
Aku meletakkan garpu dan sendok yang kupakai makan ke atas meja. Kubersihkan mulutku dengan serbet sebelum akhirnya berdiri dan membawa berkas kerjaku keluar kamar.
Kereta sudah terparkir di depan istana, aku masuk ke dalam kereta itu, dengan dibantu oleh kusir. Dari dalam kereta, tepatnya lewat jendela, aku bisa melihat Ava yang berdiri di atas atap istana sambil melambai padaku. Aku hanya bisa tersenyum dan memaklumi kelakuan beliau.
Aku kembali lagi ke Istana Kekaisaran. Sesampainya di istana, aku langsung disambut oleh Jack. Dia memakai jas yang memiliki warna yang sama denganku dan juga seluruh pengguni istana.
Hitam.
“Sisanya kau yang urus,” kataku pada Jack, seraya memberikan berkas pekerjaanku kepada Jack. “Kaisar sedang berada di mana?”
“Kaisar sedang berada di kamarnya,” jawab Jack sambil menunduk. “Apakah Ratu ingin menemui Kaisar?”
“Tentu saja,” kataku pasti. “Sebagai seorang istri, aku sudah sepatutnya berada di samping suami dan sekaligus menghiburnya.”
Jack tidak memberikan tanggapan apa pun. Aku meliriknya dan langsung pergi menuju ke dalam kamar Idris. Aku penasaran ..., apakah Rose Hindley ada bersama dengan suami bodohku itu, atau tidak. Para pelayan berlalu-lalang melewatiku sambil memberi salam.
Buru-buru kubuka pintu kamar Idris, tanpa mengetuknya.
Benar saja. Saat kulihat ke arah ranjang, Idris ada di sana bersama ... Rose Hindley. Mereka sedang asyik berpelukan sambil berbaring di ranjang. Bahkan saat aku masuk pun, mereka tidak menyadari kehadiranku. Mesra sekali dua pasangan ini.
Prang!
Bunyi itu mengundang perhatian mereka. Aku dengan sengaja menjatuhkan guci kecil di atas meja agar mereka tahu kehadiranku. Idris yang melihatku jadi bersikap gelagapan layaknya suami yang dipergoki istrinya selingkuh pada umumnya.
“Ada apa, Suamiku? Kenapa kau terkejut seperti itu?” Aku meliriknya tajam. Aku menekankan kata 'Suamiku' agar Rose Hindley bisa tahu statusnya di sini sebagai apa. “Tanganku tidak sengaja menyenggol guci ini. Maafkan aku, Suamiku.”
Idris meloncat dari ranjang dan menghampiriku. Sebelum dia mendekatiku lebih dekat lagi. Aku mengangkat tanganku ke depan. Memberi kode untuk tidak mendekat lagi.
“Di sini ada pecahan guci, Suamiku. Kakimu bisa terluka,” kataku sok perhatian. “Akan kupanggilkan pelayan untuk membersihkan kekacauan ini.”
“Ah, kau benar, Istriku.” Idris melihat pecahan guci yang hampir diinjak olehnya. “Hampir saja.”
Hm, harusnya jedaku sedikit dilambatkan agar dia menginjak pecahan itu.
“Kenapa kau kemari?” tanya Rose Hindley dengan nada ketus. Dia memasang wajah menantang padaku.
“Aku akan keluar sebentar untuk memanggil pelayan. Kita harus bicara, Suamiku.” Aku pun keluar dengan mengabaikan Rose Hindley.
Orang sepertinya tidak perlu kutanggapi dengan serius. Hanya membuang waktu dan tenaga. Aku memanggil pelayan yang baru saja melewatiku dan memintanya untuk membersihkan kekacauan kecil yang kuperbuat serta memberitahu Idris untuk menemuiku di taman indoor.
Selagi menunggu Idris, aku duduk diam di kursi taman indoor sambil melamun. Istana masih ramai untuk menghibur Ibunda Idris. Kira-kira semenit aku menunggu, pintu taman indoor terbuka.
Tadinya kupikir itu adalah Idris, ternyata bukan. Yang masuk adalah Hendery—dengan raut wajah muram dan senyum tipis yang terpaksa dia berikan untukku. Aku hanya bisa memasang wajah bingung padanya.
“Halo.”
“Ada yang bisa saya bantu, Tuan Franklin?” tanyaku tenang.
“Aku hanya mencari tempat istirahat dan malah menemui Ratu di sini,” jawab Hendery. Dia sudah duduk di depanku. “Apa yang Ratu lakukan di sini?”
“Saya sedang menunggu Kaisar. Ada yang perlu saya bicarakan dengannya.”
Hendery mengernyitkan dahi. “Barusan aku melihat Kaisar pergi ke taman belakang dengan Nona Rose Hindley.”
“Apa?”
Dasar suami tidak berguna.
“Biarlah. Saya lelah dengan mereka berdua.”
Deg!
Perasaan tidak enak ini lagi. Jantungku rasanya seperti diremas dari dalam. Aura tidak enak ini membuatku mual. Ini perasaan yang kutakuti, dan sangat familiar. Mungkinkah itu Selir Sienna?!
Tidak mungkin ..., tadinya kupikir Selir Sienna tidak akan datang ke istana. Ternyata aku terlalu lengah hingga melepaskan pengawasanku pada orang yang paling berbahaya. Apakah ini ada hubungannya dengan pembersihan yang dilakukan oleh Ava? Mungkin ..., mungkin saja.
“Ratu? Ada apa?” Hendery menangkap rasa tak nyamanku. Bibirku terkatup. Aku tidak bisa berpikir dengan jernih. Kupegang erat-erat kalung yang kupakai dan mengambil nafas sebanyak mungkin sebelum akhirnya menghembuskannya keluar. “Kau kurang enak badan?”
Aku bungkam.
Dia sudah dekat.
Detik berikutnya, aku hanya mendengar bunyi kaca pecah dan tubuhku yang dipeluk oleh Hendery saat dia melompat ke arahku. Kami jatuh ke lantai beton, dan Hendery melindungi tubuhku dengan tubuhnya agar aku tidak terluka atau merasa kesakitan.
Aku ingin sekali mengucapkan terima kasih, tetapi saat ini aku malah difokuskan pada sebuah panah yang menancap di dinding. Hendery membantuku bangun dan mengambil panah itu.
Panah yang terasa asing di pikiranku. Kuintip sebuah kertas yang ditautkan di panah itu yang saat ini sedang dibaca oleh Hendery.
Pelayanmu ada di tanganku. Jangan menantangku.
Mataku melebar. Itu pasti Isla! Berarti sudah jelas jika panah ini dikirimkan oleh Sienna. Jujur saja aku masih syok. Aku butuh minum.
Hendery menuntunku untuk kembali duduk setelah dia membersihkan pecahan kecil kaca dari kursi taman indoor. Dia berjongkok di depanku dan menatapku dengan rasa khawatir sekaligus penasaran.
Aku hanya bisa menunduk. Perasaan tak nyaman yang kurasakan barusan sudah menghilang dalam sekejap. Ini pasti peringatan awal dari Selir Sienna. Dia menggertak dengan memberikan panah itu. Tanpa dibantu oleh Hendery pun, panah itu sebenarnya tidak akan mengenaiku.
“Apa Ratu tahu apa maksud dari surat ini?” tanya Hendery.
“Saya tidak ingin membahas hal ini dengan Anda terlebih dahulu,” jawabku pelan, setelah beberapa menit diam.
Tak kusangka Hendery akan menggenggam tanganku. “Ratu bilang kita sudah bersepakat untuk bekerja sama, bukan? Kenapa Ratu seperti tidak mempercayaiku?”
“Karena Anda bisa saja meminta sesuatu yang lebih besar ke orang lain dan berbalik memusuhi saya. Anda kan sangat menjunjung tinggi kekuasaan.”
“Ratu ....”
Clek!
Pintu terbuka, dan masuklah Idris bersama dengan Rose. Mereka kaget melihat kehadiran Hendery yang berduaan denganku. Idris melotot marah dan menarikku menjauhi Hendery.
Aku meringis karena cengkeraman tangan Idris yang kasar dan menyakitkan. Buru-buru kutarik tanganku sekuat tenaga darinya. Rose Hindley sepertinya senang karena aku diperlakukan seperti itu.
“Kenapa kau malah berduaan dengan dia?!” bentak Idris. “Jawab aku, Charlotte!”
“Ah, dasar munafik. Menghakimi suaminya sendiri ..., padahal kelakuannya tidak beda jauh,” sindir Rose Hindley.
Apa mereka buta? Apa mereka tidak lihat kekacauan di taman indoor ini?! Argh, dasar sinting!