
"Leta, ini Eros dia seorang Assasin mulai sekrang dia yang akan mengajarkan kau menggunakan senjata" ucap Merlin memperkenalkan pria misterius yang bernama Eros.
*****
Eros memandang Violeta dari atas sampai bawah walaupun sebagian wajahnya tertutupi dengan tudung dan dia tidak berbicara sedikitpun Merlin masi mengerti maksud dari pandangan Eros.
"Tenang saja cucu mungilku ini akan sanggup menjadi muridmu." kata Merlin bangga, Eros yang mendengar perkataan merlin hanya memasang seringai memgejek.
Violeta yang melihat seringai mengejak milik Eros mengerutkan alisnya.
'Dia meremehkan aku rupanya' pikir Violeta kesal.
Merlin menurunkan Violeta dari gendongannya, Violeta berjalan mendekati Eros dengan tersenyum sangat manis mencoba menyerang Eros dengan wajah manis dan menggemaskan miliknya.
"Hallo paman Eros, namaku Violeta senang bisa berkenalan denganmu" ujar Violeta tersenyum lebih manis dari pada sebelumnya, tingkah manis Violeta membuat pipi para pelayan memerah tidak bisa menahan keiumatan wajah mungil Violeta.
'Apa kau bisa tahan dengan wajah datarmu saat melihat senyum imutku ini' walaupun tersenyum manis di hadapan mereka semua, Violeta sebenarnya memasang ekspresi jahil di dalam pikirannya.
Eros yang tidak bisa menahan serangan dari Violeta mengelus kepala gadis kecil itu dan tersenyum tipis, sangat tipis sekali tetapi masi bisa di lihat Violeta yang sudah tersenyum kemenangan di dalam pikiranya.
"Mari kita mulai makan malam kita" ucap Merlin memilih tempat duduk di Kursi yang paling ujung dan Violeta berjalan ke arah sebalah tempat duduk Merlin tetapi di tahan oleh Eros, Eros menarik kursi di sebelah kursinya dan mendudukan Violeta di kursi itu, sepertinya Eros telah bertekuk lutut dengan keiumutan yang di miliki Violeta.
Merlin yang melihat tingkah Eros hanya bisa mendengus kesal, cucu kesayangannya telah di ambil alih oleh orang lain. Karena melihat makanan yang telah di letakan di atas meja makan dengan rapi oleh para pelayan, mereka pun memulai acara makan malam dengan tenang dan sesekali terdengar dengusan kesal dari Merlin.
*****
Pagi hari dengan cuaca yang cukup dingin di sebabkan oleh pergantian musim yang telah memasuki musim gugur, terlihat daun-daun yang berwarna kecoklatan dan beberapa daun yang berguguran di bawa pohon.
Di dalam rumah besar di tengah hutan. Violeta masi bergelut di bawah selimut yang tebal di dalam kamarnya dengan begitu damai sampai, Anne datang dan menghancurkan susana pagi yang damai dan nyaman milik Violeta.
"Nona bangun" Anne membangunkan Violeta sambil berjalan ke arah jendela kamar Violeta, Anne membuka semua tirai jendela.
"Masi terlalu pagi Anne" ucap Violeta dengan mata yang mesi terpenjam dia menarik selimutnya hingga menutupi kepala.
"Nona bangun tuan Eros menunggumu di bawah" Anne menarik selimut Violeta hingga memperhatikan wajah Violeta.
Violeta masi menutup mata menghiraukan perkataan Anne. Anne yang melihat Violeta masi tertidur mengguncang lengan Violeta membuat Violeta terusik dari tidurnya, dia pun membuka matanya.
"Untuk apa paman Eros menungguku di bawah?" tanya Violeta dengan kesal dia menggembungkan pipinya membuat dia semakin imut.
"Mungkin kalian akan memulai latihan hari ini" jawab Anne.
"Di luar sangat dingin Anne" rengek Violeta.
"iyaaa nona tetapi tuan Eros telah menunggumu di bawah" cuap Anne.
Melihat tingkah Violeta itu Anne hanya bisa mengikuti Violeta ke kamar mandi, dia membantu Violeta mandi dan menyiapkan pakaian yang akan di kenakan Violeta saat berlatih, dia juga membantu Violeta mengenakan pakaian dan menguncir rambut Violeta berbentuk ekor kuda.
Setelah selesai mereka pun keluar dari kamar dan berjalan menuruni tangga, Eros berdiri di bawah tangga menunggu kemunculan Violeta.
"Pagi paman Eros" sapa Violeta berjalan mendekati Eros. Eros tidak menjawab sapaan Violeta dia hanya mengelus kepala Violeta. Mereka berjalan ke ruang makan untuk sarapan bersama.
Di ruang makan Merlin duduk di tempat biasa dia duduk, Merlin telah menunggu mereka sedari tadi.
"Hai cucu kakek" sapa Merlin dengan bahagia, Violeta berjalan ke arah Merlin dan mengecup pipi Merlin. Violeta duduk di samping Merlin dan Eros mengambil tempat duduk di sebelah Violeta.
Mereka memulai sarapan pagi mereka dengan damai karena Merlin tidak suka jika seseorang berbicara saat makan, setelah selesai menyantap sarapan paginya Violeta membuka pembicaraan.
"Kakek kenapa kau ingin aku mempelajar senjata?" tanya Violeta.
"Kau tau bukan bahwa sorang penyihir sangat lemah terhadap petarungan jarak dekat, dan sangat berbahaya bila kekuatan sihir yang mereka gunakan habis" jawab Merlin yang hanya di balas anggukan oleh Violeta.
"sebab itulah kakek ingin kau belajar menggunakan senjata, kakek ingin kau tidak terlalu bergantung pada kekuatan sihirmu itu walaupun kekuatan sihirmu melebihi penyihir lain" Jelas Merlin lagi.
"Tapi kek aku telah mempelajari ramuan dan aku memiliki banyak ramuan yang dapat mengembalikan sihirku lagi" ucap Violeta.
"Bagaiman jika suatu hari nanti ramuan sihir dan kekuatan sihir yang kau gunakan habis?" tanya Merlin dia sangat mengkhawatirkan cucunya itu. Violeta hanya terdiam mendengar pertanyaan Merlin.
"Karena itu Leta kakek tidak ingin kau dalam bahaya, kakek sangat menyayangimu kau satu-satunya cucu kakek" ucap Merlin kepada Violeta. Mendengar ucapan Merlin hati Violeta menghangat.
"Tapi kakek kenapa aku harus belajar dari paman Eros?" tanya Violeta lagi yang masi penasaran karena Eros adalah seorang Assasin maka dia juga pasti akan menjadi seorang Assasin.
"Eros dia orang yang dapat di percaya dan dia juga berhutang nyawa pada kakek, kau tau kan rambutmu sulit untuk di sembunyikan dan kau juga tidak suka memakai wig jadi karena itu kakek meminta Eros untuk menjadi gurumu, lagi pula kakek tidak suka melihat kau memegang pedang panjang." jelas Merlin panjang lebar. Eros hanya diam mendengar percakapan antara kakek dan cucu itu.
"Baiklah kakek" ucap Violeta tanpa membanta perkataan Merlin dia mengerti dengan semua rasa khawatir milik Merlin dia juga tau bahwa kakeknya itu sangat menyayanginya walaupun dia hanya seorang cucu angkat.
"Bagus, kau memang cucu kakek yang manis dan menggemaskan." kata Merlin mengusap kepala Violeta dengan sayang.
"Jadi sekarang kau akan memulai latihanmu yang pertama bersama paman Eros" ucapnya lagi Merlin terlihat lebih bersemangat dari pada Violeta.
"Tapi kek di luar sangat dingin" kata Violeta dengan manja.
Walaupun di kehidupan sebelumnya dia seorang pembunuh bayaran nomor satu, dia telah di manjakan oleh Merlin selama 10 tahun ini dan berangsur-angsur melupakan identitas masa lalunya itu.
"Tidak bisa Leta, latihan tetaplah latihan" ucap Merlin tegas.
Mendengar ucapan Merlin yang tegas itu Violeta mengetahui bahwa dia tidak lagi bisa membujuk Merlin lagi pula Eros suda menatapnya dengan tatapan tajam. Violeta hanya bisa pasrah terhadap keadaan.