
“Kenapa kau selalu menentang perkataanku? Ini sama sekali bukan dirimu, Charlotte!” seru Idris.
Aku mendelik pada Idris. “Idris, kau berkata seakan-akan kita ini sudah dekat dalam waktu yang lama. Belum sehari kita bertunangan dan kau malah mengekangku. Lagipula, kenapa ada Nona Hindley di sini?!”
Rose tersenyum. “Tentu saja aku khawatir padamu, Nona Charlotte. Dan aku juga ingin meminta maaf soal sifat lancangku padamu tadi.”
“Apakah aku bertanya padamu?” Aku melirik Rose. “Sudahlah. Aku pulang saja ke rumah orangtuaku. Untuk sementara ini, tolong jangan bertemu denganku, Idris.”
“Charlotte ..., sebenarnya apa yang terjadi padamu? Kenapa kau jadi aneh seperti ini?” tanya Idris.
Ugh, aku ingin muntah karena dipegang olehnya. Apakah ini gejala stres? Dan lagi, kenapa juga aku aneh? Sebenarnya semua kegilaan yang kudapatkan ini berawal darimana?
Aku menunjuk Rose. “Aku tidak ingin melihat dia. Lebih baik aku pergi.”
“Nona Hindley, keluarlah!” teriak Idris. Rose berdecak kesal dan melangkahkan kakinya keluar. Kini, tersisa aku dan Idris saja. “Kondisimu belum stabil.”
“Idris, aku ingin sendirian,” ucapku tanpa memandangnya.
Idris menggenggam tanganku. Entah sudah berapa kali dia melakukan hal itu. “Aku minta maaf karena tadi sudah membentakmu. Aku juga minta maaf karena aku juga sudah membuatmu cemburu dengan Nona Hindley. Hanya dirimu saja yang ada di hatiku, Charlotte.”
“Benarkah?”
“Kenapa kau tidak mau menatapku?”
Aku menunduk. “Aku ingin pulang,” kataku tanpa menjawab pertanyaannya.
“Hm, baiklah. Tapi kau harus pulang ke Istana Perunggu,” ujar Idris.
Aku mengangguk. Dan malam itu, aku diantar pulang ke Istana Perunggu dengan kereta Kekaisaran.
Mataku tak mau terpejam meskipun sudah berbaring beberapa menit. Banyak keanehan yang kudapatkan dalam waktu sehari. Kenapa aku harus memimpikan Ayah dan Ibu? Idris punya hubungan apa dengan Ibuku? Apakah ini ada hubungannya dengan Ibuku yang seorang Penyihir? Ingatan di dalam mimpi itu tidak bisa kuingat di kehidupan nyata di masa lalu. Apa itu memang sekedar mimpi? Atau mungkin memang kenangan yang aku lupakan?
***
Chloe mendekat padaku dengan wajah risaunya. Setelah malam pertunanganku hingga dua hari berlalu, aku enggan untuk makan apa pun. Aku merasa berada di titik terendah dalam hidupku lagi. Apakah Dewi Kebajikan memang benar soal potensi spesial? Apa itu? Aku sama sekali tidak bisa berbuat apa-apa selama Isla masih dalam bahaya. Dia orang terdekatku dan tanggung jawabku. Bagaimana aku bisa berdiam diri di sini sedangkan Isla sedang berada dalam keadaan tersiksa?
“Nona ...” Aku tersadar kembali dengan suara Chloe. Saat melihatnya sekarang yang kupikirkan adalah panah yang menancap jantungnya. “Makanlah sedikit.”
“Aku ingin sendiri,” kataku pada Chloe. “Keluarlah.”
“Nona ...”
“Keluar!” bentakku pada Chloe.
Chloe menghela napas dan pergi meninggalkanku. Aku harus menjernihkan pikiranku yang kacau. Padahal aku sudah bertekad untuk menjadi kuat ...
Bodoh.
“Charlotte?” Suara Lucas terdengar dari kristal komunikasi. “Apa kau baik-baik saja?”
“Ya, aku baik-baik saja.”
“Hm, kupikir tidak.” Hening sejenak. “Maaf membuatmu menghadapi semua masalah ini sendirian di sana. Aku sangat sibuk di sini. Akan kusempatkan diri menjengukmu sebelum penobatanku.”
Aku menghela napas. “Lucas ...”
“Ada apa, Charlotte?”
“Kau tahu kan jika aku sudah bertunangan dengan Putra Mahkota Vanhoiren?”
“Uhm ..., ya. Ada apa dengan hal itu?” tanya Lucas.
“Aku tidak menyukainya. Aku benci hidupku saat ini. Aku benci karena membuat Isla dalam bahaya. Aku benci tak berdaya dan harus mengikuti segala yang sudah digariskan untukku ....” Aku mengepalkan tanganku. Kesal dengan semuanya. Otakku seperti tali yang kusut.
Lucas duduk di ranjangku. “Apa yang terjadi?” tanya Lucas. “Tubuhmu lebih kurus dari terakhir kali kita bertemu, Charlotte!”
“Aku terlalu memaksakan diriku,” kataku berterus terang.
Dia membelai wajahku, berhati-hati. “Aku tidak suka jika kau begini. Aku yakin jika kau sama sekali tidak menyentuh satu pun makanan yang disajikan para pelayanmu, kan?”
“Aku sama sekali tidak nafsu makan.”
Tanganku digenggam. Matanya menyipit saat melihat cincin berlian di jari manisku. “Apa kau mau menyerah pada rencana kita?” tanya Lucas.
“Bagaimana bisa aku mundur jika sudah seperti ini?” tanyaku pada Lucas. “Ini juga bukan keinginanku.”
“Kau harus kuat, Charlotte. Bertahanlah dalam satu tahun. Hanya satu tahun dan semua masalah akan selesai,” ucap Lucas terlihat yakin. “Jangan jadi sosok Ratu yang baik hati. Jadilah sosok Ratu yang kejam untuk orang-orang yang membencimu.”
“Akan kucoba ....”
“Tidak, Charlotte. Jangan mencoba. Tapi kau harus melakukannya,” desak Lucas. “Demi kita semua. Demi pemusnahan sihir kegelapan.”
Aku mengangguk. “Kau benar, Lucas. Aku terlalu naif saat ini. Seharusnya aku tidak boleh begini.” Aku tersenyum untuk membuat Lucas tidak khawatir lagi. “Terima kasih sudah mau menemuiku. Aku sangat terbantu.”
“Ya, sudah menjadi tugasku untuk membuat wanitaku tidak merasa gelisah dan terganggu pada hal apa pun,” ujar Lucas. “Bisakah kau memegang janjimu ini denganku?”
Aku kembali mengangguk.
“Kembalilah, Lucas. Maaf telah membuat dirimu kemari dan meninggalkan pekerjaan yang menumpuk,” ucapku menyesal.
“Tidak apa-apa. Aku tidak ingin kau sampai berlarut-larut dalam kekacauan ini.” Lucas mendekat dan mengecup keningku singkat. “Inginnya aku tetap di sini dan menyuapimu. Tapi, aku tidak bisa meninggalkan-”
“Lucas, tenanglah. Pikiranku sudah membaik berkatmu,” ucapku sambil tersenyum. “Aku akui karena pertunangan itu, aku tiba-tiba saja merasa muak dan kesal. Ada gejolak aneh di hatiku yang membuat pikiranku tidak jernih.”
Lucas ikut tersenyum. “Aku tahu. Setelah aku pergi, makanlah dan istirahat untuk memulihkan tubuhmu lagi. Mulai sekarang hubungi aku kapan pun kau ada kesempatan dan membutuhkanku.”
“Baik, Lucas.” Aku mengangguk patuh.
Lucas membuka lemari geser itu dan berhenti. “Tapi siapa Tuan Franklin? Aku mendengarnya dari Ava.”
“Dia kesatria yang mengajariku berlatih pedang saat berada di Istana Perunggu ini,” jawabku.
“Oh, begitu. Baiklah. Karena tubuhmu masih lemah, ditunda saja latihannya selama beberapa hari. Aku tidak mau kau cidera,” ujar Lucas.
Setelah berkata seperti itu, Lucas pamit dan kembali ke Avnevous. Aku menghela napas dan berjalan keluar dari kamarku. Di lantai bawah, kulihat banyak sekali kotak hadiah yang diletakkan begitu saja di lantai. Aku turun ke bawah lalu melihat Holly dan Chloe.
“Siang, Nona Winston ...,” sapa Holly.
“Siapa yang memberikan ini?” tanyaku penasaran.
“Ini adalah kiriman dari Yang Mulia Putra Mahkota sebagai permintaan maaf. Beberapa kotak hadiah lainnya akan segera diantarkan,” jelas Holly.
Aku tersenyum. “Bawa kotak hadiah itu ke Kediaman Hindley. Kirim atas namaku sendiri.”
“Tapi, Nona ...”
“Aku tidak mau dengar penjelasan apa pun. Ikuti saja yang kuminta,” kataku pada Holly.
“Baiklah, Nona Winston.”
Aku melirik Chloe. “Buatkan aku makan siang,” kataku padanya.
Chloe mengangguk. “Baik, Nona.”