
Setelah mendengar teriakan peringatan Felice, Vendry merasakan bagian belakang kepalanya dibentur oleh sesuatu yang keras. Benturan itu membuatnya pusing sejenak dan saat fokusnya terkumpul kembali, dia menyadari kalau dirinya sedang berjongkok dan kaca matanya entah sudah terlempar kemana.
Siswa kelas 2 terkaget-kaget dengan pemandangan itu, namun saat mendengar teriakan beberapa guru yang memanggil nama wali kelas mereka, mereka semua segera berlari ke sisi Vendry dan mengerumuninya dengan panik.
"Pak Vendry, apa Bapak baik-baik saja?!"
"Pak, kepala Bapak ada pusing?!"
"Pak, ayo kita ke klinik!"
"Pak Vendry-"
"Pak-"
"Pak-"
Vendry merasa kepalanya yang sudah pusing, terasa semakin berat dengan ocehan siswanya yang tidak tanggung-tanggung.
Saat Vendry merasa kepalanya akan pecah, siswa-siswa kelas 2 yang berkumpul di sekitarnya sedikit menyebar dan suara-suara cemas siswanya yang diam sejenak membuat Vendry merasa lega.
"Pak Vendry, saya antar Bapak ke klinik dulu ya," ujar seorang wanita yang datang ke sisinya untuk menariknya berdiri. Dari suara wanita itu Vendry langsung mengenali identitas pendatang baru ini.
Ella yang baru kembali melihat kejadian ini langsung menghampiri Vendry dan memberi arahan pada wakilnya sebelum menarik Vendry ke klinik.
Pada akhirnya acara itu berakhir untuk hari ini dan kelas yang terlibat dalam pertengkaran mendapat penanganan, terutama bagi kelompok siswa yang memulai pertengkaran.
......................
Ruangan Klinik.
"Untung saja tidak ada pendarahan. Kenapa kamu tidak menghindarinya tadi?"
Menghadapi kekhawatiran Ella, Vendry yang kepalanya baru saja diperiksa oleh dokter sekolah sekarang menggosok dahinya dengan ketidaknyamanan yang terukir di wajahnya.
"Kalau aku bisa menghindarinya, maka aku tidak akan berada di sini sekarang."
Ella mengerutkan keningnya sebagai tanda kecemasan dan keraguan, wanita itu menatap tajam Vendry dan bertanya, "Bukankah biasa refleks mu cukup cepat? Kenapa bahkan serangan bola seperti itu tidak kamu sadari?"
Keheningan menjawab pertanyaan Ella. Wanita itu menghela nafas pelan dan kemudian kembali bertanya, "Apakah kamu baik-baik saja belakangan ini?"
Gerakan tangan Vendry yang memijat dahinya berhenti sejenak, namun jeda itu hanya berlangsung selama sedetik sebelum pria itu menurunkan jarinya dan bergumam, "Memangnya apa yang bisa terjadi padaku..."
Ella menatap tajam pria yang terlihat acuh tak acuh itu dan berkata dengan nada serius, "Kamu tahu apa yang kukhawatirkan."
Vendry menatap kepala sekolahnya dengan tatapan dingin, "Ya, aku tahu. Kamu tidak perlu khawatir, aku paling tahu dengan kondisi tubuhku sendiri dan aku tahu apa yang perlu dilakukan."
Suasana di ruangan klinik itu menegang seketika saat kedua penghuni ruangan melakukan kontes 'siapa yang menatap paling tajam'. Ella yang selalu dikenal dengan senyuman ramahnya kali ini membuat ekspresi yang sangat tidak menyenangkan.
Akhirnya dalam kontes saling menatap, Ella duluan yang mengalah. Wanita itu mendecakkan lidahnya dan memalingkan wajahnya, "Aku akan pergi mengurus kekacauan itu. Kamu istirahatlah dulu disini, nanti aku akan datang mengunjungimu lagi."
Setelah Ella pergi, ruangan itu ditinggalkan dalam hening dan pria yang seharusnya istirahat ini turun dari ranjang dan mengambil laptopnya yang ditinggalkan Ella di meja.
Vendry mengabaikan kata-kata kepala sekolahnya dan mulai melanjutkan pekerjaannya yang terhenti tadi. Saat dia mengetik, pikiran akan kata-kata Ella juga berputar di benaknya. Mau tak mau konsentrasinya mulai terganggu.
Di saat inilah pintu yang baru ditutup Ella tidak lama ini kembali terbuka. Vendry menghentikan tugasnya dan memalingkan kepalanya ke arah pintu. Dia kira yang kembali itu Ella dan sudah siap dengan teguran yang mungkin akan dia terima. Namun, yang muncul di balik pintu itu justru seorang gadis kecil yang tidak dia duga.
Felice mendorong pintu dan melihat pria yang ingin dilihatnya sedang memandang ke arahnya. Melihat laptop di pangkuan pria itu, Felice tanpa sadar mengerutkan keningnya.
Bukannya istirahat, orang ini malah bekerja?
Felice menutup pintu dan memandang Vendry dengan kilatan ketidaksetujuan, namun sebelum dia mengatakan apa pun, wali kelasnya sudah memulai percakapan.
"Apa yang kamu lakukan disini?"
"Tentu saja datang melihat kondisimu."
Jawaban kurang sopan itu membuat wajah Vendry mengerut. Sudah berapa kali dia perhatikan kalau anak ini tidak memiliki rasa hormat yang seharusnya dimiliki seorang siswa terhadapnya, wali kelasnya. Vendry sebenarnya tidak terlalu peduli dengan bagaimana siswanya berpikir, namun dia benar-benar dalam suasana hati yang buruk sekarang dan Vendry tidak berniat menoleransi siswanya saat ini.
"Perhatikan etikamu saat berbicara dengan gurumu," ujar Vendry dengan pandangan dingin.
Melihat tidak ada tanggapan atau setidaknya setitik rasa malu dan bersalah dari gadis kecil itu, ketidaksenangan Vendry bertambah besar.
"Apakah kamu mendengar apa yang kukatakan?"
"Iya maaf atas ketidaksopananku, Pak."
Mendengar jawaban tidak tulus Felice, tatapan Vendry semakin menusuk. Sejak pertama kali bertemu dengan anak ini, dia sudah tidak menyukainya. Gadis kecil ini tidak bertindak seperti anak pada umumnya. Kata orang lain Felice jenius, tapi Vendry selalu merasa kalau alasan di balik tingkah laku gadis kecil ini bukan karena kejeniusannya.
Anak ini bertindak terlalu dewasa untuk usianya. Mulai dari cara bicaranya, pandangannya, dan caranya merespon terhadap lingkungannya. Terkadang Vendry bahkan merasa tidak nyaman di sekitar anak ini, seolah sedang diamati oleh keberadaan yang kuat.
Dan sudah berapa kali Vendry perhatikan, gadis kecil ini kadang menatapnya dengan makna yang tidak dapat dia uraikan. Ada kalanya dia merasa kalau Felice melihat orang lain dalam dirinya. Pemikiran ini jelas membuat Vendry tidak senang.
"Pak, kamu jelas masih sakit. Jangan terlalu banyak berpikir dan istirahatlah, pekerjaanmu bisa ditunda setidaknya sampai kamu sembuh dulu."
Vendry mengabaikan kata-kata Felice dan lanjut menatap layar laptopnya sambil berkata dengan nada datar, "Kembalilah ke kelas."
Melihat pria dewasa ini tidak mendengarkan sarannya, Felice mendekati orang itu, lalu memegang erat salah satu tangan gurunya dan mengulangi, "Istirahatlah dulu, Pak."
Vendry menatap tajam tangan kecil yang mengganggu aktivitasnya, rasa jengkel semakin membuncah dan dia mengalihkan pandangannya pada gadis kecil yang tidak sopan ini dengan niat memarahinya. Akan tetapi saat tatapan kedua orang ini bertemu, Vendry melihat keseriusan dalam tatapan Felice.
"Jangan keras kepala, benturan tadi tidak ringan. Suaranya bahkan terdengar sampai bangku kami, kami semua mencemaskanmu, Pak. Bahkan kepala sekolah sendiri sampai mengantar Bapak ke klinik secara pribadi, jadi seharusnya Bapak istirahat dengan benar bukannya sibuk melakukan hal lain saat ini."
Vendry terdiam, hanya dalam sehari begitu banyak pengalaman baru sudah menimpanya, mulai dari diberi kue, dilempar bola, dan sekarang dia bahkan ditegur oleh seorang bocah cilik yang kurang ajar ini...
Seharusnya Vendry marah, tapi entah mengapa bukannya marah, dia malah merasa emosi negatifnya perlahan mereda.
Melihat Vendry tidak menunjukkan reaksi perlawanan, Felice dengan tenang mengeluarkan laptop di pangkuan pria itu dan memindahkannya ke meja samping.
"Ayo, berbaringlah."
Melihat Vendry tidak bergerak, Felice menepuk ranjang beberapa kali dan membuat ekspresi yang setengah mengajak dan setengah membujuk, "Ayo."
Setelah membaringkan pria besar itu, Felice dengan penuh perhatian menarik selimut hingga menutupi bahu gurunya dan berkata, "Selamat tidur."
Vendry, "..."
Perasaannya benar-benar campur aduk saat ini. Ini masih pertama kalinya dia diperlakukan seperti ini oleh orang lain, apalagi seorang anak kecil yang baru berusia 7 tahun. Mau tak mau Vendry bertanya-tanya, apakah otaknya sedikit korslet karena benturan bola sehingga dia mulai berhalusinasi...
"Jangan terlalu banyak berpikir, tidurlah."
Sebuah tangan kecil menepuk bahunya dengan lembut seperti membujuk anak nakal.
Vendry, "..."
Yah, bukan halusinasi...
"Apakah kamu benar-benar baru berusia 7 tahun?"
Sebuah pertanyaan tanpa sadar dilontarkan Vendry, meskipun dia tahu betapa tidak masuk akalnya pertanyaannya itu.
Felice terdiam sejenak, namun dia masih dengan lembut meletakkan tangannya di bahu pria itu saat dia menjawab.
"Tentu saja. Kalau bukan 7 tahun, lalu berapa lagi usiaku?"
Melihat Vendry diam, Felice kembali berkata, "Terkadang kita tidak boleh menilai orang dari penampilannya saja. Memangnya kenapa kalau aku berusia 7 tahun? Apa aku harus berperilaku seperti anak-anak manja pada umumnya?"
"Aku hanya suka menjadi diriku sendiri, Pak. Lagipula pendapat orang lain tidak terlalu penting untukku."
Melihat tidak ada tanggapan dari Vendry, Felice memandang pria itu dan menemukan kalau pria itu sudah memejamkan matanya.
Felice tahu orang ini belum tidur, namun dia menyingkirkan tangannya dan berbisik, "Semoga cepat sembuh."
Setelah terdengar suara pintu yang terbuka lalu tertutup, Vendry membuka matanya.
"Tidak boleh menilai orang dari penampilan..."
Kata-kata yang familiar...