The Second Life

The Second Life
CHAPTER 9



"Aduhh.." rintihan kesakitan dari seorang bocah lelaki berusia sekitar 5 tahun dengan warna rambut hitam pekat dan mata berwarna semerah darah memiliki kulit putih dan wajah mungil yang imut di dalam hutan, dia merintih kesakitan karena tersandung akar pohon.


Langit yang telah berwarna jingga kemerah-merahan dan sebentar lagi akan berganti dengan kegelapan malam menambah susana menyeramkan di dalam hutan. Anak kecil itu menangis menahan rasa sakit dan ketakutan.


Di sisi lain hutan Violeta mendarat tidak jauh dari lokasi anak itu dia meminum ramuan untuk memulihkan kekuatan sihir yang digunakan dia saat terbang sedari tadi. Dia kemudian duduk di atas akar pohon yang lumayan besar, dia mengambil buah apel dari dalam ruang penyimpanan dan beristirahat sambil memakan buah apel.


Tidak lama sampai dia mendengar suara isak tangis kecil karena rasa penasaran dia berjalan ke asal suara tangisan itu, dia mendapati seorang bocah mungil yang duduk sambil memegang kakinya yang memar dengan penampilan kotor wajah dan baju bocah itu di tutupi tanah. Violeta pun berjalan mendekati bocah itu.


Merasa ada yang berjalan mendekatinya bocah kecil itu mengangkat wajahnya melihat siapa yang datang, saat bocah kecil itu melihat Violeta yang mengenakan tudung hingga menutupi sebagian wajah membuat bocah itu tambah ketakutan.


"Jangan takut" ucap Violeta lembut dia membuka tudung kepala memperhatikan wajah yang indah dan rambut perak yang unik miliknya.


"Kakak peri" ucap bocah itu memandang Violeta dengan mata besarnya yang membuat dia sangat imut. Violeta yang mendengar ucapan bocah itu hanya tertawa kecil.


"Aku bukan peri adik kecil" kata Violeta berjongkok menyamai tingginya dengan tinggi bocah kecil itu.


"Apa kau tersesat?" tanya Violeta dengan ramah, dia mengangkat bocah kecil itu kemudian mendudukan dia dengan baik. Bocah itu menganggukan kepalanya.


"Ini sakit?"tanya Violeta menunjuk kaki anak kecil itu dan hanya di balas anggukan. Violeta kemudian meletakan telunjuknya ke atas pergelangan kaki bocah kecil yang memar dan muncul cahaya biru terang.


Bocah kecil itu segera berhenti menangis dia merasa kakinya telah membaik.


"Kakak seorang pengihir?" tanya bocah kecil itu dengan semangat Violeta tersenyum kecil menanggapi pertanyaan bocah itu.


"Kakimu tidak sakit lagi kan?" Tanya Violeta.


"Iyaa kakak cantik" jawab bocah itu dengan anggukan. Violeta lagi-lagi terkekeh dengan tingkah imut bocah itu.


"Sapa namamu adik kecil?" tanya Violeta lagi.


"Namaku Theo Fernando xendrick kakak cantik dapat memanggilku Theo, lalu nama kakak cantik siapa?"


"Violeta Olin kamu bisa memanggilku Leta" sambil mengusap kepala Theo lembut.


"Kakak memiliki nama yang sangat cocok dengan warna mata kakak" puji Theo


"Kau juga memiliki mata yang indah" ucap Violeta yang membuat Theo tiba-tiba kembali terisak.


"Heii kenpa kamu menangis lagi?" tanya Violeta bingung dengan Theo yang tiba-tiba menangis. Theo tidak menjawab pertanyaan Violeta dia hanya terus menangis, Violeta yang tidak tega melihat Theo seperti itu dia kemudian memeluk Theo mencoba menenangkannya.


Theo yang belum pernah mendapatkan dekapan hangat seperti itu perlahan-lahan mulai tenang dan berhenti menangis walaupun telah berhenti menangis Theo tidak ingin melepaskan pelukan Veolita dia terus menikmati kehangatan itu.


"Ingin bercerita kenapa kau menangis?" tanya Violeta dengan lembut. Akhirnya Theo melepaskan pelukan dan menceritakan penyebab dia menangis.


"Kakak adalah orang pertama yang memuji dan berani menatap mataku, setiap orang yang melihat mataku mereka akan ketakutan dan mereka akan menjauhiku karena rasa takut mereka, itu sebabnya aku selalu kesepian" ucap Theo sedih.


"Jangan pedulikan mereka, kau memiliki aku yang akan menemanimu, sekarang kita adalah teman dan kamu tidak sendiri lagi" ucap Violeta tersenyum mengacak-acak rambut Theo.


"Terima kasih kakak cantik" ucap Theo tersenyum lebar dia sangat bahagia.


"Lalu kenapa kau bisa sampai tersesat di dalam hutan?" tanya Violeta penasaran.


"Aku menemani ayahku pergi berburu dengan para pengawal, tetapi karena aku mendengar bahwa di sini terdapat peri jadi aku pergi untuk melihat-lihat aku tidak menduga akan tersesat seperti ini" jelas Theo panjang lebar.


"Yaaa memang di sini ada peri, jika kau mau aku akan membawamu bertemu dengannya besok setelah itu aku akan menemanimu untuk menemukan ayahmu, sekarang ayo kita makan dan berkemah di sini saja" ucap Violeta. Theo yang mendengar itu dia mengangguk antusias, kemudian Violeta berdiri dan menggandeng tangan kecil Theo.


Setelah memasak Violeta memanggil memanggil Theo untuk makan dan kemudian dia juga memanggil Aurora Menggunakan Sihir pemanggil.


"Kenapa kau memanggilku?" tanya Aurora saat dia muncul dari lingkaran sihir.


"Aku membutuhkan bantuanmu, kau harus mendapatkan pakaian baru untuk anak kecil itu" ucapnya menunjuk Theo yang masi asik memakan makanannya dengan lahab.


"Baiklah" ucap Aurora singkat saat dia ingin kembali Violeta menahannya.


"Ah..satu lagi jang beritahukan kedatangnku di hutan peri kepada Avery" ucap Violeta tersenyum jahil. Aurora Membalasnya dengan anggukan kemudian dia menghilang.


Violeta pun manyantap makan malamnya bersama Theo, setelah selesai makan malam mereka Aurora muncul membawa sepasang baju dan celana yang di minta Violeta tadi.


"Ini pakaian yang kau minta tadi" Aurora menyerakan sepasang baju dan celana kepada Violeta.


"Terimakasih kau bisa kembali sekarang" Ucapnya mengambil pakaian yang di berikan oleh Aurora. Aurora mendengus kesal dengan sifat menyebalkan Violeta dia kemudian hanya menghilang begitu saja tanpa berkata apapun.


"Theo kemari" panggil Violeta, Theo yang sedang duduk di depan perapian dia kemudian berdiri dan berjalan mendekati Violeta.


Violeta mengayunkan jari telunjuk, air yang entah dari mana menyelimuti sekujur tubuh Theo membersihkan badannya dari tanah yang menempel di tubuhnya itu. Theo yang basah kuyup merasa kedinginan tidak lama sampai Violeta menjentikan jarinya membuat Theo yang tadinya basah telah mengering


"Waaaoooo kakak kau sangat hebat" jerit Theo yang terlalu takjub matanya berbinar-binar kagum.


"Sekarang ganti pakianmu itu di dalam" ucap Violeta menyerahkan sepasang baju dan celana yang di berikan Aurora tadi. Theo menerima pemberian Violeta kemudian dia masuk ke dalam tenda yang didirikan Violeta. Tak lama Theo keluar dari tenda dengan penampilan rapi dan bersih.


"Kau tambah menggemaskan jika seperti ini" ucap Violeta mencubit pipi Theo gemas.


"Ini sudah terlalu malam, tidak baik untuk pertumbuhanmu jika kamu tidur terlalu larut" Violeta mengajak Theo kembali ke dalam tenda untuk tidur. Dia juga tidak lupa untuk memadamkan perapian yang masih menyala.


Di dalam tenda yang tidak terlalu besar berisikan peralatan tidur lengkap dengan kasur empuk beserta bantal dan selimut. Violeta menyiapkan semua itu agar membuat perjalanannya menjadi lebih nyaman ini semua juga berkat kantong penyimpanan yang membuat dia mudah untuk menyimpan banyak barang dengan berbagai ukuran tanpa perlu merasa berat untuk membawa barang-barang itu dalam perjalanannya.


"Ingin kakak ceritakan sebuah dongeng untukmu?" tanya Violeta.


"Benarkah kakak bisa menceritakan sebuah dongeng?" tanya Theo sedikit tidak percaya.


"Tentu saja aku bisa menceritakan dongeng untukmu" jawab Violeta bangga.


"Kakak Leta kau sangat hebat, kamu bisa melakukan apa saja dan juga memiliki banyak keajaiban. Seandainya kakak bisa terus bersama denganku" kata Theo bersemangat dan di akhir kalimatnya dia tampak sedikit sedih.


"Tenang saja aku akan mengunjungimu kapan-kapan" ucap Violeta tidak tega meilhat Theo bersedih. Dia mengeluarkan sebuah kalung dan mengenakannya di leher Theo.


"Kalung ini akan memudahkan aku menemukanmu di manapun kau berada" katanya lagi.


"Aku akan selalu mengenakan kalung ini" Theo memegang kalung yang berada di lehernya.


"Sekarang aku akan menceritakan sebuah kisah yang berjudul Beauty and the Beast" ucap Violeta.


Theo segera memposisikan dirinya berbaring senyaman mungkin melihat Theo sudah mendapatkan posisi berbaring yang nyaman dia kemudian lanjut menceritakan dongeng hingga di akhir dongeng Theo tertidur pulas.


Violeta memperbaiki posisi selimut Theo dia menikan selimut hingga ke leher Theo kekudian mengecup kening Theo dan berbisik.


"Mimpi indah Theo kecil" Violeta menyus Theo ke alam mimpi dia tidur sambil memeluk Theo hingga pagi.