The Second Life

The Second Life
Bab 15: Potret Diri (1)



Pertandingan olahraga berlangsung selama 4 hari sebelum acara berlanjut ke kategori pertandingan lainnya, salah satunya yaitu seni.


Di pertandingan olahraga sebelumnya, sebagian besar pesertanya adalah siswa. Lomba yang diadakan antar guru sangat terbatas karena hanya untuk sekedar memeriahkan suasana saja.


Vendry yang tidak ikut serta dalam pertandingan olahraga mendaftarkan diri dalam pertandingan kategori seni, tepatnya melukis. Sebenarnya dia tidak ingin berpartisipasi dalam acara ini, namun peraturan menyebutkan kalau setiap guru diwajibkan untuk berpartisipasi minimal 1 kategori kegiatan.


Selain itu, pameran seni juga diadakan bersamaan dengan dimulainya kontes seni. Pameran seni tidak hanya untuk anggota sekolah, namun juga mengundang orang luar untuk mengagumi karya-karya yang ditampilkan. Dengan kata lain, pameran seni ini terbuka untuk umum setiap kali acara tahunan diselenggarakan.


Setiap karya yang muncul di pameran seni ini dianggap berkualitas dan layak dipamerkan untuk menjadi salah satu ikon acara oleh pihak sekolah. Siswa atau guru yang mengikuti pameran seni ini pada umumnya sudah memiliki rekomendasi dari beberapa pihak serta persetujuan dari kepala sekolah dan panita penyelenggara acara, sama seperti Felice.


Pameran seni ini tidak seperti pameran seni pada umumnya yang hanya menampilkan karya-karya seni, namun ada juga kegiatan yang menampilkan seni bebas. Artinya akan ada peserta pameran yang langsung membuat karya di tempat dan penonton bebas menonton dan mengapresiasi proses karya tersebut dari awal hingga selesai. Setelah karya selesai, nanti sang pencipta bebas menempatkan karya tersebut di mana saja asalkan masih dalam area pameran.


Dari tahun-tahun sebelumnya, kegiatan ini sudah meraup sejumlah minat penonton sehingga lama kelamaan acara ini semakin terkenal di luar. Biasanya akan ada banyak pecinta seni yang berbondong-bondong datang ke acara demi sesi pameran ini, jadi tidak heran lagi jika sekolah akan sangat ramai di periode ini.


Julia dan Marvin datang bersama kedua putri mereka. Kedua orang dewasa itu pertama menyapa Ella dan berbincang mengenai kinerja Felice dan Feline di sekolah. Melihat kedua orang tuanya asik mengobrol dengan kepala sekolah, Felice dan Feline keluar dari zona tersebut dan pergi sendiri-sendiri.


Feline pergi berkumpul dengan teman-temannya dan Felice jalan sendiri tanpa tujuan. Felice menatap keramaian dengan bosan. Pameran belum dimulai, namun pengunjung yang datang ke sekolah mereka sudah mulai ramai.


Felice berjalan ke taman dan ketika dia tiba di gerbang taman, dia melihat banyak siswa dan guru yang berkumpul bersama mengelilingi sekelompok orang tanpa mengeluarkan suara.


Oh iya, kan sekarang lagi lomba melukis. Kalau tidak salah Vendry juga berpartisipasi kan?


Akhirnya gadis kecil yang tidak memiliki kegiatan itu datang bergabung dengan kerumunan. Di sana ada ratusan siswa dan puluhan guru yang sedang menyibukkan diri dengan lukisan mereka. Media yang digunakan dalam perlombaan ini tidak rumit, hanya kertas A3 dan serangkaian alat lukis bebas sesuai dengan minat peserta lomba.


Masing-masing peserta ini bebas duduk di mana saja dengan meja dan kursi yang sudah disediakan. Felice datang ke tempat seorang siswa dan melihat siswa tersebut sedang melukis air mancur di taman itu. Detil-detil lekukan dan pola pada air mancur digambar dengan sangat teliti yang pada dasarnya membuat siapa saja terkaget-kaget dengan fakta kalau yang menggambarnya hanya seorang anak kecil belaka.


Felice lanjut ke siswa lain, kali ini anak kecil yang Felice perkirakan mungkin kelas 5 atau 6 dari tinggi badannya, sedang melukis abstrak dengan media cat akrilik dimana yang dilukis itu sebenarnya adalah lautan dengan tema sunset.


Selain kedua siswa ini, ada juga banyak peserta yang kemampuan melukis mereka di atas rata-rata usia mereka, namun tentunya tidak semua. Dari ratusan peserta siswa ini, Felice perhatian kalau hanya ada sekitar sepertiga yang lebih profesional. Sisanya lebih biasa, namun tetap saja sudah tergolong bagus mengingat kalau kelompok siswa ini maksimal baru berusia 12 atau 13 tahun.


Felice menghela nafas dalam hati, sekolah ini benar-benar sesuai dengan reputasinya. Anak-anak ini sudah luar biasa di usia muda begini, kalau mereka bertanding keluar Felice yakin mereka merupakan bagian dari top seputaran nasional untuk anak sekitaran usia mereka.


Target pertama Felice tentu saja wali kelasnya yang acuh gak acuh dan sombong. Dia melihat ke kiri kanan sebelum menemukan targetnya di tengah-tengah banyak kepala. Felice berjalan ke sisi Vendry dalam diam. Dia berhenti di belakang pria itu dan berniat mengamati apa yang dilukis wali kelasnya dari posisi itu.


Ketika matanya tertuju pada kertas gambar Vendry, sederet titik-titik muncul di benaknya.


Felice, "..."


Bukannya mau mengatai gurunya di belakang, tapi Felice mau tak mau kembali mengomentari rasa narsis pria ini. Alasannya cukup wajar karena Vendry saat ini sedang menggambar potret dirinya sendiri. Bukan hanya itu, orang ini menggambar dirinya sendiri dengan posisi yang cukup...


Ya, cukup menawan sebenarnya...


Vendry melukis wajahnya sendiri dan lukisannya ini benar-benar identik dengan aslinya. Apalagi wajah di lukisan ini tidak hanya menarik karena seberapa tampan foto ini dilukis, tapi sepasang mata itu mampu menunjukkan ketidakpedulian dan rasa dingin yang memperingatkan orang lain untuk menjauh.


Pada dasarnya, faktor utama yang mendukung keindahan lukisan ini adalah auranya.


Sudut bibir Felice sedikit melengkung ke bawah. Sekali lagi... orang ini menunjukkan sisi yang di luar dugaan apalagi sisi yang kembali mengingatkannya pada orang tertentu.


Terkadang Felice penasaran, curiga, tapi juga menantikan setiap sisi yang akan ditunjukkan oleh pria ini. Ingin rasanya dia menarik pria ini ke sisinya dan membuka semua rahasia yang tersembunyi di balik daging dan kulit ini.


Sementara pikiran Felice berkecamuk, Vendry yang sudah lama menyadari kehadiran pihak lain mau tak mau mulai merasa tidak nyaman terutama ketika dia merasa kalau pandangan gadis kecil yang aneh ini ingin melubanginya.


Entah sudah berapa kali dia terganggu dengan gadis kecil ini. Kalau bukan karena dia yakin dia dan Felice belum pernah bertemu sebelum gadis ini dan adiknya pindah ke sekolah ini, dia akan mengira kalau dia pernah meninggalkan pengalaman yang tidak menyenangkan untuk Felice.


Soalnya Felice selalu memberinya perasaan seolah dia dimusuhi, tapi terkadang gadis kecil ini juga berperilaku seolah dia benar-benar peduli padanya, sama seperti saat di klinik.


Kadang Vendry merasa gusar, tidak pernah terbayang olehnya kalau suatu hari dirinya akan mewaspadai seorang bocah,


Bocah yang aneh.