The Second Life

The Second Life
LXVI - Mulai Menghantui



Hendery berdiri di depanku. Aku pikir, sekarang dia sedang saling bertatapan dengan Idris. Suasana di dalam taman indoor yang sudah kacau ini, kian memanas. Rose Hindley masih berdiri di belakang Idris dengan tatapan mengejek super menyebalkan yang bisa dia perlihatkan.


Mungkin saja dia takut jika aku menjambak rambut panjangnya itu karena kesal. Siapa yang tahu, mungkin saja dia berpikiran seperti itu di otaknya yang tidak pernah dipakai untuk berpikir dengan jernih.


“Apa yang kau lakukan?” tanya Idris. “Jangan ganggu pembicaraanku dengan Istriku!”


“Yang Mulia Kaisar yang terhormat, maaf menyela Anda,” ucap Hendery. “Apakah pantas, jika Kaisar berbuat sekasar ini pada Ratu dari wilayah Anda sendiri tanpa mendengar satu pun penjelasan darinya?”


Hoo.


Idris mengernyitkan dahi dan menoleh ke arah jendela yang pecah. Raut wajahnya menegang, dan dia langsung menatapku penuh rasa bersalah. Aku menyembunyikan tanganku yang memerah akibat ulahnya sendiri. Tak sudi aku dikasihani oleh dirinya.


“Istriku ..., apa yang terjadi?” tanya Idris yang berniat menghampiriku tetapi dihadang oleh Hendery dan ditarik oleh Rose Hindley.


“Bagaimana bisa kau percaya pada omongan mereka berdua?!” bentak Rose Hindley. “Bisa saja mereka yang menyebabkan kekacauan ini karena berkelahi akibat hubungan asmara terlarang mereka. Kau kan tidak tahu selicik apa Ratu.”


Dewi ..., ingin rasanya aku mengumpat di depan Rose Hindley dan juga Idris.


Sebelum Idris sempat berbicara, Hendery sudah terlebih dahulu memberikan panah misterius yang membawakan surat tentang Isla. Aku hanya berharap jika Hendery tidak menyinggung apa pun soal surat itu.


Yah, meskipun aku juga yakin jika Idris pasti tahu bahwa Isla adalah pelayanku, tapi tetap saja akan terasa aneh nantinya. Dan meskipun Isla menutup mulutnya tentang diriku dan rencana besar kami, Idris sudah terlebih dahulu tahu jika aku dan Isla memiliki hubungan sebagai majikan dan pelayan.


Anehnya, Idris tidak menyinggung apa pun soal ketidakadaan Isla di sampingku. Dia sama sekali tidak tertarik untuk bertanya dan sibuk bermain api dengan Rose Hindley.


“Apa ini?” tanya Idris, dia mengernyitkan dahi sambil memperhatikan panah yang kini sudah dia pegang di tangan kanannya.


Sudah jelas itu panah, masih saja ditanya.


“Ratu hampir saja terluka karena panah itu.” Tidak begitu juga. “Kalau telat sedikit saja, mungkin keselamatan Ratu akan terancam,” kata Hendery.


“Jack!” teriak Idris.


Yang dipanggil menyembul dari ambang pintu. Dia menatap Idris sambil memperbaiki posisi kacamatanya, lalu kemudian menunduk hormat.


Idris menyodorkan panah itu Jack. “Selidiki asal-muasal panah ini secara diam-diam. Jangan membuat perhatian sedikit pun. Aku tidak ingin jika masa berkabung di istana ini jadi terganggu.”


“Baik, Yang Mulia Kaisar.” Begitu berkata seperti itu, Jack pergi meninggalkan taman indoor untuk melaksanakan perintah Idris.


“Istriku, kemarilah. Aku sudah bersalah kepadamu,” kata Idris. Aku tetap berdiri di belakang Hendery. Enggan menghampiri Idris dan menerima pelukan darinya.


“Idris ..., ayo kita pergi,” ajak Rose. Lengan Idris sudah diapit oleh tangan Rose.


“Pergilah, Idris. Wanita j*langmu sudah tidak tahan ingin berduaan denganmu.” Aku tidak percaya jika aku akhirnya mengatakan hal itu.


Bukan main reaksi mereka berdua. Idris menatapku tanpa berkata apa-apa, dan Rose malah sudah mengambil ancang-ancang, ingin menerjangku dan menanamkan cakarnya ke wajahku. Kulihat badan Hendery gemetar kecil. Dia pasti menahan tawa.


Aku lelah bersikap manis pada orang yang tidak sepantasnya mendapatkan perlakuan spesial seperti itu. Aku lelah dengan semua hal-hal merepotkan seperti ini. Aku ingin bahagia, sama seperti wanita lain di luar sana. Aku benci dikekang.


“Benar. Apakah ucapanku kurang jelas ditelingamu?” Aku menatapnya dengan sikap menantang. “Aku pikir urat malu Nona Hindley sudah putus sejak lahir. Bagaimana bisa Nona Hindley bersikap seperti istri sah Suamiku? Apakah itu hal yang normal belakangan ini?”


“Br*engsek ...,” umpat Rose.


“Charlotte, aku minta maaf karena sudah berpikiran buruk tentangmu dan bahkan menyakitimu. Tapi, aku juga tidak suka jika kau bersikap sekasar ini pada Rose.”


“Ha ... hahaha!” tawaku pecah. Aku tertawa sekeras mungkin karena mendengar ucapan Idris barusan. Rasanya telingaku geli dan otakku berputar lebih cepat. Kata-kata Idris terus masuk ke dalam otakku dan terulang secara terus-menerus seperti sebuah drama komedi. “Hahaha!”


Hendery menoleh ke belakang dan menatapku dalam diam. “Ratu ....”


“Argh, aku bisa gila!” teriakku spontan.


Bersamaan dengan itu, Jack dengan wajah pucatnya masuk kembali ke taman indoor. Mendengar dia bicara, amarahku menguap dalam sekejap. Berita itu sekaligus membuat aku jadi berpikir dua kali untuk bersikap santai mulai sekarang.


Ibunda Idris bunuh diri dengan meloncat dari lantai tiga kamarnya.


Idris tak berkata apa-apa, dia berlari ke tempat Ibundanya jatuh. Aku mengikutinya dari belakang bersama dengan Hendery. Dokter Kekaisaran sudah datang ke sana untuk menolong Ibunda Idris, tapi terlambat.


Ratu XIX itu mendarat dengan kepalanya. Untuk itu, tidak ada kesempatan baginya untuk bisa selamat. Idris berteriak dan menangis. Dia memeluk Ibundanya tanpa peduli darah milik Ibunya menempel di pakaian dan tubuhnya. Ada rasa penyesalan di sana. Ada amarah juga yang tidak luput darinya.


Dikerumunan yang mengelilingi jasad Ratu dan juga Idris, aku bisa melihatnya. Seseorang yang memakai tudung hitam, tetapi masih terlihat rambutnya. Merah. Aku mencari-cari kehadiran Rose, dan dia ada di ambang pintu istana. Mengawasi dari kejauhan. Jadi ..., yang memakai tudung adalah ... Selir Sienna?


Deg!


Ah, benar. Itu dia. Saat dia menghilang, aku bisa merasakan secercah sihir kegelapan yang dia pakai untuk melarikan diri. Ratu tidak bunuh diri, tapi kemungkinan besar dibunuh oleh Selir Sienna.


Di masa lalu, Ratu XIX diracuni oleh pelayannya sendiri. Namun, bisa saja itu juga suruhan dari Selir Sienna.



Belum mereda rasa duka yang ada di istana oleh karena kematian Kaisar XIX, kini sang istri menyusuli suaminya untuk beristirahat. Kehilangan Ayahanda tidak membuat Idris risau atau gelisah. Namun, saat kematian Ibundanya, dia jadi lebih banyak diam dan enggan pergi meninggalkan Ibundanya.


Rose berada di sampingnya, sedangkan aku kembali mengurus semua berkas pemakaman Ratu XIX.


Setelah kejadian panah di taman indoor, aku langsung mengangkat Hendery sebagai kesatria pribadiku tanpa perayaan yang besar. Sekarang, dia sudah bisa lebih bebas lagi berada di sekitarku.


Dan tentang Ayahku, beliau akan datang saat pemakaman Ratu XIX. Ayah sempat datang pada pemakaman Kaisar, tapi kami tidak sempat bicara karena kesibukanku. Aku jadi rindu untuk bicara santai dengannya sambil ditemani secangkir teh melati.


“Apakah Ratu sudah siap?” tanya Hendery yang berdiri di ambang pintu.


Aku hanya mengangguk. “Baik, mari kita pergi ke pemakaman.”