The Second Life

The Second Life
CHAPTER 3.



'BOOMMM'


Suara ledakan di sertai dengan gumpalan asap hitam yang keluar dari salah satu jendela rumah besar di tengah-tengah hutan. Di dalam rumah besar itu terlihat seorang gadis kecil yang baru saja keluar dari salah satu pintu dengan rambut yang acak-acakan dan terdapat debu hitam di badan dan wajahnya. Dia terbatuk-batuk karena menghirub asap hitam dari dalam ruangan di balik pintu.


"Uhuk...uhuk sial aku gagal lagi" umpatnya kesal. Dia dengan tergesah-gesah menghapus debu hitam yang melekat di badan dan wajah, dia memperbaiki penampilanya, menguncir kembali rambut perak yang acak-acakan dan memperbaiki letak kaca mata yang dia gunakan.


Violeta tergesah-gesah memperbaiki penampilanya agar tidak di marahi Merlin karena Merlin akan marah jika mengetahui bahwa ramuan yang dia buat meledak lagi.


"Nona apa kau baik-baik sja?" tanya seseorang di samping Violeta.


"AAA" teriak Violeta terkejut dengan kedatangan seorang pria paruh baya yang tiba-tiba telah berada tepat di sampingnya.


"Albert kau mengejutkanku!" ucap Violeta kesal, dia terkejut karena dia pikir Merlin menangkap basah dia saat ramuannya meledak tadi tapi ternyata itu Albert kepala pelayan di rumah Merlin.


Mendengar ucapan Violeta, Albert hanya tersenyum kaku, dia mengerti kenapa Violeta sangat terkejut atas kedatangannya yang tiba-tiba. Albert memberikan sapu tangan kepada Violeta.


"Di mana kakek?" tanya Violeta kepada Albert sembari melepaskan kaca mata yang dikenakan dan mengambil sapu tangan yang di berikan oleh Albert, dia menghapus sisa-sisa debu hitam yang melekat di wajahnya.


"Tuan besar berkata bahwa beliau mempunyai urusan di luar dan akan kembali nanti malam nona" ucap Albert


"Albert tolong kau rahasiakan ini dari kakek, jika tidak aku akan di marahi lagi nanti" pinta Violeta kepada Albert dengan wajah memelas yang membuat dia tampak lebih imut. Albert yang melihat wajah Violeta menahan diri untuk tidak mencubit pipi merah milik Violeta.


"Baiklah nona" ucap albert dengan tersenyum ramah.


"Terima kasi Albert, dan tolong beri tau Anne untuk menyiapkan air hangat aku ingin mandi" pintanya.


Anne seorang wanita paruh baya yang bekerja sebagai pelayan di rumah Merlin, dia merupakan pelayan pribadi Violeta dan dia juga yang merawat Violeta sedari bayi. Setelah Violeta mandi dia menghabiskan sorenya dengan tidur, dia sangat lelah karena dia terlalu banyak menggunakan kekuatan sihir untuk membuat ramuan seharian ini.


*****


"Nona bangun, sudah waktunya untuk makan malam sekarang." kata Anne yang sedang mencoba membangunkan Violeta dari tidur.


"Lima menit lagi Anne." ucap Violeta masih memejamkan matanya.


"Tuan besar telah tiba, beliau meminta aku untuk membangunkanmu nona"


"Tunggu lima menit lagi Anne aku masi ngantuk"


"Tidak bisa nona, tuan besar kembali membawa seorang tamu dan kalian akan makan malam bersama." ucap Anne


Anne yang melihat tingka manja nonanya itu tersenyum tipis, dia sangat menyayangi Violeta dan menganggap Violeta seperti anaknya sendiri karena dia yang mengasuh Violeta sedari kecil. Anne menggendong Violeta membawa dia ke arah meja rias dan menududkannya di kursi depan meja rias. Anne dengan telaten mengganti baju tidur Violeta mengikat rambutnya denga rapi. Selama proses itu Violeta masi memejamkan matanya.


"Baiklah nona, sekarang buka matamu kau akan makan malam dengan tuan besar dan tamunya itu, tidak mungkinkan kau makan sambil memejamkan mata" ucap Anne lembut menyentuh hidung mungil Violeta.


"hmmm..." gemu Violeta sembil membuka mata perlahan dan berjalan turun dari kursi meja rias.


"Ayoo Anne" Violeta menggandeng tangan Anne dan berjalan ke luar kamar.


*****


"KAAAKKEEK" teriak Violeta dari arah tangga berlari menuruni tangga dan memeluk Merlin.


"Leta jangan berlari!! bagaimana jika kau terjatuh dari tangga" kata Merlin yang mengangkat Violeta ke gendongannya.


"Hehehehe" cengir Violeta dia melingkarkan tangannya di leher Merlin dan mengecup pipi Merlin.


"Kau bertingkah manis kepadaku, apakah kau baru saja berbuat kesalahan?" selidik merlin, merasa aneh dengan tingkah cucunya.


"Kekk, Anne berkata kau membawa seorang tamu?" tanya Violeta dengan tampang polos mengalihkan pembicaraan mereka.


"Oh..Anne suda memberitahu kau rupanya, ayo akanku kenalkan kau dengan dia" ajak Merlin yang telah lupa dengan pertanyaan dia sebelumnya karena teralihkan oleh tampang polos Violeta.


Merka pun berjalan ke ruang makan, di ruang makan yang luas seorang pria berpakaian hitam menutupi kepala dengan tudung hingga hanya memperhatikan sebagian dari wajahnya saja di belakang pria itu terdapat pedang yang di taruh di punggungnya berbentuk X , dan pria itu tampak misterius.


Pria itu duduk di kursi ruang makan dengan tenang tanpa bergerak, walaupun dia tau Merlin dan Violeta memasuki ruang makan pria itu tetap tidak berdiri untuk menyapa mereka bahkan pria itu tidak menoleh ke arah mereka.


"Kakek siapa pria misterius itu?" bisik Violeta di telingan merlin yang sedang menggendongnya.


"Tenanglah kau akan segera mengetahuinya" ucap Merlin tersenyum misterius.


"Tapi kek bagaimana jika dia melihat rambutku ini?" tanya Violeta khawatir karena dia tidak menggunakan tudung kepala untuk menutupi rambutnya.


Merlin selalu mengingatkan Violeta untuk menutupi rambutnya dengan tudung jika dia akan pergi ke luar rumah atau jika ada tamu yang datang ke rumah. Karena rambut Violeta yang khas itu dapat membawa bahaya bagi dirinya sendiri sehingga Merlin selalu mengingatkan dia untuk menutupi rambutnya itu.


Merlin tidak menjawab pertanyaan Violeta, dia terus berjalan sambil menggendong Violeta hingga berada di hadapan pria misterius itu.


"Leta, ini Eros dia seorang Assasin mulai sekrang dia yang akan mengajarkan kau menggunakan senjata" ucap Merlin memperkenalkan pria misterius yang bernama Eros.