yang di ketahui merupakan pemimpin mereka. Para kesatria itu menunduk takut, mereka di intimidasi oleh Aura memyeramkan pria di hapan mereka yang merupakan raja mereka.


"Jika sampai besok kalian tidak menemukan pangeran, kepala kalian akan ku penggal" ucapnya menggunakan nada dingin menusuk membuat para kesatria gemetar ketakutan.


"Ba..baik lord" ucap pemimpin kesatria, dia berusaha agar suaranya tidak terdengar ketakutan.


"Pergi" usirnya tanpa melihat para kesatria yang masi gemetar. Mendengar ucapan itu mereka segera memberi hormat dan keluar dengan langkah cepat.


Kenzie Alexis xendrick raja dari kerajaan Estrellas, raja yang terkenal akan kekejamannya merebut tahta kerajaan.


Kerajaan Estrellas merupakan kerajaan yang paling luas di bandingkan kerajaan lain. Kerajaan ini juga terkenal akan ke unikan empat kota besar yang terletak di perbatasan kerajaan. Empat kota itu terdiri atas Crystal city, Sand city, floating city dan Emerald city.


Crystal city.


kota yang terletak di perbatasan paling utara kerajaan. Ciri khas kota ini memiliki musim dingin abadi, setiap bangunan di kota ini terbuat dari kristal es.


Sand city.


kota ini di bangun di padang pasir yang luasnya sama dengan empat kota besar lainnya, semua bangunan di kota ini terbuat dari bahan dasar tanah liat. Kota ini terletak di sebelah barat kerajaan.


floating city.


Di bagian timur perbatasan kerajaan terdapat wilayah laut yang luas di bandingkan wilayah darat. Dan kota ini di bangun terapung di atas air laut.


Emerald city.


Perbatasan barat yang merupakan tempat keluar masuk para pedagang dari kerajaan lain atau orang-orang yang ingin memasuki kerajaan estrellas melalui jalur darat karena perbatasan barat tidak seperti perbatasan lainya yang di kelilingi oleh lautan, perbatasan di bagian barat kebanyakan terdiri atas hutan-hutan yang lebat. Emerald city terletak di bagian barat perbatasan dan merupakan pintu masuk kerajaan. Di dalam kota Emerald pepohonan akan berwarna hijau zamrut ketika malam pergantian musim dingin ke musim semi.


Bukan hanya empat kota yang indah saja, ibu kota kerajaan Estrellas juga tak kalah indah dan memiliki keunikan tersendiri. Dimana pada malam hari langit malam ibu kota akan terlihat sangat indah di hiasi beribu bintang. Hal ini hanya terjadi di dalam ibu kota kerajaan tidak pernah terjadi di tempat lain. Estrellas juga terdiri dari banyak pedesaan dan beberapa kota kecil.


*****


"Kak Leta" ucap Theo keluar dari tenda sambil mengucak mata menggunakan punggung tangannya dia baru saja bangun tidur.


"Ohh kau suda bangun" kata Violeta menghentikan aktivitas memasak di perapian.


"Hmm" balas Theo bergemu berjalan mendekati Violeta, dia kemudian duduk di dekat Violeta yang telah selesai memasak sarapan pagi mereka.


Mereka pun memulai sarapan pagi dengan Violeta yang menyuapi Theo, mereka sesekali bercerita dan bercanda. Selesai sarapan Violeta memandikan Theo dengan sihirnya dan membereskan tenda mereka.


"Sesuai janjiku semalam aku akan membawamu ke fairy town untuk bertemu para peri" ucap Violeta yang telah selesai membereskan tenda.


"Apa itu fairy town kak leta?" tanya Theo penasaran.


"fairy town, merupakan tempat tinggal para peri" jelasnya Dia memasukan tendanya tadi ke dalam kantong penyimpanan.


"Ayooo.. cepat kita pergi ke fairy town kak Leta!" ucap Theo antusias menarik-narik ujung baju Violeta.


Violeta tertawa kecil melihat tingkah Theo dan mengecak-acak rambut Theo gemas. Violeta menggunakan tudung kepala menutupi rambut dan kemudian dia menggunkan sihir anti gravitasi membuat dia dan Theo melayang di udara.


"a..apa yang terjadi ini" ucap Theo tarkejut dia memegang ujung baju Violeta dengan erat.


"Tenanglah Theo ini sihir kakak, kita akan terbang ke fairy town" ucap Violeta memegang tangan Theo yang tadi memegang ujung bajunya. Theo merasa tenang akan tangan lembut Violeta dia tidak lagi ketakutan. Merasa Theo sudah tenang dia melayang lebih tinggi kemudian terbang tinggi menuju pusat hutan peri.


"Wao..ini sungguh menakjubkan" theo sangat gembira melihat pemandangan hutan dari ketinggian dia sangat menikmatinya, Violeta hanya tersenyum kecil melihat itu.


Tidak lama hingga mereka sampai ke pusat hutan tepatnya di pinggir jurang yang dalam dan gelap tidak terlihat dasar dari jurang itu.


"Kita akan terbang menuruni jurang ini" ucap Violeta sebelum turun ke jurang, dia berhenti di pinggir jurang.


"Untuk apa kita menuruni jurang?" tanya Theo bingung dengan perkataan Violeta.


"Kau akan tau jika sudah sampai di dasar jurang, jadi jangan takut" jawab Violeta.


"Ohh benarkah?" tanya Violeta dengan wajah jahil. Theo hanya mengangguk bangga.


"Lalu kemarin siapa yang ketakutan hingga menangis?" tanya Violeta kali ini dengan senyum jahil.


"I..ituu karna kakiku sakit" jawab Theo memalingkan wajahnya malu hingga pipinya berwarnah merah. Melihat itu Violeta gemas dia mencubit ke dua pipi Theo.


"Auu... kak sakit" ucap Theo meringis kesakitan.


"Baiklah sekarang kita akan menuruni jurang, pegang tanganku erat-erat" ucap Violeta berhenti mencubit pipi theo kemudian dia kembali memegang tangan Theo dengan erat.


Meraka terbang menuruni jurang yang gelap semakin dalam jurang cahaya perlahan-lahan mulai meredup hingga gelap. Cukup lama sampai mereka memasuki kabut aneh di dasar jurang. Ada juga beberapa pepohonan yang terlihat, ternyata di dasar jurang itu tidak segelap saat mereka menuruni jurang. Theo memegang tangan Violeta lebih erat lagi.


Violeta mendarat di tanah kemudian dia melepas tudung yang menutupi kepalanya dia lalu menggunakan sihir pemanggil roh untuk memanggil Avery.


"Haiii Leta" sapa Avery terlalu bersemangat saat dia baru muncul dari lingkaran sihir pemanggil.


"Kamu pasti sangat merindukanku kan Leta" ucapnya lagi dengan percaya diri.


"Tidak" jawab Violeta singkat, padat dan jelas tanpa peduli perasaan Avery. Avery langsung cemberut mendengar jawaban Violeta.


"Hmpp" Theo berusaha menahan diri agar tidak tertawa. Suara Theo membuat Avery memandangnya, dia tambah cemberut sebab di tertawakan oleh seorang bocah.


"Anak siapa ini?" tanya Avery menyelidik.


"Yang jelas bukan anakku" jawab Violeta mengerti dengan tatapan Avery.


"Aku menemukan dia di hutan saat dia tersandung akar pohon dan menangis, dia juga tersesat karena itu aku membawa dia bersamaku" jelas Violeta, Avery hanya mengangguk mendengar penjelasan.


"Siapa namamu bocah nakal?" tanya Avery.


"Theo Fernando xendrick, bibi" jawab Theo. Mendengar kata bibi yang di ucapkan Theo perempatan siku-siku muncul di kening Avery.


"Haii aku masi cantik dan awet muda kau seharusnya memangilku kakak cantik" protes Avery.


"Tidak, bibi tidak secantik kakak Leta" ucap Theo masi memanggil Avery bibi. Mendengar ucapan Theo Violeta menahan diri untuk tidak menertawai Avery dan Avery yang bertambah kesal.


"Biarkan saja Theo memanggilmu seperti itu, dia masi kecil" ucap Violeta membela Theo.


"Apa hubungannya" protes Avery masi tidak terima.


"Berhenti berdebat kau seperti anak kecil saja!" ucap Violeta memandang tajam Avery. Avery hanya mendengus kesal.


"Kau pengeran kerajaan Estrellas bukan?" tanya Avery saat dia memandang wajah Theo. Theo hanya mengangguk kecil menjawab pertanyaan Avery.


"Dari mana kau tau dia seorang pangeran?" tanya Violeta penasaran.


"Dia memiliki rambut berwarna hitam dan mata merah" jawab Avery singkat.


"Oh iyaa untuk apa kau memanggilku?" tanya Avery yang baru sadar untuk menanyakan tujuan Violeta memanggilnya.


"Tunjukan jalan masuk ke fairy town" titah Violeta. Avery mengerutkan kening bingung dengan perintah Violeta sampai dia memandang sekitarnya penuh dengan kabut.


"Kenapa kau tidak memberitahukan bahwa kau berada di hutan peri?" Tanya Avery dia kesal dengan Violeta yang tidak memberitahukan kedatangannya ke hutan peri.


"Hehehehe... Kejutannn" Violeta hanya terkekeh.


"Aku memang sedikit terkejut, tapi bagaimana kau bisa masuk ke hutan peri tanpa sepengetahuanku?" tanya Avery, dia tidak percaya Violeta tidak di deteksi olehnya saat memasuki hutan peri sebab setiap mahkluk hidup yang ada di hutan peri dapat di deteksi keberadaan olehnya.


"Aku menyembunyikan aura keberadaanku"


"Bisakah kau menunjukan jalan masuk ke fairy town? Aku sudah lelah berdiri terus di sini" kesal Violeta.


"Hehehe.. Baiklah ikuti aku" ucap Avery berbalik dia berjalan masuk ke dalam kabut tebal di ikuti oleh Violeta yang menggandeng tangan Theo.