
Felice berjalan di koridor belakang sekolah yang terletak lebih dekat dengan taman sekolah. Dia sedang tidak mood untuk kembali ke kelas dan melanjutkan pelatihan psikologis yang dijadwalkannya.
Gadis kecil itu berjalan menuju ujung koridor dan menuruni tangga, ketika melihat pemandangan di taman dari atas, Felice menghentikan langkahnya. Rencana awal untuk duduk di taman langsung dibatalkan saat Felice melihat beberapa orang yang berkeliaran di sana.
Felice memalingkan pandangannya dan dengan tegas berbalik untuk kembali menaiki tangga. Dia berkeliaran di koridor sendirian seperti burung yang kesepian. Tentu saja hanya sebuah fasad, bukan berarti Felice memiliki hati rapuh seperti itu.
Setelah beberapa belokan yang menghindari tempat banyak orang berkumpul, Felice akhirnya berakhir di perpustakaan sekolah mereka. Dia melihat tas plastik yang berisi jajanan di tangannya dan simbol larangan untuk membawa makanan atau minuman yang ditempel di depan ruangan perpustakaan, Felice mengangkat bahunya dan melenggang masuk tanpa terlihat bersalah meskipun sudah melanggar aturan.
Gadis kecil itu memilih tempat di ujung ruangan yang berada di titik buta CCTV perpustakaan. Untungnya hari ini guru yang menjaga perpustakaan juga ikut merayakan acara jadi perpustakaan saat ini hanya memiliki Felice seorang sebagai pengunjung.
Felice meletakkan barang-barangnya di meja sebelum pergi ke rak untuk mencari novel bergenre misterius yang memiliki aliran detektif di dalamnya. Tangannya mengeluarkan sebuah buku setebal empat centimeter dan dengan mudah mengangkatnya menggunakan satu tangan seperti sedang menggenggam buku tulis biasa.
Dia membuka halaman terakhir yang sebelumnya sudah dibacanya dan lanjut memuaskan rasa keingintahuan kecilnya tentang kisah yang masih gantung di benaknya tersebut. Sambil membaca novel, gadis kecil itu membuka kantong kripik sebagai pelengkap suasana saat ini.
Untuk sesaat Felice merasa suasana lingkungannya cukup nyaman hingga suara asing lain datang menginterupsi momen pribadinya.
Telinga kecil Felice sedikit bergerak saat suara langkah kaki yang tampaknya sengaja diringankan masuk ke telinga tajamnya.
Dua orang.
Tepat saat pikiran itu terlintas di benak Felice, kecurigaannya dibenarkan saat bayangan dua orang dewasa yang masuk melalui pintu perpustakaan terpantul ke jendela kaca di dekatnya.
Felice saat ini duduk di posisi ujung ruangan yang cukup tertutup sehingga kehadirannya saat ini agak tersembunyi, namun dari jangkauan penglihatannya dia masih bisa melihat sekilas bayangan pendatang baru yang terpantul samar di kaca hitam jendela perpustakaan.
Gadis kecil itu diam-diam memindahkan makanan ringan miliknya yang diletakkan dengan berantakan di atas meja. Pikiran kecil Felice agak tidak puas dengan interupsi dua orang dewasa yang tiba-tiba ini. Akan jadi masalah kalau dia tertangkap menyelundupkan makanan ke dalam perpustakaan. Padahal tadi dia sengaja menggunakan tubuhnya untuk menutupi barang seludupan yang diam-diam dia simpan dari tangkapan CCTV.
Haih... kenapa dua guru ini harus datang ke perpustakaan di jam beginian. Memangnya mereka tidak punya kerjaan?
Di sekolah ini semua siswa pada dasarnya adalah anak SD, jadi hanya ada guru dan staf sekolah lain yang merupakan orang dewasa di bangunan ini. Dari langkah kaki yang masuk, jelas-jelas salah satunya memakai hak tinggi. Hanya ada guru wanita di sekolah ini yang memakai sepatu high heels.
Apalagi kan biasanya yang masuk ke perpustakaan hanya siswa dan guru. Jadi sudah jelas siapa pendatang baru ini. Hanya saja tindakan mengendap-endap ini agak mencurigakan. Felice tidak tertarik melihat atau mendengar masalah orang lain apalagi yang bersifat 'rahasia', tapi dari posisi dua guru ini mereka sekarang sedang berdiri di dekat pintu. Kalau dia keluar sekarang maka dia pasti akan ketahuan.
"Bagaimana? Sudah ketemu?"
Suara seorang wanita yang sengaja ditekan lebih rendah dan membawa ketegangan serta keseriusan dalam, mengalir ke telinga Felice yang tidak memiliki kemampuan untuk mem filter suara di sekitarnya yang masuk.
Felice menghela nafas secara mental, seperti yang dia duga ada yang tidak beres dengan pertemuan dua guru ini. Felice bukanlah orang yang kurang kerjaan, dia juga tidak tertarik mendengarkan konspirasi orang lain secara diam-diam seperti penguntit jadi dia berencana menutup sebelah mata dan telinganya terhadap pemandangan yang terjadi di depannya.
"Tidak. Pintunya terkunci jadi aku tidak bisa masuk."
Suara rendah khas laki-laki terdengar sebagai jawaban atas pertanyaan guru wanita tersebut.
Dari dua dialog itu saja bau-bau keburukan sudah tercium hingga ke tempat Felice. Biasanya kalau pembicaraannya sudah seperti ini berarti entah itu kasus mencuri dan memperdagangkan soal ujian, atau diam-diam mengambil file milik rekan kerja lain, atau mungkin bahkan mencuri dokumen penting terkait sekolah. Mungkin ada kasus lain juga dan kemungkinan kasus tersebut pasti tidak lebih baik dari dugaan sebelumnya.
"Seharusnya tidak mungkin. Vendry biasa tidak mengunci pintu kantornya."
Felice yang berencana tinggal diam seperti figuran mati dan mengabaikan interaksi gelap yang terjadi di depan matanya, langsung menghentikan pengulangan rumus fisika di kepalanya. Satu kata 'Vendry' sudah cukup membuat gadis itu mengalihkan perhatiannya kembali kepada dua orang asing yang diduga melakukan hal-hal gelap.
"Seharusnya itu ulah Ella. Hanya dia yang pasti bisa seenaknya masuk keluar kantor Vendry dan memegang kunci cadangan," ujar suara guru laki-laki.
Felice menyipitkan matanya dengan malas, dari dialog-dialog ini dia sudah mengumpulkan potongan informasi tidak lengkap. Pertama, ada guru lain yang ingin secara diam-diam mengambil barang Vendry dengan memanfaatkan kesempatan saat wali kelasnya tidak ada di sekolah. Kedua, rencana itu gagal karena pintu kantor Vendry terkunci dan pelakunya diduga adalah Ella. Kalau begitu seharusnya pintu kantor Vendry dikunci setelah dia berpisah dengan kepala sekolah nya.
Yang ketiga, dari asumsi dua orang ini tampaknya Ella dan Vendry memiliki kedekatan khusus sehingga kepala sekolahnya bisa masuk ke urusan wali kelasnya tanpa izin. Beberapa fragmen kenangan tentang momen kebersamaan Vendry dan Ella terlintas di kepala Felice. Sepertinya mereka berdua memang sedikit lebih dekat...
"Tsk... wanita itu benar-benar mengganggu. Mereka berdua serius mengabaikan larangan di sekolah kan?" ujar guru wanita tersebut dengan semburan emosi ketidakbahagiaan yang terdengar jelas pada nada suaranya.
"Tidak perlu ketus seperti itu, bukankah kamu hanya cemburu dengan hubungan antara Ella dan Vendry?" ejek guru pria itu dengan emosi buruk.
"Hentikan omong kosongmu itu. Jangan kira aku tidak tahu pikiran jelekmu. Kamu sendiri hanya merasa inferior dengan keberadaan Vendry, bukankah begitu? Selain itu orang yang cemburu dengan hubungan mereka tidak lain adalah dirimu sendiri kan?" balas suara wanita itu dengan emosi yang sama buruknya.
Felice tidak bisa melihat wajah kedua orang itu, namun dia bisa menebak kalau wajah pria itu pasti sudah ditampar beberapa kali secara mental dengan kata-kata rekan wanitanya.
"Aku tidak ingin berdebat soal hal tidak penting seperti ini denganmu," ujar sang pria.
Hening terdengar selama beberapa detik sebelum suara wanita tersebut kembali terdengar, "Bagaimana pun itu caranya kita harus segera menemukannya sebelum waktu berikutnya tiba. Aku tidak tahu apa penyebab Vendry tidak masuk, tapi kita harus memanfaatkan kesempatan ini untuk segera mengambilnya."
"Aku tahu. Aku akan berusaha, tapi kamu juga harus melakukan bagianmu juga. Dengan begitu semuanya akan lebih mudah selesai," jawab pria tersebut.
Tidak lama setelah percakapan singkat itu, suara langkah kaki yang samar kembali terdengar dan Felice yang duduk di ujung ruangan dengan tenang memandang bayangan manusia yang bergerak dari kaca hitam jendela. Setelah beberapa menit berlalu, gadis kecil itu berdiri dengan suara berderit yang disebabkan oleh gesekan kaki kursi dengan lantai.
"Bahkan di kehidupan ini pun hal seperti ini masih muncul di hadapanku."
"Huh... hati manusia memang cukup rumit untuk ditebak. Ternyata ada juga yang memusuhi Vendry hingga taraf ini, kukira semua orang di sekolah ini terkena mantra tak terlihat yang membuat mereka mengidolakan orang itu tanpa sebab."
Felice mengangkat salah satu sudut mulutnya saat emosi ketertarikan yang terkesan agak malas terlintas di kedua pupil jernihnya.
"Siapa sangka orang yang dingin dan membosankan seperti Vendry ternyata memiliki hubungan tersembunyi dengan kepala sekolah. Heh..."
"Cukup tak terduga."