The Second Life

The Second Life
LXXV - Merasa Hancur



Ava berdecak kesal. “Jangan menatapku dengan tatapan prihatin seperti itu. Aku baik-baik saja.”


Sebagai sesama wanita, aku bisa merasakan bahwa ... Ava tidak baik-baik saja. Bagaimana mungkin Ava akan bersikap baik-baik saja saat orang terdekatnya meninggalkan dia? Ya, itu adalah hal yang mustahil. Meskipun diberkati Dewi Kebajikan, Ava tetaplah seorang manusia, sama seperti aku dan Lucas.


Mungkin, karena merasa dirinya sudah sangat dewasa, dia jadi tidak ingin jika ada orang lain yang tahu tentang perasaan sedih yang dia rasakan.


“Bagaimana dengan Selir itu?” tanya Lucas.


“Dia melarikan diri,” jawab Ava. “Tapi, kemana pun dia, aku tidak akan melepaskannya dan tidak akan segan-segan lagi.”


“Ingat, Nek. Kau tidak boleh sampai menarik perhatian Vanhoiren, termasuk Kaisarnya.” Lucas memberi peringatan. “Aku tidak mau jika sampai dampaknya akan sampai pada perang dengan Avnevous. Nenek tahu sendiri bagaimana mereka.”


Ava mengepalkan tangannya. “Ya, aku tahu seperti apa mereka. Para sampah menjijikkan yang sangat suka mengambil hak milik orang lain.” Komentar pedas itu, keluar begitu saja dengan lancarnya dari mulut Ava.


“Sudah larut malam,” ucap Lucas padaku. “Sebaiknya kau pulang dan tidur, Sweetheart.”


“Bagaimana dengan Isla? Aku tidak mungkin tidur dengan tenang.”


“Kami yang akan mengurus Isla dan pemakamannya. Kau pulanglah sebelum diketahui oleh orang lain menghilang,” tambah Ava. “Biar bagaimanapun juga, kau itu Ratu Vanhoiren, pikirkan posisimu.”


Berat rasanya bagiku untuk bisa meninggalkan orang yang pernah dekat denganku di saat-saat seperti ini. Tapi, aku juga tidak bisa membantah ucapan orang yang lebih tua dan juga mengabaikan posisiku saat ini. Seorang Ratu. Satu-satunya yang bisa kulakukan adalah ..., mengalah.


Namun, meskipun aku mengalah dan kembali ke Vanhoiren, aku tidak bisa membohongi diriku dengan berkata bahwa aku baik-baik saja dan sudah mengikhlaskan kepergian Isla. Hatiku masih terluka, dan otakku masih mengingat semuanya. Termasuk apa yang sudah dilakukan oleh Selir Sienna terhadap Isla. Dia tidak bisa dimaafkan.


“Aku akan mengantarmu. Ayo, Sweetheart,” ucap Lucas, melunak.


Aku mengangguk. “Anda bisa memanggilku jika ada sesuatu yang penting,” kataku pada Ava.


“Ya, Ratu. Pulang dan istirahatlah.” Nada suara Ava kembali normal.


Lucas langsung merangkulku sambil keluar dari ruang tunggu. Kami tidak bicara lagi. Lorong Menara Serikat Sihir terasa kosong dan sunyi. Hanya bunyi sepatu kami berdua saja yang bergema di sepanjang lorong, tak lupa ditemani oleh detak jantung kami yang berdegup kencang.


Saat kami melewati ruangan Ava, pintu ruangan itu terbuka. Keluarlah Isaac dengan wajah muram. Dia melirik kami sekejap mata, lalu pergi tanpa berkata apa pun. Hatiku mencelos karena hal itu. Isaac pasti sangat terpukul dan sangat membenciku.


“Charlotte ..., Sweetheart .... Ayo.” Lucas merangkulku lagi dan kami masuk ke dalam portal yang terhubung dengan ruang kerjaku di Istana Ratu.


Aku keluar dari ruang rahasia dan menghela nafas panjang. Lucas memelukku dari belakang tanpa berkata apa pun. Rasanya nyaman, dan membuatku agak sedih karena teringat Isla. Lucas melepaskan pelukannya dan membalikkan tubuhku agar menghadap ke arahnya.


“Bagaimana perasaanmu?” tanya Lucas.


“Tidak baik.” Aku berusaha untuk tersenyum. “Pulanglah Lucas, ini sudah larut malam.”


“Aku akan menemanimu,” kata Lucas.


“Uhm, tidak. Pulanglah. Aku ingin sendiri untuk saat ini. Bukannya aku tidak suka bersamamu, tapi ... kau paham maksudku, kan?”


Lucas tersenyum. “Tidak perlu dijelaskan begitu, aku mengerti. Tapi, kau harus janji untuk langsung tidur, oke?”


“Ya, aku akan tidur setelah membersihkan diri,” kataku pada Lucas.


“Baiklah.” Lucas mengecup bibirku dan memelukku singkat. “Good night, Sweetheart. Aku pergi dulu.”


“Good night, Lucas.”


Lucas akhirnya pergi, kembali ke Avnevous. Aku keluar dari ruang kerjaku dan masuk ke dalam kamar. Tidak ada siapa pun di dalam kamarku, aku bernafas lega. Buru-buru kumasuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri. Usai itu, aku memakai piama tidur dan melempar pakaian dan sepatu yang kupakai tadi ke dalam perapian.


Aku duduk di karpet tebal di depan perapian kamarku. Menatap kosong kobaran api yang melahap tanpa ampun pakaian dan sepatu yang kulempar ke dalamnya. Bulir air dari mataku jatuh membasahi pipi. Aku teringat lagi pada Isla. Rasa kantukku tak kunjung datang, yang ada hanyalah rasa penyesalan yang tak berujung.


“Ini salahku .... Ya, ini salahku,” gumamku kesal. “Aku hanya membawa kesialan bagi orang-orang yang ada di dekatku. Benar kan, Dewi?”


“Aku benci diriku sendiri.”


*


Isla berada di depanku, tampak baik-baik saja seperti sesaat sebelum aku akrab dengannya. Dia menatapku tanpa ekspresi dan berjalan mendekatiku. Tadinya aku senang, lalu Isla berubah menjadi saat di mana terakhir kali aku menemukannya bersama Ava.


“Gara-gara kau,” ucap Isla. “Sial. Wanita sialan.”


Ah, benar. Gara-gara aku, ya? Memang gara-gara aku.


“Maaf, Isla. Aku memang bersalah.”


“Kau sudah tahu, kan? Kau itu anak yang tidak berguna.” Kali ini Selir Sienna muncul dari balik punggung Isla. Dia tersenyum mengejek. “Ratu? Haha! Kau pasti sedang membuatku tertawa.”


“Kau tidak pantas bersama dengan anakku,” kata Ratu XIX.


“Pendosa. Bagaimana bisa kau menduakan suamimu sendiri?”


Aku ..., aku salah. Aku tidak pantas untuk mendapatkan kesempatan kedua. Aku wanita yang konyol. Bagaimana bisa aku bisa hidup seperti ini?


Apa kau mau menyerah?


Menyerah? Ya, kalau bisa ..., aku ingin menyerah pada hidupku.


Benarkah? Apa kau yakin?


Apakah aku butuh keyakinan untuk hal yang jelas seperti ini?


Bagaimana dengan Ayahmu? Apa kau yakin ingin meninggalkannya?


Aku ..., tidak yakin.


Apakah kau ingin membiarkan orang yang sudah mengkhianatimu hidup dengan tenang?


Aku ...


Blam!


Bunyi pintu yang entah di mana itu sekaligus membuat pandanganku menjadi gelap gulita. Tadinya aku berada di ruang kosong. Sekarang, aku tidak bisa melihat apa pun. Apakah ini mimpi? Apakah ini sesuatu yang nyata?


Pandanganku silau saat cahaya dari depan muncul. Saat pandanganku sudah normal kembali, aku baru sadar jika aku sudah berada di lapangan eksekusi. Aku berdiri di depan tali gantung, di depan seluruh rakyat Vanhoiren.


Tidak ..., tidak! Tubuhku gemetar lagi karena hal ini. Terasa sangat nyata dan sangat mengerikan. Bagaimana mungkin?


“Dasar memalukan!”


“Pel*cur! Pengkhianat!”


“Musuh Kekaisaran! Mati saja!”


Aku dilempari lagi oleh hal yang sama. Tubuhku mati rasa. Aku melihat ke atas. Langit yang cerah tanpa awan sedikit pun. Aku ingat jika aku meninggalkan dunia ini saat langit sedang indah-indahnya.


Seakan ikut senang dengan apa yang kualami.


Kepalaku dibungkus oleh kain coklat, bisa kurasakan jika leherku dimasukkan tali itu. Beberapa detik berikutnya, kursi kecil tempatku bertumpu sudah digeser dari kakiku.