The Second Life

The Second Life
LXXI - Pemecatan Massal



Anna menyambutku di depan istana saat aku turun dari kereta kuda bersama dengan Hendery. Aku membiarkannya dan langsung masuk ke dalam istana dengan dagu terangkat. Sambil berjalan, aku mencoba mengingat-ingat beberapa hal yang perlu aku ingat di masa lalu. Semua hal penting menyangkut check up buku besar istana.


Aku menghempaskan bokongku ke kursi kulit di ruang kerja baruku. Buku kas istana dan buku besarnya sudah selesai kubandingkan. Kini, tinggal tahap eksekusinya saja.


“Tolong panggilkan Anna kemari,” pintaku pada Hendery.


“Baik, Ratu,” ucap Hendery yang kemudian pergi meninggalkanku sendirian.


Tak lama aku menunggu, Hendery kembali bersama dengan sang Kepala Pelayan, Anna. Aku menatap kedatangannya dan tersenyum senang. Anna yang menangkap senyumanku itu, hanya bisa menunduk. Aku menggebrak meja kerjaku agar dia menatap mataku.


“Kau tahu kan, maksud dari panggilanku ini?” Aku bertanya kepadanya, berharap jika Anna punya rasa tahu diri tentang kesalahannya sendiri.


“Sa-saya tidak tahu apa pun, Ratu ...,” ungkap Anna.


Pembohong!


“Sudah dua tahun kau menjadi Kepala Pelayan di istana ini, dan dari apa yang sudah kudapatkan, dalam dua tahun ini ... kas istana tidak sesuai dengan apa yang dicatat di buku besar,” ucapku tegas. “Ada 100.000 keping emas yang menghilang secara ajaib. Apa kau bisa menjelaskan hal itu kepadaku?”


Bukannya menjawab, Anna malah bersujud di lantai. Dia tidak berani mengangkat kepalanya dan tetap berada di posisi itu meski sudah kuperintahkan untuk berdiri. “Ratu ..., maafkan saya .... Saya tidak tahu apa pun! Percayalah pada saya!” seru Anna.


Seringaian tak luput dari bibirku saat mendengar pengakuan Anna. “Hoo, benarkah? Kau tidak tahu apa-apa tentang kas istana yang kau sendiri kelola selama ini?” Aku bertepuk tangan karena kagum dengan keluguan pura-puranya. “Kudengar kau membeli sebuah rumah besar di tengah kota. Harganya pun cukup besar. Berapa ya kira-kira? Ah, kalau tidak salah... 100.000 keping emas. Kebetulan sekali, bukan?”


Anna mengangkat wajahnya, dan hal itu membuatku semakin muak. Bisa-bisanya makhluk seperti dia masih bisa memasang wajah tanpa dosa di hadapanku. Apa dia pikir aku adalah anak kecil kemarin sore yang tidak tahu kelicikan duniawi?


“Ratu ..., itu semua tidak benar!” Anna tetap keukeh pada pendiriannya.


“Diam!” teriakku emosi. “Sudah salah masih saja mengelak. Jika kau masih tidak mau mengaku, akan kuhukum gantung kau sekarang juga! Apa kau tidak punya pikiran sama sekali? Apa gajimu sendiri tidak cukup untuk membiayai kehidupan mewahmu? Kelakuan orang-orang seperti dirimulah yang membuat rakyat sengsara.”


Anna bungkam.


“Kalau kau tidak mengaku sekarang juga, aku pastikan kau akan mati dengan sengsara,” ancamku pada Anna.


“Be-benar ...,” kata Anna akhirnya. “Sa-saya mengambil uangnya.”


“Bagus,” ucapku senang. “Jika kau mengaku dari awal, aku tidak perlu repot-repot memberikanmu ancaman yang tidak perlu. Mulai detik ini, kupecat kau dari jabatan Kepala Pelayan. Mengenai rumahmu yang seharga 100.000 keping emas itu, akan kusita. Sekarang, bereskan pakaianmu dan angkat kaki dari sini.”


Gendang telingaku serasa ingin pecah karena teriakan memohon Anna. Kuberikan kertas berisi para pelayan dan staf istana kepada Hendery untuk minta dipanggilkan. Anna diseret keluar oleh Hendery, dan setelah itu, aku menunggu lagi di dalam ruang kerjaku.


Satu per satu yang kuminta panggilkan datang menghadapku. Banyak sekali kesalahan demi kesalahan yang mereka lakukan dan tidak terjamah atau bahkan dibiarkan oleh mendiang Ratu XIX. Jika dibiarkan, aku sendiri yang akan kena getahnya. Bisa-bisa aku dicap sebagai Ratu yang suka korupsi dan lalai.


Penasehat Istana Ratu ketahuan menggelapkan uang sebanyak 150.000 keping emas karena judi. Lagi-lagi, dia adalah orang mendiang Ratu XIX. Dia bekerja sama dengan Anna untuk merahasiakan hal tersebut dari Kekaisaran dan dariku. Hanya Ratu yang bisa mengecek buku besar Istana Ratu.


Ada empat pelayan senior yang diam-diam menyisihkan uang saku belanja untuk kepentingan pribadi, masing-masing sebanyak 50.000 keping emas. Mereka asisten pribadi Anna.


Seorang kusir mengambil 50.000 keping emas untuk mengobati anaknya yang sakit. Tapi kemudian, dia mengambil uang sebanyak dua kali dengan nominal yang sama untuk judi.


Lima orang pelayan muda mengambil masing-masing 20.000 sampai 50.000 keping emas dari uang saku bahan pokok. Semua uang tersebut adalah hasil jarahan mereka selama dua tahun.


“Wah, Ratu seram sekali ...,” komentar Hendery saat pelayan terakhir keluar setelah kumarahi habis-habisan.


Aku mengabaikan Hendery, dan sibuk mengurus perekrutan staf baru. Semakin cepat, semakin baik. Aku tidak ingin pekerjaan di istana menjadi lumpuh karena kekurangan tenaga. Mengenai Kepala Pelayan ..., aku belum mendapat orang yang pas.


“Apa mau aku mintakan kepada dayang Ratu untuk membuatkan teh?” tawar Hendery.


“Hm? Boleh juga. Aku akan sangat berterima kasih jika Tuan Franklin melakukan hal itu,” kataku acuh.


“Kalau begitu, Ratu jangan mengabaikanku terus,” kata Hendery.


Aku melirik ke arah Hendery, tahu-tahu wajahnya sudah sangat dekat denganku. Karena kaget, aku mendorong tubuh Hendery secara reflek. Oh gosh, entah apa yang ada di otak Hendery, dia berniat menggodaku lagi?


Hendery tersenyum. “Apa Ratu gugup denganku?”


“Berhenti menggodaku, Tuan Franklin. Minta saja Matilda membuatkanku teh.” Aku berusaha mengabaikan Hendery.


“Baiklah, Ratu.” Hendery keluar dan aku pun bernafas lega.


Ah, kepalaku seperti mau pecah saja.


“Terima kasih sudah memberikanku tontonan yang menarik.”


Kutoleh ke asal suara tersebut. Itu Ava. Dia berdiri di sampingku, sepertinya dia memakai sihir menghilang hingga aku tidak menyadari kehadirannya.


“Tontonan yang menarik?” Aku mengernyitkan dahi.


“Ya, adegan seorang Ratu yang memecat para bawahannya yang korupsi,” sahut Ava. “Tapi, kalau aku jadi kau, aku pasti sudah mengeksekusi mereka semua di depan para rakyat. Tikus menjijikkan seperti mereka tidak pantas diberi kebaikan, apalagi diberikan kesempatan untuk hidup.”


Aku menatapnya ngeri. “Apakah orang yang diberkati Dewi Kebajikan memiliki sisi sadis seperti ini?”


“Heh! Kau menyindirku, ya?” Ava cemberut.


“Tidak,” elakku.


“Lupakan saja. Omong-omong, aku mau mengecek keadaan Isla malam ini. Apa kau mau ikut?” tanya Ava.


“Bukannya berbahaya jika dia tahu kehadiranku?”


“Kau tahu kan jika aku punya ramuan yang dipakai oleh Lucas tadi? Kau bisa minum itu dan tidak ada satu umat pun di muka bumi ini yang bisa mengenalimu,” kata Ava.


“Tapi tadi aku mengenali Lucas,” kataku berusaha menggoda Ava.


Ava berdecak kesal. “Itu kan karena kalian dekat. Jadi, kau mau ikut atau tidak?”


Aku mengangguk. “Ya. Aku ikut.”