The Second Life

The Second Life
LII - Balasan Kecil



Marchioness Franklin langsung dibawa dengan kereta Pengadilan Tinggi menuju ke Kediaman Franklin. Selama periode hukuman, pengawas Pengadilan Tinggi akan secara bergantian menjaga Marchioness Franklin agar tidak pergi kemana pun tanpa sepengetahuan mereka.


Marquess Franklin juga ikut di kereta yang sama. Baik putra sulungnya maupun Hendery, mereka sama sekali tidak datang ke sidang kami. Sepertinya Marchioness tidak ingin melibatkan satu-satunya alasan keluarganya disegani. Aku yakin jika saat pulang nanti, Hendery akan dimarahi habis-habisan karena telah dengan lancang menjadi calon kesatriaku tanpa sepengetahuannya.


“Charlotte?”


Aku menoleh pada Idris yang memanggil namaku. “Ya?”


“Apakah kau mau langsung pergi ke istana bersamaku?” tanya Idris. “Ada yang ingin kuberikan padamu.”


Apa itu?


“Baiklah, Idris. Tapi aku hanya ingin berduaan denganmu saat naik kereta kuda,” kataku penuh makna. “Kau tahu kan maksudku.”


Idris terlihat berpikir sangat keras. Oh, ayolah. Apa dia harus terang-terangan tidak merelakan moment bersamanya dengan Rose barang sedetik saja? Aku gemas sekali pada kelakuannya.


Kulihat Ayah dan Jayden menatapku dan memberi kode sebagai tanda berpamitan. Aku hanya tersenyum dan setelah itu, mereka pergi meninggalkan ruangan sidang bersama dengan para hadirin yang lain.


Chloe mendekat di sampingku dan berbisik, “apakah Nona akan ikut dengan Yang Mulia Putra Mahkota?”


“Hm, tergantung jawabannya,” jawabku lantang dan melirik Idris. “Bagaimana keputusanmu, Idris?”


“Idris ..., kau belum mau pergi?” tanya Rose yang sudah merangkul lengan Idris. “Kereta Kekaisaran sudah menunggu.”


Idris melepaskan rangkulan tangan Rose lalu menatap wanita itu. “Kau pulang dengan kereta lain saja, ya? Aku dan Charlotte harus menghabiskan waktu bersama hari ini.”


“Apa?!” Suara kaget Rose bergema di ruangan sidang. “Bukankah kau berjanji padaku bahwa kita akan minum teh bersama?!”


Oh, Idris menjanjikan hal itu, ya?


“Ah, sayang sekali, Nona Hindley. Janji itu harus dibatalkan hari ini,” kataku tegas. “Ayo, Idris. Kita tidak boleh membuang-buang waktu hanya untuk satu wanita.”


“Tentu, Charlotte,” kata Idris. “Naiklah duluan ke kereta. Aku akan mengantar Rose terlebih dahulu.”


Aku memutar bola mataku dan berjalan bersama dengan Chloe tanpa berbasa-basi lagi. Laki-laki itu sama sekali tidak bisa lepas dari genggaman wanita berbisa seperti Rose. Aku lebih memilih menghindari Rose lebih cepat daripada harus repot-repot beradu mulut dengannya.


Saat sudah keluar dari dalam gedung Pengadilan Tinggi, Jack sudah menunggu di depan dengan Kereta Kekaisaran yang terparkir manis di belakangnya. Dia tersenyum padaku dan menunduk hormat. Bagaimana bisa manusia sedingin Jack bisa ramah begini? Sejak adegan memberi sapu tangan, Jack jadi agak sedikit ... berbeda.


Dia meraih tanganku dan membantuku masuk ke dalam kereta. Aku sengaja mengajak Chloe masuk ke kereta yang sama denganku agar tidak berduaan dengan Idris.


Lupakan soal ucapanku di ruang sidang. Mana sudi aku berduaan dengan Idris? Dia bisa saja melakukan sesuatu terhadapku jika kami hanya berduaan. Aku tak suka disentuh olehnya.


“Jack,” panggilku dari dalam kereta.


“Ya, Nona Winston?”


“Bisa tolong belikan aku cemilan coklat sekarang?” pintaku pada Jack.


“Baik,” kata Jack.


Aku pun memberikan Jack dua keping emas kepadanya. Jack berjalan kaki meninggalkan kami menuju toko kue yang berjarak tidak jauh dari gedung Pengadilan Tinggi.


Tidak lama setelah itu, Idris dan Rose keluar dari gedung Pengadilan Tinggi. Wajah Rose terlihat sangat kesal dan dia bahkan tidak suka saat Idris mencoba menyentuh dirinya untuk ditenangkan. Aku mengintip pertengkaran mereka sambil tersenyum senang. Kulihat Chloe juga menikmati tontonan itu sama sepertiku.


Idris menghela nafas dan mencari-cari kehadiran Jack. Tapi, Jack sedang pergi karena sengaja kusuruh.


“Tunggulah sebentar, Jack tidak ada di mana pun,” kata Idris pada Rose.


“Kenapa aku tidak bisa naik kereta yang sama denganmu? Apa aku tidak istimewa?” Rose semakin kesal karena Idris hanya diam. Aku ingin sekali tertawa. Tapi di saat yang bersamaan, aku harus menjaga martabatku di depan Chloe. “Aku sangat benci menunggu!”


“Baik, Yang Mulia.” Prajurit berbadan tegap yang rupawan itu segera pergi untuk melaksanakan apa yang diperintahkan Idris.


Jack datang dengan sekantung besar cemilan kue yang kuinginkan. Dia menghampiriku dan memberikan kantung cemilan kuenya padaku. Idris yang melihat sosok Jack seketika itu juga marah besar.


Menurut aturan yang berlaku, harusnya Jack berdiam diri sampai Idris tiba.


“Bagaimana bisa kau pergi tanpa sepengetahuanku?!” bentak Idris yang menghampiri Jack. “Apa kau sudah tidak ingin menjadi tangan kananku?!”


“Idris,” panggilku pelan. Idris menatapku dan kaget. Daritadi dia tidak menyadari kehadiranku, ya?! “Jack pergi karena aku menyuruhnya membelikanku cemilan kue untuk kita makan bersama nanti. Jangan marahi dia.”


Idris melirik Jack dan kembali menatapku. “Begitukah?” tanya Idris padaku.


Aku mengangguk. “Apakah sudah selesai? Kalau sudah, kita bisa pergi sekarang.”


“Tapi kereta kuda untuk Rose belum datang. Apakah kita bisa menunggu sedikit lagi agar aku bisa menemaninya?” tanya Idris.


Idris ..., kau ini bodoh sekali, ya?!


“Tidak.” Aku menolak hal itu mentah-mentah. “Kau ini seorang Putra Mahkota. Berdiri di depan gedung Pengadilan Tinggi dengan seorang wanita akan menimbulkan banyak kontroversi. Cepat naik ke dalam kereta sekarang juga.”


Idris menatapku kaget. “Charlotte ..., kenapa kau sekasar ini?!”


“Ini semua demi kebaikanmu dan kebaikanku,” kataku. Aku sudah memelankan suaraku agar tidak terkesan memaksa. “Biarkan Jack menemani Nona Hindley.”


“Tapi—”


“Idris ..., siapa calon Ratumu?” tanyaku kesal.


“Kau, Charlotte.”


“Sekarang naiklah,” kataku kemudian. “Jack, kau bisa menemani Nona Hindley, kan?”


Jack hanya mengangguk.


Akhirnya, Idris mau tidak mau masuk ke dalam kereta bersamaku dan Chloe. Rose yang melihat hal itu, menghampiri kami dengan mata melotot. Rose berdiri di sebelah kereta dan melirikku tajam. Aku lebih memilih mengabaikannya dan memakan cemilanku.


“Kenapa kau malah naik kereta?” tanya Rose pada Idris. “Katanya kau akan menemaniku!”


“Jack yang akan menemanimu, Rose. Tunggulah bersamanya sampai prajuritku datang dengan kereta kuda untukmu. Jangan khawatirkan biayanya,” kata Idris. “Tolong mengertilah untuk hari ini saja Oke?”


“Apa ini karena Nona Charlotte?” tanya Rose.


Idris bungkam.


“Katanya kau mencintaiku, mana buktinya?! Kenapa kau malah memilih Nona Charlotte?!” teriak Rose histeris.


Jika aku menunggu lebih lama, Rose bisa menarik perhatian orang lain. Aku tidak ingin jika banyak rakyat bergosip tentang perselingkuhan Idris sebelum aku bisa naik takhta. Itu sangat mengganggu.


“Bisa kita pergi sekarang, Idris?” tanyaku pada Idris.


“Baik, Charlotte.” Idris mengangguk paham. “Jalankan keretanya!” serunya pada kusir.


Kereta pun akhirnya dijalankan oleh sang kusir. Kami meninggalkan Rose yang sudah semakin tidak bisa ditenangkan bersama dengan Jack. Itu hanya sedikit karma yang harus kau terima, Rose Hindley.