The Second Life

The Second Life
LVII - Era XX



Satu jam sudah berlalu, aku menunggu kedatangan Idris yang seharusnya menjemputku untuk pergi ke altar—lagi. Suara ketukan pintu terdengar, bawahan Tory yang berada di dekat pintu akhirnya membukakannya.


Terlihatlah Idris yang memakai pakaian yang senada dengan gaunku. Pedang pusaka Vanhoiren berada di pinggangnya. Aku berdiri dan menghampiri Idris. Ini saatnya kami dinobatkan menjadi Kaisar dan Ratu yang baru.


Chloe menunggu di ruangan persiapan bersama dengan Tory. Penobatan kami hanya dihadiri oleh Kaisar, Ratu, dan juga bangsawan kelas atas ... termasuk Selir Sienna. Aku hanya sedikit khawatir jika nantinya akan ada efek samping pada tubuhku jika aku dan Selir Sienna berada di tempat yang sama. Seperti saat rapat dulu.


“Aku tidak percaya jika kau memiliki sisi yang agresif, Istriku,” ucap Idris mesra. “Semoga malam nanti akan menjadi malam yang tidak akan terlupakan bagi kita berdua.”


Aku hanya bisa tersenyum. Rasa geliku tidak bisa kubendung jika aku menanggapi ucapan cheesy Idris.


“Aku juga tidak menyangka jika Tuan Franklin yang akan mendapatkan bouquet bungamu yang kita lempar bersama. Sepertinya dia harus cepat-cepat mencari calon istri dan menikah,” kata Idris kemudian. “Apakah kau tidak merasa jika ini adalah sebuah kebetulan, Istriku?”


“Uhm, entahlah. Aku tidak terlalu peduli pada hal itu. Lagipula, Tuan Franklin harus fokus pada pekerjaannya menjadi kesatria pribadiku selama kurang lebih setahun.”


“Kau terlihat tidak bersemangat. Apakah kau sakit, Istriku?” tanya Idris dengan raut wajah khawatir.


Satu-satunya penyebab aku tidak bersemangat adalah panggilan yang kau berikan padaku terlalu memuakkan.


Tanpa sadar, kami sudah berada di depan pintu altar. Pintu pun dibuka oleh prajurit, lalu kami masuk ke dalam altar yang sudah dirombak menjadi tempat penobatan kami.


Semua bangsawan, kecuali Kaisar dan Ratu, berdiri untuk menyambut kedatangan kami. Aku dan Idris terus berjalan sampai di depan Kaisar dan Ratu yang sedang duduk di singgahsana mereka.


Aku dan Idris langsung berlutut di depan mereka sambil menundukkan kepala. Cukup lama kami berada di posisi itu hingga akhirnya Kaisar berdiri dengan dibantu oleh Tongkat Vanhoiren. Konon katanya, ada energi mana yang disimpan di dalam tongkat tersebut. Aku juga tidak berani mengeluarkan sihirku untuk mendeteksinya. Siapa tahu Selir Sienna menonton penobatan kami secara diam-diam.


Ajudan Kaisar datang untuk mengambil tongkat yang dipegang olehnya. Kaisar lalu menanggalkan mahkota yang menjadi lambang Kaisar Vanhoiren dari atas kepalanya.


“Berdirilah,” perintah Kaisar kepada Idris.


Idris berdiri, lalu dipakaikan mahkota oleh Kaisar. Idris kembali berlutut sebagai penghormatan terakhir kepada Kaisar yang lama. Ajudan yang memegang tongkat Kaisar, segera mengembalikan tongkat itu kepada pemiliknya. Kaisar pun kembali duduk.


Kini, giliranku yang menerima mahkota dari sang Ratu. Ratu berdiri dan menatap mataku dengan tatapan tajam. Dia berdiri di depanku dan memasang wajah datar.


“Bangun.” Perkataan Ratu hanya bisa didengar olehku dan juga Idris.


Aku menurut dan berdiri di hadapannya. Kutundukkan kepalaku sebagai bentuk sopan santun. Ratu kemudian melepaskan mahkotanya dan dipakaikan kepadaku.


“Sampai kapan pun, aku tidak akan pernah menganggapmu sebagai penerus takhta Ratu,” bisik Ratu kepadaku.


Aku hanya tersenyum karena enggan membalas perkataan Ratu. Tidak peduli seberapa menggiurkan jabatan seorang Ratu, aku sama sekali tidak tertarik jika pasangannya adalah Idris.


Ratu berdecak kesal dan kembali ke tempat duduknya.


Kami akhirnya berbalik untuk menghadap seluruh bangsawan yang hadir. Tapi, mataku malah tertuju pada deretan bangku paling belakang. Itu Rose! Oh, demi Dewi Kebajikan. Apa yang dilakukannya di penobatan sakral ini? Dia bahkan tidak mengganti pakaian yang dia kenakan tadi.


Saking fokusnya pada Rose, aku baru sadar jika Idris sudah menggenggam tanganku. Kami akan berkeliling ke seluruh wilayah Vanhoiren, dengan parade besar-besaran. Acara yang dibuat oleh Vanhoiren memanglah membosankan. Berbeda dengan Avnevous.



“Apakah kau letih, Istriku?” Apakah Idris sudah bertekad akan terus memanggilku dengan sebutan “istriku”?


Aku menggeleng. “Tidak. Aku baik-baik saja, Idris.”


“Sepertinya kau belum terbiasa memanggilku dengan sebutan suami, ya?” Idris terlihat kecewa. “Tak apa, jangan terburu-buru. Aku akan menunggumu sampai kau siap memanggilku dengan sebutan itu.”


Untuk apa aku harus menyiapkan diri?


“Ngomong-ngomong, aku melihat Rose Hindley ada di altar saat penobatan tadi,” ucapku yang bermaksud mengalihkan pembicaraan.


“Uhm ..., kau melihatnya?” Idris mulai gugup.


“Benar. Aku melihatnya saat pernikahan dan penobatan kita. Untuk acara pernikahan, aku rasa tidak apa-apa. Tapi, penobatan Kaisar dan Ratu adalah acara yang khusus. Bagaimana bisa Rose Hindley ikut hadir?!” seruku kesal.


“Ah, dia bilang dia ingin melihatku naik takhta menjadi Kaisar. Ini adalah moment sekali dalam seumur hidup. Aku juga tidak tega membuatnya tidak bisa melihat penobatanku,” jelas Idris panjang lebar. “Jangan bilang kau cemburu, Istriku?”


Tok! Tok! Tok!


Timing yang tepat. Aku terselamatkan dari pertanyaan bodoh yang Idris lontarkan untukku. Buru-buru kubuka jendela kereta yang diketuk dari luar. Ternyata itu adalah Jack. Dia ikut berjalan kaki bersama dengan Chloe dan para bawahan penting lainnya.


“Ada apa, Jack?” tanyaku penasaran.


“Kita akan segera memasuki daerah pemukiman rakyat. Tolong melambai dari dalam kereta saja,” kata Jack.


“Baiklah, kau boleh mundur,” ucap Idris.


Jack pun akhirnya menjauh dari kereta kami. Dia masuk ke rombongan belakang. Aku dan Idris melakukan apa yang dikatakan oleh Jack. Para rakyat ikut membalas lambaian tangan kami dari kejauhan.


Agak sedih rasanya melihat kondisi seperti ini. Tindakanku ini membuat semacam jarak di antara yang tinggi dan juga yang rendah. Aku tidak terlalu suka dengan tradisi milik Vanhoiren ini. Berbanding terbalik dengan Idris, dia sepertinya sangat nyaman melakukan hal itu. Ada rasa bangga yang terpancar dari wajahnya saat ini.


Kuputuskan untuk tetap tersenyum dan melambai keluar meskipun pikiranku tidak berada di tempat.


Kami akhirnya berkeliling ke berbagai tempat yang bisa dimasuki oleh kereta selama dua jam penuh. Sampai di titik akhir, kami membagikan makanan kepada rakyat lewat para pelayan yang ikut.


Sebenarnya akan lebih baik jika kami memberikannya sendiri secara langsung. Tapi tetap saja aku tidak bisa berbuat banyak soal tradisi yang sudah ada sejak turun-temurun.


Di penghujung acara, Idris memberikan sedikit pidato tentang penobatan kami di depan para rakyat Vanhoiren. Aku berdiri di samping Idris dengan perasaan bosan.