
Pagi harinya, aku terbangun oleh suara pintu kamarku yang dibuka. Seperti biasa, Chloe datang dengan membawakanku teh melati. Aromanya yang harum membuat aku jadi lebih bersemangat mengawali pagi ini.
Chloe membantuku bersiap dengan dua orang pelayan yang baru saja datang bersama dengan Matilda. Karena Matilda masih harus mengecek pelayan bagian dapur yang membuat sarapan, tersisa mereka bertiga saja yang membantuku.
Usai berendam dan memakai gaun harianku, aku sarapan sambil kakiku diganti perban dan diobati lagi oleh Chloe. Aku memilih sarapan di kamar untuk menghemat waktu. Hari ini aku sudah harus mendapatkan bukti terkait persekongkolan Belka dan Marchioness Franklin.
Selagi Selir Sienna masih belum pulih sepenuhnya, aku masih punya waktu untuk mengurus hal lain. Aku berharap Ava bisa mendapatkan buktinya secepat mungkin.
“Kudengar ada makanan yang dicuri di dapur istana,” ucap Chloe.
“Oh, ya?” Pikiranku langsung tertuju pada Ava. Siapa lagi yang mencuri makanan tanpa ketahuan. “Mungkin itu ulah kucing.”
Chloe menggeleng. “Piring dan gelas juga ikut diambil. Apakah Ratu tidak berpikir itu adalah ulah Kesatria Franklin?”
Malangnya nasib Hendery, dia harus jadi kambing hitam dalam masalah yang Ava perbuat. Karena tidak ingin membuat hal ini jadi masalah yang besar, aku lebih memilih bersikap tidak tahu di depan Chloe dan terus mengunyah roti isi yang menjadi menu sarapanku.
“Uhm, bagaimana dengan interogasi Belka, Ratu?” tanya Chloe yang sudah selesai mengganti perban di kakiku. Dia berdiri di depanku dengan raut wajah sabar.
“Jika aku sudah menemukan apa yang kubutuhkan, aku akan pergi ke Istana Kekaisaran hari ini untuk bertemu dengan Kaisar,” ucapku pada Chloe. Aku tahu itu tidak menjawab pertanyaan dayang paling mudaku barusan, tapi aku tidak mau menjawab panjang lebar apa yang telah kulakukan pada Belka semalam.
Chloe memilih untuk mengangguk saja terhadap jawabanku. Sepertinya dia tahu jika aku tidak ingin bicara tentang hal itu. Terkadang, orang yang memiliki intuisi yang tajam membuatku agak ngeri. Tanpa perlu kujelaskan pun, mereka dapat dengan mudah mengerti.
Mungkin Chloe salah satunya. Di usianya yang masih tergolong belia, Chloe sudah menjadi pribadi yang dewasa yang sudah bisa kusamakan dengan Jasmine ataupun Matilda.
“Apa Anda masih ingat bahwa hari ini adalah hari di mana Anda akan bertemu dengan calon kandidat Kepala Pelayan yang baru?” tanya Chloe.
“Ya, aku masih ingat. Minta saja Jasmine untuk menyambut mereka dan mengantarkan mereka ke ruang kerjaku. Aku akan ada di sana sampai siang,” jawabku.
“Baik, Ratu.”
“Aku akan mengirimkan surat terkait kedatanganku ke istana Kaisar. Minta kurir khusus mengantarkannya nanti.”
Chloe mengangguk. “Baik, Ratu.”
*
Di ruang kerjaku, aku sibuk berkutat dengan pekerjaanku yang sempat tertunda. Setidaknya aku ingin menyelesaikannya sedikit demi sedikit selagi aku masih punya waktu luang. Ya, aku tahu ini kewajibanku sebagai seorang Ratu, tapi aku tidak bisa fokus pada pekerjaanku di saat-saat genting seperti ini.
Kurang lebih dua jam aku fokus pada pekerjaanku, Ava datang dengan gaun yang berbeda dari tadi malam. Sekarang, gaun hitam selututnya dilapisi oleh jubah putih berlogo kerajaan Avnevous di kenopnya yang selalu dia pakai.
Dia meletakkan sebuah amplop bercap keluarga Franklin yang sudah dibuka. Aku tertegun melihat hal itu dan langsung tersenyum. Ava sudah bekerja keras.
Kubuka surat itu dan terkejut dengan isinya. Ini benar-benar bukti yang aku butuhkan.
Jangan sampai ada satu pun orang yang tahu siapa dalang dibalik penusukan Ratu. Tutup mulutmu sampai akhir hayatmu.
Mengenai bayarannya, aku sudah memberikan apa yang Ayahmu butuhkan kemarin sore. Kau tidak perlu khawatir soal Ayahmu lagi. Pastikan saja pekerjaanmu berjalan dengan lancar. Aku butuh hasil yang memuaskan.
Aku mengangguk dengan cepat. “Ya, ini yang kubutuhkan!” seruku senang.
“Baiklah, tunggu apa lagi? Ayo kita eksekusi anak s*alan itu!” Ava sepertinya sangat bersemangat.
“Ya, aku akan segera pergi ke Istana Kekaisaran untuk memberitahukan hal ini pada Kaisar. Eksekusi Belka mungkin akan dibiarkan olehnya. Tapi, jika ini menyangkut keluarga Franklin, aku perlu persetujuannya,” kataku agak kesal.
“Kekuasaan itu mengerikan. Asal ada nama dan uang, dilengserkan pun butuh pertimbangan,” komentar Ava. “Jika aku yang jadi kau, sudah kueksekusi mereka semua tanpa memedulikan keputusan Kaisar. Kalau bukan mereka yang mati, kau pasti yang akan dibunuh duluan oleh mereka. Ingat itu.”
Aku tersenyum getir. “Vanhoiren berbeda dengan Avnevous. Mereka terlalu terpaku pada peraturan Kekaisaran. Mereka cenderung memilih hal yang menguntungkan dibandingkan hal yang baik. Anda harusnya tahu hal itu.”
“Aku tahu. Makanya ada perang antara Avnevous dan Vanhoiren.” Ava ikut tersenyum. Tapi, senyum mengejek.
“Suka atau tidak, aku harus mengikuti cara Vanhoiren untuk saat ini,” kataku pada Ava. “Apa yang akan kulakukan hari ini mungkin akan mengubah cara pandang orang terhadapku. Tapi, aku tidak bisa mundur.”
“Ya. Aku akan membimbingmu sampai semua yang ingin kau capai terwujud.” Ava menghela nafas. “Setidaknya, sampai Lucas menikah denganmu dan pindah ke Vanhoiren.”
“Uhm, jadi itu tujuan Anda?” tanyaku penasaran.
Ava tertawa. “Kalau kalian menikah nanti, akan ada banyak orang memusuhi kalian. Dimusuhi Vanhoiren dan juga dimusuhi Avnevous. Salah-salah, nanti kedua wilayah lain juga ikut memusuhi kalian.”
“Ya, itu adalah halangan yang harus kuhadapi bersama Lucas,” ucapku murung. “Tapi, mestinya bahasan ini belum kita bahas sekarang.”
“Anggap saja ini latihan mental sebelum dihujat seluruh wilayah,” kata Ava asal. “Kalau kau sudah siap, aku akan mengikutimu dari jarak jauh nanti. Aku mau pergi dulu.”
“Uhm, sebenarnya ada yang ingin aku tanyakan pada Anda,” kataku ragu.
“Apa?”
“Pagi tadi, Anda sarapan di mana?” tanyaku penasaran.
“Tentu saja di sini. Aku mengambil sedikit sarapanmu di dapur. Jangan khawatir soal piring dan gelasnya. Sudah kukembalikan,” ucap Ava percaya diri.
Benar, kan. Ava pelakunya.
Aku tersenyum. “Baiklah. Setelah sedikit urusan, aku akan segera pergi ke Istana Kekaisaran. Tolong bersabar sedikit.”
“Ya, santai saja.” Ava langsung meloncat dari jendela ruang kerjaku. Pergi dan menghilang secepat kilat.
Beberapa detik setelah itu, pintu ruang kerjaku diketuk. Saat mereka kupersilakan, itu adalah Jasmine beserta tiga orang yang aku kenali. Dan aku tidak akan salah pilih lagi sekarang.
“Semoga Yang Mulia Ratu diberkati Dewi Kebajikan,” salam keempat orang di depanku.
Aku tersenyum dan menatap ketiga orang yang sekarang sedang menunduk.
“Ini adalah calon kandidat yang kita bicarakan, Ratu,” ucap Jasmine.
Aku mengangguk paham. “Apakah bisa kita mulai pertanyaannya?” Semua calon itu terkejut dengan pertanyaan dadakan. “Ini pertanyaan yang simple. Bagaimana tanggapan kalian jika sistem Kekaisaran diubah? Aku harap, aku bisa mendapat jawaban yang menarik dari kalian bertiga.”