
“Sekarang Charlotte sudah menjadi seorang Ratu,” kata Ava.
Isla terlihat senang. “Benarkah?! Ah, sayang sekali aku tidak bisa menghadiri penobatan Nona Charlotte ....”
Aku menggenggam tangan Isla dan berusaha untuk tersenyum. “Ayo, Isla. Ayo kita pulang ke Barat. Kita bertemu dengan Ayahmu.”
“Aku ... aku tidak sanggup bertemu dengan Ayah,” ucap Isla. “Aku takut ..., aku takut jika Ayah akan sedih. Setelah Ibu meninggal, kami jadi saling bergantung satu sama lain. Tapi ..., sekarang ... hanya ... aku akan menyusul Ibuku.”
Isak tangis Isla terdengar samar-samar. Aku tahu bagaimana rasanya menjadi seorang Isla. Ada perasaan yang menusuk hati seringkali terbesit di hati saat aku berada di ujung tanduk. Bagaimana perasaan Ayahku saat aku meninggalkan dunia ini. Termasuk meninggalkannya sendirian. Kesepian? Sedih? Marah? Hampa?
Sendirian kadang menyenangkan, tapi kadang membuat kita kesepian. Rasa ini agak mencekik di dalam hatiku. Aku merasa sangat bersalah. Aku ingin sekali mengutuk diriku sendiri karena telah membuat Isla berada dalam situasi seperti ini. Aku ... secara tidak langsung telah membunuh Isla dan membuat Isaac kehilangan satu-satunya keluarga yang dia miliki.
Sungguh sangat ...
“Aku pengecut,” ucap Isla, memecah lamunanku. “Aku tidak punya keberanian untuk bicara langsung dengan Ayahku sendiri. Tapi, aku tidak bisa mengumpulkan keberanianku meski sudah berpikir sejak lama.”
“Apa kau tidak keberatan jika Ava memanggil Isaac untuk datang kemari?” tanyaku.
Isla menggeleng. “Ayah pasti mengerti—setidaknya, itulah yang aku yakini.” Isla terlihat menerawang, lalu tersenyum. “Waktuku sudah semakin habis. Sebelum terlambat, aku ingin memberitahukan sesuatu yang penting tentang Selir Sienna.”
“Sihir hitam yang didapatkan olehnya berasal dari buku terlarang yang dicuri dari Perpustakaan Kekaisaran. Itu adalah buku yang Nyonya Ava simpan dan sempat hilang dulu,” jelas Isla.
“Buku terlarang?” Ava mengernyitkan dahi. “Maksudmu buku Black Magic yang kudapatkan dari reruntuhan di Bevram?”
“Benar, Nyonya. Itu adalah buku milik Sekte yang menyembah Roh Jahat. Sekte itu sudah punah karena pengaruh Menara Suci di Vanhoiren. Menyisakan buku itu saja,” kata Isla. “Apakah Nyonya ingat, bagaimana Nyonya menghilangkan buku itu?”
“Eva meminjamnya bertahun-tahun yang lalu,” ucap Ava. “Itulah yang kutahu.”
“Uhuk!” Isla langsung batuk darah. Dia memaksakan dirinya. “Intinya, kekuatan sihir milik Selir Sienna hanya bisa didapatkan dari seberapa banyaknya tumbal yang dia berikan untuk Roh Jahat yang dia sembah. Kekuatan sihirnya semu.”
Aku tetap diam dan membiarkannya terus bicara.
“Dan untuk Kaisar ..., uhuk! Uhuk! Uhuk!” Batuk darah Isla tidak berhenti. Dia menggenggam tanganku dengan sekuat tenaga dan seketika kejang-kejang. Tubuhnya berkeringat dingin, dan Ava langsung mengeluarkan inti mana milik Isla dari dalam tubuhnya. “Selamat ... tinggal ....”
Itu adalah kata-kata terakhir yang diucapkan oleh Isla, sebelum akhirnya menghembuskan nafas terakhirnya di pangkuanku. Hening beberapa saat. Aku masih mencerna segalanya.
“Ayo pergi,” ajak Ava beberapa menit kemudian. Dia membuka portal menuju Menara Serikat Sihir dari ruang bawah tanah Selir Sienna. Ava membuat tubuh Isla melayang agar mudah dibawa. Aku ikut masuk ke dalam portal dengan perasaan gelisah.
Isi pikiranku bergelud dengan berbagai pertanyaan tentang respon Isaac tentang Isla, tentang rasa bersalahku terhadap mereka berdua, dan tentang Selir Sienna yang masih bebas berkeliaran setelah berbuat begitu banyak dosa.
Kami sampai di ruang pribadi Ava. Isla dibaringkan di sofa panjang yang ada di ruangan ini. Aku tetap berdiri selagi Ava memanggil Isaac. Detak jantungku semakin berdegup kencang saat kudengar langkah kaki yang mendekat. Aku sempat melihat cermin yang digantung di dinding. Ramuan pengubah wujud Ava sudah habis.
Ava muncul bersama dengan ... Isaac. Nafasku tercekat. Aku tidak bisa berpikir dengan jernih lagi. Apalagi saat Isaac tersenyum dengan tulus kepadaku. Oh Dewi, apakah aku pantas mendapatkan perlakuan baik Isaac?
“Nona?” Isaac menatapku bingung. “Tidak biasanya Nona datang kemari tanpa diberitahu oleh Nyonya Ava sebelumnya ....”
Ava berjalan ke sampingku. “Isla sudah kami temukan,” kata Ava, to the point. Dia bahkan menunjuk tubuh Isla yang dibaringkan di sofa. “Maaf, Isaac. Kami terlambat.”
Raut wajah Isaac berubah tegang. Dia menoleh ke arah Isla dan berjalan perlahan mendekati anaknya. Saat sudah sampai di samping Isla, Isaac berjongkok dan menatap lekat wajah anaknya itu. Setelah itu, ruangan Ava dipenuhi oleh tangisan pilu Isaac yang agak tertahan.
Aku dan Ava memilih untuk keluar dari ruangan itu untuk memberikan privasi pada Isaac. Aku tidak mau mengganggu Isaac sedikit pun. Ava mengajakku ke ruang tunggu untuk bicara.
“Ini salahku,” kataku memecah keheningan. “Dari awal ini salahku. Akulah yang membuat Isla terbawa dalam masalah ini.”
“Bla bla bla. Aku tidak ingin mendengar ocehanmu sekarang. Berhentilah merengek dan dengarkan aku,” tegur Ava. “Masalahnya sekarang adalah tentang Sienna. Dia masih melarikan diri dan pastinya sedang mengumpulkan tumbal untuk memperkuat dirinya. Kita harus bersiap.”
Meskipun Ava berkata seperti itu, tetap saja aku tidak bisa melakukan apa pun. Aku tidak berguna dan sangat berdosa. Beribu maaf tidak akan pernah bisa mengembalikan Isla. Aku ... tidak tahu harus melakukan apa.
Brak!
“Charlotte?!” Lucas datang dengan menendang pintu dengan keras. Aku bisa mendengar Ava berdecak kesal. Belum sempat aku merespon panggilannya, aku sudah dipeluk oleh Lucas. “Tidak perlu ditahan-tahan, nanti kau bisa sakit.”
Meskipun tidak jelas, aku tahu dengan pasti apa maksud Lucas. Karena dia berkata seperti itu, aku pun menumpahkan airmataku di dalam pelukannya. Ava langsung meninggalkan kami dengan wajah mau muntah.
“Bagaimana dengan Isla?” tanya Lucas. Dia berbisik untuk menenangkanku.
“Di ruangan Ava ..., sedang bersama dengan Isaac,” ucapku sambil terisak.
Lucas mengeratkan pelukannya. “Jadi ..., dia sudah tiada, ya?”
Dengan susah payah kubuka mulutku untuk bicara. Ada sesuatu yang tertahan di tenggorokanku. “Y-ya.”
“Ini bukan salahmu. Jangan merasa bersalah,” kata Lucas. “Isla pastinya juga tidak mau jika kau seperti ini. Kau mengerti?”
“Tidak ..., ini salahku. Ini semua salahku. Jangan mengatakan sesuatu yang salah untuk menghiburku, Lucas.” Aku mendorong tubuhnya dan menyeka air mataku. “Aku benci kebohongan yang manis.”
Lucas mendekat padaku dan merangkulku. “Aku tidak bohong!” seru Lucas. “Tegarlah, Charlotte. Kau tidak akan pernah membayangkan bagaimana perasaan Ava pada saat melihat Isla tiada. Aku mohon ..., jangan katakan apa pun yang membuat dirimu dan juga Ava terluka.”
“Raja, hentikan,” tegur Ava yang sudah ada di ambang pintu. “Jangan menyangkut pautkan apa pun lagi tentangku.”
Aku bisa melihat mata Ava yang sembab. Dia ... habis menangis. Tapi, karena gengsi Ava yang tinggi, dia menyembunyikan hal itu dari kami semua. Aku tidak menyadari dari awal jika Ava juga sangat terpukul dengan kepergian Isla.