
Aku turun dari kereta kuda lalu disambut oleh Duchess Harriston di depan Kediamannya. Chloe dan Holly tidak menemaniku atas permintaanku sendiri yang ingin pergi sendirian.
Sepertinya Duchess Harriston berniat membicarakan hal penting. Mengingat tadi malam dia hanya mengundangku saja di depan Idris dan pasangan Grand Duke.
“Selamat datang Nona Winston,” sambut Duchess Harriston. “Silahkan masuk.”
Aku tersenyum ramah. “Panggil saya seperti biasanya saja, Duchess. Tidak perlu ada jarak formalitas di antara kita.”
“Baiklah, Nona Charlotte.”
Kuikuti Duchess Harriston bersama dengan dua orang pelayannya di belakang kami. Duchess Harriston mengajakku masuk ke dalam rumah kaca. Kami duduk di kursi yang sudah di sediakan dan para pelayan pun menyuguhi kami dengan teh dan kue.
Begitu selesai, Duchess Harriston lalu kemudian menyuruh para pelayannya keluar dari rumah kaca agar memberi ruang untuk kami berduaan.
“Nona Charlotte, sebenarnya ada yang ingin kuminta darimu,” ucap Duchess.
“Apa itu, Duchess Harriston?” tanyaku penasaran.
“Awalnya aku tidak ingin meminta tolong pada Nona Charlotte, tapi karena saat itu pada makan malam Nona Charlotte terlihat bisa diandalkan, aku jadi berubah pikiran.”
Aku mengangguk paham. “Tidak perlu berbasa-basi lagi, Duchess Harriston.”
“Intinya ini soal beberapa kabar dari rakyat yang beredar cukup lama,” kata Duchess. “Ada banyak sekali aduan yang ditujukan untuk Kekaisaran soal kasus hilangnya beberapa rakyat Vanhoiren.”
“Hilang?” Selama ini aku tidak pernah mendengar kasus seperti itu. “Tolong ceritakan lebih rinci soal itu, Duchess Harriston.”
“Nona Charlotte tahu sendiri jika bisnis suamiku bergerak di bidang kesehatan. Kami punya beberapa klinik kecil maupun besar yang tersebar untuk semua kalangan,” jelas Duchess. “Para pekerja di klinikku sering mendapat aduan dan cerita dari para rakyat jika teman maupun keluarga mereka menghilang.”
“Ini semua terjadi beberapa tahun belakangan ini. Kasusnya sudah dibicarakan dengan Yang Mulia Kaisar dan bahkan Yang Mulia Putra Mahkota. Tapi, mereka belum menindaklanjuti hal ini dan malah terlihat seperti menutup-nutupinya,” lanjut Duchess.
Jelas sekali ini adalah hal yang aneh. Jika sudah dilaporkan tapi tetap diabaikan seperti itu, berarti ada hal yang ditutupi. Apa ada hubungannya dengan Selir Sienna? Aku jadi teringat dengan kematian Kaisar di masa lalu. Aku juga harus menyelidikinya. Apakah menunggu Hendery kembali terlebih dahulu? Atau meminta Kaisar untuk minum teh bersama? Idris juga tidak banyak bicara soal kesehatan Kaisar dan perkembangan kesehatannya. Aneh.
“Nona Charlotte?”
“Uhm, maafkan saya, Duchess. Saya malah tenggelam dalam pikiran saya sendiri,” ucapku mengaku. “Apakah Duchess sudah mencoba untuk menginvestigasi kasus ini sendiri?”
Duchess mengangguk. “Orang-orang terpercayaku sudah berusaha untuk menginvestigasi hal ini, tapi para prajurit Kekaisaran sering mengganggu proses investigasinya hingga tidak bisa menemukan bukti apa pun. Para pengadu juga langsung tutup mulut dan berkata untuk tidak perlu mengkhawatirkan hal tersebut.”
“Mungkin disuap,” kataku dengan nada rendah. “Dan yang menyuap adalah anggota Kekaisaran.”
“Tapi untuk apa?” tanya Duchess.
“Saya belum yakin, Duchess Harriston. Tapi serahkan saja hal ini pada saya. Saya akan meluangkan waktu dan mulai menyelidikinya. Duchess Harriston tenang saja,” jawabku.
Duchess Harriston. “Baiklah. Jika Nona Charlotte butuh bantuanku, tolong langsung beritahu saja. Aku pasti akan membantu Nona Charlotte sebisa mungkin.”
“Saya akan mengingatnya, Duchess Harriston.”
*
Chloe dan Holly menunduk saat aku tiba dengan kereta kuda sehabis dari Kediaman Duchess Harriston. Aku masuk ke dalam Istana Perunggu dan memanggil Holly untuk ikut denganku.
“Ada yang bisa kubantu?” tanya Holly padaku.
“Apakah aku bisa meminta pertemuan dengan Kaisar secepat mungkin?” tanyaku langsung.
“Untuk pertemuan dengan Yang Mulia Kaisar sebelum pernikahan, jadwalnya minggu depan,” kata Holly. “Itu sudah dijadwalkan paling cepat dari biasanya.”
“Hm, baiklah. Kau boleh pergi, Holly.”
Aku duduk di sofa setelah mengambil kristal komunikasi. Aku penasaran apa yang dilakukan oleh Lucas saat ini.
“Lucas?”
“Oh, Charlotte. Senang mendengar suaramu,” ucap Lucas. “Apa kabar?”
“Aku baik-baik saja. Bagaimana denganmu? Apakah kau sedang berada di ruang kerjamu lagi?”
Lucas mendesah lelah. “Aku tidak baik-baik saja karena sekarang aku sangat ingin memelukmu. Dan soal di mana aku, kau benar. Aku masih di ruang kerjaku, sendirian,” jawab Lucas. “*Ugh, a*ku ingin bertemu denganmu.”
“Kau harus bisa menahannya dan semangatlah,” kataku yang kemudian tersenyum karena mendengar Lucas merengek. “Oh ya, jangan lupa makan yang teratur juga.”
“Aku ingin disuapi olehmu.”
“Sejak kapan kau semanja ini, Lucas?”
Lucas tertawa. “Sejak aku tidak bisa bersantai dan melihatmu sesering dulu.”
“Oh, ya ampun. Fokuslah bekerja sekarang. Aku akan menghubungimu lagi nanti. Ada yang harus kubicarakan dengan Ava,” ucapku.
“Baiklah, Charlotte. Sampai jumpa,” kata Lucas.
Suara Lucas sudah tidak terdengar lagi.
“Kupikir dia akan meraung-raung untuk memintamu tidak memutus komunikasi,” ucap Ava yang muncul tiba-tiba. “Apakah ada hal penting yang ingin kau bicarakan denganku?”
“Ya, Ava. Itu benar.” Aku mengiyakan. “Tadi aku baru saja pergi ke Kediaman seorang Duchess dan menerima laporan bahwa para rakyat Vanhoiren menghilang.”
Ava mendengus sebal. “Bukannya itu hal yang biasa di Kekaisaran? Siapa tahu ada perbudakan ilegal yang tidak terlihat oleh para orang-orang Kekaisaran ....”
“Uhm, itu bisa jadi. Tapi Kekaisaran menutupi hal ini.”
“Kalau begitu, itu harus patut dicurigai.”
“Apakah itu berkaitan dengan sihir kegelapan yang mengorbankan darah?” tanyaku.
Ava tertawa. “Bisa jadi. Tapi kau juga tidak bisa menyelidiki hal ini secara sembarangan. Bersabarlah sedikit lagi.”
“Baiklah.”
“Kalau begitu, aku mau makan dulu. Bye!”
Ava memutuskan hubungan komunikasi kami tanpa menunggu aku bicara apapun. Setelah itu aku menyimpan kembali kristal komunikasiku dan beristirahat sejenak.
Jadwalku ke depannya akan semakin padat lagi. Di sela-sela istirahatku, otakku tak henti-hentinya memikirkan masalah yang terjadi di Kekaisaran Vanhoiren. Masalah yang dahulu tak pernah kudapatkan malah muncul secara bergiliran di masa sekarang.
Aku memijit pelan keningku yang tegang lalu akhirnya memilih keluar dari kamar dan mencari udara segar di halaman belakang. Chloe diam-diam mengikutiku tanpa berkata apa pun. Aku juga enggan mengatakan sepatah kata pun dan melihat bunga mawar yang ditanam di halaman belakang.
Mengingatkanku pada wanita yang tak ingin kulihat. Rose Hindley.
Dia orang yang paling membuatku bingung dengan segala hal yang dia lakukan. Tidak biasanya juga Idris memberiku bucket bunga jikalau bukan tanpa alasan. Perhatiankah? Atau mungkin sebuah tanda?
Firasatku berkata jika aku haruslah memikirkan Rose lebih dari sekedar tahu saja. Apalagi soal keterkaitannya dengan Selir Sienna masihlah abu-abu.
Aku benci hal-hal rumit. Membuat perutku sakit.