
“Jadi, minggu depan kalian akan membuat pesta pertunangan kalian?”
“Benar, Ayahanda. Lebih cepat lebih baik. Mengingat penobatanku tinggal beberapa bulan lagi,” kata Idris pada Kaisar. “Aku tidak ingin menunda-nunda lagi. Benarkan, Charlotte?” Dia menatapku.
Aku mengangguk. “Apa yang dikatakan oleh Idris benar, Yang Mulia Kaisar.”
Kaisar tersenyum. “Baiklah kalau begitu.” Dia tiba-tiba saja batuk keras. “Ugh, aku harus segera meminum obatku. Maaf aku tidak bisa menemani kalian berdua untuk makan malam lebih lama lagi. Tolong nikmati saja waktu kalian berdua.”
“Baiklah, Ayahanda.”
Kaisar pergi meninggalkanku dan Idris berduaan. Dalam diam, kami melanjutkan makan malam kami. Hingga akhirnya Idris buka suara.
“Apakah gaun yang kupilihkan untukmu kurang cocok dengan seleramu?” tebak Idris. Dia tidak menatapku, tapi aku tahu dia marah besar karena wajahnya sekarang sama merahnya dengan tomat.
“Apakah aku terlihat kurang cantik dengan gaun ini?” tanyaku menggoda.
“Tidak ..., bukan begitu, Charlotte.” Sekarang Idris yang gelagapan karena sikapku padanya. “Hanya saja aku agak sedih karena kau tidak memakai gaun pilihanku.”
“Maaf Idris. Ini adalah gaun yang diberikan Ayahku. Karena belum pernah kupakai, aku ingin memakainya di saat bertemu dengan calon mertuaku,” ucapku bohong.
Idris terlihat tersentuh. “Charlotte, aku pasti akan menjadikanmu Ratu yang hebat. Kau tidak akan pernah diremehkan lagi oleh Ibuku atau orang lain. Aku akan menjagamu selamanya,” ujar Idris.
Perkataan yang konyol. “Terima kasih, Idris.”
*
Idris membawaku ke dalam ruang tamu setelah selesai makan malam. Padahal kupikir jika Idris akan langsung membiarkanku pulang. Ternyata tidak semudah itu.
Sejam waktuku akan segera habis. Jika lewat, sakit kepalaku akan kembali lagi. Aku memegangi liontinku hingga menimbulkan rasa ketertarikan Idris.
“Aku baru pertama kali melihat liontin itu,” kata Idris.
“Ini dari Ibuku. Ayahku baru saja memberikannya,” jelasku. Entah sudah berapa banyak kebohongan yang kukatakan di depan Idris. “Aku selalu teringat Ibuku jika menyentuhnya.”
“Dulu kau tidak memakai liontin itu,” kata Idris berbisik. Aku masih bisa mendengarnya.
Lagi-lagi kalimat yang aneh. Saat di Hari Pemburuan, Idris juga mengatakan hal aneh yang sama. Seakan-akan dia ...
“Apakah kau juga mencintaiku?” tanya Idris.
Apa lagi yang dia inginkan? “Ya, aku mencintaimu, Idris.”
“Meskipun aku melakukan sesuatu yang bisa membuatmu tersakiti?” tanya Idris lagi.
“Berhentilah bercanda, Idris. Hari sudah mulai larut malam. Aku harus segera pulang,” kataku padanya.
“Tapi aku masih merindukanmu,” ungkap Idris. “Saat bertemu dan berduaan seperti ini pun, kau sama sekali tidak ada niatan untuk lebih mendekatiku.”
Aku tersenyum. “Semua ada saatnya. Kau hanya harus bersabar, Idris. Aku tidak ingin melakukan sesuatu secara tergesa-gesa.”
Idris menghela napas dan mengangguk paham. Dia berdiri dan mengulurkan tangannya untukku. “Ayo, aku akan mengantarmu pulang.”
Aku menyambut tangannya dan mengikutinya menuju Kereta Kekaisaran setelah berpamitan pada Kaisar. Ratu tidak terlihat dan enggan menemuiku lagi hari ini.
***
Jayden datang ke Istana Perunggu sesuai dengan janjinya. Dia tidak lupa membawa cemilan coklat di keranjang anyaman berukuran besar. Wajahnya terlihat senang saat aku menyambutnya di depan pintu. Tapi sesaat kemudian, dia malah menanyai keberadaan Isla.
Padahal itu adalah pertanyaan yang selama ini juga ingin kuketahui jawabannya.
“Isla tidak bersama Nona?” tanya Jayden.
“Baik, Nona Winston,” ucap Holly. Jayden memberikan keranjang itu pada Holly dan dia pun pamit undur diri.
Aku dan Jayden berdiam diri di ruang tamu sambil menunggu Holly datang. Aku tahu jika Jayden memiliki banyak sekali pertanyaan yang sudah Ayahku dan juga Layla titipkan untuknya.
Termasuk hal yang tadi dia tanyakan di depan pintu.
“Kenapa raut wajah Nona Winston sangat terlihat serius?” tanya Jayden. “Apakah ada masalah yang tidak Nona lampirkan di dalam surat?”
“Ya.” Aku berterus-terang. “Ada masalah serius yang telah terjadi akhir-akhir ini. Dan aku harap kau tidak terkejut saat mendengarnya, Jayden.”
Jayden terlihat menelan ludah. “Apa itu, Nona Charlotte?”
Tok! Tok! Tok!
“Nona, saya bawakan cemilan dan minumnya.” Itu Chloe. “Dan Tuan Franklin juga sudah datang.”
“Tuan Franklin?” Jayden kaget.
Aku mengabaikan Jayden sejenak. “Masuklah kalian berdua.”
Pintu terbuka dan masuklah Chloe beserta Hendery. Jayden semakin syok karena tahu jika itu adalah putra bungsu dari Marquess Franklin, pencetak kesatria berbakat.
Setelah Chloe pergi, barulah aku batuk kecil untuk memulai rapat kecil-kecilan kami. Semuanya sudah terencana dengan baik untuk sekarang.
“Nona Charlotte, apa maksudnya ini?” tanya Jayden. “Tolong jelaskan secara rinci.”
“Tuan Franklin adalah orang yang nantinya menjadi kesatria pribadiku di Istana Ratu,” ujarku. “Dan ini ada hubungannya dengan masalah serius itu. Kau tahu sendiri jika sihir sesuatu yang tabu jaman sekarang karena sudah punahnya kristal sihir akibat perang. Saat ini aku tahu bahwa kebenarannya adalah ada pengguna sihir kegelapan di Vanhoiren.”
“Mustahil,” gumam Jayden. “Tapi kan, dengar-dengar jika sihir kegelapan itu bukanlah sihir yang mudah untuk dikendalikan.”
Aku mengaktifkan sihir pendengaran jarak jauhku untuk mencegah ada satu oknum yang menguping karena yang akan kubicarakan selanjutnya adalah hal yang sangat rahasia.
“Isla adalah penyihir sama sepertiku,” kataku.
“Nona Charlotte ...,” bisik Jayden. “Apakah Nona Charlotte serius?”
Aku mengangguk. “Dan Isla juga yang membantuku menyelidiki hal ini. Pengguna sihir kegelapannya ada di Istana Perak. Tempat Isla disekap.”
Jayden dan Hendery syok. Baru kali ini aku membuka rahasia tentang sihir kegelapan pada orang lain. Bahkan pada Hendery sekali pun. Aku tahu ada perasaan takjub, heran, bingung, dan ketidakpercayaan. Itu adalah hal yang bisa dimaklumi.
“Jangan bilang ..., Selir Sienna?” tebak Hendery.
Aku mengangguk.
“Ya ampun, hal ini harus dibicarakan dengan Tuan Viscount,” ucap Jayden.
“Itu bukan hal yang perlu dilakukan, Jayden,” kataku. “Aku hanya ingin kau menjadi mata dan telingaku di dalam kota Vanhoiren. Jangan bersikap mencurigakan, cukup biasa saja namun dengan tingkat kewaspadaan.”
“Mata dan telinga?”
“Awalnya aku ingin memintamu mencarikanku informan yang berpengalaman. Tapi jika kupikir-pikir lagi, itu adalah hal yang beresiko. Lagipula, Tuan Franklin sudah bersedia untuk ikut bergabung dalam rencana ini,” tuturku. “Benarkan, Tuan Franklin?”
Hendery mengangguk. “Imbalan yang kuterima pun sangatlah menggiurkan, tidak ada salahnya untuk ikut bergabung selama tidak membahayakan diriku.”
Jayden masih terlihat belum percaya. “Tidak, Nona Charlotte. Ini sangatlah mendesak. Apalagi Nona akan naik takhta di tempat berbahaya itu!”
“Aku melakukannya demi kalian dan rakyat Vanhoiren,” ucapku tegas. “Aku tidak ingin kalian menderita. Dan yang paling penting, aku ingin menyelamatkan Isla.”