
“Ratu! Sadarlah, Ratu!”
Kubuka kedua mataku dan terbangun dari mimpi buruk itu. Aku tertidur di karpet kamarku. Ah, tubuhku rasanya pegal semua. Kutatap Chloe yang sedang menatapku dengan tatapan khawatir. Aku segera berdiri dengan dibantu olehnya.
Mimpi itu begitu nyata, rasanya aku seperti kembali lagi ke masa laluku yang kelam. Apa ini hanya mimpi? Apakah kehidupan keduaku tidaklah nyata? Aku pasti sudah tidak waras.
“Minumlah teh ini, Ratu. Tubuh Anda sangat dingin,” ucap Chloe, seraya menyodorkanku teh melati yang sangat kusukai itu. Aku meminumnya sedikit. Lagi-lagi lidahku hanya mengecap rasa hambar. Kuberikan teh itu pada Chloe lagi. Dia meletakkan teh itu di atas nakas. “Apa yang terjadi, Ratu? Wajah Anda sangat pucat dan Anda bahkan tidur di lantai sampai pagi. Perlukah saya memanggilkan Dokter Kekaisaran untuk Ratu?”
Aku menggeleng lemah. “Tak perlu, Chloe. Aku hanya ingin istirahat saja untuk hari ini.”
“Baiklah, Ratu. Kalau begitu, akan saya bawakan sarapan ke kamar Ratu. Ratu harus makan agar mempercepat pemulihan tubuh Ratu,” kata Chloe.
Begitu aku mengangguk, Chloe pun pamit undur diri. Aku naik ke atas tempat tidur, lalu masuk ke dalam selimut. Tubuhku perlahan-lahan mulai menghangat karena ditutupi oleh selimut. Tapi, meskipun begitu, aku takut untuk tidur dan kembali memimpikan hal yang sama. Untuk itu, aku memilih menguping pembicaraan seisi istana untuk menghiburku.
“Katanya Selir Kaisar jatuh sakit dan dirawat di Istana Kekaisaran,” ucap seseorang yang tidak kukenali.
“Kasihan sekali Ratu,” tambah lawan bicaranya.
“Jangan bergosip tentang selingkuhan Kaisar. Jika Ratu mendengar hal ini, Ratu pasti akan semakin sedih. Apa kau tidak tahu jika Ratu sedang jatuh sakit?” Kini suara Jasmine yang kudengar. “Kembali bekerja. Kalian bukan digaji untuk bergosip.”
“Baik, Dayang Jasmine. Maafkan kami.”
Sesaat, hening.
“Jasmine, apa kau lihat Kesatria Franklin?” Matilda bicara.
“Mungkin di luar, berbicara dengan para kusir,” kata Jasmine. “Ada apa mencari Kesatria Ratu?”
“Aku tidak sengaja melihat jejak sepatu yang berdarah di ruang kerja Ratu saat ingin menyapu di sana. Mungkin ada menyusup yang masuk. Aku juga tidak tahu, mungkin Kesatria Franklin bisa membantuku menyeledikinya,” tutur Matilda.
Ah, aku lengah. Darah di sepatu boots-ku penyebabnya.
“Bukankah itu harus kita laporkan terlebih dahulu pada Ratu?!” Jasmine terdengar terkejut.
“Katanya Ratu sakit. Kalau tambah sakit bagaimana?” kata Matilda. “Aku pergi dulu. Jangan katakan ini pada Ratu sampai aku dan Kesatria Franklin menemukan petunjuk!”
Kudengar langkah kaki Matilda dan helaan nafas Jasmine. Padahal aku sudah mendengarnya, hm, mereka orang-orang yang baik. Aku bisa lebih sedikit tenang karena mereka ada di sekitarku.
Clek!
Chloe kembali dengan sarapan untukku. Kali ini, sarapannya adalah sup sayur dan air putih. Mangkuk sup itu benar-benar hijau, dan aku bahkan harus mengernyitkan dahiku karena agak kaget dengan sarapan yang dibawa oleh Chloe.
Aku menatap Chloe. “Apa ini?”
“Sup sayur yang cocok untuk memulihkan tenaga Ratu. Saya merekomendasikan sarapan ini. Memang agak kurang meyakinkan, tapi saya jamin rasanya nikmat.” Chloe menatapku dengan tatapan penuh keyakinan.
“Uhm, baiklah.” Aku menyendoki sup itu dan menyuapinya ke dalam mulut. Rasanya ... enak. Tahu-tahu, tanpa kusadari, sup itu sudah habis tanpa bekas. Aku benar-benar menikmati sup sayur itu. Chloe sampai tersenyum melihatku menghabiskannya. “Terima kasih, Chloe. Ini sangat enak. Rasanya aku kembali pulih.”
“Syukurlah Ratu menyukai supnya. Saya sangat senang akan hal itu,” kata Chloe. “Apa Ratu ingin sesuatu lagi?”
“Aku ingin kue coklat.”
Mungkin sedikit kue coklat bisa membuat hatiku terhibur meski hanya sementara. Aku butuh refreshing sejenak dari masalah yang sedang aku hadapi belakangan ini. Kuputuskan untuk menguping lagi untuk menghindari rasa bosan.
“Aku ingin bertemu Ratu,” kata Hendery.
“Ratu sedang ingin istirahat. Kesatria Franklin harus mengerti privasi Ratu,” ucap Chloe.
“Katanya ada sesuatu yang mencurigakan di ruang kerja Ratu, aku harus mengatakan hal itu padanya,” desak Hendery. “Menyingkirlah. Aku ingin lewat.”
Sepertinya mereka sedang bicara di tangga.
“Kesatria Franklin!” seru Matilda. “Sudah kubilang padamu untuk merahasiakannya dulu sampai kita mendapatkan jalan keluar!”
“Aku ingin langsung membicarakan hal ini dengan Ratu. Kalian tidak akan mengerti,” ucap Hendery. Mungkin saja dia teringat pada insiden panah yang kualami.
“Sudah kubilang, Ratu ingin istirahat.” Chloe tetap bersikeras. “Apa Kesatria Franklin tahu? Sikap kesatria yang seperti ini malah membuat seisi istana salah paham dengan hubungan kalian. Mohon untuk berhati-hati.”
Aku tersenyum mendengar ucapan Chloe.
“Baiklah, kalian menang.” Tidak terdengar suara Hendery lagi setelah Hendery berkata seperti itu.
“Apa Ratu makan dengan baik?” tanya Matilda.
“Ya, Kak Matilda. Aku permisi dulu, Ratu ingin kue coklat untuk hidangan penutup,” kata Chloe, sopan. “Oh ya, soal yang dikatakan oleh Kesatria Franklin, apa maksudnya itu? Apakah memang benar ada yang masuk ke dalam ruang kerja Ratu?”
“Masih kami selidiki. Jejaknya hanya di ruang kerja saja, tidak ada lagi di mana-mana lagi.”
“Baiklah, Kak. Semoga berhasil. Tolong tahan Kesatria Franklin untuk tidak bicara sembarangan lagi,” pinta Chloe.
“Ya, kita hanya berharap jika anak Marquess itu bisa menahan diri,” kata Matilda, acuh.
Aku menyudahi kegiatan mengupingku karena kepalaku sakit. Aku bersandar sejenak di ranjangku dan melihat ke luar jendela. Pagi yang cerah.
Prang!
Kaca jendelaku dilempari sesuatu hingga pecah. Aku melompat dari tempat tidurku karena kaget. Saat kuberjalan ke jendelaku, di luar sudah ada Hendery yang memberikanku cengiran kuda. Akan kupotong gajinya sekarang juga. Pantas saja Marchioness Franklin lebih memilih Kakaknya dibandingkan Hendery.
“Ratu, Anda tampak sehat,” ucap Hendery.
“Ya, berkatmu aku jadi punya kekuatan untuk berjalan menuju ruang kerjaku dan memotong gajimu,” kataku tanpa ada niatan mengancam. Aku serius. “Kenapa kau memecahkan jendela kamarku?”
“Aku memberikan Ratu surat. Bacalah!” teriak Hendery.
Aku mengedarkan pandanganku ke lantai. Kutemukan sebuah batu berukuran sedang yang dibungkus dengan kertas berwarna putih. Saat kubuka kertas yang sudah kusut itu, ada tulisan tangan Hendery.
Ada dua informasi yang kudapatkan hari ini. Salah satunya tentang jejak sepatu misterius di ruang kerja Ratu. Satunya lagi adalah ditemukannya Selir Sienna dalam keadaan terluka. Apakah itu ulah Ratu?
Aku menyobek kertas itu dan memasukkannya ke dalam perapian. Aku menghela nafas panjang dan duduk di sofa. Selir Sienna terluka? Aku tidak yakin ini benar atau salah, mungkin saja itu perbuatan Ava. Aku tahu betul jika Ava suka menyiksa penjahat.