The Second Life

The Second Life
LXXVII - Terancam Dibunuh



Chloe masuk ke dalam kamarku dan memasang wajah kaget. Dia lebih kaget lagi saat melihat jendela kamarku yang sudah pecah. Dia menghampiriku sambil membawa nampan berisi kue coklat dan teh melati lagi.


“Apa yang terjadi, Ratu?! Apakah ada penjahat yang berusaha untuk mencelakai Ratu?” Sepertinya Chloe terkena semacam serangan panik.


“Kesatriaku baru saja melempar batu untuk menarik perhatian. Ingatkan aku untuk memotong gajinya nanti,” ucapku ramah.


Chloe sudah meletakkan nampan yang dia bawa ke atas meja. Dia menunduk dan terkejut saat melihat kakiku. Saat aku ikut memeriksa kakiku, aku baru sadar jika aku tidak memakai sandal. Otomatis, kakiku terluka karena pecahan kaca.


Setelah aku sadar kakiku terluka, rasa sakitnya seketika langsung muncul. Aku meringis dan menatap Chloe, berniat meminta tolong Chloe untuk mengobatiku.


“Tolong jangan gaji Kesatria Franklin untuk bulan ini. Dia sudah melewati batas,” kata Chloe sambil berdiri. Aku tersenyum dan mengangguk. “Mohon tunggu sebentar, saya bawakan kotak obat. Ratu pasti tidak ingin melibatkan Dokter Kekaisaran, bukan?”


Aku mengangguk lagi. “Pasti dokter itu sedang dibuat sibuk oleh Nona Hindley. Aku tidak ingin mengganggu mereka.”


“Ratu ..., kalau boleh saya bicara ....” Kata-kata Chloe agak menggantung.


“Ya?” Aku menatapnya.


“Tidak. Saya permisi dulu, Ratu,” ucap Chloe sambil pergi berlalu.


Aku mungkin tahu perasaan Chloe seperti apa. Dia mungkin saja merasa agak aneh dengan tingkahku yang tidak tegas dengan perselingkuhan Idris dan Rose Hindley. Tapi, dengan adanya Idris di depan wajahku, aku sama saja membuat hidupku tidak tenang. Lebih baik begini. Aku tidak mau jika sampai Idris datang untuk menengok keadaanku.


Apalagi jika Idris tahu kelakuan Hendery yang agak di luar batas. Bisa-bisa anak malang itu akan berakhir di tiang gantung—sama sepertiku dulu. Sungguh ironi.


Tok! Tok! Tok!


“Ratu, ini saya. Matilda.”


“Masuklah,” kataku padanya.


“Maaf telah mengganggu, Ratu. Saya membawa pelayan untuk membersihkan pecahan kaca jendelanya,” ucap Matilda.


Aku mengangguk paham dan membiarkan pelayan wanita yang dibawa oleh Matilda menyapu pecahan kaca itu. Aku duduk diam sambil menikmati tehku yang masih hangat. Matilda menunggu di sampingku sambil berdiri tegap. Matanya yang tajam, mengawasi pelayan itu.


Tak lama kemudian, Chloe datang dengan kotak obat. Dia kemudian memohon ijin untuk memegang kakiku, aku mengijinkannya, dan dia pun mulai mengobati luka di kakiku.


“Apakah lukanya parah?” tanyaku pada Chloe.


“Uhm, ya. Tolong tahan sedikit, Ratu. Saya ingin membersihkan luka Anda terlebih dahulu,” ucap Chloe.


Aku mengangguk.


“Jasmine mengatakan kepada saya jika calon Kepala Pelayan istana sudah dia pilihkan untuk Ratu lihat,” ucap Matilda.


“Bagus. Minta Jasmine untuk menyuruh mereka menemuiku besok,” kataku senang.


“Baik, Ratu.” Matilda beralih pada si pelayan. “Apa sudah selesai?”


Pelayan itu mengangguk.


“Bagus,” ucap Matilda. Dayangku itu menatapku lagi. “Kalau begitu, kami permisi, Ratu. Saya akan mengantarkan tukang untuk memperbaiki jendela kamar Ratu.”


“Baik. Terima kasih,” kataku padanya.


Matilda jalan duluan ke pintu kamarku, diikuti oleh pelayan itu. Aku agak merasa aneh saat pelayan itu menatapku tajam. Itu bukanlah sikap yang wajar bagi seorang pelayan. Apalagi, posisiku saat ini adalah seorang Ratu.


“Minggir!” teriakku pada Chloe. Aku dengan sengaja mendorong Chloe agar menjauh dariku. Bisa saja Chloe akan terluka kembali.


Pelayan itu menerjang tubuhku dan berniat menusukku dengan pisau dapur itu. Aku berhasil menahan tangannya. Chloe dan Matilda langsung menjauhkan pelayan itu dari jangkauanku. Nafasku memburu dan mataku berkilat marah.


Siapa yang berniat mencelakaiku lagi? Selir Sienna? Rose Hindley? Siapa? Selir Sienna sedang melarikan diri, dan Rose Hindley sedang sakit. Apa mereka berdua dalang di balik ini semua?


“Ratu?!” Kegaduhan yang diperbuat pelayan itu memancing Jasmine masuk ke dalam kamarku. “A ... apa ini?”


“Panggil Hendery dan para prajurit, suruh mereka memasukkan pelayan itu ke dalam penjara bawah tanah,” ucapku kesal.


“Ah, baik!” Jasmine masih terlihat bingung, tapi dia langsung pergi untuk memanggil Hendery dan prajurit Istana Ratu.


Chloe dan Matilda masih menahan pelayan itu. Aku melirik pisau dapur yang hendak dia pakai untuk mencelakaiku telah jatuh ke lantai. Aku dengan sengaja menjauhkan pisau itu dengan kakiku dari jangkauannya. Pelayan itu bersikeras untuk melarikan diri.


Aku melotot saat dia mencoba untuk mengigit lidahnya. Aku meraih selimutku. “Paksa dia membuka mulutnya!” teriakku pada Chloe dan Matilda.


Cukup sulit untuk membuka mulutnya. Aku sampai harus turun tangan untuk membantu Matilda. Chloe masih sibuk menahan tangan si pelayan. Akhirnya, aku berhasil memasukkan selimutku ke dalam mulutnya bersamaan dengan masuknya Hendery, Jasmine, dan juga dua orang prajurit istanaku.


“Kalian agak telat,” kataku bercanda. Tenagaku terkuras semua. Sebelum aku jatuh ke lantai karena lemas, Hendery sudah lebih dahulu merangkul tubuhku dan membaringkanku ke ranjang.


“Maaf, Ratu. Aku agak telat,” kata Hendery.


Aku tersenyum. “Kalau kau berusaha membujukku untuk tetap memberimu gaji, menyerah saja. Aku masih marah padamu.”


Hendery langsung cemberut. Ya ampun, Hendery sangat polos dan transparan saat ini.


“Tolong bawa dan kurung dia ke penjara bawah tanah. Jangan lakukan apa pun,” kataku pada Hendery dan kedua prajurit itu. “Cegah dia untuk mengakhiri hidupnya.”


“Baik,” kata Hendery.


Mereka bertiga akhirnya pergi membawa pelayan itu. Matilda dan Chloe menghela nafas lega. Menahan pelayan itu memang menguras tenaga. Jasmine buru-buru menghampiriku.


“Bagaimana keadaan Anda? Apakah Ratu merasa ada yang sakit?” tanya Jasmine.


“Aku baik-baik saja. Terima kasih atas perhatiannya. Kau dan Matilda bisa kembali bekerja. Biar Chloe meneruskan apa yang dia lakukan tadi,” kataku kemudian.


Matilda mengambil pisau dapur yang tergeletak di lantai dan permisi keluar bersama Jasmine. Chloe mengambil kotak obat di samping sofa dan kembali mendekat padaku.


Dalam diam, dia mengobati kakiku lagi dengan telaten. Sedangkan aku, aku tenggelam dalam pikiranku sendiri. Dalam dilema yang mungkin mempengaruhi pikiranku.


Malam nanti, aku akan memaksa pelayan itu bicara. Aku tidak mau jika sampai ada kejadian seperti ini lagi nantinya. Aku akan langsung memeriksa latar belakang semua pelayan dan pekerja istanaku, tak terkecuali ketiga dayangku.


“Apa kau kenal siapa pelayan itu?” tanyaku pada Chloe.


“Dia Belka. Anak seorang petani. Hanya sebatas itu yang saya tahu, Ratu,” ucap Chloe.


“Petani?”


“Ya, Ratu.”


Mungkin ini bisa jadi secercah petunjuk untukku saat mengintrogasinya nanti. Aku tak sabar akan hal itu. Aku hanya berharap, dalang dibaliknya adalah orang yang kubenci.


Atau mungkin tidak.