
“Anda harus terbiasa dengan hal ini jika mau jadi kesatria pribadi saya,” kataku pada Hendery. “Berbaurlah sebelum Putra Mahkota melihat Anda lagi dan emosi.”
Hendery tertawa. “Tidak kusangka Putra Mahkota tipe pencemburu.”
“Awas!” teriak seorang wanita.
Hendery dengan sigap memelukku untuk melindungiku dari siraman anggur yang melayang ke arah kami. Wanita itu jatuh ke lantai bersamaan dengan basahnya jas Hendery dengan anggur itu. Jika tidak ada Hendery sebagai tameng, aku yang pasti sudah basah.
Wanita itu bangun dan menunduk. Aku sama sekali tidak mengenalinya. “Ma-maaf! Sa-saya tidak sengaja. Ada yang mendorong saya saat saya hendak lewat di dekat Tuan Franklin dan Nona Winston ....”
“Oh, ya?” Hendery melirik sinis pada wanita itu. “Kelihatannya kau sengaja ingin mencelakai Nona Winston jika saja aku tidak ada dan melindunginya.”
“Ada apa ini?” Idris muncul dengan dua gelas minuman di tangannya. “Kenapa ada keributan seperti ini?”
“Oh ya ampun, wanita itu hendak membuat gaun Nona Charlotte rusak,” ucap Rose yang tiba-tiba muncul dan mengompori Idris. “Aku belum pernah melihatnya.”
Apa masalahnya dengan pernah dan belum pernah melihatnya?
“Saya minta maaf! Saya benar-benar tidak sengaja. Saya berkata dengan jujur,” kata wanita itu.
“Aku memaafkanmu,” ucapku padanya.
“Nona Winston!” Hendery terlihat tidak terima.
“Diamlah, Tuan Franklin. Ayo bersihkan jas Anda,” kataku pada Hendery.
Belum sempat berjalan, Idris malah menahan lenganku. Dia tidak menunjukkan tanda-tanda ingin melepaskannya. Aku hanya bisa menatapnya dengan ekspresi bingung.
Mau apa lagi dia?
“Cukup,” ucap Idris. “Biarkan saja Tuan Franklin membersihkan jasnya sendiri. Kau tidak perlu ikut dia.”
“Apa Nona Charlotte lupa kalau sekarang Nona itu berstatus sebagai tunangan Putra Mahkota?” ledek Rose. “Ternyata Nona Charlotte murahan juga, ya.”
Semua tamu berbisik-bisik sambil menatapku. Aku tiba-tiba saja lupa tentang Idris dan tidak memperhatikan keadaannya dengan baik.
“Jaga mulutmu Nona Hindley,” tegur Duchess Harriston. “Kau menyinggung tunangan Yang Mulia Putra Mahkota sekarang.”
Rose menutup setengah wajahnya dengan kipas. Dia menatapku dengan perasaan jijik. “Maaf, Yang Mulia. Aku selalu hilang kendali kalau melihat sesuatu yang tidak kusukai.”
“Nona Hindley-” Aku menahan Idris yang sepertinya ingin adu mulut dengan Rose. Itu yang Rose mau. Sebuah perdebatan yang akan membuat imbas pada pertunanganku dengan Idris. “Nikmati saja jamuan yang ada. Kami permisi.”
Idris menarikku pergi. Meninggalkan para tamu, Hendery, dan juga Rose.
*
Kami duduk diam di ruang kerjanya. Idris sepertinya sedang meredam emosinya karena kejadian tadi. Entah karena ucapan Rose, atau mungkin karena aku bicara dengan Hendery.
Mungkin saja karena, Hendery.
Idris tidak secemburu ini. Mungkin karena dia mengurungku di Istana Ratu dan tidak ada satu pun sosok lelaki yang akan bicara denganku. Tapi sekarang? Tentu berbeda.
“Berhenti bicara dengan anak Marquess Franklin, Charlotte,” titah Idris.
“Apa alasannya, Idris?” tanyaku tenang.
“Dia sepertinya menyukaimu. Dan aku tidak ingin ada rumor buruk tentangmu,” jawab Idris yang beranjak dari sampingku dan duduk di sofa menghadapku. “Aku tak ingin namamu tercoreng karena hal-hal yang kukhawatirkan.”
Bukannya dulu kau sendiri yang membuat namaku jadi tercoreng, Yang Mulia Idris?
“Idris, Tuan Franklin hanya menginginkan sesuatu padaku. Tapi aku berniat membicarakan hal itu padamu jika akan naik takhta nanti,” kataku mencoba membuat Idris tenang. “Kami tidak punya hubungan apa pun.”
“Ya, aku percaya padamu Charlotte. Tapi apa yang diinginkan orang seperti dia darimu?! Apa kau memiliki sesuatu yang berharga?!” Itu sama sekali bukan pertanyaan.
“Idris, tenangkan dirimu-”
Aku berdiri. “Bagaimana kau ...” Apa itu Jack? Ya, kulihat dia sempat lewat saat aku dan Hendery bicara. Tapi kenapa Idris semarah ini? Bukankah itu hal yang wajar?
“Kau tidak perlu kesatria. Aku bisa melindungimu sendiri,” kata Idris. “Sekarang kau harus mengikuti perintahku. Jauhi dia mulai detik ini.”
“Tidak, tidak bisa begitu, Idris. Dia tidak salah apa pun. Aku hanya menyukaimu. Bagaimana bisa kau bersikap kekanakan begini?”
Idris ikut berdiri dan melotot padaku. Kenapa jadi runyam begini? Oh tidak, apakah sudah lewat dari sejam? Karena kepalaku mulai terasa sakit.
“Dengarkan saja perintahku. Aku bersikap begini demi kebaikanmu, Charlotte. Aku tidak ingin kehilanganmu lagi!” bentak Idris.
Apa? Dia bilang apa? Telingaku berdengung. Apa dia bilang, lagi?
“A-Apa maksudmu lagi, Idris?” tanyaku sambil memegangi kepala. “Ugh.”
“Ya, sebenarnya ...” Tidak bisa kudengar. “Ibumu ... lalu ...” Idris ..., berhenti bicara!
Bruk!
Sepertinya itu bunyi tubuhku yang jatuh. Kepalaku berkunang-kunang dan bayangan Idris menjadi lima. Ada wanita berambut merah yang berdiri di belakang Idris. Siapa itu? Rose, kah? Atau ... Selir Sienna?
*
Aku membuka mataku dan kulihat Ibu bersama Ayah di taman rumah kami. Kenapa aku malah bermimpi?
“Bunga yang cantik untuk Istriku,” ucap Ayah pada Ibu. “Apakah kau menemani Charlotte yang belajar menjahit sapu tangan untuk Putra Mahkota?”
Ibu tersenyum. “Iya, sayang,” jawabnya.
“Apakah mereka berdua bisa bersama? Kau tahu sendiri bagaimana tabiat Yang Mulia Ratu ...,” ucap Ayah.
Belum sempat kudengar Ibu bicara, api menyambar di depanku. Scene berubah dengan background taman yang terbakar. Di tengah-tengah taman, berdirilah Ibu dengan tongkat yang sekarang ada pada Ava. Ayah mencoba mendekatinya namun terlempar ke belakang.
Suaraku tidak mau keluar. Mimpinya begitu nyata.
“Kenapa kau jadi sebodoh ini?! Eva!” teriak Ayah. “Apa kau hanya peduli pada Putra Mahkota? Pikirkan Charlotte! Berhenti bertindak hilang kendali seperti ini.”
“Ibu ...” Aku melihat diriku di masa kecil keluar dari dalam rumah dan melihat Ibu yang hilang kendali serta Ayah yang terluka. Semuanya semakin rumit. “Ayah ..., apa ini?”
“Masuklah, Charlotte. Ini terlalu berbahaya!” seru Ayah.
“Kenapa tubuh Ibu terbakar?!”
Tidak ada jawaban. Ayah menutup mataku dengan telapak tangannya dan memasukkanku ke dalam rumah. Setelah itu semuanya gelap. Aku tidak melihat bisa apa pun lagi.
Ketika mataku terbuka, aku melihat Idris dan Rose yang duduk bersebelahan. Aku sudah tersadar dari mimpi.
Jika aku masih seperti dulu, mungkin saja aku sudah kecewa dengan sikap Idris. Tapi sekarang kan tidak. Lalu ..., mengapa aku malah menitikkan air mata? Ini pasti hanya kelilipan. Aku ... tidak mau begini.
Dasar cengeng. Aku benci diriku sendiri.
Idris berdiri dan menghampiriku. Tapi itu adalah langkah yang salah. Semakin dia dekat denganku, sakit kepalaku semakin parah. Aku mendorongnya sedikit agar dia menjauh.
“Charlotte ...”
“Di mana aku?” tanyaku pada Idris.
“Kau berada di kamar tamu Kekaisaran. Karena pingsan, aku membawamu ke sini.” Idris mencoba mengecek suhu badanku dengan menempelkan tangannya ke keningku. Aku menepis tangannya sebelum dia melakukan hal itu. “Dokter mengatakan jika kau pingsan karena kelelahan.”
“Baiklah, terima kasih untuk hal itu, Idris. Sekarang aku akan pulang,” kataku sambil beranjak dari ranjang.
“Tunggu, Charlotte. Kenapa kau tidak bermalam di istana saja?” Apa Idris ingin membuatku tidak bisa kemana-mana?
“Maaf, tidak bisa.” Aku menolak.