
Felice diam-diam tersenyum di atas tangga. Gadis kecil itu mundur beberapa langkah lebih jauh ke belakang, membuka pintu kamarnya yang tidak jauh dari posisi tangga dan membanting tertutup dengan suara yang tidak terlalu keras namun cukup untuk membuat Julia dan Marvin mendengarnya.
Setelah melakukan serangkaian tindakan itu, Felice berjalan dengan alami menuju tangga dan sengaja membuat suara pelan yang hanya terdengar sekilas ketika dia menginjak ubin di anak tangga.
Seperti yang diduga Felice begitu Julia dan Marvin mendengar suara gerakan pintu, pasangan suami istri itu langsung memisahkan diri dengan jarak yang sopan dan menyesuaikan ekspresi mereka. Saat mereka melihat Felice turun, Julia tersenyum sementara Marvin sudah berada di meja ruang tamu untuk meletakkan tasnya.
"Felice, kenapa belum mandi, Nak?" tanya Julia ketika dia melihat putri nya masih mengenakan seragam sekolah.
"Aku turun untuk mengambil tasku dan punya Feline, tadi kami meninggalkannya di sofa, Ma," jawab Felice sambil turun dari tangga.
Marvin yang paling dekat dengan sofa juga melihat dua tas yang bersarang berantakan di sofa dan mengambil kedua tas itu sebelum menyerahkannya kepada Felice.
"Terima kasih, Pa."
Marvin mengusap puncak kepala Felice dan tersenyum kecil.
"Sudah, pergi mandi dulu," ujar Marvin.
Felice mengangguk dengan patuh dan mengangkat masing-masing tas di kedua lengan kecilnya sebelum mengaitkannya ke masing-masing bahunya. Melihat tindakan Felice, Marvin pun menawarkan bantuan, "Mau Papa bantu bawakan ke atas?"
Felice mengangkat wajah kecilnya dan menggeleng kepalanya dengan serius layaknya orang dewasa dan menjawab, "Tidak usah Pa, Felice bisa membawanya naik sendiri. Papa juga harus mandi nanti Mama bisa marah kalau Papa masih memakai baju kerja sementara waktu makan malam sudah mau tiba."
Marvin mengangkat sebelah alisnya dan tidak menjawab kata-kata putrinya sementara Julia yang mendengar dan menyaksikan interaksi itu diam-diam menahan senyuman yang mekar karena kelucuan putri sulungnya.
Setelah meninggalkan kata-kata bijaknya, Felice kembali menaiki tangga dengan lancar meskipun sedang membawa dua beban yang terlihat terlalu berat dibawa oleh anak kecil sepertinya. Julia menghela nafas di bawah sikap dewasa putrinya yang terlalu baik dan membuatnya agak sedih.
Dia lebih suka kalau Felice mau lebih bergantung dengan bantuan orang dewasa daripada menempatkan dirinya sendiri di kursi itu dan memaksakan dirinya untuk tumbuh lebih dewasa dan masuk akal dibandingkan dengan anak-anak seusianya.
Setelah Felice berdiri di atas tangga dan sudah lepas dari pandangan kedua orang tuanya, gadis kecil yang awalnya berwajah serius itu menampakkan emosi lembut di wajah kecilnya. Dia membawa kedua tas yang di mata Julia dan Marvin dianggap terlalu berat untuk dibawanya dan mengayunkan kedua tas itu untuk menahannya di satu tangan dengan mudah sebelum membuka pintu kamarnya.
Setelah Felice naik, Marvin pun membereskan barang-barangnya dan langsung pergi mandi sesuai saran putri sulungnya sementara Julia langsung pergi ke dapur, mencuci tangan, dan mulai menyiapkan makan malam.
Setiap anggota di keluarga itu masing-masing melakukan kegiatan mereka sendiri dengan suasana hati yang lebih ringan. Pada saat makan malam pun Feline menarik kakak perempuannya dan turun ke bawah dengan semangat penuh. Ketika mereka berdua turun ke bawah, Julia sudah selesai memasak beberapa hidangan.
Ibu mereka pergi ke dapur untuk menyelesaikan sisa makanan yang belum dimasak. Feline dan Felice duduk di kursi mereka dan menunggu dengan patuh di meja makan. Tidak lama setelah mereka turun, ayah mereka juga turun dari atas. Felice mengedipkan matanya sekali ketika melihat Marvin mengenakan baju tidurnya.
Tanpa diduga Marvin yang selalu duduk diam di ruang tamu bersama laptopnya untuk menyelesaikan pekerjaannya di jam segini, ternyata bersedia mendengarkan kata-katanya dan melanggar rutinitas biasa pria dewasa itu.
"Papa kok sudah mandi? Biasanya kan Papa masih bekerja di ruangan tamu," ujar Feline dengan ekspresi kebingungan yang polos.
Marvin hanya mengusap kepala Feline. Wajah dingin pria itu melembut di bawah kasih sayangnya untuk kedua putrinya. Setelah duduk di kursinya, Marvin menjawab pertanyaan putri bungsunya, "Ada yang bilang sama Papa kalau Papa tidak mandi sebelum makan malam siap, nanti Mama bisa marah."
Feline memiringkan kepalanya penuh kebingungan, namun di saat dia melihat sorot mata ayahnya yang diarahkan pada Felice sepasang mata bulat Feline akhirnya bersinar terang dengan pemahaman tiba-tiba. Dia menoleh ke arah sang kakak perempuan dan mengacungkan jempolnya dengan senyuman lebar.
Felice tersenyum kecil.
Tidak lama kemudian, Julia akhirnya keluar dari dapur dengan dua piring terakhir dan meletakkannya dengan rapi di atas meja. Sang ibu kembali ke dapur untuk meletakkan celemeknya dan membawa empat piring nasi di nampan besar.
Ketika piring sudah disusun di depan masing-masing anggota keluarga, Feline mengambil sendok dan garpu dengan pandangan berbinar yang ditembakkan pada piring yang berisi ikan rebus kesukaannya.
"Selamat makan!" ujar Feline dengan gembira dan meraup sepotong besar daging ikan sebelum memindahkannya di atas piringnya sendiri.
"Selamat makan."
Melihat Feline meraup daging ikan yang masih memiliki tulang-tulang kecil di dalamnya dengan rakus, Felice yang duduk di sebelah adiknya mengangkat sepotong besar daging ikan itu dari piring Feline dan memindahkannya ke piring miliknya.
Feline, "??!!"
Gadis kecil itu menatap kakaknya dengan ekspresi menyedihkan yang membuat Felice mengangkat senyuman di bibirnya dan berkata, "Ada banyak tulang di dalam ikan. Kakak akan memisahkannya untukmu, jangan sampai kamu tidak sengaja menelan tulang ikan."
Ekspresi sedih Feline langsung kembali cerah dan gadis kecil itu mengangguk dengan patuh. Dia melirik ke meja makan dan menatap sayur kangkung yang biasa sangat disukai kakaknya dan meraup sesendok besar sebelum memindahkannya ke piring kakaknya. Alhasil piring Felice sekarang penuh dengan ikan dan kangkung.
Adegan kedua gadis kecil itu membuat geli orang tua mereka. Julia merasa hangat ketika melihat perhatian Felice untuk Feline. Dia juga bahagia dengan ketergantungan Feline dan rasa sayangnya untuk sang kakak yang tidak pernah berubah meskipun sikap Felice tidak terlalu sama dengan dulu.
Di saat Julia tersenyum dengan interaksi kedua putri kecilnya, sepotong ayam diletakkan di piringnya. Wanita itu menatap ke arah pelaku yang meletakkannya dan tersenyum lembut.
Marvin tidak mengatakan kata-kata penuh kasih sayang seperti pasangan pada umumnya, yang dia lakukan untuk menunjukkan kepeduliannya adalah melalui tindakan. Baru saja pria kaku itu meletakkan sepotong ayam goreng yang paling besar dan gemuk di piring Julia tanpa membuat suara.
Bahkan ketika Julia menatapnya, pria itu tidak bergeming dan melanjutkan makannya seperti biasa.
"Makan lebih banyak sedikit. Besok kamu juga akan kerja," ujar Marvin dengan nada biasa miliknya.
Julia memiliki paras dan bentuk tubuh yang indah dan ramping meskipun sudah memiliki dua anak perempuan. Walaupun memiliki sosok yang anggun dan cantik, nyatanya Julia adalah seorang pemakan karnivora. Dia sangat suka memakan daging dan tidak terlalu suka dengan sayuran. Berbanding terbalik dengan istrinya, Marvin justru adalah seorang pemakan herbivora yang tidak terlalu suka menyantap daging dibandingkan dengan sayuran.
Feline dan Felice juga memiliki selera yang berbanding terbalik. Mungkin selera mereka juga diturunkan dari orang tua mereka. Feline sangat menyukai daging, terutama daging ikan sementara Felice lebih suka mengkonsumsi sayuran. Tentu saja ini hanya selera, bukan berarti Felice tidak bisa menerima daging. Di kehidupan sebelumnya, setelah Felice tinggal di Amerika, dia perlahan mengubah dirinya untuk menyesuaikan diri dengan budaya orang Eropa. Kesempatan untuk makan sayuran sangat jarang jadi setelah kelahiran kembalinya, Felice menghabiskan waktunya untuk menikmati sayuran yang dulu sulit dimilikinya.
Melihat kasih sayang kaku dari suaminya, senyuman Julia semakin manis dan dia memindahkan setiap sayuran yang ada di piring ke piring suaminya dalam jumlah yang besar hingga menggunung dan berkata dengan lembut, "Kamu juga, makan lebih banyak. Belakangan ini kamu semakin kurus."
Perilaku tidak terduga Julia membuat cuping telinga Marvin memerah tanpa terkendali meskipun wajahnya tidak memiliki jejak rona apa pun. Felice dan Feline diam-diam menatap interaksi manis kedua orang tua mereka. Ini bukan pertama kalinya kedua orang tua mereka bertingkah laku seperti ini. Kadang Marvin akan bertindak sangat lembut dan menunjukkan tindakan hangat kepada keluarganya, namun terkadang pria ini juga akan berperilaku sangat kaku.
Dan di saat Marvin sedang berada dalam fase kaku, Julia akan berbalik menunjukkan kasih sayangnya yang besar kepada sang suami seperti pasangan yang baru jadi. Kemudian yah... kejadian inilah yang terjadi.
Kadang Felice kagum dengan ketajaman Julia. Ibunya benar-benar memiliki mata yang hebat hingga bahkan ayahnya yang turun satu kilo bisa dideteksi oleh sang ibu sebelum Marvin bahkan menyadari kalau berat badannya turun.
Keluarga yang beranggotakan empat orang itu menikmati makan malam yang penuh kasih dan harmonis dengan perasaan manis yang berkibar di hati mereka.