The Second Life

The Second Life
XLVIII - Pengadilan Tinggi (II)



Hari ini adalah hari di mana aku datang ke gedung Pengadilan Tinggi sebagai seorang saksi. Kalau dipikir-pikir, pengadilan kali ini lucu juga. Bagaimana mungkin aku menjadi saksi di dalam masalah yang berhubungan erat denganku?


Apakah Idris melakukan hal ini agar aku tidak berada di posisi yang lebih sulit dari menjadi seorang saksi? Aku tak habis pikir.


Chloe masuk ke kamarku dan berkata bahwa kereta kuda Kekaisaran telah sampai dan sedang menungguku di depan Istana Perunggu. Aku menghela napas dan keluar dari kamar mengikuti Chloe turun ke bawah. Tak lupa kubawa surat undangan pengadilan agar bisa masuk ke dalam. Sistem penjagaannya sangatlah ketat.


Selain itu, Idris berkata jika dia berangkat sendiri dari Istana Kekaisaran sendirian. Dia ditunjuk sebagai Pembela bersama dengan Grand Duke, Duke Harriston, dan bangsawan lain.


“Chloe, apakah wajahku pucat?” tanyaku saat kami berdua sudah berada di dalam kereta.


Chloe menggeleng. “Wajah pucat Nona tertutupi riasan dengan baik. Nona tidak perlu khawatir.”


“Baiklah. Aku tenang mendengarnya,” kataku yang kemudian kembali diam sambil melihat ke arah jendela.


“Saya yakin jika Nona pasti akan memenangkan sidang ini. Nona adalah orang yang baik dan berkompeten. Tidak ada yang bisa mengganggu Nona. Apalagi, Yang Mulia Putra Mahkota juga jatuh cinta pada Nona,” ucap Chloe panjang lebar.


Jatuh cinta, ya? Apa artinya itu bagi seorang Idris?


Yang kutahu, orang yang mendua tidak akan pernah tenang hidupnya. Mana bisa dia merasakan manisnya jatuh cinta. Yang dia tahu hanyalah nafsu.


“Apakah memang itu yang kau pikirkan, Chloe?” tanyaku tanpa menatapnya. “Selama ini aku pikir jika Putra Mahkota adalah laki-laki yang bisa kuandalkan. Dia baik, perhatian, terampil, dan berbakat. Aku mulai menyukainya dulu. Bahkan sekarang rasa sukaku berubah menjadi sebuah cinta.”


Aku menatapnya. “Tapi yang kulihat akhir-akhir ini membuatku terluka. Aku bisa bilang apa? Dia adalah calon Kaisar. Dua atau tiga istri bukanlah hal mustahil.” Kubuat diriku terlihat sedih agar menarik simpati Chloe. “Aku berusaha tegar dan bertingkah seperti tidak ada hal aneh yang dilakukan oleh Putra Mahkota. Sekarang, aku membutuhkannya di sisiku. Jika aku melihat Putra Mahkota pergi ke Pengadilan Tinggi bersama dengan Nona Hindley, aku akan sangat sedih.”


“Nona ....”


Aku tersenyum getir. “Maaf, Chloe. Aku mengubah topik pembicaraan kita hingga melenceng jauh,” kataku. “Aku terlalu terbawa emosi.”


“Saya mengerti, Nona Winston. Jangan khawatirkan apa pun lagi. Saya akan berada di sisi Nona hingga membuat Nona tenang,” ucap Chloe.


“Terima kasih, Chloe.”


Sudah dapat dipastikan, Chloe akan terus berada di pihakku selama aku mengeluarkan sisi lemahku di depannya.


Bagus.


*


Kereta kami sampai di depan gedung Pengadilan Tinggi. Aku turun bersama dengan Chloe dan berjalan menuju pintu pengadilan. Di depan pintu, berdirilah dua orang laki-laki tegap yang berjaga. Aku memberikan undanganku dan langsung dipersilahkan masuk.


Chloe membantuku mencari ruangan sidang yang cukup banyak. Kami naik ke lantai tiga dan masuk ke pintu pertama yang kami temukan di dekat tangga.


Begitu masuk, aku bisa melihat para hadirin yang sudah memenuhi ruang sidang. Idris dan Rose belum muncul. Jika dugaanku benar, mereka berdua pasti akan datang bersama seperti pasangan suami istri.


“Nona Winston?” Wanita dengan kacamata dan setelan jas hitam menghampiriku. “Silahkan ikuti saya. Akan saya antarkan menuju tempat duduk Anda. Sidang hari ini akan segera dimulai sepuluh menit lagi.”


“Bagaimana dengan pelayanku?” tanyaku pada wanita itu.


“Pelayan Anda bisa ikut duduk di belakang tempat Anda,” kata wanita itu. “Mari.”


Aku melirik Chloe, lalu mengikuti wanita itu dari belakang. Para bangsawan yang melihatku langsung berbisik-bisik. Bisikan mereka terdengar sampai ke telingaku. Daripada bisikan, itu lebih mirip sindiran yang sengaja diperdengarkan untukku. Aku lebih memilih untuk pura-pura tidak mendengar mereka.


Chloe duduk di kursi belakang. Tepat di belakangku. Sesekali dia akan berbisik dan bertanya apa aku baik-baik saja atau tidak. Tentu saja baik.


Aku tidak kaget melihat Ayah dan Jayden berada di ruang sidang yang sama denganku. Mereka datang untuk memberikanku semangat. Tidak ada yang bisa mereka lakukan selain mendukungku dari belakang.


*


Lima menit berlalu, pintu ruangan sidang terbuka dan pemandangan yang menakjubkan terlihat. Kalian bisa menebaknya. Idris telah tiba bersama dengan Rose. Mereka saling bergandengan tangan tanpa beban sedikit pun.


Ugh, kenapa harus aku yang malu dengan kelakuan kedua br*ngsek itu?


Bisikan gaib semakin terdengar. Apalagi saat melihat tindakan Rose yang sudah melewati batas wajar. Wanita itu membuat seisi ruang sidang jadi tidak fokus pada tujuan mereka sebenarnya berada di sini.


“Oh, ya ampun. Apakah Putra Mahkota berniat menggantikan Nona Winston dengan wanita yang lebih rendahan?”


“Kupikir Yang Mulia tidak punya selera yang bagus untuk mencari yang sepadan dengannya.”


Aku ingin melarikan diri dari gosip seperti ini. Kepalaku mulai pusing sebelum sidang dimulai.


“Kau sudah menunggu lama?” tanya Idris saat dia sudah duduk di sampingku. Rose dibiarkan duduk di belakangnya sama seperti Chloe.


“Aku baru saja tiba,” jawabku acuh. “Ngomong-ngomong, katamu kau pergi sendiri dari istana?”


“Ah, ya. Kebetulan Rose datang ke istana. Jadi kami pergi bersama ke sini,” kata Idris.


Pandai sekali kau bersandiwara.


Kami tidak bicara lagi dan lebih memilih menunggu semua orang datang agar persidangan Pengadilan Tinggi segera dilaksanakan.


Satu per satu muncul berganti-gantian. Keluarga Marquess Franklin, keluarga Duke Harriston, Kaisar, Ratu, dan bahkan Hakim Agung.


Semuanya diam ketika Hakim Agung mengetuk palunya sekali. Hendak meminta perhatian dari para hadirin. Aku menghela napas dan tetap diam sambil mengamati segalanya.


“Atas berkat Dewi Kebajikan, Restu dari Yang Mulia Kaisar, dan juga Yang Mulia Ratu, sidang Pengadilan Tinggi hari ini saya buka,” ucap Hakim Agung.


Tak!


Ketukan palu kembali terdengar.


“Dari laporan yang telah diberikan oleh Marchioness Franklin, dikatakan bahwa Nona Charlotte Mikaela Winston tidak pantas menyandang gelar Ratu berikutnya karena tidak kompeten dan tidak bermoral tinggi,” tutur Hakim I. “Beberapa bukti yang dilampirkan di dalam berkas pemberian Marchioness Franklin membuat semua laporannya menjadi masuk akal.”


Hm, kita lihat bukti apa yang sudah Machioness Franklin siapkan untuk menyerangku.


“Untuk Penuntut, silahkan memberikan pernyataan,” ucap Hakim Agung.


Marchioness Franklin berdiri dari tempat duduknya yang ada di sayap kiri. Ada podium kecil yang dipersiapkan menghadap Hakim Agung di tengah-tengah ruangan sidang.


“Dengan ini, saya ... Gracie Nicholson Franklin, akan berkata dengan jujur atas nama Dewi Kebajikan dan penguasa Kekaisaran Vanhoiren,” ucap Marchioness Franklin.


Suasana pun mulai menegang.