
Di depan rumah, Merlin menggambar lingkaran sihir di tanah sedangkan Eros dan Violeta hanya berdiri di samping lingkara sihir yang belum selesai di buat, mereka berdua mengamati kegiatan Merlin.
"Leta berdirilah di samping lingkaran sihir itu kemudian fokuskan kekuatan sihirmu ke lingkaran sihir, jika ada roh yang tertarik dengan kekuatan sihirmu mereka akan muncul di lingkaran sihir dan jika mereka bersedia membuat kontrak denganmu teteskan darahmu di lingkaran sihir itu." jelas Merlin panjang lebar.
Violeta mendengar penjelasan Merlin dengan serius kemudian dia maju ke lingkaran sihir dan mengulurkan tangannya memfokuskan kekuatan sihirnya ke arah lingkaran sihir itu seketika sekeliling lingkaran sihir mengeluarkan sinar perak dan perlahan-lahan muncul sosok wanita cantik dari dalam lingkaran sihir.
wanita cantik itu memiliki warna rambut pirang dan mata berwarna biru wajah yang sangat cantik dengan hidung mancung dan bulu mata lentik serta kulit yang putih dia juga memiliki telinga runcing dan mengenakan pakaian berwarna hijau daun, tersenyum ke arah Violeta.
"Halo Leta akhirnya kamu memanggilku" ucap wanita itu dengan di akhiri tawa gembira.
"Jadi yang semalam itu kau?" tanya Violeta.
"Yaa itu aku" jawab wanita itu.
"Kamu mau mengikat kontrak denganku dan menjadi rohku?"
"Yaa..tentu saja aku mau menjadi rohmu, itu sebabnya semalam aku mendatangimu"
"Lalu siapa namamu?"
"Hehehee...sangking bersemangatnya aku sampai lupa memperkenalkan diriku, namaku Avery " ucap wanita itu terkekeh kecil. Merlin terkejut mendengar nama wanita itu.
"Ka...kau ratu peri dari hutan peri?" tanya Merlin terbata-bata dia terlalu terkejut. Eros juga sama terkejut dengan Merlin tapi dia hanya diam.
"Yaaa memang aku ratu peri dari hutang peri" jawabnya tidak terlalu perduli dengan identitasnya.
"Kau ratu peri dan ingin membuat kontrak denganku tanpa penolakan?" tanya Violeta sedikit tidak percya.
"Iyaa mungkin karna kau istimewa dan aku juga bosan terlalu lama di dalam hutan. Sekarang cepat teteskan darahmu dan buat kontrak denganku terlebih dahulu sebelum kau membuat kontrak dengan para elf lainya" pinta Avery tidak sabar.
"Apa maksudmu dengan elf lainya?" tanya Violeta lagi semakin bingung.
"Kau tidak tau bahwa kekuatan sihirmu itu juga dapat menarik perhatian elf yang lain?" Avery balik bertanya kepada Violeta yang di hanya balas gelengan.
"Kekuatan sihirmu sangat menarik perhatian makhluk sejenisku, jadi kamu pasti bisa membuat kontrak dengan elf yang lain" jelas Avery singkat.
"Sekarang teteskan darahmu di lingkaran sihir" pintanya lagi.
Tanpa banyak bicara Violeta mengambil pedang pendek dan menyayat ujung telunjuknya hingga berdarah dan darah itu menetes di atas lingkaran sihir buatan Merlin, lalu darah itu menyatu dengan lingkaran sihir dan lingkaran sihir bersinar terang tidak lama kemudian cahaya lingkaran sihir mulai meredup dan menghilang menyisakan Avery.
Avery sangat gembira dia berlari memeluk tubuh Violeta dengan erat dia juga menjerit senang seperti anak kecil.
"Bisa.kau.lepaskan.pelukan.ini, aa..ku.tidak.bisa.bernafas" ucap Violeta dengan susah paya dia mencoba melepaskan pelukan Avery.
"Hehehe...maaf" kata Avery dia terlalu bahagia sampai memeluk Violeta hingga susah bernafas.
"Leta kapan-kapan kau harus pergi ke hutang peri akan ku tunjukan hal menarik di sana" kata Avery.
"Oke, jika ada waktu luang aku akan pergi ke sana sekarang ayo masuk ke rumahku kita akan minum teh bersama" ucap Violeta menggandeng tangan Avery berjalan memasuki rumah.
Merlin dan Eros memandang mereka dengan bahagia karena Violeta baru saja mendapatkan teman pertamanya walaupun sedikit sulit untuk di percaya bahwa Avery merupakan seorang ratu peri.
Hari itu Violeta tidak berlatih sihir dia hanya menghabiskan waktunya untuk bersenang-senang bersama Avery hingga larut malam dan Avery kembali ke tempat asalnya saat Violeta membatalkan sihir pemanggil. Violeta tertidur dengan nyenyak dia terlalu lelah bermain dengan teman barunya itu.
Ke esokan paginya Violeta tidak berlatih dengan Eros karena dia ingin membuat kontrak dengan elf yang akan dia panggil tetapi pertama-tama dia memanggil Avery untuk menemaninya saat dia akan memanggil elf yang lain.
Wanita itu memiliki paras cantik dengan rambut coklat dan mata berwarna abu-abu, telingan runcing berkulit kecoklatan.
"Kau yang memanggilku nak?" ucap wanita itu dengan tatapan menilai penampilan Violeta. Violeta mengangguk kecil
"Heii Aurora kau juga terpikat dengan kekuatan sihirnya ternyata" ucap Avery di sertai kekehan kepada wanita itu yang di ketahui bernama Aurora.
"Avery tidakku sangka kau telah membuat kontrak dengan anak itu, ini menjadi lebih menarik" kata Aurora dia menyeringai.
"Kalian berdua saling kenal?" tanya Violeta.
"Yaa kita saling kenal, wanita itu bernama Aurora dia merupakan pemimpin elf dari ras elf bintang dia memiliki obsesi dengan keindahan" jelas Avery kepada Violeta, Aurora yang mendengar penjelasan itu mengerutkan alisnya tidak senang dengan perkataan Avery tentang obsesinya.
"Itu bukan obsesi, aku hanya mencintai keindahan karena keindahan adalah sebuah seni" jelas Aurora. Avery hanya memutar matanya malas.
"Itu namanya obsesi" ucap Avery dengan malas.
"Bukan obsesi"
"Itu obsesi"
"Bukan, bukan obsesi"
"Itu obsesi"
"Berhenti kalian berdua!!!" bentak Violeta membuat keduanya diam.
"Jadi Aurora bisakah aku membuat kontrak denganmu?" tanya Violeta.
"Yaaa jika kau bisa memberikan suatu keindahan yang belum pernah aku lihat" jawab Aurora.
"Hehehehe mudah sekali" ujar Violeta dia menyeringai.
Violeta mengambil kantong kecil, kantong itu adalah tempat penyimpanan khusus seorang penyihir yang dapat menyimpan benda apa saja bahkan yang ukurannya lebih besar dari ukuran kantong. Dia kemudian memasukan tangannya ke dalam kantong dan mengeluarkan sebuah kotak persegi.
Kotak itu terbuat dari kaca transparan dengan ukiran bunga indah di setiap sisi kotak. Arora menjadi penasaran dengan isi kotak yang di keluarkan Violeta dia mendekat sampai di ujung lingkaran sihir. Violeta kemudian membuka kotak tersebut, Terdengar alunan musik yang sangat merdu.
"Jenis sihir apa ini?" tanya Aurora kagum, Avery juga tampak takjub melihat kotak yang di pegang oleh Violeta.
"Ini bukan sihir ini di namakan kotak musik, jika kau menginginkan benda ini kau harus membuat kontrak denganku dulu" ujar Violeta dengan bangga.
Kotak musik itu di buat Violeta sebagai hadiah ulang tahun Anne. Violeta membuat dua kotak musik yang satu telah dia berikan untuk Anne pada ulang tahun Anne tahun lalu dan yang satunya lagi dia simpan di kantong penyimpanan.
"Leta kau tidak memberikan sesuatu untukku juga?" tanya Avery dengan mata yang berkaca-kaca. Violeta yang melihat itu menjadi tidak tega kemudian dia mengeluarkan cermin dari dalam kantong, cermin itu juga memiliki ukiran yang indah.
"Waoo benda apa ini leta?" tanya Avery dia melihat cermin dengan takjub.
"Benda itu dinamakan cermin" jawab Violeta sambil memberikan cermin kepada Avery.
"dengan benda ini aku dapat melihat diriku dengan jelass ini sangat menakjubkan" Avery memandang wajahnya di cermin berbinar-binar. Melihat reaksi Avery yang seperti itu membuat Violeta tersenyum kecil.
"Ambilah itu untukmu" katanya.
"Aku juga ingin itu, aku bersedia membuat kontrak dan menjadi rohmu" ucap Aurora dengan cepat sambil menujuk kotak musik. Violeta kemudian membuat kontrak dengan Aurora dan menyerahkannya kotak itu kepadanya.