
Jendela kamarku telah selesai diperbaiki. Aku masih bisa berjalan meski kedua kakiku diperban dan masih terasa perih. Aku mengabaikan hal itu. Di malam yang dingin dan sunyi, aku menunggu kehadiran Ava di kamarku, ditemani oleh secangkir teh melati dan juga sepotong kue coklat buatan Chloe.
Rasanya nikmat.
Tiba-tiba, jendela kamarku terbuka. Angin malam menyeruak masuk, membuat tubuhku sesaat mengigil karena dingin yang menusuk kulitku. Ava masuk dengan pakaian yang sama, tetapi dengan tangan bersimbah darah. Aku agak terkejut dengan hal itu. Tapi, kemudian aku teringat jika wanita di depanku ini adalah Ava. Ya, Ava. Wanita yang sangat suka dengan yang namanya kekerasan dan juga hal-hal berbau pukul-memukul.
Aku bisa memaklumi hal itu karenanya sudah tahu sikap Ava. Tapi, yang jadi pertanyaannya adalah, darah siapa itu? Apakah seseorang yang malang yang kebetulan lewat dan bertemu dengan Ava? Seorang penjahat yang beruntungnya bertemu dengan Ava? Aku agak ragu untuk bertanya.
“Aku pinjam kamar mandimu,” kata Ava.
“Ya,” ucapku tanpa berkata apa-apa lagi.
Aku menunggu Ava sambil berusaha menghabiskan teh melati dan juga kueku. Cukup lama Ava berada di dalam sana. Hingga akhirnya, lima menit kemudian dia keluar dengan tangan yang bersih dan wajah yang cerah.
“Ayo, aku sudah tidak sabar,” ucap Ava. Aku tahu jika Ava tidak sabar memukul Belka. Tertulis dengan amat jelas di wajah kecilnya yang lucu. Aku tahu, wajah lucu, imut, dan menggemaskan Ava tidak sinkron dengan kelakuannya dan juga gelarnya.
“Baiklah. Tolong jangan buat diri Anda dilihat oleh orang lain saat kita pergi menuju penjara bawah tanah,” kataku seraya meletakkan cangkir tehku yang isinya kosong di atas meja.
“Itu gampang,” kata Ava.
Aku beranjak dari sofa dan berjalan keluar kamar dengan langkah pelan. Ava berjalan di belakangku sebelum akhirnya menghilang. Tapi, aku tahu jika dia masih mengekor di belakangku. Aku menuruni tangga dan bertemu dengan Jasmine yang tengah membawa lentera.
Sepertinya dia sedang memeriksa keadaan istana sebelum pergi tidur. Itu yang biasa dilakukan oleh Kepala Pelayan.
“Selamat malam, Ratu. Anda mau pergi ke mana malam-malam begini?” tanya Jasmine, ramah.
“Aku ingin mengecek pelayan itu,” jawabku tenang. “Tidurlah, Jasmine.”
“Sebaiknya saya menemani Anda, Ratu. Saya tidak ingin ada sesuatu yang terjadi kepada Anda,” ujar Jasmine.
Aku menggeleng. “Tak perlu. Jangan ikuti aku dan tidurlah. Ini perintah,” tolakku tegas.
Jasmine langsung menunduk. “Baiklah, jika Ratu memaksa. Tapi, ijinkan saya menemani Nona sampai ke depan penjara bawah tanah.”
“Baiklah,” kataku setuju pada permintaan Jasmine.
Kami bertiga keluar dari dalam istana lewat pintu samping. Lokasi penjara bawah tanah ada di basement di luar istana. Ada pondok kecil yang di dalamnya memiliki tangga ke penjara tersebut. Saat aku tiba di sana, ada dua prajurit istana yang berjaga di sana.
Mereka berdua menunduk dan memberi salam kepadaku.
“Aku ingin menemui pelayan itu,” ucapku pada mereka berdua.
“Baik, Ratu. Akan kami antarkan ke dalam,” ucap salah satu prajurit.
“Tidak perlu. Biar aku sendiri saja yang masuk ke dalam. Aku yang akan menginterogasinya,” ucapku.
“Kami telah mencoba bertanya padanya, tetapi dia tetap tutup mulut,” kata prajurit yang satunya lagi.
Aku tersenyum. “Tak apa. Aku bisa mengatasi hal itu. Kalian tunggulah di sini, jangan biarkan siapa pun masuk.” Aku menatap Jasmine. “Kembalilah dan istirahat. Aku bisa kembali sendiri.”
“Ini perintah. Pergilah istirahat!” kataku setengah berteriak.
Jasmine akhirnya menyerah dan pamit undur diri. Pintu basement dibukakan oleh kedua prajurit, lalu aku pun masuk ke dalam. Menuruni tangga yang temboknya diterangi oleh obor.
Perasaan familiar ini membuat bulu kudukku berdiri. Aku tahu seperti apa rasanya menjadi seperti Belka. Dikurung dalam sel dingin dan lantai yang kotor. Kadang pikiranku sendiri seakan-akan mengajakku bicara. Dan kadang mengejek nasibku yang malang.
Aku tetap berjalan menyusuri lorong sempit yang di sampingnya penuh dengan sel-sel kosong. Ava sudah memperlihatkan wujudnya, tetapi dia tetap diam.
Belka dikurung di sel paling ujung. Tepatnya di sebelah kiri. Saat aku melihatnya, dia sedang tidur dengan tangan dan kaki yang dirantai di tembok. Mulutnya disumpal dan matanya ditutup dengan kain hitam.
Aku sengaja tidak meminta kunci sel kepada dua prajurit tadi karena Ava bisa dengan mudah membuka sel tersebut. Sekarang saja, Ava sudah ada di dalam sel Belka dan berdiri di samping pelayan itu. Aku memilih berada di luar karena sekarang kakiku gemetaran meski hanya di luar sel.
Ava mengeluarkan sihir kedap suara. Dan aksi ekstrimnya pun, dimulai.
“Bangun!” teriak Ava dikuping Belka. Ava sudah membuka kain hitam yang menutupi mata Belka.
Belka terbuka dan terlihat kaget saat melihatku dan Ava. Dia melotot padaku dan tubuhnya gemetar. Aku bisa melihat ada luka lebam di tangan dan kakinya. Mungkin saja para prajurit istana memakai cara kasar untuk membuat Belka bicara.
Yah, meskipun cara mereka itu tetap gagal dan mereka melanggar perintahku untuk tidak melakukan sesuatu pada Belka.
Ava membisikkan sesuatu pada Belka, dan sumpalan di mulut Belka pun dilepaskan olehnya.
“Kau boleh bertanya, Ratu,” ucap Ava padaku.
Hening sejenak.
“Siapa yang menyuruhmu?” tanyaku langsung.
Belka hanya menatapku, lalu meludah. Kemudian, tak lama setelah itu, dia tertawa mengejek. Aku sama sekali tak terganggu akan hal itu. Tapi, tidak dengan Ava. Karena Belka seperti itu, Ava langsung meninju wajah Belka tanpa ragu sama sekali.
“Aku tidak ingin membuatmu terluka lebih dari ini. Aku tanya sekali lagi, siapa yang menyuruhmu?” tanyaku sabar.
“Bunuh saja aku. Sampai mati pun, aku tidak akan memberitahu apa pun padamu.” Lagi-lagi Belka meludah. Dan tinjuan Ava pun melayang lagi di wajahnya. “Segini saja yang Ratu Vanhoiren bisa? Memaksa orang bicara dengan kekerasan? Kau tidak lebih dari orang rendahan yang bergelar tinggi.”
Ava tertawa meski aku tidak menangkap letak lucunya di mana. Setelah itu, Ava melayangkan empat kali tinjuan nonstop kepada Belka.
“Cuih!” Belka meludahi darah di mulutnya. “Ayo, pukul aku lebih dari ini. Biarkan aku mati di sini dengan menyimpan segala rahasia yang kupunya. Kau tidak akan mendapatkan apa pun, Ratu.”
Ava yang merasa tertantang, kini mulai bersikap lebih kasar. Dari yang kulihat, Ava sangat menikmati hal itu. Belka tertawa saat dihajar oleh Ava. Aku rasa cara bertanya yang sopan bukanlah hal yang pantas didapatkan oleh Belka.
“Kau benar-benar tidak mau menjawab?” Aku memastikan untuk terakhir kalinya.
Belka hanya diam dan mengacungkan jari tengahnya.
Aku hanya tersenyum dan mengangguk. “Baiklah, kalau itu maumu. Sekarang ..., jawablah pertanyaanku.”