The Second Life

The Second Life
CHAPTER 6



Di pagi hari yang cerah dengan pohon-pohon hijau dan salju yang telah mencair, burung-burung berkicau merdu menambah kesan damai di dalam hutan.


"Paman Eros aku sedah menyelesaikan latihan pagiku" ucap Violeta yang baru habis berlari dia mengelap keringatnya dengan sapu tangan miliknya.


Eros tidak berbicara dia hanya mengambil satu pedang yang berada di punggungnya, Violeta yang mengerti maksud tindakan Eros dia pun mengambil pedang pendeknya dan langsung menyerang Eros, Eros hanya menangkis serangan Violeta dan sesekali menyerang. Mereka berdua beradu pedang walaupun kebanyakan Violeta yang menyerang dan Eros yang menangkis, sampai Eros menyerang dengan serangan terakhir membuat ke dua pedang pendek milik Violeta terlepas dari tangannya dan menancap di tanah.


"Paman tidak bisakah kau mengalah untukku sesekali?" tanya Violeta dengan kesal kepada Eros, seperti biasanya Eros tidak akan menjawab perkataan Violeta dan dia langsung menghilang.


Violeta sudah terbiasa dengan sifat Eros yang seperti itu, dia hanya menghiraukan dan berlari menuju rumah yang tidak jauh dari tempat dia dan Eros berlatih.


Dia pulang ke rumah untuk mandi dan mengganti pakaian yang dia kenakan saat latihan tadi. Setelah itu dia berlatih sihir baru lagi kali ini dia mencoba untuk mempelajari sihir yang dapat membuat dia terbang.


Belajar sihir tidaklah sulit untuk Violeta karena belajar sihir hanya menggunakan imajinasi atau pemikiran seseorang dan membuatnya menjadi kenyataan. Karena itu Violeta selalu mempelajari sihir baru dengan menggunakan ilmu pengetahuan yang dia dapat dari kehidupan pertamanya. Sekarang Violeta berada di taman belakang rumah dia membutuhkan tempat luas untuk mempelajari sihir jadi tempat itu adalah pilihan yang tepat.


Violeta memejamkan matanya berkosentrasi untuk mengurangi gaya grafitasi di sekitarnya, di bawah kakinya perlahan-lagan terbentuk lingkaran sihir yang rumit berwarna biru saat lingkaran itu telah selesai terbentuk kakinya mulai melayang di udara menandakan dia berhasil mengurangi gaya grafitasi yang manarik tubuhnya. Dia terus berkosentrasi agar gaya grafitasi yang menarik dirinya menghilang sehingga dia dapat terbang dengan bebas.


BRUK


"Aooww...ternyata sihir ini tidak semudah dugaanku" Violeta merintih kecil mengusap pantatnya, dia baru saja terjatuh karena gagal mempertahankan sihirnya itu.


Tidak merasa frustasi dengan kegagalan dia terus mencoba menguasai sihir itu sampai tidak terasa hari telah mulai gelap.


"Nona sudah waktunya makan malam" ucap Anne yang baru saja tiba di tempat Violeta.


"Baiklah" kata Violeta singkat dia mengikuti Anne ke dalam rumah, dia makan malam bersama Eros dan Merlin setelah itu dia pergi ke kamarnya dan tidur.


Malam yang sunyi hanya suara angin yang terdengar. Violeta tidur dengan nyenyak dia kelelahan karena berlatih dan menggunakan kekuatan sihirnya seharian ini. Tidur nyenyak Violeta terganggu oleh suara tawa perempuan yang merdu.


"Heii bangunn" kata suara itu. Violeta masi memejamkan matanya walaupun dia mendengar perkataan suara itu.


"Heii buka matamu aku tau kau sudah bangun" paksa suara itu. Violeta perlahan membuka matanya. Dia hanya melihat cahaya kecil berwarna hijau terang melayang-layang di hadapannya.


"Kau harus memanggilku besok, akan ku tunggu panggilanmu Violeta" ucap cahaya itu dengan di akhiri tawa dan terbang keluar dari jendela kamarnya lalu menghilang. Violeta memandang jendelang kamarnya dia bingung dengan apa yang baru saja terjadi.


"Sudahlah besok akan ku bicrakan hal aneh ini dengan kakek" ucap Violeta dan kembali tidur.


Di pagi harinya Violeta telah bangun dia mandi dan bersiap-siap untuk sarapan pagi seperti biasanya, Anne yang masuk ke kamar Violeta dia terkejut.


"Nona kau sudah siap?" tanya Anne tidak percya dengan apa yang dia lihat karena biasanya Violeta masi tidur saat Anne masuk ke kamarnya.


"Yaa, ada hal penting yang harus aku bicarakan dengan kakek" ucap Violeta bergegas keluar dari kamarnya.


Sesampainya di ruang makan dia menyapa Merlin dan Eros sambil berjalan menuju kursi yang biasanya dia tempati untuk makan, kemudian menyelesaikan makanannya dengan cepat.


"Kakek ada hal peninting ingin ku katakan" ucapnya menatap Merlin dengan serius.


"Ohh, tentang ulang tahunmu minggu depan kan?" tanya Merlin.


"Tenang saja kakek akan memberikan apapun yang kau minta nanti" katanya lagi sambil tersenyum bangga kemudian memandang Eros dengan tatapan meremehkan.


Eros menyeringai sinis membalas Merlin dia mengeluarkan kotak panjang dan menyerahkannya kepada Violeta. Violeta yang melihat kotak itu merasa penasaran dan langsung membukanya.


"Waaoo ini pedang yang sangat indah paman Eros" ucap Violeta terkejut dengan isi kotak yang di berikan eros. Dia mengeluarkan pedang ituu dengan mata berbinar-binar takjub. Merlin sangat kesal dia di kalahkan lagi oleh Eros.


"Baiklah Leta hadiah apa yang kamu inginkan dari kakek?" tanya Merlin mengalihkan perhatian Violeta dari pedang pendek pemberian Eros.


"Ini bukan tenang hadiah ulang tahunku kakek" ucap Violeta sambil meletakan pedang pendek ke dalam kotaknya kembali.


"Lalu apa yang ingin kau bicarakan?" tanya merlin. Violeta pun menceritakan kejadian aneh di kamarnya semalam. Mendengar cerita itu raut wajah Merlin dan Eros berubah menjadi serius.


"Mungkin kamu dapat memanggil roh" ucap merlin. Mendengar ucapan Merlin, Violeta sangat senang dan menjadi lebih bersemangat.


Seorang penyihir dapat memanggil roh untuk membantu mereka dalam bertarung, tetapi tidak semua penyihir dapat memanggil roh hanya seorang penyihir tipe Elementalist khusus saja.


Mengikat kontrak dengan roh juga tidaklah mudah karena kebanyakan roh sangat sombong, jika penyihir tidak lebih kuat dari pada roh tersebut maka roh itu tidak akan mau mengikat kontrak dengan penyihir itu. Tetapi ada juga roh yang dengan senang hati akan mengikat kontrak dengan penyihir dan kasus ini sangatlah langka dan hampir tidak mungkin.


"Kakek bagaimana caranya agar aku dapat memanggil roh?" tanya Violeta dengan semngat.


"Sepertinya hari ini latihanmu dengan paman Eros akan tertunda karena kamu harus mempelajari cara manggil roh dengan kakek." ucap Merlin dia berdiri dari kursinya dan berjalan ke halaman depan rumah yang di ikuti oleh Violeta dan Eros.