The Second Life

The Second Life
LXIII - Kehebohan Mendadak



Kurang lebih dua jam aku dilayani oleh para pelayan, sekarang rambutku sedang ditata oleh salah satu pelayan kurus. Aku menghela nafas sejenak. Terbayang wajah Isla saat pikiranku sedang kosong. Rasa bersalahku yang besar masihlah belum luntur. Meskipun Ava bilang itu adalah konsekuensi, meskipun Isaac mengatakan bahwa dia tidak apa-apa ..., dan meskipun Lucas bilang tenang saja. Rasa bersalahku masihlah belum kemana-mana.


Chloe masuk usai memberikan suratku kepada kurir. Dia sepertinya menangkap kerisauanku. Usianya masihlah sangat muda, tapi dia sudah sangat dewasa untuk berada dalam situasi seperti sekarang. Perasaan mellow-ku selalu datang secara tiba-tiba. Artinya, aku tidak boleh kehabisan bahan untuk dipikirkan. Atau rasa bersalahku akan terus hadir. Dan itu membuatku menjadi lemah.


Aku masih bersyukur pada obat yang diberikan oleh Ava. Jika saja tidak ada obat itu, aku pasti akan terus tumbang saat bertatap muka dengan Idris. Itu sudah lebih dari cukup.


“Terima kasih atas bantuan kalian, kalian boleh pergi,” ucapku pada para pelayan saat sudah selesai dengan pekerjaannya. Mereka semua tersenyum lalu menunduk hormat, sebelum akhirnya pergi meninggalkan kamarku.


“Apa kau belum pergi, Chloe?” tanyaku padanya. “Holly pasti sudah merindukanmu. Kau bahkan belum berpamitan dengan baik padanya.”


“Apakah Ratu sedang memikirkan sesuatu?” Chloe mengabaikan ucapanku. “Wajah Ratu terlihat murung.”


Aku tersenyum dan berdiri. “Aku akan menyuruh Anna menyiapkan kereta menuju Istana Perunggu untukmu. Kau harus kembali ke sana sampai kau diangkat sebagai dayang bersama calon yang lain.”


Chloe tidak berkata apa pun lagi. Dia pasrah mengikuti ucapanku. Benar ..., begitu lebih baik. Chloe belum boleh tahu tentang alasan Isla menghilang. Itu akan membuatku pusing.


Aku keluar dari kamarku, lalu pergi menuju ruang tamu. Seperti dugaanku, Hendery bosan. Dia bahkan sudah berbaring di sofa panjang sambil memejamkan mata. Tingkah Hendery bagaikan berada di rumahnya sendiri.


“Oh tidak, Kaisar tiba!” seruku sekuat tenaga.


Hendery yang awalnya berbaring itu, langsung meloncat kaget. Dia berdiri dan menatapku dengan setengah sadar. Aku tertawa untuk pertama kalinya setelah menjadi Ratu. Laki-laki di depanku ini mudah sekali dibohongi.


“Mana Kaisar?” tanya Hendery.


“Tidak ada,” jawabku santai, seraya duduk di sofa kecil dekat Hendery berdiri. “Tuan Franklin sudah saya bohongi.”


“Sejak kapan Ratu jadi pintar berbohong?” Hendery kembali duduk di sofa panjang tempat dia berbaring tadi.


“Entahlah ..., mungkin sejak saya lahir kembali,” ucapku asal.


Hendery tertawa. “Sekarang Ratu malah melucu .... Apakah memadu kasih dengan Kaisar membuat kepribadian Ratu menjadi berbeda?”


Pertanyaan Hendery membuat mood yang daritadi kubangun agar tetap baik, berangsur memburuk. Aku secara terang-terangan memperlihatkan ketidaksukaanku pada pertanyaan yang diajukan olehnya. Aku cemberut.


“Ah, maaf. Aku lupa kalau Ratu sama sekali tidak menyukai hal itu,” bisiknya dengan raut wajah menyesal. “Jangan dimasukkan ke dalam hati ....”


“Diamlah,” perintahku dengan sihir. “Jangan pernah bahas malam pertama saya dengan Kaisar. Saya tidak menyukai hal itu.”


Hendery mengangguk. Lidahnya kelu dan dia tidak bisa bicara karena kuperintahkan untuk diam. Aku pun melepaskan sihirku dan dia bernafas lega.


“Ratu terlalu sensitif,” desis Hendery. “Oh ya, aku datang kemari untuk mempertanyakan pelantikanku menjadi kesatria pribadi Ratu. Bagaimana jadinya?”


Aku melipat tanganku ke depan. Memasang wajah bosan karena ketidaksabaran Hendery. “Besok, datanglah kemari lagi.”


“Benar besok, kan?” Hendery menatapku penuh harap. “Aku takut jika Ratu akan membohongiku lagi.”


“Kali ini saya serius. Sekarang, Tuan Franklin pulang saja,” ucapku dengan nada pelan. “Jangan lupa untuk memakai seragam kesatria lengkap Tuan Franklin.”


Hendery mengangguk. “Baiklah, Ratu.” Dia tersenyum senang.


Tok! Tok! Tok!


Apakah ini tentang Ayahanda Idris?


“Ratu! Mertua Anda ... meninggal!” seru pelayan itu.


Tepat sasaran. Ternyata hari ini pun datang. Kematian Kaisar tidak bisa terhindarkan. Lututku lemas dan sama sekali tidak bisa digerakkan untuk sejenak. Idris tahu hal itu dan membiarkan Ayahandanya meninggal. Anak macam apa dia? Dia berkata untuk tidak mencampuri urusan tentang Ayahanda ..., tapi lihat yang terjadi? Laki-laki brengsek.


Aku mengepalkan tanganku karena kesal. Namun kekesalanku terpecah karena genggaman tangan Hendery. Aku menatapnya bingung.


“Tenanglah, Ratu ....”


“Ya, terima kasih, Tuan Franklin,” ucapku tulus. Aku mengalihkan pandanganku pada pelayan yang mengabarkan kematian Ayahanda Idris. “Minta kusir untuk menyiapkan kereta. Aku akan pergi ke Istana Kekaisaran sekarang juga.”


“Ba-Baik!” Pelayan itu berlalu.


“Pulanglah, Tuan Franklin,” kataku sambil berdiri dan berjalan keluar ruangan. Pikiranku kalang kabut dan tidak bisa berpikir dengan jernih.


“Apa Ratu yakin jika Ratu baik-baik saja?” tanya Hendery.


“Ya ..., saya baik-baik saja,” ucapku tenang. Aku sudah berada di luar istana, dan keretaku sudah siap. “Kalau begitu, saya permisi dulu. Sampai jumpa besok ..., atau mungkin lusa.”


“Tidak perlu memaksakan diri.”


Aku tersenyum getir lalu masuk ke dalam kereta. Kami saling bertatap muka sebelum akhirnya keretaku berjalan meninggalkan Istana Ratu.


*


“Wah, Nona cantik ini sangat cocok memakai gaun yang kuberikan,” ucap Kaisar XIX. “Apa Nona menyukainya?”


Aku mengangguk senang karena menerima gaun secantik ini. Kaisar masih terlihat muda. Kami berbincang di gazebo yang berada di taman sambil melihat Idris berlatih pedang dengan seorang Paman yang tidak aku kenal. Ratu tidak terlihat di mana pun.


“Bagaimana menurutmu tentang anakku?” tanya Kaisar XIX. “Dia tampan, bukan?”


Aku hanya mengangguk. Tidak mengerti dengan maksud ucapan Kaisar XIX. Umurku masih enam tahun, aku tidak mengerti ucapan orang dewasa yang rumit. Jadi, aku iyakan saja.


Kaisar XIX tersenyum dan mengusap kepalaku. Aku menyukai hal itu. Beliau adalah sosok yang sangat perhatian setelah kedua orang tuaku. Meskipun awal kenal agak menyeramkan, Kaisar XIX ternyata sangat baik.


“Mau tidak jika Idris jadi calon suamimu di masa depan?” tanya Kaisar XIX lagi.


“Ayah bicara apa pada Charlotte?” tanya Idris yang ternyata sudah selesai berlatih. Katanya Idris dua tahun lebih tua dariku. Aku diam sambil memperhatikan mereka berdua.


Kaisar XIX tertawa. “Sebegitu sukanya kah kau pada Nona Charlotte hingga kau tidak suka jika Ayahandamu ini bicara dengannya?”


Suka?


“Ayahanda!” seru Idris kaget. Lagi-lagi aku tidak mengerti apa yang mereka bahas. Tapi, mendengar mereka bicara sambil saling menebar senyum yang membuatku ikut tersenyum juga ... aku jadi sedih dan senang dalam waktu yang sama.


Kaisar XIX ..., ingatanku tentang beliau di masa kecilku sangatlah samar. Namun, setelah aku kehilangannya, aku bahkan tidak mampu melihatnya untuk yang terakhir kali. Ini mimpi yang sangat menyedihkan. Aku ingin bangun sekarang juga.