The Second Life

The Second Life
LIX - Bincang Malam



Isaac meletakkan cangkir teh terakhir di atas meja sebelum akhirnya meninggalkan kami bertiga di ruangan ini. Kulihat wajah Lucas yang memancarkan kebahagiaan sejak aku datang. Aku tidak tahu apa yang dia pikirkan saat ini.


Berbeda dengan Ava, dia sama sekali tidak menunjukkan ekspresi apa pun. Yang ada hanya wajah datar dan sorot mata yang tertuju pada cangkir tehnya. Kami saling diam untuk beberapa saat. Dan aku memilih untuk menyesap teh buatan Isaac yang nikmat ini.


“Aku sudah punya tempat yang bagus untuk meletakkan portal-ku,” ucap Ava.


Aku menatapnya. Menunggu Ava melanjutkan ucapannya yang masih menggantung. Sesekali aku melirik Lucas yang ternyata sedang menatapku terang-terangan. Aku tersenyum simpul padanya.


“Di salah satu ruangan ada sebuah tempat rahasia. Apa kau tahu sesuatu tentang itu, Ra-tu?” Ava bertanya dengan sedikit nada mengejek. Begitulah sifatnya. Meskipun sudah tua dan seharusnya keriput, Ava tetap saja bertingkah seperti anak remaja yang sedang dalam masa pubertas.


“Aku tidak tahu soal itu,” jawabku seadanya.


“Itu ada di kamar samping. Aku bisa melihat celah kecil yang ditutupi oleh rak buku. Persis seperti ruangan rahasia yang ada di Istana Perunggu,” kata Ava. “Setelah si Kaisar pergi, kita bisa memasang portal di tempat itu. Aku juga sudah menyamarkan portal yang ada di kamar mandimu. Jadi, jika ada orang yang masuk ke dalam sana, pasti tidak akan dapat melihatnya.”


“Nenek Ava memang hebat,” puji Lucas.


“Entah mengapa aku senang dan kesal dengan pujianmu, Raja,” ucap Ava sambil berdecak kesal. “Ini sudah malam. Akan lebih baik jika Raja segera pulang dan beristirahat di istana.”


Lucas cemberut. “Oh, ayolah. Bagaimana bisa kau mengusir Raja wilayahmu sendiri? Kalau bukan orang dalamku, pasti Nenek sudah dipenggal.”


Pukulan keras mendarat di kepala Lucas.


“Mana bisa kau memenggalku, anak s*alan!” bentak Ava. “Kalau memancing emosiku lagi, Raja harus pulang.”


“Baiklah, Nenek. Aku akan jadi anak yang manis ...,” ucap Lucas dengan wajah meledek.


“Lebih baik kita fokus saja pada langkah kita selanjutnya,” kataku yang mencoba menengahi. “Bagaimana dengan rencana menyelamatkan Isla?”


Ava merenung. “Benar juga. Aku sudah lama memikirkan hal itu. Tapi ..., kemungkinan Isla selamat hanyalah 30 persen. Apa kau bisa menerimanya?”


Apa yang dikatakan oleh Ava ada benarnya juga. Rentang waktu hilangnya Isla sudah lebih dari berbulan-bulan. Ditemukan sekarat saja sudah sangat baik. Apalagi yang menyekap Isla adalah Selir Sienna. Kami tidak pernah tahu apa yang dilakukan oleh Selir Sienna terhadap Isla.


“Aku tetap ingin menyelamatkannya,” kataku penuh tekad.


“Baik, setelah memasang portal di Istana Ratu, kita akan masuk ke tahap berikutnya. Jadi, bersabarlah,” ucap Ava.


Aku pun mengangguk paham.


“Sudah jam segini, lebih baik Raja segera pulang sebelum dicari oleh orang tuamu,” ucap Ava.


“Aku ingin tetap di sini ...,” tolak Lucas.


Bisa kurasakan hawa kesal Ava dari tempatku duduk.


Ava berdiri dan melotot pada Lucas. “Cepat pergi sekarang ... atau aku akan mengadukan tindakan Raja hari ini pada si cerewet ....”


Si cerewet?


“Tangan kananku yang baru dilantik dua hari yang lalu,” jawab Lucas, yang mendengar isi pikiranku. “Dia sangat cerewet dan merupakan cucu Ava.”


“Ya, setidaknya dia cucuku, meskipun hanya cucu jauh saja ...,” kata Ava, mengakui.


“Nenek kan single sejak lahir. Satu-satunya orang yang menarik perhatian Nenek pun malah memilih orang lain. Sungguh menyedihkan,” ucap Lucas dengan nada mengejek.


“Oh ..., jadi Ava belum menikah?” tanyaku kaget.


“Anak br*ngsek!” teriak Ava. “Kalau bukan Raja ... sudah kujadikan tikus kau ....”


“Sudahlah, Nek. Aku tahu Nenek tidak berani melakukan hal itu pada keluarga Kerajaan. Jangan marah-marah, nanti cepat tua. Aku kan mengatakan hal yang sebenarnya ....”


Kurasa Lucas terlalu berlebihan. “Lucas, pulanglah. Kau harus istirahat. Pekerjaanmu masih menumpuk, kan?” Aku menatap Lucas tanpa berkedip.


“Apa sekarang kau membela Nenek Ava?”


“Aku berada pada pihak yang netral. Akan lebih baik kau pulang sekarang agar Ava tidak memarahimu terus-menerus,” kataku pelan.


“Aku masih merindukanmu ...,” ucap Lucas.


“Kalau begitu, kenapa daritadi meledekiku terus dan bukannya bermesraan dengan Charlotte?!” Ava kembali duduk di sofa.


“Dan aku juga ingin istirahat. Hari ini aku sangat letih,” kataku. “Maaf, Lucas.”


Lucas menghela nafas, lalu mengangguk. “Baiklah, Charlotte. Kalau begitu, aku pergi dulu.”


“Hati-hati di jalan, Lucas,” kataku sambil tersenyum.


Lucas balas tersenyum dan menghampiriku. Kemudian, dengan cepat ia mengecup keningku lalu akhirnya pergi meninggalkan aku dan Ava.


“Dasar budak cinta,” desis Ava.


“Kita tidak boleh mengabaikan kekuatan cinta. Cinta bisa membuat orang melakukan apa pun yang tidak bisa diterima oleh nalar. Baik tindakan yang baik ... maupun yang jahat,” ucapku pada Ava.


Ava melipat kedua tangannya. “Aku tidak paham hal seperti itu. Dan aku tidak akan pernah bisa paham.”


“Apa karena berkat yang diterima oleh Anda?”


“Bagaimana, ya .... Hidupku yang sangat membosankan ini adalah berkat yang diberikan oleh Dewi Kebajikan.” Ava terlihat menerawang. “Cinta adalah hal yang tidak akan aku miliki ..., dan hal itu mencakup nafsu duniawi. Awalnya aku punya, tapi sekarang tidak.”


“Kenapa?” tanyaku bingung.


“Aku tidak ingin membahasnya lebih dalam. Lebih baik kau tidur. Menikah dan naik takhta dalam waktu sehari pasti melelahkan, bukan? Isaac sudah menyiapkan kamar untukmu,” kata Ava.


Benar, juga. Tidak seharusnya aku menggali masa lalu Ava. Lagipula kami tidaklah dekat. Meski berada di kubu yang sama, tetap saja ... kami bukan orang yang berada di wilayah yang sama. Ava membenci wilayah Utara, dan aku adalah orang dari wilayah Utara.


Untuk akrab dengan Ava, mungkin membutuhkan waktu yang lama. Atau tidak sama sekali.


“Baiklah.” Aku berdiri bersama dengan Ava; dan keluar dari ruang tunggu Menara Serikat Sihir.


Saat keluar, Isaac sudah menunggu di luar. Ava kembali ke ruangan pribadinya, sedangkan aku diantar oleh Isaac ke ruangan yang akan kupakai tidur. Ruangannya adalah ruangan yang kupakai saat aku menetap di menara dulu. Semuanya tidak berubah dan aku jadi bernostalgia.


“Jika butuh sesuatu, tolong bunyikan saja bel di atas nakas,” ucap Isaac.


“Baik. Terima kasih, Isaac.”


Isaac akhirnya pamit undur diri. Sekarang ..., aku benar-benar sendirian. Kubuka lemari yang ada di ruanganku dan mendapati sebuah piama untuk kupakai. Aku langsung memakai piama itu dan naik ke atas tempat tidur.


Ranjangnya sangat nyaman. Lebih nyaman dari ranjang mana pun. Aku tahu ada sihir yang diberikan Ava agar aku bisa lebih nyenyak saat tidur. Aku berterima kasih akan hal itu.