The Second Life

The Second Life
XLV - Kejutan Menegangkan



Aku memilih untuk mengakhiri percakapan kami karena mood-ku yang sedang tidak baik. Aku tak ingin hilang kendali dan malah berkata hal-hal yang sebenarnya tidak ingin aku ucapkan di depan Lucas.


Mataku terpejam setelah merenung hampir tiga puluh menit. Malam ini adalah malam yang panjang.


***


Aku memakai gaun sederhana yang tidak memiliki banyak hiasan semacam renda. Di depan cermin aku melihat Chloe sibuk menyisir rambutku dengan serius. Holly ada di dapur sedang menyiapkan bekal makan siang yang akan kubawa kepada Idris.


Setelah rambutku selesai disisir dan ditata dengan rapih, aku pergi ke bawah bersama Chloe untuk menemui Holly. Kotak bekal yang disiapkan Holly diletakkan di atas meja ruang tamu dengan dibungkus oleh kain emas. Makanan itu cukup untuk tiga orang.


Kau tahu apa maksudku.


“Apakah kereta kudaku sudah sampai?” tanyaku pada Holly.


Holly mengangguk. “Iya, Nona Winston. Kereta kuda Nona baru saja sampai beberapa menit yang lalu. Apakah Nona akan pergi sekarang?”


“Ya, aku tak ingin membuat Putra Mahkota makan makanan lain karena aku tidak tiba tepat waktu,” jawabku acuh.


“Chloe, ambil kotak bekal itu,” perintahku sambil berjalan keluar dari Istana Perunggu.


Chloe mengambil kotak bekal di atas meja dan mengikutiku dari belakang. Max, kusirku, membukakan pintu kereta dan aku pun masuk bersama dengan Chloe.


Aku tak lupa membawa sapu tangan milik Jack yang sudah dicuci oleh Chloe. Meskipun tidak kugunakan, akan lebih sopan jika aku tidak mengembalikan sapu tangannya dalam keadaan tidak dicuci.


“Nona ..., bagaimana jika Yang Mulia Putra Mahkota sedang bersama dengan Nona Hindley seperti tempo lalu?” tanya Chloe dengan raut wajah penuh kekhawatiran.


Apa Chloe khawatir jika aku sedih?


Seharusnya itu tidak perlu dilakukan. Dosa besar jika aku sedih hanya karena lelaki br*ngsek seperti seorang Idris Theodoric Vanhoiren.


“Aku baik-baik saja soal hal itu. Lebih bagus lagi jika Nona Hindley memang benar-benar sedang ada bersama dengan Putra Mahkota sekarang. Aku dan mereka berdua bisa makan siang bersama,” ucapku tanpa keraguan sedikit pun.


Bukannya lega, Chloe malah semakin terlihat sedih. Apa ia pikir aku hanya pura-pura tegar? Oh, ya ampun.


“Nona jangan lupa dengan pertemuan minum teh bersama dengan para bangsawan,” ucap Chloe.


“Ya, aku tidak akan lupa. Terima kasih sudah mengingatkan tentang hal itu.”


Akhirnya setelah cukup lama berada di dalam kereta, aku pun sampai di depan Istana Kekaisaran. Saat masih berada di dalam kereta kuda, aku bisa melihat Jack berjalan tergesa-gesa karena kedatanganku yang mendadak.


Aku sempat tersenyum kecil sebelum akhirnya Max membuka pintu kereta agar aku dan Chloe bisa keluar. Jack mengulurkan tangannya dan aku pun menyambut uluran tangan itu.


Kulepaskan tangan Jack lalu kemudian tersenyum. Chloe hanya diam di belakangku seperti biasa.


“Sepertinya kau terburu-buru hari ini,” kataku pada Jack.


Jack memperbaiki posisi kerah kemeja dan kacamatanya. “Tidak biasanya Nona Winston datang tanpa membuat janji temu. Silahkan ikuti saya.”


“Aku ingin memberi Putra Mahkota kejutan,” kataku sambil mengikuti Jack masuk ke dalam Istana.


“Uhm. Tapi, Yang Mulia Putra Mahkota sedang tidak ingin diganggu,” ucap Jack tanpa berhenti berjalan.


Aku tak peduli. “Putra Mahkota selalu tidak ingin diganggu. Tak usah menyembunyikan fakta tentang hubungan istimewa antara Putra Mahkota dan juga Rose Hindley. Aku kan sudah lihat sendiri.”


“Oh, begitu.” Aku enggan pergi ke kamar Idris. “Tolong panggilkan saja Putra Mahkota ke ruang makan. Aku akan menemuinya di sana. Bilang pada Putra Mahkota untuk mengajak Nona Rose menemuiku.”


Jack berhenti berjalan dan menoleh ke belakang. “Apa Nona Winston serius?”


“Ya, pergilah. Akan kutunggu di ruang makan.”


Jack pun pergi meninggalkanku dan Chloe. Aku kembali berjalan menuju ruang makan. Seperti yang kutahu, Kaisar dan Ratu biasanya makan di kamar mereka masing-masing. Hanya Idris yang betah makan di ruang makan.


Chloe keluar sebentar untuk meminta perabotan di dapur Kekaisaran. Aku duduk sendirian di depan meja makan sebelum akhirnya Chloe kembali dan menata piring dan sendok serta bekal yang dibawa oleh kami ke sini.


Tak lama kemudian, Idris muncul bersama dengan Jack. Dan di belakang Jack, ada wanita berambut merah yang mengekor. Siapa lagi kalau bukan Rose. Dia hanya menunduk, enggan melihat wajahku.


Sepertinya aku telah mengganggu moment berdua mereka.


“Semoga Yang Mulia Putra Mahkota diberkati Dewi Kebajikan,” salamku untuk Idris bersama dengan Chloe yang masih setia berdiri di belakangku.


“A-Apa yang kau lakukan di sini, Charlotte?” tanya Idris bingung. Dia menyembunyikan rasa gugupnya yang masih bisa kuketahui. “Bukankah kau ada janji minum teh dengan para bangsawan?”


“Duduklah, Idris.” Meskipun masih bingung, Idris tetap duduk bersama dengan Rose. “Maaf sudah mengunjungimu secara tiba-tiba. Tapi aku sangat ingin makan siang bersama denganmu. Kau tahu kan waktu kita terbatas karena mempersiapkan pernikahan kita.”


Kutekan dua kata terakhir untuk menyindir Rose agar lebih sadar.


“Untuk kunjungan minum teh, aku menundanya besok agar bisa bersamamu hari ini,” lanjutku santai. “Kebetulan sekali Nona Rose juga saat ini sedang bersamamu. Kita bisa makan siang bertiga sekarang. Holly sudah mempersiapkan semuanya dengan baik,” tuturku kemudian.


“Uhuk.” Idris pura-pura batuk. “Untuk ke depannya, aku mohon untuk mengabariku terlebih dahulu jika ingin menemuiku,” katanya.


Aku sempat melihat Rose tertawa karena Idris menegurku. Kekanakan.


“Baik, Idris. Hari ini aku hanya ingin memberimu kejutan karena kupikir kau akan menyukai hal ini,” kataku sambil memasang wajah sedih. “Ternyata aku telah mengganggu waktu kalian berdua.”


“Ti-Tidak, Charlotte,” elak Idris. “Aku sama sekali tidak terganggu. Tapi aku hanya ingin agar supaya kau disambut dengan baik di Istana Kekaisaran.”


“Jack melakukan tugasnya dengan baik,” ucapku. Haruskah aku melempar api di genangan bensin? “Ngomong-ngomong soal Jack ..., kemarilah Jack. Mendekat padaku.”


Idris dan Rose terlihat penasaran saat Jack mendekatiku. Ini lebih dari cukup.


“Ada apa, Nona Winston?” tanya Jack.


“Chloe ...”


Seakan mengerti kodeku padanya, Chloe maju dan memberikanku sapu tangan milik Jack. Aku tersenyum dan memberikan sapu tangan itu kepada pemiliknya.


Aku bisa tahu jika rahang Idris mengeras.


“Terima kasih, Jack.” Jack menunduk dan kembali ke posisinya setelah menerima sapu tangan miliknya. Aku menepuk tanganku sekali dan tersenyum lebar. “Ayo kita makan. Kalian pasti lapar, bukan?”


“Terima kasih, Charlotte.” Idris mulai mencicipi makanannya.


“Oh ya. Nona Rose, kenapa kau tidak bicara sepatah kata pun?” Aku menyeringai. “Apakah tenagamu untuk bicara sudah terkuras habis karena melayani tunangan orang?” tanyaku dengan suara menantang.